Hiroshima, Karya Jurnalistik Bebentuk Sastra

Judul             : Hiroshima, Ketika Bom Dijatuhkan

Penulis           : John Hersey

Penerbit        : Komunitas Bambu, 2008

13799Buku ini bukanlah karangan fiksi, melainkan sebuah karya jurnalistik John Hersey ketika membongkar realitas ketika bom dijatuhkan di Hiroshima pada tahun 1945. Dengan bergaya penulisan sastra, kita bisa menikmati bacaan ini. Terdapat enam tokoh utama yang merupakan korban selamat dari bom itu. Dalam tulisan yang dibukukan ini diceritakan kronologis sebelum dan sesudah bom dijatuhkan dari sudut pandang para korban. Selain itu, terdapat juga pendapat para pakar mengenai radiasi yang mungkin disebabkan oleh bom atom tersesbut. Hersey akan membawa kita menyelami setiap detik yang terjadi di Hiroshima.

Kesan pertama saat membaca beberapa halam dalam buku ini adalah saya sebagai pembaca menikmati bacaan ini. Saya seakan-akan tak mau melepaskan buku ini dan terlarut dalam membacanya sehingga membuat saya selalu penasaran dengan akhir laporan yang dituliskan seperti sebuah narasi ini. Continue reading

By elisabetyas Posted in Resensi

You’re Forgiven but Not Forgotten

Adam terlihat gusar di bawah tatapan Eva. Pengakuan akan sebuah kesalahan memang hal yang sulit dilakukan. Kesalahan Adam tidak pernah terpikir oleh Eva akan dilakukan Adam sebelumnya—tidak dengan hati Adam yang setulus itu. Eva menghargai kejujuran Adam, namun jika disuruh untuk melupakan kesalahan Adam, Eva belum sanggup. Anak dari kesalahan Adam itu disebut “perselingkuhan”. Tak tahu apakah nama itu tepat atau tidak, yang jelas keduanya sepakat bahwa kesalahan itu bernama perselingkuhan.

“Sudah tiga bulan berselang, kamu masih mempersoalkan. Apa yang aku harus lakukan?” tanya Adam sembari menatap Eva dalam-dalam.

Eva menatap danau yang terhampar di depannya. ”Mempersoalkan karena tidak ada penyelesaian di masa lalu. Kamu memaksa aku untuk melupakan begitu saja, tidak bisa. Kamu tak mengizinkanku berinteraksi dengannya sejak dulu? Melindunginya, eh?”

“Tidak melindungi, hanya untuk apa dilakukan? Aku yang salah.”

“Aku tahu kamu salah, tapi dia juga salah. Aku hanya ingin dia mengakuinya.” Eva mengalihkan tatapannya dari danau dan ganti menatap Adam. “Kamu tahu, dia mengirim email padaku. Sudah baca? Aku kirim itu ke email-mu. Wew, selalu ada kejutan baru, ya?”

“Sudah baca. Kejutan yang mana lagi? Sudahlah tak perlu didengarkan apa yang diocehkannya lewat email itu.”

“Kejutan bahwa kamu sudah tiga kali berpaling ke dia. Itu berarti selama kita tiga kali break, kamu bersandar padanya, eh?” kata Eva sambil menyalakan sebatang rokok.

Adam ikut mengambil sebatang rokok dan menyalakannya juga. “Itu kan perspektif dia saja. Aku tak bermaksud demikian. Bersandar? Tidak. Aku hanya bercerita tentang kamu yang seolah tidak mempedulikanku.”

“Bohong. Dia bilang pada saat break kita yang terakhir kali itu, kamu ingin memikirkan kelanjutan hubungan kalian.” kata Eva sambil mengisap rokok dalam-dalam.

Adam menggeleng santai. “Tidak. Aku tidak pernah ingin benar-benar pisah darimu. Aku hanya mengatakan aku masih sayang kamu. Aku tidak pernah menyinggung apakah akan serius dengannya atau tidak.” Adam menghembuskan asap rokok. “Tapi menyukainya juga pada akhirnya.”

“Lalu megapa dia begitu yakin akan hal itu dan sampai menuliskannya dalam blog seolah hatinya benar-benar sakit?”

“Sekali lagi, aku hanya menduga dia memaknai perkataanku terlalu dalam.”

“Apa dia melebihiku dari segi physical appearance?”

“Tidak, sama sekali tidak. Kamu lebih dalam hal itu. Aku sadar betul kamu melebihinya.”

“Lalu, apakah dia memiliki pribadi yang sangat menarik? Mungkin dia sangat penyabar seperti Bunda Teressa, hingga kamu terpikat? Aku sadar aku memang memiliki sedikit sekali sifat keibuan,” tanya Eva, masih dalam nada datar.

“Ah, tidak juga. Dia sama saja seperti perempuan kebanyakan, seperti kamu kalau marah.”

Eva mendengus. “Berarti dia punya segudang prestasi yang bisa membuat kamu kagum? Menyaingimu dalam berprestasi?”

Adam tertawa. “Sejauh aku mengetahui, tidak seperti itu.”

“Lalu apa? Buat aku mengerti.” Eva menghembuskan asap rokok ke wajah Adam.

She’s nothing compared to you, really. I just don’t know. Mungkin selama kita menjalin hubungan jarak jauh ini, dia yang ada buat aku. Dia memberi aku perhatian,” kata Adam sambil tertawa.

Eva ikut tertawa sinis. “Perhatian macam apa? Ucapan selamat malam, semoga mimpi indah, petanyaan sedang apa, pemberian semangat dalam menjalani harimu? Bukankah aku juga memberikan hal itu. Kalau aku lupa dalam suatu waktu tidak mengucapkan itu, dia yang menggantikan ucapan-ucapan itu? Dan kamu memilih untuk menyukainya hanya karena itu? Pembantu juga bisa menggantikanku, bukan? Lantas apa kamu langsung menyukai pembantu itu? Tahu tidak, kamu pria paling gampangan yang pernah aku kenal. Sayangnya, kamu justru kekasihku.
Adam tertawa mendengar ucapan itu. “Aku hanya… khilaf, Sayang. Kedekatanlah yang membuatku jadi seperti itu.

“Sudah pernah aku peringatkan, kan, tentang watakmu yang satu itu? Ingat?”

“Tentu. Sangat ingat.”

Eva mematikan rokoknya di dalam asbak. “Dia mengatakan aku perempuan yang elok namun berhati busuk. Aku mengakuinya. Kebusukanku ini hanya muncul untuknya. Aku katakan,setiap orang akan menjadi jahat jika hatinya terlukai. Maka, dia pun tak ubahnya aku.  Kamu masih mau dengan perempuan berhati busuk seperti aku? Tak ingin besama perempuan berhati selembut peri yang bernama Betsyeba itu?”

Adam sekali lagi tertawa. “Tidak, kamu tidak jahat. Kamu memang bisa melakukan apa saja jika hatimu sakit. Dan, tolong jangan mengatakan bahwa dia memiliki hati selembut peri.”

“Peri binal,” ujar Eva ikut tertawa. “Dan dia sepertinya sangat percaya diri bahwa kamu benar-benar menginginkannya. Aku disuruhnya introspeksi diri, mengapa bisa lelaki-ku lari ke pelukannya. Tak malu dia mengatakan itu. Dia tak mengakui bahwa dia menginginkanmu, menyukaimu tapi mau jadi tempat dijadikan sandaran alias pelampiasan. Apa itu namanya? Kalau dia bukan peri binal seperti kataku tadi, dia tidak akan peduli padamu. Hal yang terjadi adalah dia menikmati rangsangan-mu, Sayang. Itu tandanya dia salah juga, bukan hanya kamu.”

“Aku tidak tahu mengapa Betsyeba tidak mengakui bahwa dia juga suka …”

Eva menyambar, “Malah menyalahkanku. Dia menghinaku begitu rupa. Sakit hatinya juga rupanya? Aku tertawa, tak kupungkiri tudingannya atasku, aku cukup fair. Tapi dia? Aku kasihan, dia bahkan tak mampu mengakui apa yang dia rasakan dan apa kesalahannya.”

“Tapi kamu memang cuek beberapa bulan lalu.”

“Iya. Toh kamu juga cuek. Apa masalahnya sekarang? Kupikir kita memang tipe pekerja, tidak suka diganggu jika bekerja. Aku pikir hal itu baik-baik saja, tapi tak kusangka begitu jadinya.”

“Aku hanya… khilaf.” Raut wajah Adam memancarkan permohonan maaf.

“Oke, bisa dimengerti, hanya khilaf… Lalu, kamu terima aku dihinanya begitu?”

“Tidak. Tentu tidak. Tidak ada simpulannya yang benar mengenaimu kecuali yang tadi kita bahas.”

Eva menggenggam  tangan Adam. “Kamu tidak ingin membelaku?”

“Bagaimana caranya? Aku juga dalam posisi salah. Justru aku yang harus dibela.”

“Aku membelamu, tentu, pada awalnya. Aku ingin dia mengakui dia juga menyukaimu. Tidak meletakkan semua kesalahan padamu. Apa susahnya itu? Tapi terakhir aku mengatakan, bahwa aku tak perlu takut kehilangan kamu lagi. Toh, kamu akan ngemis padaku.”

Adam mendengus sambil tersenyum. “Sudahlah, berdamailah dengan dirimu. Kamu hanya mengatakan akan mencoba memaafkanku, tapi kenyataannya tak bisa.”

“Kali ini aku benar-benar akan mencoba. Logikaku memang sudah akan memaafkanmu, tapi perasaanku sulit sekali diajak berkompromi.” Eva melepaskan genggaman tangannya. “Dia marah saat kukatakan ‘you’re just nothing compared to  me’. Katanya, dia tertawa membaca itu, tapi cukup membuat egonya bergolak juga. Padahal ide itu datangnya dari kamu.”

“Iya, kan aku sudah bilang dari dulu, kamu tidak sebanding dengannya.” Adam menarik tangan Eva ke dalam genggamannya. “Satu hal dia benar, jika kamu sudah merasa lebih darinya, lalu mengapa mesti risau?”

“Itu bukan risau, Sayang. Itu ungkapan kemarahan hati sejak tiga bulan lalu. Tidak adil hanya marah padamu saja karena yang melakukan salah kalian berdua.” Eva menolah usapan tangan Adam pada pipinya.

“Kalau kamu baca email-nya dengan baik, kamu akan bisa menyimpulkan bahwa dia sudah menyerah dengan mengatakan toh kamu juga sudah mendapatkannya kembali, buat apa cari aku lagi. Artinya, kamu sudah mendapatkan lelaki yang dia sangat inginkan,” kata Adam sambil masih berusaha memegang pipi Eva.

Eva tertawa. “Kamu terlalu percaya diri. Tidak semudah itu. Dia juga harus merasakan seperti apa yang aku rasakan. Terlebih lagi, aku tak mau ide bahwa kamu-sangat-senang-bersandar-padanya-dan-selalu-mencarinya-setiap-break-denganku, mengitari kepalanya, membuatnya sok cantik dan merasa menjadi perempuan hebat.”

“Biarkan dia berpikir sesukanya. Tak perlu kita bahas lagi mengenainya jika kamu memang ingin belajar memaafkanku,” kata Adam sambil mengecup tangan Eva.

Tiba-tiba Eva terkikik geli. “Kamu bercerita, bukankah sebelum denganmu dia memiliki pengalaman yang hampir sama, berpisah dengan orang yang disukainya? Aku ungkit itu dalam email balasan. Sebagai penutup, kukatakan semoga dia mendapatkan seseorang yang pas untuknya dan benar-benar masih single.”

Adam tertawa tanpa menanggapi Eva.

“Dan aku tahu membenci orang itu tidak boleh dilakukan. Aku memohon maaf pada Tuhan atas hal ini, membenci makhluk ciptaan-Nya juga, namun untuk saat ini aku belum bisa memaafkannya begitu saja. Aku tahu dia pun pasti berdoa juga, mengadu tentang ketidakadilan itu. Apakah Tuhan akan membela satu dari antara kita, toh kita tetap sama-sama mengadu pada Tuhan. Memikirkan itu, aku jadi malu telah melibatkan Tuhan karena kejahatan yang sudah kita lakukan tak perlu meminta pembenaran pada Tuhan, apalagi jika tidak disadari. Aku tak melakukan itu karena aku tahu aku salah. Suatu saat aku akan melewati ini semua. Legowo, itu yang aku belum punya.”

“Pikiranmu terlalu melantur. Yang penting kamu sudah memaafkan aku, kan? Jangan ungkit masalah ini lagi. Belajarlah sepertiku yang bisa memaafkan kesalahanmu,” kata Adam.

Eva menaikkan alisnya. “Betulkah?”

“Sayang, kurang bagaimana aku ini? Aku sudah mengakui sedalam-dalamnya kesalahanku. Kamu sudah hukum aku dua bulan ini. Kamu hilang dan aku tetap mengharapkanmu. Hatiku selalu mencari kamu pada akhirnya. Kamulah yang aku mau, bukan dia, bukan pula orang lain.”

“Tidak perlu berkata-kata manis. Kalau sekarang kamu mau mengenal dia lebih jauh, silakan, daripada kamu masih penasaran. Sekalian menguji teoriku tentang dia yang pasti mau menjadi tempat bersandarmu lagi,” kata Eva.

Adam menggeleng cepat. “Aku tidak peduli padanya, sama sekali sudah tidak peduli.”

“Aku tidak lagi melarangmu berinteraksi dengannya lagi sekarang. Tak perlulah kalian saling berdiam dan canggung satu sama lain. Kamu tidak sedih jika dia membencimu?” kata Eva.

“Bukan karena kamu suruh, aku sendiri pun sudah malas berususan dengannya. Kalau kubilang tak mau, ya, aku tidak mau. Mau dia melakukan apapun, aku tak peduli. Tak peduli juga jika dia membenciku. Sayang, apa kamu kurang menghukum aku?”

“Aku tidak menghukum kamu, sungguh.”

“Dua bulan ini kamu tidak mempedulikanku, aku hampir gila karena hal itu. Please. Semua orang menyalahkanku akan hal ini. Aku sadar saat ibuku berkata bahwa aku sudah memegang burung dara yang indah, malah ingin melepaskannya dan mencari burung lain yang belum tentu lebih bagus dari burung dara itu.”

Nada suara Eva berubah melembut. “Kamu beritahu ibumu akan masalah kita?”

“Iya. Aku hanya mau mengakui kesalahanku padanya. Ibuku mengatakan jika aku benar-benar melepasmu dan memilih dia, itu akan membuatnya pingsan.”

Eva tertawa mendengar hal itu. “Ibumu berlebihan. Aku malah tidak menceritakan masalah ini pada Papa, terakhir aku cerita juga pada Mama karena dia terus mendesakku.”

“Jangan sampai Papa tahu, bisa mati aku nanti,” gurau Adam.

“Tidaklah. Aku tidak mau kamu dimusuhi Papaku, apalagi kamu sudah diultimatum oleh Papaku untuk tidak menyakiti hatiku.”

“Hahaha. Ya, aku janji aku tak akan melakukan hal itu lagi. Aku menyesal dan sudah merasakan sendiri dampaknya. Ternyata aku tidak bisa jauh dari kamu.”

“Teruslah menggombal. Jangan-jangan Betsyeba kaugombali juga? Oh iya, dia juga mengatakan tidak menjamin bahwa hubungan kita yang sudah lama ini akan berakhir di pernikahan.”

“Kita coba saja. Aku sangat yakin akan hal itu, hanya memang aku pernah melakukan kesalahan.”

Eva terkikik geli lagi. “Lantas aku berpikir, apakah dari ungkapannya itu dia ingin mengatakan bahwa sangat mungkin kamu akan menikahinya, yang bahkan belum dipacari. Jika hal itu benar-benar terjadi, aku akan sangat tertawa memandang kalian di pelaminan.”

“Kenapa?” tanya Adam sambil tertawa.

“Sangat tidak cocok. Saat kamu akan merangkulnya, mungkin kamu hanya akan meraih kepalanya dan dia hanya akan mencium bau ketiakmu.”

Adam tertawa keras mendengar Eva berkata-kata demikian. “Maafkan aku, ya, Sayang? Jangan diungkit lagi, aku sudah cukup malu. Yang jelas aku tidak bisa tidak terikat denganmu.”

Eva menggangguk, memilih untuk mempercayai Adam. “Aku percaya kamu bahwa kamu tidak akan melakukannya lagi. Tapi jika lain kali ingin selingkuh, pilihlah perempuan yang melebihi aku agar jangan aku memperolokmu dan membuatku tak habis berpikir karenanya.

“Tidak akan ada kali kedua aku menyakitimu,” kata Adam mantap. “Mau,kan, memaafkanku?”

Eva mengangguk. “For this time, you’re forgiven but not forgotten. Aku mau belajar untuk berdamai dengan diriku. Aku tak akan membahasnya lagi di hadapanmu.”

Dan mereka pun berjalan bergandengan menyongsong matahari senja yang menyorot seperti senter. Berharap semua sakit hati akan menghilang seperti matahari yang tertelan bumi di kala senja itu…

By elisabetyas Posted in Cerpen

The Ugly Truth, Kebenaran Tak Selalu Indah

Judul                     : The Ugly Truth

Sutradara            : Robert Luketic

Pemain                 : Katherine Heigl, Gerard Butler, Cheryl Hines, Eric Winter, Kevin Connoly, dan Bree   Turner

Sebuah film komedi romantis persembahan Columbia Pictures, Sony Pictures Entertainment, dan Lakeshore Entertainment ini menghadirkan cerita mengenai keunikan cinta, dibalut dengan percakapan cerdas dan lucu. Adalah produser morning show SacramentoAm, Abby Richter—yang diperankan Katherine Heigl (27 Dresses, Knocked Up)—perempuan yang perfeksionis, haus kekuasaan, dan berada pada puncak karir pada usianya yang relatif muda, namun tidak begitu beruntung dalam hal percintaan.

Kemunduran rating SacramentoAm membuat sang bos berinisiatif untuk merekrut salah seorang bintang televisi acara The Ugly Truth, Mike Chadway—yang diperankan Gerard Butler (P.S I Love You)—untuk menjadi presenter tambahan dalam SacramentoAm. Hal itu membuat Abby sangat marah karena ia membenci Mike dan The Ugly Truth. Menurutnya, acara yang mulanya disajikan tengah malam itu adalah acara pembodohan dan berisi hal-hal vulgar yang bertentangan dengan prinsip percintaan. Mike yang bertindak sebagai penasihat cinta sekaligus host The Ugly Truth gemar menghina para penelepon atas kebodohan mereka akan percintaan.

Abby dan Mike akhirnya bekerja sama dalam SacramentoAm dengan meleburnya juga The Ugly Truth di dalamnya. Mike membuat ulah dengan berimprovisasi di luar skrip dan alur yang sudah diatur Abby. Abby mengira karirnya akan hancur karena ulah Mike, namun kemasyuran yang justru didapatnya kemudian.

Merasa Abby sepertinya sangat membencinya, Mike berusaha mendekati Abby untuk berdamai dengannya. Mike berhasil mengetahui bahwa Abby sedang jatuh cinta pada tetangganya, Colin (Eric Winter). Secara sukarela, Mike memberikan saran-saran agar Colin bisa jatuh cinta pada Abby. Ada aturan-aturan yang harus dijalani untuk mendapatkan seorang pria. Abby menuruti saran-saran Mike dalam hal berkencan dan berdandan. Abby pun rela  melepas citra dirinya sebagai perempuan yang suka mengambil alih kontrol dan menjadi perempuan manis yang selalu mendukung kekasihnya.

Popularitas Mike yang semakin menanjak membuat stasiun televisi nasional di San Fransisco ingin merekrutnya. Mike diundang hadir dalam sebuah acara terkenal sebagai narasumber dan pada akhirnya akan ditawari menjadi presenter dengan gaji dua kali lipat. Untuk memastikan Mike menolak tawaran itu, Abby rela membatalkan kencannya dengan Colin dan memilih menemani Mike sepanjang talk show berlangsung.

Mike menolak bergabung dengan acara tersebut. Abby senang karena usahanya tak sia-sia. Mereka pun merayakan hal itu di sebuah klab. Dalam percakapan malam itu, Mike menyadarkan Abby bahwa selama ini hanya berpura-pura menjadi orang lain yang manis di hadapan Colin. Abby mulai sadar bahwa ia tidak  menjadi dirinya sendiri. Ternyata hanya di hadapan Mike-lah, Abby bisa menunjukkan diri seutuhnya, baik hal yang positif maupun negatif.

Tanpa disadari, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara keduanya malam itu. Secara spontan, mereka berciuman di lift sebelum akhirnya mereka masuk ke kamar masing-masing. Abby mulai memikirkan Mike dan ia terkejut saat pintu kamarnya diketuk. Ternyata Colin datang untuk memberi kejutan pada Abby. Padahal, ia tengah menantikan kedatanan Mike.

Malang bagi Abby karena pada saat itu Mike mengunjungi kamarnya juga untuk berterus terang mengenai perasaannya. Tanpa disangka Colin-lah yang membukakan pintu untuk Mike. Dan mereka bertiga terlibat percakapan basa-basi. Abby mengejar Mike di sepanjang lorong hotel dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Abby bersikap jujur ketika mengatakan bahwa Mike-lah yang ditunggunya sejak tadi, namun justru Colin yang datang. Abby meminta saran pada Mike apakah ia harus mengusir Colin atau tidak. Mike berpendapat tidak seharusnya ia mengusir Colin karena Abby telah bekerja keras untuk mendapatkan Colin.

Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apakah Abby akan menuruti saran Mike atau sebaliknya? Sebaiknya Anda saksikan sendiri akhir dari kisah ini. Film ini layak ditonton. Stephen Holden dari New York Times berpendapat, “Nice, funny, romance, and fantastic movie. I like this movie.

Lagi, kebusukan pria diungkapkan dalam film ini, sebelumnya ide seperti ini pernah muncul dalam film He’s Just Not That Into You yang disutradarai Chihiro Fujii. Dalam film itu terdapat pesan bahwa perempuan harus bisa membaca gelagat pria. Pria selalu memiliki aturan-aturannya sendiri dalam berkencan. Mike tak ubahnya seperti Alexander (Justin Long) dalam He’s Just Not That Into You yang gemar memberi saran pada salah seorang perempuan, namun akhirnya jatuh cinta pada yang diberi saran tersebut.

Meski memiliki kesamaan dengan film lain yang terlebih dulu ada, The Ugly Truth memiliki pesan terselubung di dalamnya. Hal yang bisa kita petik adalah bagaimana hal-hal yang dianggap vulgar telah sangat disukai masyarakat dan penonton televisi. Pemilik televisi pun harus mengubah citra mereka sesuai dengan permintaan mayarakat, meski harus menyuguhkan hal-hal yang tidak pantas.

By elisabetyas Posted in Resensi

“Bersamamu Kuhabiskan Waktu, Senang Bisa Mengenal Dirimu”

Rombongan mahasiwa Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) Unpad 2009 yang menuju Sukabumi sepertinya menempati jumlah terbanyak. Mereka diberangkatkan pada gelombang kedua (15/7). Bis pun berjajar mengelilingi Gedung PTBS Unpad, Jatinangor sejak pukul 06.00 WIB. Pihak Unpad sudah cukup kooperatif dalam mengatur pemberangakatan para mahasiswa ini sehingga semua mendapatkan tempat duduk di bis dan sampai di Sukabumi dengan selamat.

Sebuah kecamatan di Sukabumi, yakni Jampang Kulon adalah salah satu kecamatan yang “menampung” mahasiswa KKNM dalam jumlah banyak. Sedikitnya 300 mahasiswa menempati wilayah Jampang Kulon yang disebar ke dalam 10 desa. Bis-bis yang mengangkut mahasiswa tersebut tiba di Jampang Kulon sekitar pukul 16.00-16.30 WIB. Hampir semua datang serempak. Camat Jampang Kulon menyambut kedatangan mahasiswa dengan pidato singkatnya.

Di Jampang Kulon, terdapat sebuah desa atau kelurahan bernama Bojongsari. Letak desa ini tidak dilewati Jalan Raya Jampang Kulon. Jika mahasiswa ingin bepergian untuk sekedar berbelanja di pusat Kecamatan Jampang Kulon, maka mereka harus melewati beberapa desa. Jauh dari jalan utama membuat konstruksi denah di desa itu memungkinkan warganya untuk saling mengenal dari dusun satu ke dusun yang lain. Bojongsari layaknya kawasan eksklusif yang dihuni keluarga besar yang saling bertoleransi. Jalan yang terbentang sepanjang Bojongsari pun sangat jarang dilewati mobil, motor, atau bahkan angkutan umum sekali pun.

Dua puluh delapan mahasiswa KKNM Unpad mendapat jatah tinggal di sana. Mereka tinggal di rumah sewaan yang letaknya persis di depan Balai Desa. Perasaan takut tidak diterima oleh masyarakat merasuki batin mereka. Namun, prasangka itu tereduksi ketika Kepala Desa Bojongsari Budi Pirmansyah menyambut mereka keesokan harinya.

“Selamat datang saya ucapkan kepada adik-adik KKN. Saya harap kalian tidak perlu takut atau sungkan tidak akan diterima di desa ini sebab masyarakat di sini tidak pernah menuntut yang macam-macam dari peserta KKN. Tak usah membuat program yang muluk-muluk, yang penting kalian bisa berbaur dengan kami,” ujar Budi.

Kades Bojongsari dan Wakordes dalam Acara Penyambutan

Kades Bojongsari dan Wakordes dalam Acara Penyambutan

Wilayah Bojongsari cukup luas, yaitu 806,755 hektar. Tanah seluas itu sebagian besar dipergunakan untuk bercocok tanam. Hasilnya berupa kelapa, pisang, beras, dan singkong. Namun, sayang ketika musim kemarau tiba, tidak ada yang dihasilkan kebun-kebun warga karena mereka tidak memiliki saluran irigasi.

“Jadi, kalau musim kemarau gini, ya, nggak bisa dapat uang dari tanaman-tanaman. Paling juga saya jualan gorengan,” kata Saipul, salah satu petani di sana.

Kondisi Tanah Saat Musim Kemarau

Kondisi Tanah Saat Musim Kemarau

Kebanyakan warga di sana berasal dari kalangan menengah ke bawah.  Tak jarang mereka berada dalam kondisi sangat miskin. Banyak kepala keluarga yang hanya menghasilkan Rp. 10.000,00 per minggu. Mereka makan sehari-hari hanya dengan mengandalkan hasil tani dan sayur-sayuran dari kebun mereka. Terkadang beras yang sudah berhasil dipanen tidak dijual ke pasar, tetapi ditimbun untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka selama satu semester.

Perekonomian di desa ini tidak berprospek cerah. Warga yang berkecukupan secara ekonomi berasal dari kalangan pegawai negeri dan guru. Itu pun hanya sekitar 20% dari total penduduk di Bojongsari. Sulit sekali ditemukan wiraswastawan yang menjalankan usaha tertentu, hanya ada satu rental komputer yang dimiliki seorang guru, perajin bedog, dan perajin gula merah. Penghasilan mereka pun tidak banyak. Barang-barang hasil produksi rumah tangga pun tidak diproduksi.

“Di sini kalau mau jadi wiraswastawan, susah sekali. Tiap kali ada mahasiswa KKN yang mengajari untuk membuat produk tertentu, kebanyakan warga membuatnya. Itu yang bikin dagangan mereka nggak laku karena semuanya jualan. Siapa yang mau beli?” kata Pak Jani, Kepala Dusun Cijorong.

Hal itu dibenarkan oleh Rahmat, lelaki setengah baya yang sudah 25 tahun menjabat sebagai Sekretaris Desa Bojongsari. Selama ini warga sudah bosan dengan penyuluhan-penyuluhan dan pelatihan-pelatihan. Pada akhirnya, mereka akan menemui kegagalan. “Mereka sih asal bisa makan sehari aja udah cukup,” tandasnya.

Perekonomian desa itu yang tidak kunjung mengalami peningkatan disebabkan juga karena hadirnya tengkulak di desa mereka. Hasil-hasil bumi Bojongsari dari para produsen didistribusikan ke Sukabumi dan kota-kota lainnya melalui tengkulak.

Minah, pembuat gula merah, dalam sehari berpenghaslian tidak sampai Rp. 10.000,00 pendapatannya. Dia menyerahkan semua gula merah yang diproduksinya kepada tengkulak.  Justru tengkulaklah yang meraup untung dari  pendistribusian itu.

“Saya nggak ngerti cara menjualnya ke kota, transportasi juga nggak ada. Saya serahkan saja sama tengkulak,” kata Minah.

Kebanyakan petani dan produsen menyalurkan dagangan mereka lewat distribusi. Mereka tidak tahu bagaimana cara memasarkan produk mereka ke luar desa. Moda transportasi umum yang tidak melewati desa mereka turut menjadi alasan mengapa para petani atau produsen tidak memasarkan sendiri barang dagangan mereka. Selain itu, jarak tempuh dari Bojongsari ke Kota Sukabumi kira-kira memakan waktu 4 jam. Selain membuang tenaga dan uang, hal itu membuat mereka membuang-buang waktu.

Anggha Nugraha, peserta KKNM Unpad dari Fakultas Ekonomi menyoroti tidak berkembangnya home production adalah karena warga belum mendapatkan pengetahuan tentang cara mengelola uang pribadi dan uang hasil usaha. Pergerakan uang di desa itu tidak stabil dan tidak lancar.

“Selain tidak tahu tentang manajemen keuangan usaha, mereka juga tidak tahu cara mempromosikan dagangan mereka dengan benar,” kata Anggha.

Selain permasalahan ekonomi, permasalahan yang menonjol lainnya di desa itu adalah tidak kompaknya perangkat pemerintahan desa dengan masyarakat. Tahun lalu, masyarakat pernah membuat demonstrasi yang berisi tuntutan kepada kepala desa agar mundur dari  jabatannya.

Menurut Asep, Ketua Barudak Leuwinanggung Community, masyarakat merasakan bahwa perangkat desa tidak transparan dalam hal keuangan dan dalam berkegiatan. Tak jarang, informasi dari Balai Desa tidak sampai ke warga yang berada di dusun terjauh, yakni Nyalindung. Misalkan saja, informasi tentang kedatangan beras miskin (raskin) terlambat sampai ke Nyalindung. Akibatnya warga dari Nyalindung sering kehabisan jatah membeli raskin.

“Seringnya, ya, antara pemerintah desa dengan warga teh, nggak punya kegiatan bersama. Contohnya aja, kalau tujuh belasan, pemuda mah bikin acara sendiri, pemerintah desa bikin acara sendiri juga,” kata Asep.

Melihat kerenggangan hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat, Koordinator Mahasiswa Desa Bojongsari Rizal Budiman bersama teman yang lain berusaha membuat program yang bisa merekatkan hubungan kedua belah pihak tersebut. Salah satu program unggulan dari mahasiswa KKNM 2009 di desa itu adalah mengadakan open house balai desa yang diberi nama Geger Desa.

Aparat Desa Duduk di Jajaran Depan

Aparat Desa Duduk di Jajaran Depan

Geger Desa ini selain sebagai ajang open house balai desa, juga merupakan penggabungan beberapa program dari berbagai sektor; ekonomi, lingkungan, kesehatan, dan pendidikan. Dalam acara tersebut ada pentas seni yang menampilkan tarian dan nyanyian anak-anak SD, penyuluhan dalam keempat aspek tersebut, pengadaan pasar kaget, bazaar kreativitas anak-anak SMP, dan penampilan pencak silat dari jajaran pemerintah desa.

Ramainya Pengunjung Geger Desa

Ramainya Pengunjung Geger Desa

“Alhamdullilah, acara yang baru pertama kali diselenggarakan di Bojongsari ini mendapat apresiasi yang bagus dari warga dan terhitung sukses. Tujuan utama kami adalah untuk memperdekat hubungan pemerintah desa dengan warga. Kami juga berharap acara Geger Desa ini bisa berulang di tahun-tahun berikutnya,” ungkap Rizal yang juga mahasiswa Fikom Unpad.

Bazar Siswa SMP

Bazar Siswa SMP

Semakin lama, mahasiswa KKNM ini merasa semakin dekat dengan warga. Tak jarang dalam satu minggu, mereka mendapat undangan untuk ngaliwet bersama warga, entah di rumah warga atau di sawah sekali pun. Mahasiswa pun tak sungkan untuk sekedar bertandang ke rumah warga demi mempererat tali silaturahmi.

Ngaliwet Bersama Warga

Ngaliwet Bersama Warga

Tisya Rahayu, mahasiswa yang fasih berbahasa Sunda ini mengakui bahwa warga Bojongsari menerima mereka dengan tangan terbuka. Dia dan beberapa teman yang fasih berbahasa Sunda “memimpin” misi mendekatkan diri dengan warga. Berbagai cara pun ditempuh; mengajak warga membuat rujak, bercengkerama di Balai Desa, mengikuti acara pengajian, sampai membantu urusan rumah tangga.

“Kita hidup di sini kan istilahnya numpang, jadi kita harus baik terhadap mereka agar diterima. Syukur bahwa kita ternyata bisa diterima di desa ini,” kata Tisya.

Hal yang menjadi rutinitas mahasiswa KKNM tiap sore adalah bermain bersama anak-anak SD dan SMP di balai desa. Dhea Karlina , mahasiswa Fikom Unpad, yang sangat suka pada anak kecil menggagas hal ini. Segala permainan pun dipersiapkan, mulai dari dakon, lompat tali, kucing-kucingan, tebak-tebakan, dan hingga ular tangga. Semua mahasiswa senang mendengar canda tawa anak-anak kecil dengan bermain bersama mereka. Menjelang malam, anak-anak kembali ke perpustakaan yang terletak di balai desa untuk sekedar mendapat bimbingan kakak-kakak mahasiswa dalam membuat PR.

Bermain Bersama Anak-Anak di Balai Desa

Bermain Bersama Anak-Anak di Balai Desa

“Aku dan teman-teman mahasiswa senang bisa bermain dan belajar bareng anak kecil. Hal itu mungkin nggak akan pernah kita rasakan di realitas kita di Bandung nanti. Mumpung masih di sini, kami ingin berbagi keceriaan dengan mereka,” ungkap Dhea dengan mata berbinar.

Usaha mahasiswa KKNM itu pun diapresiasi warga dengan baik. “Sejak ada mahasiswa KKNM Unpad kali ini, balai desa jadi ramai. Anak-anak jadi rajin belajar sambil bermain. Mereka seolah-olah menularkan hal-hal positif pada anak-anak,” kata Bu Elis, salah satu aparatur desa yang mengurusi Posyandu.

Khusus untuk mahasiswa laki-laki, mereka memiliki cara khusus dalam melakukan pendekatan dengan warga, yakni bermain sepak bola setiap sore di lapangan Bojongsari. Ajakan itu datang setelah mereka tinggal di sana selama seminggu. Karena seringnya nongkrong di pangkalan ojek, beberapa mahasiswa laki-laki menjadi akrab dengan pemuda desa dan pada akhirnya diajak bermain bola.

“Kita senang sekali bisa bermain bola dengan warga, baik pemuda maupun bapak-bapak. Nggak apa-apalah meski harus setiap hari capek,” kata Giano, mahasiswa KKNM.

Sehabis Bermain Bola

Sehabis Bermain Bola

Hal senada diungkapkan pula oleh Asep yang mengakui mahasiswa KKNM Unpad kali ini lebih bisa bergaul dengan warga. “Ya, mahasiswa KKN tahun lalu mah nggak ada apa-apanya dibandingkan sekarang. Mereka bisa memosisikan diri sebagai warga. Para pemuda di sini pun tak canggung untuk bercanda dengan mahasiswa soalnya mereka asyik-asyik.”

28 Mahasiswa KKNM Bojongsari

28 Mahasiswa KKNM Bojongsari

Mendekati akhir keberadaan mereka di Bojongsari, mereka pun membuat sebuah acara perpisahan, yaitu acara nonton bareng film Laskar Pelangi. Acara ini dipenuhi oleh warga dan tentu saja kebanyakan yang hadir adalah anak-anak yang selama ini menjalani kebersamaan dengan kakak-kakak mahasiswa.

Acara yang diselenggarakan di balai desa malam itu (15/8) dipenuhi haru dan tangis perpisahan. Penayangan slide show yang berisi foto-foto kebersamaan mahasiswa dan warga pun menambah suasana menjadi sedih. Kepala desa dan beberapa aparatur desa menangis diam-diam di sudut balai desa sebelum para mahasiswa menyalami mereka dan warga lainnya.

“Suatu saat aku ingin bisa menjadi seperti kakak-kakak mahasiswa, bisa kuliah dan mencapai cita-citaku. Aku menempelkan kertas bertuliskan cita-citaku di langit-langit kamarku, sesuai dengan ajaran Kak Dhea. Suatu saat aku pasti bisa menjadi seperti mereka,” kata Andre, siswa SMPN 4 Jampang Kulon, yang begitu terkesan dengan kedatangan mahasiswa KKNM Unpad.

Seny Perwitasari, mahasiswa Fisip Unpad, juga sama terkesannya dengan Andre dalam menjalani KKNM saat itu. “KKN itu bikin kita tahu dari yang kita nggak tahu, dari yang nggak punya jadi punya, seperti keluarga baru yang merupakan teman-teman KKN kita sendiri. Kita bisa belajar untuk memahami sifat orang. Ini merupakan pengalaman berharga dan hanya didapat sekali seumur hidup.”

Dan alunan lagu Sahabat Kecil milik Ipang dinyanyikan oleh mahasiswa KKN seiring dengan turunnya malam yang semakin larut pada malam terakhir mereka di sana, “Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu. Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya. Janganlah berakhir…” (Purwaningtyas Permata Sari, Warta LPPM)

Penyesalan

Gue ngerasa sedih banget hari ini. Pagi-pagi gue harus kirim email tugas tentang jurnalisme sastrawi. Hal yang bikin gue sedih, gue gak bisa ikut mata kuliah IN DEPTH REPORTING, yang sangat gue sayangi dan sukai. Ini mata kuliah “berat” terakhir yang harus gue lalui. Gue membayangkan bahwa diskusi topik ini di kelas pasti seru banget.  Gue sebenarnya pengen bisa presentasi hari ini tentang itu, tapi nggak bisa karena masih di rumah. COba deh baca buku Jurnalisme Sastrawi, kumpulan tulisan berjenis literary journalism yang dibuat rekan-rekan wartawan keren, Andreas Harsono, Linda Christanty, Chik Rini, dsb. Gue jadi punya mimpi baru setelah membaca buku itu. Pengen banget deh bisa nulis itu suatu saat nanti, dan menghidupkan jenis jurnalisme itu di Indonesia, meneruskan perjuangan Andreas Harsono dan majalah Pantau yang udah mati.

That’s it. Paling nggak mata kuliah ini harus terlalui dengan gue mendapat nilai bagus. Tapi jenis in depth tuh emang paling susah. Gue sendiri aja ngerasa deg-degan buat ngejalaninnya bulan-bulan mendatang. Sedih banget nggak ikut hari ni, gara-gara urusan di sekitaran rumah. Oke, ntar gue bakal posting tentang jurnalisme sastrawi yang abis gue baca deh. Lumayan buat referensi.

Trip to Malang: Ekonomi oh Ekonomi…

Suatu hari saya sedang berkumpul di plasa Fakultas Ilmu Komedi, fashiOn, dan Musik (Fikom) Unpad. Tak terduga saat itu sedang ada perbincangan seru tentang perjalanan ke Malang yang direncanakan oleh sebuah sindikat tertentu, yaitu Perkumpulan Tukang (PT). Isu perjalanan ke Malang itu pertama kali saya temukan di notes teman saya yang kebetulan anggota PT, yaitu Mr. Jengkol. Awalnya saya sama sekali tidak tertarik dengan ajakan jalan-jalan itu karena rutenya sepertinya sangat sulit. Apalagi PT itu senang sekali bepergian ke tempat2 yang sepertinya jauh dari kehidupan orang normal atau ekspedisi alam rimba.

Seminggu berlalu ternyata ada perubahan rencana. PT tak lagi merencanakan naik gunung2 seperti yang direncanakan semula. Namun digantikan dengan jalan-jalan bersama di seputar kota Malang. Usut punya usut, pacar Mr. Jengkol, yaitu Miss Gembul berhasil merayu kekasihnya untuk berjalan-jalan saja menyusuri kota Malang. Beberapa teman dekat memutuskan untuk ikut. Saya sendiri merasa sangat tertarik, secara belum pernah ke Malang. Meski tak punya uang, saya memutuskan untuk ikut saja. Perkara duit, itu belakangan. Saya berjanji dengan teguh akan memakan makanan murah saja saat di Malang!

Rabu, 20 Mei 2009 (harusnya hari jadian saya ke-63 bulan, hiks), PT berhasil mengumpulkan 22 orang yang mau berangkat ke Malang dengan menggunakan kereta api ekonomi. Naik kereta ekonomi sebenarnya menyenangkan kalau keadaannya tidak sepenuh itu. Untungnya para perempuan berhasil mendapatkan tempat duduk, sedangkan para pria rela berdiri di gerbong lain. Sungguh sikap yang sangat ksatria. Keadaan malam itu di kereta api penuh sesak menyebalkan. Orang bahkan sudah tidak bisa berjalan lagi di sepanjang gang kereta. Bau keringat yang “super-wangi” menguar sedap. Hmmm… Tidak ada yang tahu pasti kapan kami akan sampai di Malang.

Saya : Kira-kira jam berapa ya sampai Malang?
Mr. Cute: Kita nih berangkat jam 9 malem, paling juga nyampe jam 7 pagi di Malang.

Tanpa ekspektasi apapun, saya percaya saja omongan Mr. Cute yang jelas-jelas tidak bisa dipercaya. Mana ada perjalanan ke Jawa Timur kurang dari 12 jam? Saya berusaha ber-positive thinking bahwa perjalanan itu akan singkat dan menyenangkan. Uuh, rasanya bernapas saja sulit. Untung saya duduk di sebelah Ms. Teletubbies Cookie yang sangat anteng dan tidak banyak bicara. Dia tidak pernah mengeluh, nampaknya suka menerima keadaan apa adanya. Bayangkan jika saya duduk di gerombolan cewek-cewek berisik yang gemar mengikik di kereta, sebut saja Ms. Gembul, Ms. Hebring, Ms. Secure, Ms.Calm, Ms. Sanguinis, Ms. Hermione, Ms. Logic, dan Ms. Auntie (sebenarnya saya hanya iri karena tidak bisa duduk bersama mereka, haha). Mereka bikin gaduh, tapi terhibur juga sih mendengarkan kikikan mereka. Tapi Ms. Secure oke banget, dia rela berdiri di kereta untuk memberikan tempat duduknya untuk seorang nenek. Cukup lama Ms. Secure berdiri. Salut untuknya, kalau dia cowok, saya pasti naksir deh, haha!

Nasib para pria tidak diketahui sampai pagi menjelang. Ternyata mereka berdiri sepanjang malam dan baru duduk ketika kereta sampai di Jogja. Oh, so sweet…Sebenarnya ada anggota PT yang tidak ikut, salah satunya sangat ganteng dan digandrungi beberapa perempuan. Saya tak mau menyebut namanya di sini. Yang jelas tingkah lakunya sering diikuti anak-anak. Hemat kata dan hemat ekspresi, salah satunya “Apa? Apa? Apa?” atau “Gak mau, gak mau, gak mau” atau “Hah?” atau “Persetan!”. Ada yang cukup membingungkan, ada satu makhluk asing yang tak dikenal ikut dalam rombongan kami! Makhluk itu cukup hitam dan rupanya teman PT, namanya Mr. Kah-Kah… Disebut Mr. Kah-Kah karena dia sering mengucapkan kalimat dan diimbuhi akhiran “kah” di belakangnya. Contoh kalimat: “Kau kenapa? Kena angin sempu-kah?”

Singkatnya, kami sampai pada pukul 20.00, yang berarti kami menempuh perjalanan selama 24 jam! Bau sudah tidak karuan, yang jelas kami ingin cepat sampai di rumah nenek teman kami, Ms. Pretty. Malam itu kami memutuskan beristirahat saja. Saya yang merasa lapar memutuskan ikut ikut rombongan Mr. Happy dan Mr. Mountain’s Child untuk makan malam. Oh iya, ada yang lupa, gadis-gadis cantik rombongan kami itu doyan makannya minta ampun! Ms. Cheerful saja gosipnya makan lima kali di kereta. Begitu juga dengan mis-miss yang lainnya. ada yang ultah juga lho, si Ms. Gembul, sayang dirayakan di kereta yang bau.

Sudah jauh-jauh berjalan sepanjang kira-kira 1 km, kami tidak mendapatkan makanan yang cocok dengan selera rombongan para pria: Mr. Happy, Mr. Mountain’s Child, Mr. Cute, Mr. Grandpha, Mr. Nice, dan Mr. Thin-dan satu perempuan, yaitu saya. Alhasil kami balik lagi ke depan rumah nenek Ms. Pretty hanya demi makan SEGO KUCING! Saya dongkol luar biasa sebenarnya tapi saya tahan saja, yang penting makan! Setelah selesai makan, terlihat para gadis sudah pada mandi dan wangi, mereka baru mau cari makan. Sedangkan saya masih bau tembaga dan keringat, jadilah saya pulang dan mandi sendiri… Huhu…sebenarnya rumah itu agak menakutkan, dipenuhi foto jadul para mendiang buyut dan kakek-nenek Ms. Pretty.

Kebanyakan dari kami tidur dengan semrawut di ruang tamu yang dialasi karpet. Saya sendiri berhasil mendapatkan kamar yang ditempati oleh 3 orang dan memonopoli kamar itu selama 3 hari, haha! Maafkanku teman-teman, jika pada saat itu ingin gantian, aku mau2 aja kok.

Ada hal yang mengagetkan saya malam itu. Si Mr. Grandpha mengeluarkan tingkah aneh. Dia tahu-tahu curhat tentang pacarnya yang kebetulan teman dekat saya juga (saya tak boleh mengungkapkan apa isi curhatnya). Lalu dia memaksa saya untuk menceritakan kisah cinta saya! Itu kan aneh! Lebih aneh lagi dia memaksa saya mengakui bahwa saya suka temannya yang anggota PT juga. Hiiii seram juga Mr. Granpha ini!

Keesokan harinya ada teman yang sudah berencana ke suatu tempat. Mr. Jengkol dengan terang-terangan ingin berpacaran dengan Ms. Gembul di Batu. Liburan saat itu memang sepertinya dipersembahkan khusus dari Mr. Jengkol kepada Ms. Gembul. Hem, sekitar 12 orang berada pada rombongan Mr. Jengkol ke Batu. Saya sendiri malas ke tempat agrowisata, tak suka tanaman sih. Ada baiknya coba-coba ikut rombongan Mr. Thin yang sebagian besar berisi anak cowok PT. Jadilah bersepuluh memutuskan berjalan ke Rainbow Fall atau Coban Pelangi.

Tapi sebelum ke coban, kami sempat mengantarkan Mr. Mountain’s Child ke Disbudpar untuk minta izin mengunjungi Pulau Sempu. Jadilah kami menghabiskan siang di daerah Singosari sambil menunggu beberapa pria shalat Jumat. Sssst, tapi Mr. Happy gak shalat karena sarugnya sengaja ditinggal di rumah. Kami berfoto ria di candi kecil bernama candi Ken Dedes. Tidak begitu menarik sih candinya tapi lumayan untuk foto-foto.

Setelah 10 orang lengkap (ada Mr. Kah-Kah juga), kami pergi ke Coban. Setelah bercakap-cakap dan menawar-nawar dengan alot akhirnya tuh angkot mau juga dicarter dengan biaya 20 ribu/orang. Mr. Noise sebenarnya sudah ingin jalan kaki saja ke Coban jika supir angkot tak mau dibayar segitu. Namun untung gak jadi jalan, lebih dari 10 km! Bisa-bisa nyampe coban baru malem. Ih, serem!!!

Pergi dengan sebagian anak PT membuat saya bertanya-tanya, apakah akan ada ekspedisi alam liar? Ternyata tidak jauh dari hal itu, menuruni bukit menuju coban yang jauhnya 1km. Mereka sudah memberi isyarat sepertinya akan menyusuri jalan kecil menuju Bromo, untung gak jadi. Untungnya saya suka kegiatan ini. Gara-gara pergi ke tempat ini baju saya basah, saya menggigil selama perjalanan pulang, dan celana saya sobek tersilet batu sepertinya. Para pria bermain seperti anak kecil. Mr. Mountain’s Child tentunya punya misi! Dia ingin meliput untuk TRAVEL TREND! Ah, tapi tak apa saya sangat suka air terjun apalagi naik-turun gunung…

Pelajaran yang saya dapat hari itu adalah berhati-hatilah jika Anda berpergian dengan anggota Perkumpulan Tukang karena siapa tahu perjalanan Anda menempuh alam liar!

Sempu, Found A Heaven-Like Place After Walked in The Hell Way

Pernah mendengar tentang Segara Anakan atau Laguna Anakan? Itu semacam danau yang dikelilingi bukit-bukit—yang airnya berasal dari laut. Segara Anakan ini berada di tengah-tengah Pulau Sempu, yang pulaunya sendiri juga diapit lautan dan di sebelah selatan pulau itu terhampar Samudera Indonesia.

Berani bertaruh, Segara Anakan tuh keren  banget dan nggak akan nyesel pergi ke sana. Gimana caranya mencapai segara itu? Pertama-tama kita harus menuju kota Malang dulu. Gue ke Malang untuk pertama kalinya kira-kira tanggal 20-23 Mei 2009 lalu bersama 21 Jurnal-Jurnil’06. Nggak tahu pada kesambet setan apa, tahu-tahu ada rencana pergi ke Malang. Well, gue sih diiming-imingi bakal nemuin pantai seperti yang ada di film The Beach. Jadilah gue ikut berangkat. Gue berangkat dari stasiun Rancaekek, Bandung, naik kereta ekonomi Kahuripan. Kami turun di Kertosono, trus nyambung lagi naik kereta ke Stasiun Kota Baru Malang. Perjalanannya cukup melelahkan, 23 jam terkungkung dalam besi berjalan itu. Bau badan kami jadi nggak karuan.

Di Terminal Arjosari, Malang

Di Terminal Arjosari, Malang

Oke, kita lanjutin. Ternyata tidak ada angkutan umum untuk menuju Segara Anakan. Dari terminal Arjosari, kami pun men-carter dua angkot untuk kami ber-21. Setiap kepala harus mengeluarkan uang Rp. 35.000,00 untuk pulang-pergi. Perjalanan dari Arjosari ke Sindang Biru memakan waktu 3 jam. Sesampai di Pantai Sindang Biru (yang asli, man, birunya bagus banget!), Pulau Sempu terlihat di depan mata, menunggu untuk dijajaki. Kami menyewa 2 perahu untuk mengantar kami menuju Pulau Sempu. Sekarang, tiap kepala harus mengeluarkan uang Rp. 20.000,00.

Duduk-Duduk di Tepi Pantai Sindang Biru

Duduk-Duduk di Tepi Pantai Sindang Biru

Dari dua rombongan perahu, hanya perahu gue yang berhasil sampai di Pulau Sempu. Alasannya kenapa? Pada waktu itu, udah pukul 13.30 dan ternyata orang yang mau menuju Segara Anakan selepas jam 12.00,harus lapor terlebih dahulu. Satu perahu tidak berani mengantarkan, sedangkan perahu gue mau mengantarkan.

Di Perahu Menuju Sempu

Di Perahu Menuju Sempu

Gue baru tahu kenapa orang harus lapor dulu selepas jam 12.00. Itu disebabkan waktu yang ditempuh untuk menjajaki Sempu dan menemukan Segara Anakan adalah 2,5 jam dengan berjalan kaki. Jadi, kalau dari Sindang Biru sudah terlalu siang, lebih baik sekalian camping di sana. Kalau nggak camping, silakan merasakan berjalan menyusuri Sempu untuk kembali ke Sindang Biru dalam kegelapan total.

Itulah yang gue rasain. Gue nggak berekspektasi bahwa perjalan menuju Segara Anakan sangat membutuhkan kerja keras. Jalan setapak yang ada di Pulau Sempu bahkan dipenuhi lumpur yang membuat kita kesusahan berjalan. Bayangkan, dalam sekali memijak tanah, kaki kita akan terbenam hingga ke mata kaki di dalam lumpur. Sandal atau sepatu pun tiada berguna digunakan, hanya membuat terpeleset saja. Dalam perjalanan ke Segara Anakan saja, gue kelepeset 5 kali lebih. Ada satu kali gue terpeleset sampai bisa split (padahal kalau disengaja, nggak akan bisa). Tongkat kayu akan sangat berguna dalam membantu berjalan.

Jalan Berlumpur yang Harus Dilewati di Sempu

Jalan Berlumpur yang Harus Dilewati di Sempu

Tertawa meski harus terpeleset berkali-kali

Tertawa meski harus terpeleset berkali-kali

Kami bersepuluh sampai di Segara Anakan dalam waktu yang berbeda-beda, tergantung pada kekuatan fisik dan kecepatan berjalan. Gue dan 4 orang teman gue, nyampe ke Segara Anakan pukul 16.30, padahal kami mulai jalan pukul 14.00.

Meski peluh keluar dengan deras, keringat menetes dari rambut, baju menempel di kulit, badan dan baju kotor terkena lumpur, dan kaki menderita sobek-sobek, semua terbayar ketika melihat Segara Anakan. Gue puasin-puasin memandang air laut Samudra Indonesia yang menerobos lubang karang. Itulah yang menciptakan segara ini. Sesekali main juga di segaranya. Di kejauhan Samudera Hindia terlihat dua batu besar berdiri di tengah samudera, seperti pintu gerbang menuju laut lepas. I Found A Heaven-Like Place After Walked in The Hell Way.

Indahnya Segara Anakan

Indahnya Segara Anakan

Jika kita memanjat sedikit di karang, kita akan langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia yang ombaknya sangat ganas. Di bawah karang terjal itu, langsung terhampar laut lepas. Ombaknya bisa mencapai 6 meter. Tuhan sungguh Maha Kuasa!

Setelah puas bermain dan merenung di sana, kami pun memutuskan pulang pada pukul 17.30. Kali ini kami yang terdiri 4 perempuan, 6 laki-laki, dan 2 supir angkot kami berjalan beriringan, tidak ada yang berjalan mendahului. Kami berusaha ber-positive thinking bahwa kami akan sampai juga di tepi Sempu dan dijemput perahu menuju Sindang Biru.

Dalam keadaan gelap gulita seperti itu, yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dalam hati dan saling member semangat pada kawan. Sumpah, di sini gue baru merasakan kesetiakawanan yang nyata banget. Satu pesan, jangan berkata-kata sompral di pulau ini, karena ada cerita di mana orang bisa berjam-jam tidak menemukan jalan keluar dari Sempu. Gue juga bersyukur nggak terjadi apa-apa terhadap kami, padahal Sempu terkenal sebagai sarangnya ular berbisa dan beracun. Kecuali kaki sobek, kami aman-aman saja.

Tiga jam kami tempuh untuk sampai di tepi Sempu yang menghadap Sindang Biru. Beruntung si tukang perahu masih mau menjemput kami. Padahal, perahu dilarang berlayar selepas matahari terbenam. Pukul 20.30 kami baru sampai di Sindang Biru dan langsung menuju ke Malang. Teman-teman kami yang tak ikut ke Sempu bisa menarik nafas lega karena kami baik-baik saja. Jangan harap ada sinyal provider manapun, jadinya kami tak bisa menghubungi teman-teman kami.

Gue salut ma 9 temen gue ini. Terutama banget gue berterima kasih sama Alfred yang meski baru kenal, justru dia yang ngebantu dan ngegandeng gue selama perjalanan pulang. Joni, yang berjalan di belakang gue dan selalu memberi semangat. Satu kalimat yang membuat gue kaget, “Tenang Yas, selambat-lambatnya elo jalan, masih ad ague di belakang yang jagain elo.” Juga ada Agun yang membangkitkan semangat lewat “didikan” kerasnya bahwa kami nggak boleh cengeng. Bayu, dia our leader, berteriak-teriak memberi semangat orang-orang yang berada di paling belakang. Tendi, Yanti, Ardy, Eby, dan Lia, pengalaman ini nggak akan pernah gue lupain. The best Saturday night ever that I’ve ever felt

Konflik Jerusalem, Dilihat dari Sisi Historis

jerusalemkesuciankonflikdanpengadilanakhir_937Judul Buku  : Jerssalem Kesucian, dan Pengadilan Terakhir

Penulis           : Trias Kuncahyono, Wakil Pimred Kompas

Penerbit        : Penerbit Buku Kompas

Tahun Terbit: 2008

Tebal                : 315 halaman

Cerita mengenai kota legendaris dan dicintai oelh dunia internasional ini telah menarik minat Trias sejak kecil untuk menuliskan cerita dan fakta tentangnya. Dalam buku ini, Trias berusaha menjabarkan latar belakang dan sejarah terbentuknya Jerusalem sejak zaman dulu kala. Berangkat dari cerita-cerita Alkitab, Trias menelaah awal mula konflik mulai berkembang di tanah Jerusalem, dan masih berlangsung hingga sekarang.

Jerusalem berasal dari kata yeru dan shalem yang berarti “Tuhan akan menampakkan diri di kota yang damai”. Ada pula yang mengatakan Jerusalem berasal dari kata yerushalayim yang berarti “warisan perdamaian”. Jerusalem yang dikenal sebagai kota Nabi Daud, juga merupakan kota suci bagi tiga agama samawi, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Meski Yerusalem masih menjadi sengketa,orang-orang dari ketiga agama tersebut hidup rukun di Kota Lama Jerusalem yang dikelilingi tembok dan memiliki delapan pintu gerbang.

Tanah Palestina sekarang ini adalah negeri dua bangsa: Israel dan Palestina. Dua bangsa inilah yang selalu bermusuhan, saling menyerang, dan saling membunuh. Tak ada seorang pun yang dapat meramalkan kapan perseteruan antara kedua bangsa itu berakhir. Israel selalu menyatakan bahwa posisi legal internasional mereka atas Jerusalem berasal dari Mandat Palestina (24 Juli 1922). Palestina juga menyatakan Jerusalem atau Al Quds akan menjadi ibu kota Negara Palestina Merdeka di masa mendatang, atas dasar klaim pada agama, sejarah, dan jumlah penduduk kota itu.

Buku ini membaca pembacanya kembali ke sejarah yang jauh, ke masa-masa satu-dua milenium Sebelum Masehi. Trias berusaha seobjekif mungkin dalam memaparkan masalah politik, agama, dan latar belakang historis kota ini. Selama ini jarang sekali ditemukan penulis tentang Jerusalem yang tidak bisa meninggalkan subjektivitas mereka atas negara atau agama tertentu. Itulah salah satu kelebihan buku ini.

Alur yang diceritakan Trias cukup mudah dipahami. Dari setiap titik atau tempat yang dilewatinya dari Bandara Ben Gurion di Tel Aviv hingga masuk ke Jerusalem, Trias menceritakan sejarah yang ia ketahui dari tempat-tempat tersebut. Setelah menjelaskan tempat-tempat, Trias menceritakan sejarah yang ia ketahui dari tempat-tempat tersebut. Setelah menjelaskan tempat-tempat, Trias menjabarkan konflik yang terjadi dari berbagai kesepakatan damai yang pernah dibuat antara Israel dan Palestina. Buku ini bisa disorot dari sisi relevansinya dengan masalah aktual yang terjadi di Israel dan Palestina sekarang ini.

By elisabetyas Posted in Resensi

Rame-Rame Pakai Batik, Tapi Jangan Lupa Melestarikan

Masyarakat Indonesia boleh berbangga hati dengan dianugrahkannya Batik sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Benda dari Indonesia oleh UNESCO. Semua bersuka cita mendengar kabar ini. Presiden pun mengimbau rakyat untuk serempak mengenakan baju bermotif batik pada tanggal 2 Oktober 2009 lalu.

Ada satu hal yang bikin gue bertanya-tanya, apakah kita hanya bisa bersuka cita seperti ini? Adakah niat untuk melestarikannya? Jikalau pun ada niat, seperti apa realisasinya? Semakin lama semakin sedikit saja perajin batik tulis di Indonesia ini. Sekarang perajin batik tulis hanya terdiri dari para manula berusia 50 tahun ke atas. Kalau mereka sudah mati, lantas siapa yang akan meneruskan keahlian yang rumit itu?

Selain itu, perajin batik yang sekarang masih ada pun hanya digaji sekitar Rp. 12.000/ hari. Sungguh miris melihat kemiskinan mereka padahal karena merekalah batik tulis masih eksis di Indonesia. Tak heran jika dengan gaji seperti itu, mereka pun “kabur” ke tetangga sebelah. Pemerintah Malaysia dengan gencar sejak tahun 2000 telah meng-”impor” perajin batik dari negeri kita. Mereka diupah lebih banyak, diberi jaminan kehidupan, dan diberi jaminan atas pendidikan anak cucu mereka. Usaha yang sangat bagus dari Malaysia. Mereka pun tidak menerima begitu saja UNESCO menetapkan Batik sebagai milik Indonesia.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mempertahankannya? Gue pengen banget sebenernya bisa megang canting dan bikin batik tulis. Keinginan itu timbul aja secara tiba-tiba. Tapi kapan dan di mana bisa belajar? Gue sebagai warga Indonesia aja nggak memiliki kemampuan apapun dalam menari, menyanyi, bermain musik, dan membuat karya khas orang Indonesia. Nanti kalau gue keluar negeri, gue akan sangat malu karena gue nggak bisa menunjukkan apapun dari adat kita. Hello kaum muda, wake up yuk! Nggak ada kata terlambat buat belajar kebudayaan.

Hal yang bisa gue lakukan sekarang hanyalah mengagumi dan menikmati budaya Indonesia, serta mempromosikan budaya kita (kalau gue ke luar negeri atau ketemu bule).Tanpa pemaksaan, gue pun turut serta dalam kegembiraan itu dengan mengenakan batik kemarin. Teman-teman satu jurusan pun dengan kompak memakai batik, beragam jenisnya. Lucu-lucu deh temen-temen gue. Pada cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Kita kayak rombongan mau ke ondangan kawinan deh. Udah saatnya nih batik jadi trend setter saat ini. Gue akan dengan bangga memakai batik kemana-mana sekarang. I’ve just realized that batik is really cool!

Nah, ini nih foto-foto gue dan temen Jurnalistik Fikom Unpad Angkatan 06-07

10232_1224203373159_1471230745_30587936_4677058_n

10232_1224203493162_1471230745_30587939_4660583_n

10232_1224203453161_1471230745_30587938_6499006_n

Tak terkatakan

Itu hanyalah hamparan pasir putih yang terlihat keemasan di sore hari. Itu hanya terlihat seperti gambar mati, di mana laut tenang menghampar, matahari seakan dimakan lautan, dan tidak ada tanda-tanda makhluk hidup di sekitar tempat yang bagus jika dibingkai sebagai potret itu. Jika kita menatap nanar pada matahari senja itu, sosok yang berada antara kita dan matahari hanya terlihat sebagai siluet hitam. Siluet itu yang menjadi penanda bahwa potret itu bukan saja berisi gambar mati.

Aku di sana memegang kameraku, di belakang siluet itu yang kini rambut panjangnya berkibar-kibar. Dia, gadisku duduk di pasir keemasan itu, masih terpesona dengan matahari. Aku pun sama terpesonanya dengan matahari itu, hanya berdiri dari jarak setengah meter dari tempat gadisku duduk. Aku siap mengabadikan gambar hidup itu, ketika kepalanya menoleh padaku.

Gadisku memberi senyuman manisnya, lalu menoleh lagi menatap matahari. Aku tak bisa berpura-pura bahwa aku tak lagi bisa mendekatinya. Aku duduk di samping kanannya, tidak terlalu dekat, bisa memberinya ruang gerak cukup besar. Aku tahu kini kami terlihat seperti siluet bagi orang lain yang melihat kami dari belakang. Kami terdiam selama beberapa saat.

Lady’s first,” ujarku. Aku tahu dia akan mengutarakan atau membicarakan sesuatu.

Dia menghembuskan nafas panjang. “Aku masih sahabatmu?”

“Masih, sahabatku…” Dan kekasihku, tentu, namun kamu tak perlu tahu.

Dia mengambil ranting kecil, menggambar tanda “hati” di pasir itu. “Kamu senang berteman denganku?” Dia tidak menoleh ketika menanyakan hal itu.

“Tak diragukan lagi, sangat senang. Mengapa menanyakan hal itu, Sahabatku?”

Dia tersenyum padaku mengulurkan tangan kanannya dan aku menyambut tangan itu. Sekarang kami bergandengan dalam jarak seperempat meter. “Adakah persahabatan seindah ini?”

“Ada. Buktinya adalah persahabatan kita.” Kami saling bertatapan sekarang.

Tatapannya kali ini sangat dalam menembus mataku. “Aku punya pernyataan dan pertanyaan untukmu.”

“Silakan katakan, aku mendengarkan. Bukankah sejak tadi kamu hanya bertanya?” Aku berusaha sabar, merasa tahu apa yang akan dikatakannya.

Dia menumpukan kepalanya pada lututnya, sedangkan tangan kanannya masih menggenggam jemariku. “Ada sesuatu yang aneh terjadi pada kita.”

Aku diam saja, memilih tidak menjawab. Laut lepas itu lebih menarik perhatianku.

“Apa yang kamu lakukan semalam, kamu sadari atau tidak? Kamu sengaja atau tidak?”

Benar… Ternyata hal itulah yang mengganggu pikirannya. Aku tak pernah menyangka hal itu akan begitu mengusik baginya, bukan hanya bagiku. Satu ciuman pada bibirnya yang kuberikan ternyata bermakna lebih untuknya. “Tentu, disengaja dan disadari.”

“Bolehkah itu dilakukan, Sahabatku?” tuntutnya.

“Aku tak tahu apa yang boleh atau tak boleh kulakukan.” Aku masih ingat betul semalam tangannya dingin ketika kugenggam, sebelum akhirnya kukecup bibirnya yang bergetar.

Dia mendesah. “Seharusnya tak begitu, kita bersahabat, bukan? Apa yang ada dalam perspektifmu?”

Aku diam saja memandang laut lepas. Kutahu gadisku sedang memandang wajahku, berusaha mencari jawaban. Kecupan itu bukan kali pertama kulakukan dan sebelumnya dia tak pernah mempertanyakan. Cukup dengan tidak adanya kata terucap dan kami bisa berpura-pura bahwa kami murni bersahabat. Saat ini dia menyerangku, membuatku bingung harus berkata apa. Haruskah dia mempertanyakan, tak bisakah hanya diam? Jujur… kutahu pasti perasaan dalam hatinya pun berkecamuk, seperti magma yang ingin cepat-cepat keluar dari perut bumi.

“Aku tak tahu.” Sebetulnya aku hanya ingin berkata how did I fall in love with you? Tapi kata-kata itu tak mungkin keluar.

You won’t say a word, will you?” Cengkeraman tangannya bertambah kuat.

“Tidak. Apa teorimu?” tanyaku padanya, masih tidak menatap matanya.

Dia melepaskan genggaman tangan kami. “We have to kill these feelings, both you and me. Urusanku nanti apakah hal itu akan mudah atau tidak untuk dilakukan. Dan tentu kamu urus perasaanmu sendiri.”

Aku tidak berekspresi, hanya menganggukkan kepala yang bertanda “iya”.  Aku tidak akan mengatakan apakah itu cinta atau bukan. Hal yang kurasakan adalah “rasa” itu sendiri. It will never be the same again between me and her. Dan aku pun tahu dari mulutku atau mulutnya tak akan pernah terucap tentang “rasa” itu. “Rasa” itu harus mati dan tak boleh dibiarkan tetap hidup.

Seseorang berteriak dari kejauhan di belakang kami. Suara pria itu memanggil nama gadisku.  Semakin lama semakin terdengar jelas. Gadisku menjawab, “Iya, aku di sini. Sebentar lagi aku ke sana.” Kutahu, suara itu milik pria yang bersamanya telah mengucapkan janji setia untuk sehidup semati. Aku sendiri di sana mengabadikan momen itu sehari lalu, berdiri juga sebagai pendamping pengantin perempuan, yakni sahabatku, gadisku, kekasihku…

Dia berdiri. Aku mendongak untuk menatapnya dan ternyata dia pun masih menatapku. “I didn’t expect before that denying our feelings is very hard thing to do.”

Aku melihatnya berlalu dari hadapanku, berlari menuju suara itu. Tanyakan satu pertanyaan dasar, mengapa kami tidak pernah mengutarakan “rasa” itu sedari dulu? Perbedaan itu terlalu mendasar, seperti ada tembok tinggi mencapai ujung langit menghalangi kami, baik aku maupun dia tak bisa melewatinya. Anehnya, Tuhan hanya satu tapi manusia masih memperseterukan perbedaan itu lewat kepercayaan dan agama. Bukankah manusia diciptakan seturut Citra-Nya, Dia juga yang menciptakan cinta?

Pertanyaan itu pun tak mampu kujawab sendiri. Jadi, di sinilah aku sendiri, seperti siluet di senja hari sunyi… Dan cukuplah ini sekarang. Enough, enough now.

6 Juli 2009 (11 p.m)

By elisabetyas Posted in Cerpen