Bisnis DVD/ VCD Porno Bajakan yang Tak Pernah Mati

“Mbak, mau cari apa? Mau cari DVD unyil, ya? Di sini banyak, Mbak,” sapa salah seorang pedagang DVD bajakan di kawasan Pasar Glodog, tepatnya di bawah jembatan, pada hari Kamis (4/2).

Sapaan seperti itulah yang kerap terlontar ketika seseorang mengunjungi kawasan yang terkenal sebagai “gudang” DVD/ VCD bajakan tersebut. Ungkapan “unyil” merujuk pada pengertian blue film atau porn film. Perempuan pengunjung Pasar Glodog mungkin hanya segelintir saja dibandingkan dengan laki-laki pengunjung. Oleh karena itu, tidak heran jika perempuan pengunjung digoda oleh para penjual karena hal itu merupakan keanehan.

Aktivitas jual-beli di kawasan penjualan DVD/ VCD bajakan ini dimulai sekitar pukul 10,00 WIB. Padahal pedagang barang jenis lain biasanya memulai aktivitas mereka beberapa jam lebih pagi.

“Nggak tahu, ya, kenapa mereka mulai jualan jam segitu. Mungki takut sama polisi kali,” kata salah seorang tukang parkir di depan Harco Plaza.

Di bawah jembatan Harco Plaza terdapat puluhan pedagang yang membuka lapak dagangan DVD/ VCD bajakan. Para pedagang ini rata-rata menjual film-film porno. Film-film porno tersebut dijual Rp6,000-Rp7,000 per keping. Seturut mata memandang, dalam jarak 10 meter saja terdapat setidaknya 30 lapak. Dalam sehari para penjual yang memunyai lapak tersebut bisa menjual 10-15 keping dalam sehari.

Jika sebuah film sedang booming atau salah seorang bintang film porno sedang naik daun, angka penjualan tersebut bisa meningkat dua kali lipatnya.

“Kayak dulu waktu gosip Miyabi mau ke Indonesia, banyak orang cari film Miyabi karena penasaran. Bisa dijual 10.000 sampai 15.000 satu kepingnya,” kata penjual yang beraksen Jawa.

“Tapi sekarang-sekarang ini mah, Neng, lagi biasa-biasa aja, nggak ada isu-isu yang bisa bikin orang-orang makin ramai ke sini,” kata pedagan beraksen Sunda yang lapaknya bersebelahan dengan pedagang beraksen Jawa.

Tak jarang para pedagang atau pemilik bisnis sengaja menghembuskan isu-isu yang bisa menarik pengunjung agar mau datang dan membeli. Contohnya saja, pada Januari 2010, jumlah pengunjung kios DVD/ VCD porno semakin meningkat seiring dengan berhembusnya isu beredarnya DVD porno Antasari Azhar dan Rani Juliani.Padahal barang yang disebutkan tersebut tidak tersedia di kawasan itu. Hanya beberapa penjual saja yang memilikinya.

Ada trik lain yang dilakukan untuk menarik pengunjung, yaitu memajang DVD/ VCD dengan gambar “syur” dan menantang. Padahal, belum tentu isinya adalah hal yang hanya pantas disaksikan orang dewasa.

“Gue pernah beli film unyil di sini (lapak, red), ternyata isinya malah film kartun, bukan yang gue pengen. Di situ, kan, nggak bisa dicoba,” kata Rio salah seorang mahasiswa yang pernah mengunjungi Pasar Glodok.

Namun demikian, film-film porno yang dijual di Kawasan Glodok tak pernah kehilangan peminat. Banyak pengunjung yang sengaja datang untuk membeli DVD porno. Jika kita menyusuri Jalan Pinangsia, masih di kawasan Pasar Glodok, maka akan terdapat lebih banyak pedagang DVD/ VCD bajakan.

Kebanyakan dari mereka membuka kios-kios. Pedagang yang membuka lapak masih ada, namun mereka berada di trotoar atau di luar kios. Jika kita masuk lebih ke dalam bangunan Pasar Glodok, maka akan ditemukan sekitar 60 kios DVD/ VCD bajakan berdesakan di dalamnya. Kios-kios ini memajang film-film terbaru di bagian depan kios.

Namun, tempat yang paling ramai dikunjungi adalah rak DVD/ VCD porno yang biasanya terletak di bagian paling belakang kios. Kesibukan kegiatan mereka bukan hanya melakukan transaksi jual-beli saja, melainkan juga sibuk memasukkan keping CD ke dalam kemasannya. Rupanya hari ini merupakan hari kedatangan stock barang dari bandar utamanya. Berkardus-kardus DVD/ VCD dari segala macam genre dikerubuti para pesuruh/ penjaga toko untuk diberi kemasan.

“Wah, kalau asal DVD-DVD ini kita nggak bisa ngasih tahu dari mana,” kata perempuan yang memiliki kios di ujung Pasar Glodok.

Rentang waktu antara pukul 12,00-13,00, saat istirahat kantor, merupakan saat di mana kios mulai ramai dikunjungi pembeli. Satu kios bisa disambangi oleh 15 orang. Dari 15 orang tersebut, 10 orang di antaranya berkumpul dan memadati rak pajang DVD/ VCD porno.

Bukan pemandangan yang mengherankan jika kita melihat kebanyakan pengunjung dan peminat DVD/ VCD porno tersebut justru merupakan karyawan. Ada pengunjung yang memakai kemeja rapi. Ada pula yang mejinjing tas kerja. Bahkan, ada pula pegawai negeri yang ikut serta memilih-milih DVD/ VCD porno.

Biasanya para peminat DVD/ VCD porno tidak berlama-lama berada di rak favorit mereka. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 1-2 menit di depan rak sebelum kemudian mereka membayar barang mereka di kasir.

Sejak iklim kebebasan diraih Indonesia sepuluh tahun silam, hal itu menjadi pemicu kebebasan dalam melanggar Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI), termasuk semakin suburnya bisnis pembajakan film.

Kawasan Pasar Glodok pun menjadi lahan subur bagi para penjual DVD/ VCD bajakan, terutama yang bergenre pornografi. azia-razia yang kerap kali dilakukan polisi juga tidak membuat para pedagang menjadi jera. Bahkan, kios-kios dan lapak-lapak penjual DVD/ VCD bajakan pun semakin banyak.

“Biasanya kalau mau ada razia, udah kesebar dari mulut ke mulut. Biasanya kita tutup 2-3 hari,” kata perempuan penjual asal Batak yang tidak mau disebut namanya.

Salah seorang penjaga di kios perempuan asal Batak itu menyebutkan kemungkinan adanya kerja sama antara polisi dengan para pedagang yang memiliki kios di sana agar mereka tak terkena razia. Menurutnya, hal itu bukanlah rahasia umum lagi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s