Masyarakat Indonesia boleh berbangga hati dengan dianugrahkannya Batik sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Benda dari Indonesia oleh UNESCO. Semua bersuka cita mendengar kabar ini. Presiden pun mengimbau rakyat untuk serempak mengenakan baju bermotif batik pada tanggal 2 Oktober 2009 lalu.
Ada satu hal yang bikin gue bertanya-tanya, apakah kita hanya bisa bersuka cita seperti ini? Adakah niat untuk melestarikannya? Jikalau pun ada niat, seperti apa realisasinya? Semakin lama semakin sedikit saja perajin batik tulis di Indonesia ini. Sekarang perajin batik tulis hanya terdiri dari para manula berusia 50 tahun ke atas. Kalau mereka sudah mati, lantas siapa yang akan meneruskan keahlian yang rumit itu?
Selain itu, perajin batik yang sekarang masih ada pun hanya digaji sekitar Rp. 12.000/ hari. Sungguh miris melihat kemiskinan mereka padahal karena merekalah batik tulis masih eksis di Indonesia. Tak heran jika dengan gaji seperti itu, mereka pun “kabur” ke tetangga sebelah. Pemerintah Malaysia dengan gencar sejak tahun 2000 telah meng-”impor” perajin batik dari negeri kita. Mereka diupah lebih banyak, diberi jaminan kehidupan, dan diberi jaminan atas pendidikan anak cucu mereka. Usaha yang sangat bagus dari Malaysia. Mereka pun tidak menerima begitu saja UNESCO menetapkan Batik sebagai milik Indonesia.
Apa yang bisa kita lakukan untuk mempertahankannya? Gue pengen banget sebenernya bisa megang canting dan bikin batik tulis. Keinginan itu timbul aja secara tiba-tiba. Tapi kapan dan di mana bisa belajar? Gue sebagai warga Indonesia aja nggak memiliki kemampuan apapun dalam menari, menyanyi, bermain musik, dan membuat karya khas orang Indonesia. Nanti kalau gue keluar negeri, gue akan sangat malu karena gue nggak bisa menunjukkan apapun dari adat kita. Hello kaum muda, wake up yuk! Nggak ada kata terlambat buat belajar kebudayaan.
Hal yang bisa gue lakukan sekarang hanyalah mengagumi dan menikmati budaya Indonesia, serta mempromosikan budaya kita (kalau gue ke luar negeri atau ketemu bule).Tanpa pemaksaan, gue pun turut serta dalam kegembiraan itu dengan mengenakan batik kemarin. Teman-teman satu jurusan pun dengan kompak memakai batik, beragam jenisnya. Lucu-lucu deh temen-temen gue. Pada cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Kita kayak rombongan mau ke ondangan kawinan deh. Udah saatnya nih batik jadi trend setter saat ini. Gue akan dengan bangga memakai batik kemana-mana sekarang. I’ve just realized that batik is really cool!
Nah, ini nih foto-foto gue dan temen Jurnalistik Fikom Unpad Angkatan 06-07



Mumpung masih hangat aku mau kasih TIP mencuici Batik : Batik Cap atau Tulis sebaiknya tidak dijemur langsung kena sinar matahari, cukup diangin-anginin. Batik berbahan Sutra jangan pernah dicuci dengan sabun, cukup dicuci dengan Klerak yang banyak dijual di pasar tradisional dan jang…an pernah diperas karena akan merusak struktur kain.
Oke, tengkyu Huda. Cukup berguna informasinya… Hehe… Do you have wordpress account?
Ya… Batik memang Oke…., Kian Hari Kian diCinta.., Mari kita berpakaian batik sembari melestarikan budaya bangsa.