Posted by: elisabetyas on: November 14, 2009
Melalui penelusuran sejarah, semua orang di negeri ini sepakat bahwa pergerakan perempuan pertama diprakarsai oleh R.A Kartini yang menuntut adanya kebebasan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan sama seperti halnya laki-laki. Pada saat itu isu mengenai kesetaraan gender seperti yang banyak didengungkan sekarang belum terdengar. Meski bukan bertindak atas nama organisasi, dobrakan yang dilakukan Kartini itu mampu menginspirasi para perempuan untuk selanjutnya memikirkan tentang posisi dan kesejahteraan sosial perempuan.
Organisasi perempuan yang pertama didirikan pada tahun 1912, yakni bernama Putri Mardika. Organisasi ini memperjuangkan pendidikan untuk perempuan, mendorong perempuan agar tampil di depan umum, dan membuang rasa “takut”, dan “mengangkat” perempuan pada kedudukan yang sama dengan laki-laki. Tokohnya yang menonjol adalah Abdorerachman—yang disebut sebagai feminis pertama di Indoensia.
Antara tahun 1913-1924, lebih banyak lagi bermunculan organisasi perempuan. Pawiyatan Wanito (Magelang, 1915), Percintaan Ibu Kepada Anak Temurun—PIKAT (Manado, 1917), Purborini (Tegal, 1917), Aisyiyah (Yogyakarta, 1917), Wanito Soesilo (Pemalang, 1918), Wanito Hadi (Jepara, 1919), Poetri Boedi Sedjati (Surabay, 1919), Wanito Oetomo dan Wanito Moeljo (Yogyakarta, 1920), Serikat Kaoem Iboe Soematra (Bukit Tinggi, 1920), dan Wanita Katolik (1924).
Selepas tahun 1920, gerakan perempuan mulai berganti haluan menjadi politis dan ideologsis. Beberapa organisasi perempuan merupakan kepanjangan tangan dari partai tertentu. Contohnya adalah Sarekat Rakyat milik PKI. Kegiatan perempuan-perempuan berhaluan “kiri” itu dianggap radikal. Para aktivisnya ditangkap dan beberapa dibunuh.
Kegiatan politis perempuan tidak berhenti sampai di situ. Pengaruh Kongres Perempuan pada tahun 1928 memunculkan organisasi perempuan lainnya—yang paling menonjol saat itu adalah Isteri Sedar. Organisasi tersebut memperjuangkan agar perempuan Indonesia bisa berperan aktif dalam politik; meningkatkan kondisi kerja yang baik bagi buruh perempuan; dan mendukung pendidikan nasional bagi para perempuan pekerja.
Kongres Perempuan yang diselenggarakan pada tahun yang sama dengan Sumpah Pemuda. Namun, seiring peringatan terhadap sejarah hanya Sumpah Pemudalah yang terdengar gaungnya hingga sekarang. Kongres Perempuan tak bisa mendapatkan tempat di hati “rakyat” sehingga sejarah pergerakan perempuan pun tidak dketahui secara luas. Hanya kaum feminis yang hingga sekarang masih ada yang mungkin tahu tentang sejarah pergerakan perempuan Indonesia.
Pada masa kependudukan Jepang, semua organisasi perempuan dilarang dan hanya muncul Fujinkai (perkumpulan perempuan) yang disetujui oleh Jepang. Isteri Sedar inilah yang kemudian pada tahun ’60-an menjelma menjadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang erat kaitannya dengan Soekarno dan PKI. Gerwani adalah penentang poligami namun tidak melakukan apa-apa ketika Soekarno menikah lagi. Dan mulai saat itu popularitas Gerwani menurun. Perlahan-lahan Gerwani mulai mengesampingkan isu-isu perempuan dan justru menyikapi isu-isu kerakyatan, serta membentuk pandangan perempuan sebagai “ibu militant”. Gerwani dicap sebagai organisasi cacat moral. Organisasi perempuan itu akhirnya runtuh seraya dengan dibubarkannya PKI.
Pergerakan perempuan di Indonesia mungkin berbeda dengan perjuangan kaum feminis di Barat. Namun demikian, pemikiran-pemikiran Kartini dan pemrakarsa organisasi-organisasi perempuan juga tak bisa dikatakan terpengaruh pemikiran para feminis Barat.
Seiring berkembangnya pemikiran kaum feminis dunia, pergerakan perempuan memiliki citra lain di masyarakat kebanyakan, tak terkecuali di Indonesia. Jika dahulu pergerakan perempuan adalah hal mulia dan dihormati orang kebanyakan, maka tantangan kaum feminis sejak tahun ’80-an adalah munculnya cibiran bagi feminisme—bahkan dari kaum perempuan sendiri.
Banyak tudingan dialamatkan pada gerakan feminisme. Naomi Wolf dalam bukunya Gegar Gender, Kekuasaan Perempuan Menjelang Abad 21 menuliskan, “Banyak perempuan tidak tahu arti feminisme; ada yang berpikir bahwa feminisme tidak menghormati pilihan-pilihan yang mereka ambil; lainnya lagi berpikir bahwa feminisme tidak ditujukan pada mereka; sisanya sekadar tidak menyukai citra feminisme yang mereka lihat.
Jajak pendapat Time/CNN Yankelovich di tahun 1989 menunjukkan 33 persen perempuan memanggil diri sendiri ‘feminis’ sedangkan 58 persen tidak. Sepanjang tahun 1980-an, jumlah perempuan yang menyebut dirinya ‘feminis’ semakin melorot. Pada akhirnya muncul kelompok feminis dan anti-feminis di kalangan perempuan sendiri.
Feminisme dianggap sebagai suatu paham dengan pakem-pakem tertentu, memiliki aturan tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan perempuan. Feminis dianggap bersifat anti-keluarga dan anti-lelaki. Penganut feminisme dikenal ‘sulit’ dan keras kepala untuk diajak berkompromi. Hal itulah yang membuat perempuan disingkirkan dari lembaga-lembaga pemerintahan. Kebanyakan perempuan mendukung cita-cita feminisme tapi menolak jati diri sebagai feminis.
Pergerakan perempuan di Indonesia sejak abad ke-20 hingga kini dinilai belum mencapai kemajuan. Menurut Yeni Rosa Damayanti, seorang aktivis perempuan, seperti yang dikutip pada jurnalperempuan online, isu-isu gerakan perempuan saat ini masih sama dengan persoalan-persoalan gerakan perempuan pada abad ke-20.
Dia juga menilai gerakan perempuan masa itu justru cukup progesif dalam menyuarakan keterwakilan perempuan dalam politik, anti poligami, dan perdagangan perempuan. Ini dapat berarti gerakan perempuan sekarang tidak belajar dari gerakan perempuan terdahulu. Namun, ini bukan berarti kesalahan dari gerakan perempuan saat ini semata karena dalam periode-periode tertentu telah terjadi pengaburan sejarah akan gerakan perempuan masa lalu, yang memutus mata rantai antara gerakan perempuan saat ini dan masa lalu.
Kritik yang muncul atas gerakan perempuan saat ini adalah telah terjadi dikotomi dalam gerakan perempuan, antara yang bergerak dalam ruang strategis dan ruang praktis. Akibatnya, gerakan perempuan bekerja sendiri-sendiri dan berada dalam ruang yang ekslusif. Padahal kedua kelompok ini sebenarnya bisa bersinergi untuk menjawab kebutuhan praktis perempuan sehingga gerakan perempuan bisa membangun militansi dan kepercayaan dari massa.
Posted by: elisabetyas on: November 14, 2009
Apa perubahan yang paling nyata setelah berakhirnya masa Orde Baru dan dimulainya masa Reformasi? Tentu saja kebebasan pers. Pers Indonesia seperti menghirup udara baru setelah sekian lama berada dalam pengekangan. Dalam perjalanannya sepuluh tahun ini, pers mencoba untuk benar-benar menjalankan fungsinya sebagai the fourth estate, yaitu sebagai controller atas pemerintahan.
Dengan sebaik-baiknya pers berusaha untuk memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui (to know) dan sekaligus haknya sendiri untuk menginformasikan (to inform). Pers juga berusaha untuk menjadi penyambung lidah dari masyarakat kepada pemerintah dalam rangka pengaplikasian demokrasi di negeri ini. Jajaran pejabat pemerintahan pun harus semakin terbuka dalam setiap langkah yang mereka ambil ataupun kebijakan yang mereka buat.
Berbicara mengenai pers yang kebablasan, sedikit-banyak hal itu juga meresahkan masyarakat. Pers sangat mungkin membentuk dan menggiring opini publik sesuai dengan apa yang arahan media massa. Terkadang pers juga kurang dewasa dalam mempengaruhi opini publik. Contohnya saja, pemberitaan yang berlebihan tentang cuplikan Tari Pendet yang ada dalam iklan pariwisata Malaysia. Pemberitaan yang berkembang lama-kelamaan menjadi hasutan yang membangkitkan rasa benci. Pihak Malaysia pun bukan tidak mungkin pasti akan memperhatikan pemberitaan tersebut. Apa jadinya jika sinisme dan perang yang terbentuk dari pemberitaan tersebut? Bukankah itu termasuk salah satu jenis menjaga keamanan negara?
Rupa-rupanya kebebasan pers dalam memberitakan serba-serbi tentang pemerintah dan institusi-institusinya sedikit “mengusik” para petinggi negara tersebut. Tak jarang dalam pembuatan kebijakan, masyarakat pun ikut ambil bagian dalam memberikan pendapat melalui lembaga-lembaga independen. Kasus korupsi, anggaran dana negara, dan penggelapan uang pun menjadi salah satu sorotan favorit pers. Mungkin karena kebebasan pers yang oleh beberapa pihak dianggap “kebablasan” itulah yang membuat pemerintah terkesan ingin membatasi ruang gerak pers dengan dibuatnya RUU Rahasia Negara.
RUU Rahasia Negara terkesan dibuat hanya untuk ajang “balas dendam” bagi pers. Sebagian besar fraksi di DPR menyepakati rumusan pemerintah yang menginginkan rahasia negara terdiri dari tiga hal, yakni informasi, benda, dan aktivitas. Sepertinya ada ketakutan tersendiri dalam diri pemerintah bahwa kebijakannya akan dicampuri terlalu banyak pihak.
Definisi Rahasia Negara pun masih rancu dalam RUU tersebut. Tidak ada jaminan kebebasan pers dalam aturan tersebut. Hal itu terdapat pada Pasal 1 Ayat 9 menyatakan “pembuat rahasia negara adalah setiap lembaga negara yang membuat atau merumuskan rahasia negara”. Setiap institusi yang bernaung di bawah pemerintahan bisa menetapkan status “rahasia negara”. Bukan tidak mungkin bahwa dengan adanya RUU ini, justru yang terjadi adalah adanya perlindungan bagi skandal yang dilakukan orang-orang di dalam institusi tersebut.
Pemerintah ingin memberi jaminan agar informasi rahasia negara ini tidak mudah bocor ke tangan pihak lain. Namun, pertanyaannya adalah mengapa pemerintah tidak membuat saja teknologi dan sistem yang bisa melindungi rahasia tersebut, malah menyasar pemberian hukuman bagi pembocor rahasia daripada pihak pengelolanya sendiri. Jika dalam pemberlakuan RUU nantinya tidak turut dibentuk pula badan pengawas khusus, yang akan terjadi justru penyelewengan kewenangan oleh para pejabat negara dan institusi pemerintah.
Lagipula, janganlah pembentukan undang-undang ini berbenturan dengan undang-undang lainnya yang memang sudah mengatur tentang rahasia negara. Contohnya saja, pada UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik pasal 17 sudah ada aturan tentang kerahasiaan negara.
Hal yang memberatkan insan pers adalah adanya pasal 49 dalam RUU tersebut yang berisi tentang sanksi terhadap korporasi termasuk perusahaan media massa jika membocorkan rahasia negara. Sanksinya bisa berupa penetapan di bawah pengawasan, pembekuan perusahaan, dan pencabutan izin alias pembredelan.
Kelakuan presiden beberapa waktu lalu pasca meledaknya hotel Ritz Charlton dan JW Marriot tidak menunjukkan sikap ingin melindungi rahasia negara. Padahal dalam pasal 1 ayat 1 RUU Rahasia Negara menyebutkan, “seluruh informasi, benda atau aktivitas yang secara resmi oleh presiden dinyatakan perlu dirahasiakan, dan jika dimiliki oleh orang lain dapat mengancam kedaulatan negara, dapat dikategorikan rahasia negara”.
Jika memang ada rahasia negara yang harus dilindungi, tak perlulah membuat undang-undang yang bisa membatasi ruang gerak pers. Belum lagi, beberapa pasal terlihat menguntungkan pihak pemerintah dan lembaga pemerintahan. Bukan hal baru jika pejabat negeri ini sering menyalahgunakan pasal tertentu untuk melakukan pembenaran diri.
Ada baiknya kita belajar dari para pemimpin masa lalu yang benar-benar memiliki rasa nasionalisme tinggi. Bung Hatta pernah berkata, “Janganlah rakyat mengetahui kesusahan kita, namun beritahukan jika kita sudah merdeka!”
Posted by: elisabetyas on: October 31, 2009
Rina, mahasiswa Fikom Unpad tingkat 4, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan 60 km/jam. Bermobil dari Perumahan Puri Indah, ia menyusuri jalan dari pangkalan bis Damri lama, melewati Universitas Winaya Mukti (Unwim), menuju Gerbang Utara Unpad yang letaknya jauh dari jalan utama Jatinangor. Rina harus berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya karena jarak tempuh yang lebih jauh dari biasanya untuk menuju kampus.
“Sekarang kalau mau pergi ke kampus susah ya, harus muter jauh dulu? Gue heran deh, kenapa gerbang BNI (Gerbang Barat Unpad, red) itu nggak dibuka aja untuk jalan masuk mobil? Kan boros bensin jadinya. Lagipula, masa universitas ternama pintu gerbang utamanya kok tersembunyi di belakang?” keluhnya.
Hal seperti itu tidak saja dirasakan mahasiswa, dosen pun memiliki keluhan tersendiri. Salah seorang dosen Fikom yang memang sehari-harinya selalu menggunakan kendaraan umum, mengungkapkan pertanyaan mengapa Gerbang Selatan Unpad justru tidak bisa dimasuki mobil?
“Sejarahnya, kan, Gerbang Unpad memang terletak di selatan sejak bertahun-tahun lalu. Dan itu menjadi penanda bahwa Universitas Padjadjaran terletak di situ. Sekarang, tulisan penanda Universitas Padjadjaran saja sudah tidak ada. Coba, kita lihat di UGM, Undip, atau ITB, selalu jalan masuk mereka terlihat dari jalan utama. Unpad justru meletakkan gerbang utama jauh di bagian utara. Bayangkan orang tua mahasiswa baru yang akan memasuki Unpad, pasti bingungnya luar biasa hanya untuk masuk Unpad. Belum lagi tidak ada penunjuk arah untuk masuk Unpad melalui Gerbang Utara. Apakah di Unpad ini tidak ada sarjana yang bisa membantu mendesain gerbang yang baik?” katanya dalam sebuah forum perkuliahan.
Mendengar keluhan-keluhan seperti di atas, Edward Henry, Kepala Bagian Rumah Tangga dan Tata Usaha Unpad, hanya tersenyum sabar dan menjelaskan perkara Gerbang Unpad itu. “Kata siapa penanda Universitas Padjadjaran sudah tidak ada? Belum dibangun saja. Bedanya adalah, kalau dulu masuk mobil, sekarang motor saja bahkan tidak bisa masuk. Jadi hanya ada enam rongga saja untuk seliweran orang, untuk keluar dan masuk. Ini tetap menjadi gerbang kita. Ini gerbang manusia, bukan gerbang kendaraan,” ungkapnya saat ditemui di kantornya di Jalan Dipatiukur No. 35, Bandung, pada hari Kamis (1/10).
Edward memaparkan, jika di Gerbang Selatan Unpad tetap didesain untuk bisa dilewati mobil, tidak terbayang kacaunya akan seperti apa. Apalagi letak tikungan jalan menuju arah Tanjungsari terletak di gerbang. Menurutnya, untuk saat ini letak gerbang yang bisa dimasuki kendaraan memang di bagian utara Unpad. Ia pun menjelaskan hal yang selama ini menjadi pertanyaan banyak mahasiswa dan dosen mengenai penutupan Gerbang Barat Unpad. Jika Gerbang Barat dijadikan gerbang masuk kendaraan, maka hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Dituturkannya puncak menumpuknya kendaraan ada di perempatan tersebut sekarang. Akan tercipta antrian panjang mobil di Gerbang Barat jika mobil dibiarkan masuk lewat gerbang itu.
Ada alasan lain mengapa gerbang barat tidak dijadikan tempat masuk mobil. Jalan menuju Unpad dari Gerbang Barat itu tiga tahun lalu pernah dibuka untuk dua arah, artinya bisa untuk keluar masuk kendaraan. Ternyata dengan begitu tingkat kecelakaannya tinggi sekali, terutama kecelakaan motor. Di titik jalan turunan, kendaraan biasanya melaju kencang dan kecelakaan terjadi di titik itu. Alasan kedua mengapa Gerbang Barat tak bisa dimasuki kendaraan, sebenarnya fungsinya bukan sebagai jalan melainkan sebagai penahan danau dengan adanya jembatan. Jika kendaraan bermobil diizinkan masuk, otomatis yang masuk bukan hanya mobil kecil saja, truk sampah dan teronton juga masuk—jika ada pembangunan di dalam Unpad.
“Kalau truk-truk itu masuk lewat situ, bisa ambrol jembatan itu. Kalau dinding penahan danau ambrol, bencana buat berapa desa nantinya?” jelasnya.
Bale Padjadjaran vs Jalan Baru
Setahun yang lalu, antara Pemda Sumedang dengan Unpad sempat berselisih paham tentang berdirinya Bale Pajajaran 3 yang letaknya di dekat Cisaladah. Mulanya jalan yang dari arah Bandung yang sudah dibangun saat ini akan diteruskan dari Gerbang Selatan Unpad menuju Pondok Mulana-Hegarmanah dan nantinya keluar di Cikuda. Permasalahannya terletak ketika pembangunan jalan itu ternyata berimbas terhadap bangunan Bale Pajajaran 3—yang artinya bangunan itu harus dirobohkan. (dJATINANGOR edisi Oktober 2008) Bisa dilihat sekarang ini bahwa rencana pembangunan jalan menuju Cisaladah sepertinya belum akan segera direalisasikan.
Edward membantah bahwa dibelokkannya jalan utama dari arah Bandung menuju Tanjungsari di depan Gerbang Selatan adalah karena jalan menuju Cisaladah tidak jadi dibangun.Menurutnya, jalan yang melewati Gerbang Utara yang dibelokkan itu berfungsi untuk mengembalikan lagi ke jalan semula. Jadi atau tidak jadi pembangunan menuju Cisaladah, melewati Cikuda, jalan yang menikung di Gerbang Selatan itu akan tetap seperti itu.
“Pembangunan jalan yang keluarnya di Cikuda itu, otomatis melewati asrama kita (Bale Pajajaran 3, red), yang akan terkena imbas pembangunan jalan kalau dipaksakan seperti itu. Kita tidak minta pembangunan jalan itu dibatalkan, tetapi kita minta digeserlah letak jalan itu sekitar 10 meter. Kalau digeser, yang terkena imbas pemukiman padat penduduk. Itu yang membuat Pemda Sumedang sepertinya malas berurusan dengan warga. Kalau Pemda mengambil lahan Unpad, kan tidak berurusan dengan siapa-siapa,” kata Henry.
Tanah yang terkena imbas pembangunan jalan adalah tanah PTKAI (Perseroan Terbatas Kereta Api Indonesia) yang diduduki secara liar oleh penduduk. Edward berpendapat bahwa hal ini berpotensi menjadi konflik sosial karena kepemilikannya ada pada PTKAI. Dulu pada zaman Belanda, jalur menuju jembatan cincin adalah rel kereta api jurusan Tanjungsari. Karena tidak dipergunakan lagi, maka dijadikan bangunan-bangunan oleh masyarakat.
“Kita ini mendukung program pemerintah—karena kita juga milik pemerintah—tapi mbok ya digeser pembangunan jalan itu. Jadi jangan bilang batal gara-gara Unpad, ya. Kita tidak memperkenankan dua gedung kita itu diambrukkan. Meskipun diganti rugi, saya yakin Pemda bisa mengganti rugi, selama Bale dibangun lagi, lalu penghuninya akan diungsikan ke mana,” jelas Edward.
Rencana Pembangunan Gerbang Baru Disinggung mengenai tidak adanya penunjuk arah menuju Gerbang Utara, Edward mengatakan, “Kalau masalah sign (penunjuk arah, red), saya setuju. Kita harus lengkapi itu. Mudah-mudahan kita bisa melakukannya secara bertahaplah. Sebenarnya kita juga sedang memikirkan ada satu gerbang besar. ”
Rektor Unpad Ganjar Kurnia membenarkan pernyataan Edward mengenai adanya rencana pembangunan gerbang utama baru. Gerbang utama itu letaknya akan tetap di bagian utara Unpad karena dari pihak Pemda merencanakan pembangunan jalan tol Cisumundawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) yang merupakan terusan dari jalan tol Cileunyi yang melewati area di luar Unpad di bagian utara.
“Kalau jalan tol itu melewati atas (utara), kemungkinan Gerbang Unpad akan kita bikin di atas. Kita belum tahu sekarang karena kita sedang menunggu. Jadi, kita sedang mencari alternatif mana yang paling pas. Yang jelas, sekarang kita gunakan masuk itu kan dari atas. Itulah jalan masuk kita. Mengenai jalan masuk mobil memang cukup merepotkan karena harus memutar. Kalau untuk mahasiswa sebenarnya di depan kan sudah disediakan angkot gratis. Kalau sekedar keliling ke sana, kan, nggak apa-apa,” kata Rektor.
Rencana pembangunan jalan tol tersebut bukan lagi sekedar wacana, melainkan sudah hampir direalisasikan. Tahun 2010 akan dimulai pembangunannya yang menjadi urusan Dinas Pekerjaan Umum Pemda Sumedang. Edward menambahkan pernyataan Rektor bahwa titik gerbang utama ini belum pasti karena ingin melihat dulu di mana pastinya jalan tol ini akan dibangun.
“Iya, pembangunan tol itu di luar area Unpad, mungkin di belakang, mungkin juga di samping. Yang jelas itu sambungan tolnya Cileunyi, sehingga kendaraan yang mau ke Cirebon tidak lagi lewat Tanjungsari,” kata pria bule itu. (Purwaningtyas Permata Sari)
Posted by: elisabetyas on: October 21, 2009
Judul : Hiroshima, Ketika Bom Dijatuhkan
Penulis : John Hersey
Penerbit : Komunitas Bambu, 2008
Buku ini bukanlah karangan fiksi, melainkan sebuah karya jurnalistik John Hersey ketika membongkar realitas ketika bom dijatuhkan di Hiroshima pada tahun 1945. Dengan bergaya penulisan sastra, kita bisa menikmati bacaan ini. Terdapat enam tokoh utama yang merupakan korban selamat dari bom itu. Dalam tulisan yang dibukukan ini diceritakan kronologis sebelum dan sesudah bom dijatuhkan dari sudut pandang para korban. Selain itu, terdapat juga pendapat para pakar mengenai radiasi yang mungkin disebabkan oleh bom atom tersesbut. Hersey akan membawa kita menyelami setiap detik yang terjadi di Hiroshima.
Kesan pertama saat membaca beberapa halam dalam buku ini adalah saya sebagai pembaca menikmati bacaan ini. Saya seakan-akan tak mau melepaskan buku ini dan terlarut dalam membacanya sehingga membuat saya selalu penasaran dengan akhir laporan yang dituliskan seperti sebuah narasi ini.
John Hersey memakai keenam pemeran ini bukan tanpa sebab. Keenam tokoh ini memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain. Hersey sepertinya suka pada tokoh-tokoh yang memiliki sifat heroik dan memilih beberapa tokoh sebagai pemeran utama. Mereka adalah Pendeta Kiyoshi Tanimoto, Wilhelm Kleinsorge, dan Dokter Terufumi Sasaki. Dua tokoh yang dirundung penderitaan dan sulit bangkit dari penderitaan itu adalah Nona Toshiko Sasaki dan Nyonya Hatsuyo Nakamura. Sedangkan Dokter Masazaku Fujii melengkapi cerita ini sebagai tokoh yang legowo, menerima keadaan apa adanya dan bisa bangkit dari keterpurukan tanpa mengeluh.
Buka tanpa sebab dan bukan secara acak keenam tokoh itu dipilih. Mungkin Hersey ingin menemukan kaitan-kaitan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Dan saya mengira Pastur Kleinsorge adalah tokoh kunci penceritaan Hersey. Saya berasumsi demikian karena tokoh-tokoh lainnya berhubungan dengan Pastur Kleinsorge. Nyonya Nakamura adalah salah seorang jemaat sang pastur. Tanimoko yang seorang pendeta Kristen tentu mengenal pemimpin dari Gereja Katolik, yakni Pastur Kleinsorge. Dokter Fujii adalah juga relasi Pastur Kleinsorge yang senang memberinya obat-obatan. Ketika Nona Sasaki berada dalam masa depresi, Pastur Kleinsorge pula yang memberi dukungan mental. Pada saat mengunjungi Nona Sasaki itulah, ia bertemu dengan Dokter Sasaki. Semuanya saling terangkai lewat Pastur Kleinsorge.
Penulis berusaha untuk menampilkan ceritanya sedetil mungkin dengan menggunakan deskripsi yang total. Ia menggambarkan setiap kejadian dengan detil. Namun demikian—entah penerjemah atau penulis yang menyusun kata—tulisan ini, menurut saya, berusaha menjauhkan pembaca dari rasa miris yang berlebihan. Penulis (atau penerjemah) bersikap seolah-olah “dingin”. Semua realitas dituliskan berdasarkan sudut pandang para tokoh. Meski ditulis dala bentuk narasi dan menyerupai novel, Hersey tidak menuliskan dengan menggunakan perasaannya sendiri, melainkan fakta. Hal itulah yang menjadi pembeda antara novel dan karya literary journalism.
Hal lain yang menjadi pembeda adalah terdapat cover both side dari tulisan ini. Jika penulis novel biasa (bisa juga dengan menggunaka riset) mungkin hanya akan menyentuh aspek melodramatis, wartawan akan juga memikirkan kausalitas dari setiap kejadian. Ia menyebutkan hasil para peneliti dan penyebab dari penyakit misterius yang menyerang orang-orang yang masih hidup.
Tulisan ini juga memenuhi kriteria-kriteria tulisan berjenis sastra. Tulisan ini memiliki tokoh-tokoh dan semua sifat mereka dijabarkan oleh Hersey. Latar waktu dan tempat juga dijelaskan secara detil. Alur yang digunakan oleh penulis berupa alur maju, yakni beberapa jam sebelum bom dijatuhkan dan pasca-pengeboman. Namun sayang, penceritaan alur yang lambat di awal menjadi cepat pada ujungnya. Penulis menggunakan sudut pandang penulis serba tahu. Ia tidak hanya menggambarkan apa yang diketahui para tokoh, melainkan hal-hal yang juga tidak diketahui para tokoh. Pemilihan kata atau diksi juga sudah baik (meski yang melakukan tentu penerjemah).
Satu goal yang menurut saya tercapai dari tulisan ini. Tulisan ini bukan untuk menyebarkan kisah sedih dan sengsara warga Jepang pasca-pengeboman, melainkan untuk menunjukkan kebesaran hati warga Jepang. Mereka tidak mengeluh akan penderitaan, justru memperlihatkan ketegaran luara biasa. Sebenarnya orang-orang berhasil hidup merasa malu karena tidak bisa mati bersama 100.000 korban untuk membela negara dan Kaisar Tenno. Mungkin pada masanya, tulisan ini juga mennyadarkan warga dunia tentang banyaknya kerugian yang muncul dalam masa perang.
Saya menemukan beberapa kesalahan dan ketidakkonsistenan penerjemah dan itu membuat naskah ini menjadi tidak sempurna. Pada halaman kedua, saya menemukan tulisan “Pastur Kleinsorge, seorang pendeta Jerman dari Society of Jesus…” Terdapat kesalahan dalam tulisan itu, pastur dan pendeta menempati arti yang sama. Padahal kedua kata itu berbeda dan merujuk pada profesi yang berbeda. Pastur adalah pemimpin umat Katolik, sedangkan pendeta adalah pemimpin umat Kristen Protestan.
Kesalahan lain terdapat pada halaman 20. Di situ dituliskan “… setengah jam kemudian ia sudah membaca Misa di kapel kompleks misionari…” Ada mispersepsi dalam diri penerjemah. “Misa” bukanlah sebuah bahan bacaan, melainkan sebuah kegiatan ibadah orang Katolik. Misa menjadi objek ketika dikatakan “Umat mengkuti Misa” atau “Pastur memimpin Misa selama dua jam”.
Pada halaman 44, kita akan menjumpai kalimat “Dari 1.780 orang perawat, 1.654 orang tewas atau terluka parah untuk bekerja”. Penggunaan kata sambung “atau” tidak relevan. “Terluka parah” dan “Tewas” berada dalam kategori yang berbeda untuk sebuah pengukuran. Kita tidak bisa membedakan jumlah antara suster yang tewas dan yang terluka parah. Akan lebih rasional bila disebutkan jumlah pastinya atau menggunakan komparasi yang pas, seperti terluka parah dan terluka ringan.
Terdapat beberapa kata yang sudah ada dalam bahasa Indonesia namun tetap menggunakan bahasa Inggris secara konsisten di dalam tulisan. Salah satunya adalah kata “noviciatte” yang sudah ada terjemahannya, yakni “novisiat”. Novisiat merujuk pada tempat tinggal para biarawan—khususnya bruder— untuk berdoa dan belajar, mungkin semacam asrama atau biara. Kata “diosence” juga sudah diartikan menjadi “diosesan”. Society of Jesus merupakan ordo yang sudah ada di Indonesia, namanya menjadi Syarikat Jesuit. Maka, itu menjadi penanda seorang pastur menganut ordo mana. Hal itu terlihat dalam penulisannya di belakang nama, Pastur Wilhelm Kleinsorge, SJ, misalnya.
Posted by: elisabetyas on: October 20, 2009
Adam terlihat gusar di bawah tatapan Eva. Pengakuan akan sebuah kesalahan memang hal yang sulit dilakukan. Kesalahan Adam tidak pernah terpikir oleh Eva akan dilakukan Adam sebelumnya—tidak dengan hati Adam yang setulus itu. Eva menghargai kejujuran Adam, namun jika disuruh untuk melupakan kesalahan Adam, Eva belum sanggup. Anak dari kesalahan Adam itu disebut “perselingkuhan”. Tak tahu apakah nama itu tepat atau tidak, yang jelas keduanya sepakat bahwa kesalahan itu bernama perselingkuhan.
“Sudah tiga bulan berselang, kamu masih mempersoalkan. Apa yang aku harus lakukan?” tanya Adam sembari menatap Eva dalam-dalam.
Eva menatap danau yang terhampar di depannya. ”Mempersoalkan karena tidak ada penyelesaian di masa lalu. Kamu memaksa aku untuk melupakan begitu saja, tidak bisa. Kamu tak mengizinkanku berinteraksi dengannya sejak dulu? Melindunginya, eh?”
“Tidak melindungi, hanya untuk apa dilakukan? Aku yang salah.”
“Aku tahu kamu salah, tapi dia juga salah. Aku hanya ingin dia mengakuinya.” Eva mengalihkan tatapannya dari danau dan ganti menatap Adam. “Kamu tahu, dia mengirim email padaku. Sudah baca? Aku kirim itu ke email-mu. Wew, selalu ada kejutan baru, ya?”
“Sudah baca. Kejutan yang mana lagi? Sudahlah tak perlu didengarkan apa yang diocehkannya lewat email itu.”
“Kejutan bahwa kamu sudah tiga kali berpaling ke dia. Itu berarti selama kita tiga kali break, kamu bersandar padanya, eh?” kata Eva sambil menyalakan sebatang rokok.
Adam ikut mengambil sebatang rokok dan menyalakannya juga. “Itu kan perspektif dia saja. Aku tak bermaksud demikian. Bersandar? Tidak. Aku hanya bercerita tentang kamu yang seolah tidak mempedulikanku.”
“Bohong. Dia bilang pada saat break kita yang terakhir kali itu, kamu ingin memikirkan kelanjutan hubungan kalian.” kata Eva sambil mengisap rokok dalam-dalam.
Adam menggeleng santai. “Tidak. Aku tidak pernah ingin benar-benar pisah darimu. Aku hanya mengatakan aku masih sayang kamu. Aku tidak pernah menyinggung apakah akan serius dengannya atau tidak.” Adam menghembuskan asap rokok. “Tapi menyukainya juga pada akhirnya.”
“Lalu megapa dia begitu yakin akan hal itu dan sampai menuliskannya dalam blog seolah hatinya benar-benar sakit?”
“Sekali lagi, aku hanya menduga dia memaknai perkataanku terlalu dalam.”
“Apa dia melebihiku dari segi physical appearance?”
“Tidak, sama sekali tidak. Kamu lebih dalam hal itu. Aku sadar betul kamu melebihinya.”
“Lalu, apakah dia memiliki pribadi yang sangat menarik? Mungkin dia sangat penyabar seperti Bunda Teressa, hingga kamu terpikat? Aku sadar aku memang memiliki sedikit sekali sifat keibuan,” tanya Eva, masih dalam nada datar.
“Ah, tidak juga. Dia sama saja seperti perempuan kebanyakan, seperti kamu kalau marah.”
Eva mendengus. “Berarti dia punya segudang prestasi yang bisa membuat kamu kagum? Menyaingimu dalam berprestasi?”
Adam tertawa. “Sejauh aku mengetahui, tidak seperti itu.”
“Lalu apa? Buat aku mengerti.” Eva menghembuskan asap rokok ke wajah Adam.
“She’s nothing compared to you, really. I just don’t know. Mungkin selama kita menjalin hubungan jarak jauh ini, dia yang ada buat aku. Dia memberi aku perhatian,” kata Adam sambil tertawa.
Eva ikut tertawa sinis. “Perhatian macam apa? Ucapan selamat malam, semoga mimpi indah, petanyaan sedang apa, pemberian semangat dalam menjalani harimu? Bukankah aku juga memberikan hal itu. Kalau aku lupa dalam suatu waktu tidak mengucapkan itu, dia yang menggantikan ucapan-ucapan itu? Dan kamu memilih untuk menyukainya hanya karena itu? Pembantu juga bisa menggantikanku, bukan? Lantas apa kamu langsung menyukai pembantu itu? Tahu tidak, kamu pria paling gampangan yang pernah aku kenal. Sayangnya, kamu justru kekasihku.
Adam tertawa mendengar ucapan itu. “Aku hanya… khilaf, Sayang. Kedekatanlah yang membuatku jadi seperti itu.
“Sudah pernah aku peringatkan, kan, tentang watakmu yang satu itu? Ingat?”
“Tentu. Sangat ingat.”
Eva mematikan rokoknya di dalam asbak. “Dia mengatakan aku perempuan yang elok namun berhati busuk. Aku mengakuinya. Kebusukanku ini hanya muncul untuknya. Aku katakan,setiap orang akan menjadi jahat jika hatinya terlukai. Maka, dia pun tak ubahnya aku. Kamu masih mau dengan perempuan berhati busuk seperti aku? Tak ingin besama perempuan berhati selembut peri yang bernama Betsyeba itu?”
Adam sekali lagi tertawa. “Tidak, kamu tidak jahat. Kamu memang bisa melakukan apa saja jika hatimu sakit. Dan, tolong jangan mengatakan bahwa dia memiliki hati selembut peri.”
“Peri binal,” ujar Eva ikut tertawa. “Dan dia sepertinya sangat percaya diri bahwa kamu benar-benar menginginkannya. Aku disuruhnya introspeksi diri, mengapa bisa lelaki-ku lari ke pelukannya. Tak malu dia mengatakan itu. Dia tak mengakui bahwa dia menginginkanmu, menyukaimu tapi mau jadi tempat dijadikan sandaran alias pelampiasan. Apa itu namanya? Kalau dia bukan peri binal seperti kataku tadi, dia tidak akan peduli padamu. Hal yang terjadi adalah dia menikmati rangsangan-mu, Sayang. Itu tandanya dia salah juga, bukan hanya kamu.”
“Aku tidak tahu mengapa Betsyeba tidak mengakui bahwa dia juga suka …”
Eva menyambar, “Malah menyalahkanku. Dia menghinaku begitu rupa. Sakit hatinya juga rupanya? Aku tertawa, tak kupungkiri tudingannya atasku, aku cukup fair. Tapi dia? Aku kasihan, dia bahkan tak mampu mengakui apa yang dia rasakan dan apa kesalahannya.”
“Tapi kamu memang cuek beberapa bulan lalu.”
“Iya. Toh kamu juga cuek. Apa masalahnya sekarang? Kupikir kita memang tipe pekerja, tidak suka diganggu jika bekerja. Aku pikir hal itu baik-baik saja, tapi tak kusangka begitu jadinya.”
“Aku hanya… khilaf.” Raut wajah Adam memancarkan permohonan maaf.
“Oke, bisa dimengerti, hanya khilaf… Lalu, kamu terima aku dihinanya begitu?”
“Tidak. Tentu tidak. Tidak ada simpulannya yang benar mengenaimu kecuali yang tadi kita bahas.”
Eva menggenggam tangan Adam. “Kamu tidak ingin membelaku?”
“Bagaimana caranya? Aku juga dalam posisi salah. Justru aku yang harus dibela.”
“Aku membelamu, tentu, pada awalnya. Aku ingin dia mengakui dia juga menyukaimu. Tidak meletakkan semua kesalahan padamu. Apa susahnya itu? Tapi terakhir aku mengatakan, bahwa aku tak perlu takut kehilangan kamu lagi. Toh, kamu akan ngemis padaku.”
Adam mendengus sambil tersenyum. “Sudahlah, berdamailah dengan dirimu. Kamu hanya mengatakan akan mencoba memaafkanku, tapi kenyataannya tak bisa.”
“Kali ini aku benar-benar akan mencoba. Logikaku memang sudah akan memaafkanmu, tapi perasaanku sulit sekali diajak berkompromi.” Eva melepaskan genggaman tangannya. “Dia marah saat kukatakan ‘you’re just nothing compared to me’. Katanya, dia tertawa membaca itu, tapi cukup membuat egonya bergolak juga. Padahal ide itu datangnya dari kamu.”
“Iya, kan aku sudah bilang dari dulu, kamu tidak sebanding dengannya.” Adam menarik tangan Eva ke dalam genggamannya. “Satu hal dia benar, jika kamu sudah merasa lebih darinya, lalu mengapa mesti risau?”
“Itu bukan risau, Sayang. Itu ungkapan kemarahan hati sejak tiga bulan lalu. Tidak adil hanya marah padamu saja karena yang melakukan salah kalian berdua.” Eva menolah usapan tangan Adam pada pipinya.
“Kalau kamu baca email-nya dengan baik, kamu akan bisa menyimpulkan bahwa dia sudah menyerah dengan mengatakan toh kamu juga sudah mendapatkannya kembali, buat apa cari aku lagi. Artinya, kamu sudah mendapatkan lelaki yang dia sangat inginkan,” kata Adam sambil masih berusaha memegang pipi Eva.
Eva tertawa. “Kamu terlalu percaya diri. Tidak semudah itu. Dia juga harus merasakan seperti apa yang aku rasakan. Terlebih lagi, aku tak mau ide bahwa kamu-sangat-senang-bersandar-padanya-dan-selalu-mencarinya-setiap-break-denganku, mengitari kepalanya, membuatnya sok cantik dan merasa menjadi perempuan hebat.”
“Biarkan dia berpikir sesukanya. Tak perlu kita bahas lagi mengenainya jika kamu memang ingin belajar memaafkanku,” kata Adam sambil mengecup tangan Eva.
Tiba-tiba Eva terkikik geli. “Kamu bercerita, bukankah sebelum denganmu dia memiliki pengalaman yang hampir sama, berpisah dengan orang yang disukainya? Aku ungkit itu dalam email balasan. Sebagai penutup, kukatakan semoga dia mendapatkan seseorang yang pas untuknya dan benar-benar masih single.”
Adam tertawa tanpa menanggapi Eva.
“Dan aku tahu membenci orang itu tidak boleh dilakukan. Aku memohon maaf pada Tuhan atas hal ini, membenci makhluk ciptaan-Nya juga, namun untuk saat ini aku belum bisa memaafkannya begitu saja. Aku tahu dia pun pasti berdoa juga, mengadu tentang ketidakadilan itu. Apakah Tuhan akan membela satu dari antara kita, toh kita tetap sama-sama mengadu pada Tuhan. Memikirkan itu, aku jadi malu telah melibatkan Tuhan karena kejahatan yang sudah kita lakukan tak perlu meminta pembenaran pada Tuhan, apalagi jika tidak disadari. Aku tak melakukan itu karena aku tahu aku salah. Suatu saat aku akan melewati ini semua. Legowo, itu yang aku belum punya.”
“Pikiranmu terlalu melantur. Yang penting kamu sudah memaafkan aku, kan? Jangan ungkit masalah ini lagi. Belajarlah sepertiku yang bisa memaafkan kesalahanmu,” kata Adam.
Eva menaikkan alisnya. “Betulkah?”
“Sayang, kurang bagaimana aku ini? Aku sudah mengakui sedalam-dalamnya kesalahanku. Kamu sudah hukum aku dua bulan ini. Kamu hilang dan aku tetap mengharapkanmu. Hatiku selalu mencari kamu pada akhirnya. Kamulah yang aku mau, bukan dia, bukan pula orang lain.”
“Tidak perlu berkata-kata manis. Kalau sekarang kamu mau mengenal dia lebih jauh, silakan, daripada kamu masih penasaran. Sekalian menguji teoriku tentang dia yang pasti mau menjadi tempat bersandarmu lagi,” kata Eva.
Adam menggeleng cepat. “Aku tidak peduli padanya, sama sekali sudah tidak peduli.”
“Aku tidak lagi melarangmu berinteraksi dengannya lagi sekarang. Tak perlulah kalian saling berdiam dan canggung satu sama lain. Kamu tidak sedih jika dia membencimu?” kata Eva.
“Bukan karena kamu suruh, aku sendiri pun sudah malas berususan dengannya. Kalau kubilang tak mau, ya, aku tidak mau. Mau dia melakukan apapun, aku tak peduli. Tak peduli juga jika dia membenciku. Sayang, apa kamu kurang menghukum aku?”
“Aku tidak menghukum kamu, sungguh.”
“Dua bulan ini kamu tidak mempedulikanku, aku hampir gila karena hal itu. Please. Semua orang menyalahkanku akan hal ini. Aku sadar saat ibuku berkata bahwa aku sudah memegang burung dara yang indah, malah ingin melepaskannya dan mencari burung lain yang belum tentu lebih bagus dari burung dara itu.”
Nada suara Eva berubah melembut. “Kamu beritahu ibumu akan masalah kita?”
“Iya. Aku hanya mau mengakui kesalahanku padanya. Ibuku mengatakan jika aku benar-benar melepasmu dan memilih dia, itu akan membuatnya pingsan.”
Eva tertawa mendengar hal itu. “Ibumu berlebihan. Aku malah tidak menceritakan masalah ini pada Papa, terakhir aku cerita juga pada Mama karena dia terus mendesakku.”
“Jangan sampai Papa tahu, bisa mati aku nanti,” gurau Adam.
“Tidaklah. Aku tidak mau kamu dimusuhi Papaku, apalagi kamu sudah diultimatum oleh Papaku untuk tidak menyakiti hatiku.”
“Hahaha. Ya, aku janji aku tak akan melakukan hal itu lagi. Aku menyesal dan sudah merasakan sendiri dampaknya. Ternyata aku tidak bisa jauh dari kamu.”
“Teruslah menggombal. Jangan-jangan Betsyeba kaugombali juga? Oh iya, dia juga mengatakan tidak menjamin bahwa hubungan kita yang sudah lama ini akan berakhir di pernikahan.”
“Kita coba saja. Aku sangat yakin akan hal itu, hanya memang aku pernah melakukan kesalahan.”
Eva terkikik geli lagi. “Lantas aku berpikir, apakah dari ungkapannya itu dia ingin mengatakan bahwa sangat mungkin kamu akan menikahinya, yang bahkan belum dipacari. Jika hal itu benar-benar terjadi, aku akan sangat tertawa memandang kalian di pelaminan.”
“Kenapa?” tanya Adam sambil tertawa.
“Sangat tidak cocok. Saat kamu akan merangkulnya, mungkin kamu hanya akan meraih kepalanya dan dia hanya akan mencium bau ketiakmu.”
Adam tertawa keras mendengar Eva berkata-kata demikian. “Maafkan aku, ya, Sayang? Jangan diungkit lagi, aku sudah cukup malu. Yang jelas aku tidak bisa tidak terikat denganmu.”
Eva menggangguk, memilih untuk mempercayai Adam. “Aku percaya kamu bahwa kamu tidak akan melakukannya lagi. Tapi jika lain kali ingin selingkuh, pilihlah perempuan yang melebihi aku agar jangan aku memperolokmu dan membuatku tak habis berpikir karenanya.
“Tidak akan ada kali kedua aku menyakitimu,” kata Adam mantap. “Mau,kan, memaafkanku?”
Eva mengangguk. “For this time, you’re forgiven but not forgotten. Aku mau belajar untuk berdamai dengan diriku. Aku tak akan membahasnya lagi di hadapanmu.”
Dan mereka pun berjalan bergandengan menyongsong matahari senja yang menyorot seperti senter. Berharap semua sakit hati akan menghilang seperti matahari yang tertelan bumi di kala senja itu…
Comments