Pengaruh Facebook dalam Membentuk Opini Publik

Ada apa gerangan yang ada di balik situs pertemanan Facebook yang kian tenar sehingga Facebook pun tak luput dari perhatian pemerintah? Bahkan pemerintah pun ikut membuat account Facebook. Namun, tidak diketahui apakah account tersebut dioperasikan oleh orang nomor satu di Indonesia tersebut atau tidak.
Pengguna Facebook di Indonesia tercatat mencapai angka 135 juta. Banyak di antara para pengguna berasal dari kalangan elit politik, tokoh nasional, anggota DPR, aktivis, atau orang penting lainnya di negeri ini. Facebook mempermudah penggunanya untuk meng-update status dan diperlihatkan secara luas kepada para teman di jejaring sosialnya. Para orang penting di negeri ini seringkali meng-update status mereka yang mengkritisi pemerintah atau sekedar memberikan pandangan-pandangan akan peristiwa yang terjadi di Indonesia.
Para elit politik, aktivis, dan tokoh nasional tersebut bisa dikatakan sebagai opinion leader—orang-orang yang membentuk opini publik. Mereka tentu tak hanya berteman dengan rekan sesama elit politik, aktivis, atau tokoh nasional lainnya, tetapi juga berteman dengan masyarakat sipil. Account Facebook mereka tidak dimaksudkan bersifat secara pribadi, tetapi mereka membuka luas jaringan pertemanan mereka dengan siapa pun, tanpa pandang bulu. Itu artinya, ada keinginan dari dalam diri mereka untuk menggembor-gemborkan pemikiran mereka kepada masyarakat sipil. Kemudian ada kemungkinan bahwa masyarakat yang mulanya tidak berpikir kritis mengenai suatu hal menjadi ikut mengambil sikap dalam memosisikan dirinya pada suatu masalah tertentu di negara ini.
Masih terpatri di pikiran masyarakat Indonesia bagaimana pembentukan opini publik lewat Facebook terjadi pada awal November 2009 lalu, di mana dukungan terhadap pembebasan Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah menembus angka 1 juta pendukung. Hal itu pun tak luput dari perhatian pemerintah. Hal itu pula menjadi salah satu faktor akhirnya dibebaskannyalah Bibit dan Chandra.
Di satu sisi, munculnya Facebook adalah pertanda bahwa kekuatan masyarakat sipil tengah bangkit dalam mempengaruhi kebijakan dan keputusan pemerintah. Dukungan tersebut bisa diartikan pula berdasarkan bisikan hati nurani. Dari situ pula terlihat bahwa intelegensi masyarakat harus pula diperhitungkan karena masyarakat tahu dan memonitor  langkah-langkah yang diambil pemerintah. Maka dari itu, pemerintah beserta segala institusi negara diperingatkan agar selalu bertindak jujur dan jangan sekali-kali menggunakan tipu daya pada masyarakat.
Namun di sisi lain, harus pula dilihat hal-hal negatif Facebook dalam pembentukan opini publik. Secara sepintas, dukungan terhadap Bibit-Chandra memang terlihat posisif. Akan tetapi apakah semua orang yakin bahwa 1 juta lebih pendukung Bibit-Chandra memang mengerti permasalahan tersebut atau hanya ikut-ikutan saja?

Harus diakui bahwa pendidikan politik terhadap masyarakat umum tidak dilakukan dengan baik oleh para petinggi negeri. Jika demikian, apa yang diharapkan muncul pada pemikiran masyarakat? Masyarakat akan dengan sangat mudah menjadi sasaran empuk bagi para penyebar propaganda gelap. Hal yang terjadi kemudian adalah mudahnya bangsa ini dipecah-belah akibat propaganda gelap dari berbagai kalangan yang saling berbenturan.Masyarakat yang menjadi “penonton” dalam panggung politik pun menjadi perlu untuk ikut serta dalam mendukung satu opini atau propaganda tertentu, tanpa menelaah benar apa yang terjadi sebenarnya.
Meski dalam kasus Bibit-Chandra adalah hal positif yang terbentuk, namun dari kasus itu pula pemerintah justru terlihat ciut. Dukungan 1 juta pengguna Facebook itu ternyata mampu membuat legalitas formal diabaikan. Ketika pada suatu saat nanti yang terjadi adalah berhasilnya propaganda gelap menyusup dalam Facebook dan memberi dampak hebat seperti dalam kasus Bibit-Chandra, apakah pemerintah akan kembali ciut?
Bagaimana pun hebatnya Facebook, perlu diingat bahwa akurasinya tidak bisa diyakini 100 persen. Peran media massa sebagai pembentuk opini publik masih bisa berfungsi dan lebih bisa dipercaya dibandingkan Facebook. Sudah sewajarnya bila pemerintah lebih takut pada media massa karena pers-lah pilar keempat negara ini—the fourth estates.
Jika pemerintah memiliki niat baik, sebenarnya Facebook bisa juga dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan politik, melalui “ruang-ruang” diskusi yang disediakan Facebook. Situs jejaring sosial tersebut telah membuktikan bahwa ia bisa digunakan dalam hal kampanye seperti halnya Barrack Obama, mengapa pula di Indonesia pemerintah tak bisa mendayagunakan Facebook? Dengan demikian, segala kebijakan dan keputusan yang dibuat pemerintah, bisa secara langsung diketahui dan ditanggapi oleh masyarakat melalui Facebook.

Dibuat oleh:

Purwaningtyas P.S (untuk mata kuliah Tajuk Rencana)

About these ads

2 thoughts on “Pengaruh Facebook dalam Membentuk Opini Publik

  1. Jika pemerintah memiliki niat baik, sebenarnya Facebook bisa juga dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan politik, melalui “ruang-ruang” diskusi …”

    Baik niatnya kita gak perlu “mendikte” pemerintah dengan ide-ide besar nan cemerlang. Mereka “terhijab” dari kita. Sebab, mulut akan berbusa. Telinga akan ‘tersumbat’. Tentunya, hati akan meronta-ronta pada kawanan badai jika interaksi rakyat dan pemerintah terjalin di atas sistem “dodol” bangsa ini.

    Nice editorial, teh Tyas :)

    • Hei Dian, salam kenal. Sebenarnya sudah banyak politikus dan aktivis dari berbagai bidang yang memanfaatkan Facebook untuk menyebarkan pendidikan dan pengetahuan. Namun ya seperti itulah, lebih banyak telinga “tersumbat” di tahta penguasa sana. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s