MEI 2008, CERITA DEVINA TENTANG PIJAR
“Pijar!”
Lelaki yang disebut namanya itu menoleh ketika didengarnya suara perempuan memanggil namanya. Perempuan berusia sekitar 19 tahun itu berlari-lari kecil menghampiri Pijar yang saat itu sedang bergegas pulang ke pondokannya.
“Sudah jam lima sore, kok kamu masih di kampus?” tanya Pijar.
“Aku sengaja nungguin kamu selesai bimbingan skripsi.” Devina menghentikan perkataannya sejenak dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Aku sudah selesai isi buku ini kemarin. Sekarang giliran kamu.”
Pijar menerima buku dari Devina yang sebenarnya merupakan buku harian mereka berdua. “Besok aku kembalikan ke kamu setelah aku isi. Sekarang aku mau pulang.”
“Boleh aku ikut ke kosmu? Sejak kita pacaran, aku belum pernah ke sana,” kata Devina, berseri-seri.
Anggukan Pijar berarti segalanya untuk Devina. Selama tiga bulan berpacaran dengan Pijar, Devina merasa belum cukup mengenal Pijar yang baginya serba misterius itu. Mungkin beginilah rasanya berpacaran dengan orang yang lebih tua empat tahun. Mungkin ini caranya pria dewasa mencintai perempuan, pikir Devina.
Pijar menyukai Devina karena yang disebut belakangan adalah perempuan yang cantik, enerjik, ceria, dan berpenampilan menarik. Tidak ada pria yang akan menolak untuk bersama Devina. Tapi di balik itu semua, Devina masih seorang gadis yang berusaha menjadi perempuan dewasa. Ia masih rapuh.
Mereka berdua sampai di kamar pondokan Pijar setelah berjalan kaki lima belas menit dari kampus. Takjub. Begitulah ekspresi wajah Devina saat masuk ke kamar Pijar.Dinding kamarnya dipenuhi poster tokoh-tokoh yang mungkin ternama namun tak diketahui Devina. Hugo Chavez, Fidel Castro, Evo Morales, Mahmoud Ahmadinejad, dan lain sebagainya, begitulah sosok-sosok yang tergambar di poster. Tak satu pun sosok di poster-poster itu dikenal Devina, kecuali Bon Jovi.
Puas memandangi poster-poster, mata Devina beranjak ke rak buku yang memenuhi sepertiga ruangan kamar Pijar. Bukan hanya buku kuliah yang terpajang di sana, kebanyakan buku-buku sejarah, sosialisme, politik, dan novel-novel lama. Dalam hal buku, musik, dan tokoh favorit, Devina menyadari dirinya memiliki minat yang jauh berbeda dengan Pijar.
Dari deretan buku tersebut mencuat sebuah buku bersampul kulit sintetis warna hitam, sepertinya baru saja dikembalikan ke tempatnya. Buku itu tak memiliki judul. Devina yakin buku itu adalah catatan pribadi Pijar. Haus karena rasa penasaran, ingin rasanya Devina membuka buku itu dan mencari tahu isi hati Pijar tentangnya selama ini. Jika itu memang benar buku harian, seharusnya nama Devina akan disebut-sebut di dalamnya.
“Ini buku apa?” tanya Devina.
Pijar yang sedari tadi sibuk menyusun daftar lagu di Winamp mengerjap saat Devina membawa buku rahasianya di depan hidungnya. “Itu buku harianku.”
Wajah Devina terlihat makin berseri-seri. “Aku buka, boleh ya? Aku mau baca.”
“Lebih baik jangan dibaca kalau kamu nggak siap.”
“Aku siap kok.”
Pijar mengangkat bahu. “Nggak semua hal tentang diriku perlu kamu ketahui. Dan nggak semuanya baik bagimu untuk tahu. Tapi terserah kamu.”
Devina tak mengindahkan perkataan Pijar. Ia terlalu bersemangat ingin mengetahui rahasia Pijar. Selama beberapa menit Devina larut di dalam cerita yang ada di buku itu. Ia segera tahu bahwa Pijar ternyata memiliki kosakata dan diksi yang baik. Pijar suka kata-kata bersayap dan indah, menjadikan apa yang ditulisnya seperti puisi.
“Siapa ini gadis berambut lurus dan berwajah seperti boneka?” tanya Devina.
“Siapa lagi kalau bukan kamu? Pertanyaan retoris,” jawab Pijar malas-malasan.



