Refresh Your Mind By Visiting Book Store!

Refresh Your Mind By Visiting Book Store!

Rasanya kalimat itu nggak terlalu berlebihan untuk gue lontarkan saat ini. Seminggu yang lalu gue sempat dilanda stres berat karena perasaan tertekan yang gue rasakan. Pertama, gue harus menemukan masalah untuk akhirnya dijadikan proposal penelitian dalam mata kuliah Seminar. Kedua, gue juga harus menyelesaikan laporan magang gue sebelum akhir bulan ini. Dan yang ketiga, I have a target to finish my novel by the of the month too.

Stress itu berakibat macam-macam ke diri gue. Gue nggak bisa tidur selama tiga malam sebelum proposal penelitian itu jadi. Jadi tiap malam gue tidur dari jam 23.00-01.00, tapi selanjutnya nggak bisa tidur. Akibat stress pula gue nggak nafsu makan karena rasanya perut selalu mual. Terus gue juga baru menyadari kalau gue terlambat haid karena stres. Dan yang paling bikin gue syok, rambut gue rontok banyak banget sampai-sampai gue ngeri ngeliatnya. Takut botak!

Ketika proposal itu akhirnya terselesaikan, stres gue agak berkurang. Tapi, pada waktu dikumpulkan, ternyata topik dan analisis proposal gue sama persis dengan milik teman gue. Jadi, salah satu dari kami harus mengganti judul. Baiklah, gue aja yang ngalah untuk ganti judul. Stress pun meningkat pesat dan membuat gue nggak doyan makan seharian pada hari itu. Gue nggak ngerti harus cari masalah apa lagi? Gue harus bener2 serius dalam seminar soalnya topik yang gue ajuin bakal gue lanjutin sebagai proposal skripsi gue nantinya.

Gue mencoba untuk relaks ketika mood gue hancur berantakan. Oh iya, stress itu mengakibatkan hubungan gue sama pacar jadi tidak romantis dan jadi dingin. Fyuh :( Oke, setelah gue menenangkan diri semalaman. Gue putuskan untuk pergi ke toko buku. Jadi, tadi gue ke Toga Mas dan menghabiskan waktu hampir dua jam di sana buat baca-baca buku meski hanya selintas saja.

Dan yang paling menggembirakan, gue akhirnya mendapatkan topik yang bisa dikembangkan di dalam proposal. Thanks God, You always show me the way when I feel so confused. See? God never leave us. You can find God in every little thing you met. Optimisme gue pun bangkit. Gue emang sempat pesimistis, tapi gue berusaha buat bangkit lagi.

Bukan hanya buku itu yang bikin gue seneng, tapi juga diri gue merasa lebih rileks setelah dari toko buku itu. Gue bisa tahu pikiran-pikiran para pengarang, apa pun jenisnya. Selain itu, toko buku selalu membangkitkan inspirasi dan imajinasi gue.

Setelah puas ngubek Toga Mas, gue pergi ke toko buku lain. Eits, bukan toko buku layaknya Toga Mas, tapi apa ya? Tempat ini kumpulan kios-kios yang menjual beragam buku, dari yang zaman lampau juga ada. Harga yang ditawarkan cukup miring sehingga pas untuk kocek mahasiswa. Letak kios itu di Palasari, Bandung. Niat gue sih cari majalah bekas buat menambah inspirasi. Dan, gue dapat lagi yang gue mau.

What a nice day I have! Meski gue cuma pergi sendiri, tapi gue merasa senang. Terkadang ketika kita membutuhkan sesuatu yang sangat penting, pergi sendirian menjadi hal yang menyenangkan. Kalau kita bareng teman, kadang kita nggak bisa sesuka hati berlama-lama di suatu tempat, iya kan?

Sejarah dan Perkembangan Perwajahan Majalah

Sejarah Singkat Majalah

Di Inggris

Majalah di Inggris (London) adalah Review yang diterbitkan oleh Daniel Defoe pada tahun 1704. Bentuknya adalah antara majalah dan surat kabar, ukuran halaman kecil, set terbit tiga kali satu minggu. Defoe bertindak sebagai pemilik, penerbit, editor sekaligus sebagai penulisnya.

Tulisannya mencakup berita, artikel, kebijakan nasional, aspek moral dan lain-lain. Tahun 1790, Richard Steele  membuat majalah The Tatler, kemudian bersama-sama dengan Joseph Addison ia menerbitkan The Spectator. Majalah tersebut berisi masalah politik, berita-berita internasional, tulisan yang mengandung unsur-unsur moral, berita-berita hiburan, dan gosip.

Di Amerika

Benjamin Franklin telah memelopori penerbitan majalah di Amerika tahun 1740, yakni General Magazine. Tahun 1820-an sampai 1840-an merupakan zamannya majalah. Majalah yang paling populer saat itu adalah Saturday Evening Post yang terbit tahun 1821, dan North American Review.

Pada pertengahan abad 20 tidak ada majalah yang sesukses Reader’s Digest yang diterbitkan oleh suami istri Dewitt Wallace dan Lila, pada tahun 1922, ketika mereka masih 20 tahun. Pada tahun 1973 Reader’s Digest dapat mencapai pelanggan sebanyak 18 juta untuk pembaca di Amerika saja, dan pembaca lainnya di dunia.

Keberhasilan Reader’s Digest telah mendorong munculnya majalah Time. Selanjutnya terbitlah majalah Life, Fortune, dan Sport Illustrated. Life merupakan majalah berita yang banyak menggunakan foto. Majalah lainnya yang sukses adalah Playboy yang diterbitkan tahun 1953. Playboy adalah majalah khusus untuk pria yang pada tahun 1970-an, dan sirkulasinya mencapai 6 juta eksemplar. Continue reading

Sejarah Surat Kabar dan Perwajahannya

Sebelum ditemukannya mesin pencetak, orang-orang di jaman dahulu kala menyebarkan berita dari mulut ke mulut, surat tertulis, atau papan pengumuman. Kemudian orang-orang mulai memikirkan kebutuhan sebuah laporan berita tertulis. Bangsa Romawi kuno menemukan sistem yang cukup mengesankan dalam menyebarkan berita tertulis tersebut. Sistem itu disebut dengan nama acta diurna (kejadian-kejadian harian), sebuah lembaran berita ditulis tangan yang diterbitkan oleh pemerintah untuk umum dari tahun 59 sebelum masehi sampai setidaknya tahun 555 masehi yang memberitakan tentang politik, skandal, persidangan, kampanye militer, dan eksekusi.

Di China, pada pemerintahan awal mereka telah membuat lembaran berita yang disebut dengan nama tipao, yang diedarkan pada masa kekuasaan dinasti Han (202 sebelum masehi sampai dengan 220 masehi). Pada suatu waktu di masa kepemimpinan dinasti Tang (tahun 618 s.d. 907 masehi) bangsa China memakai blok kayu yang diukir untuk mencetak tipao, dan kemudian dicatat sebagai lembar berita pertama yang dicetak.

Mesin pencetak pertama kali dikembangkan oleh orang-orang Eropa di tahun 1450, dan menggunakannya untuk mempublikasikan berita. Dan surat kabar terus berkembang sebagai media penyebar informasi hingga saat ini.

  • SEJARAH SINGKAT SURAT KABAR
  1. Di jerman, Prototipe pertama surat kabar diterbitkan di Bremen Jerman pada tahun 1609.
  2. Di Inggris, surat kabar pertama yang masih sederhana terbit pada tahun 1921.
  3. Di Amerika, surat kabar yang pertama di Amerika Serikat adalah Pennyslvania Evening Post dan Daily Advertiser yang terbit pada tahun 1783.

Continue reading

Citra Negatif Itu Sudah Terlanjur Melekat

Perempuan Pun  Menolak Disebut ’Feminis’

Oleh:

Purwaningtyas Permata Sari

Agustiyanti

“Diseloeroeh doenia bangsa perempoean beroesaha, soepaja mendapat persama’an bangsa laki-laki. Keada’an ini disebabkan sebagian besar oleh karena kita soedah tahoe harga badan dan tenaga kita… Tanah kita tiada akan selamat, kalau hanja seperdoea bangsa Indonesia jang mendapat kemadjoean dan mendapat perhatian, sedangkan seperdoea lagi ditinggalkan dalam djoerang kebodohan. Berbahaja sekali kalau pikiran ini tiada masoek dalam hati tiap-tiap anak Indonesia, karena oleh sebab yang demikian banjaklah keboeroekan jang timboel lagi bangsa sekarang dan lebih-lebih lagi bangsa jang akan datang.”

Penggalan pidato tersebut diucapkan dalam Kongres Perempuan I tahun 1928 oleh Sitti Soendari, salah seorang penganut pemikiran Soekarno. Keberanian perempuan untuk mengungkapkan kepincangan antara posisi laki-laki pada saat itu dinilai I Gusti Agung Ayu Ratih, Direktur Institut Sosial Sejarah Indonesia (ISSI) sebagai batu loncatan yang luar biasa. Mereka bahkan tidak berpikir tentang kaitan pergerakan mereka sebagai gerakan feminisme. Tentu saja, kongres tersebut melahirkan bibit-bibit feminis pada saat itu.

Harapan Sitti Soendari mengenai kesetaraan pendidikan antara laki-laki dan perempuan sudah cukup terealisasi pada zaman sekarang ini. Namun, permintaannya agar tiap-tiap anak Indonesia mengingat betapa usaha perempuan untuk mendapatkan persamaan bisa berarti perjuangan berpuluh-puluh tahun, tidak terpatri di dalam pikiran generasi saat ini—yang tak lagi menganggap penting usaha persamaan antara perempuan dan laki-laki.

Continue reading

“Kaburnya” Sejarah Pergerakan Perempuan Indonesia

Perjuangan Perempuan Pada Akhirnya Tidak Mencapai Apapun, Dikenal Pun Tidak

Oleh:

Purwaningtyas Permata Sari dan

Agustiyanti

“Soal wanita itu perlu dengan segera didjelaskan dan dipopulerkan. Sebab kita tidak dapat menjusun negara dan tidak dapat menjusun masjarakat, djika (antara lain-lain soal) kita tidak mengerti soal wanita.” (Soekarno dalam Sarinah, 1947: 5)

Perkataan Soekarno itu sedikit banyak menyerukan kesetujuan dengan perkataan Kartini, “Kita tidak bisa membangun suatu bangsa yang beradab tanpa mempertimbangkan perempuan.”

Melalui penelusuran sejarah, semua orang di negeri ini sepakat bahwa pergerakan perempuan pertama diprakarsai oleh  Kartini yang menuntut adanya kebebasan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan sama seperti halnya laki-laki. Pada saat itu isu mengenai kesetaraan gender seperti yang banyak didengungkan sekarang belum terdengar. Meski bukan bertindak atas nama organisasi, dobrakan yang dilakukan Kartini itu mampu menginspirasi para perempuan untuk selanjutnya memikirkan tentang posisi dan kesejahteraan sosial perempuan.

“Kalau dari segi pemikiran tentang hak-hak perempuan, sejauh yang saya tahu, memang yang pertama kali Kartini. Kartinilah yang pertama menentang hal bagaimana aristrokrat-aristorat mengatur tentang perseliran dan perkawinan. Sejauh ini dari tulisan-tulisan yang ada, dia yang pertama,” kata I Gusti Agung Ayu Ratih, Direktur Institut Sosial Sejarah Indonesia (ISSI).

Menurut ahli sejarah itu, Kartini dikatakan sebagai yang pertama kali karena menuangkannya ke dalam tulisan (written text) dan dia merumuskannya dengan sangat baik dan tajam. Hal yang penting dari Kartini adalah dia bukan hanya menyerukan hak-hak perempuan, melainkan juga menyerukan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, serta menyerukan hubungan antara kebebasan perempuan dengan kebebasan bangsa. Dia berbicara dalam konteks feminis, meskipun dia tidak berbicara dalam konteks Indonesia yang sekarang. Dia mengetahui ada orang lain yang bukan orang Jawa, berpikir tentang kemajuan bangsa. Ayu menilai hal itu sebagai terobosan yang paling penting.

Continue reading

Affirmative Action, Piutang Peradaban Perempuan

Pentingnya Upaya Penyamaan Starting Point antara Perempuan dan Laki-Laki dalam Politik

Oleh: Purwaningtyas Permata Sari dan

Agustiyanti

“Tindakan afirmatif merupakan terobosan bagi partisipasi aktif perempuan. Sudah saatnya memaksa partai politik untuk lebih memperhatikan kaderisasi perempuan. Tindakan ini harus dilakukan untuk mendorong perempuan masuk dalam partai politik,” tulis Sri Budi Eko Wardani, Pengajar FISIP UI dan Direktur Pusapol (Pusat Kajian Politik) Fisip UI, dalam artikelnya yang berjudul “Perjuangan Menggagas Kebijakan Afirmatif bagi Perempuan dalam UU Pemilu Tahun 2008”. (Jurnal Perempuan Edisi 63, dalam rubrik “Topik Empu”)

Semula affirmative action dirancang sebagai respon atas ketimpangan kondisi ekonomi kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat. Tindakan affirmative action memberikan perlakuan khusus kepada kelompok yang dianggap kurang beruntung di mana perlakuan tersebut bersifat sementara, sampai kelompok tersebut dianggap sudah memiliki posisi dan kesempatan setara dengan kelompok lain atau kelompok sosial minoritas yang dilindungi telah terintergrasi. Affirmative action juga bisa diartikan sebagai upaya percepatan peningkatan representasi perempuan di politik.

Kebijakan affirmative action mengharuskan adanya tujuan, jangka waktu penerapan serta pengawasan. Dengan kata lain, affirmative action adalah tindakan “pengobatan” terhadap diskriminasi perempuan, ras tertentu atau kelompok sosial minoritas tertentu sekaligus upaya untuk mencegah diskriminasi di kemudian hari. (Jurnal Perempuan Edisi 63, dalam rubrik “Kata dan Makna”)

Continue reading

Di Manakah Letak Gerbang Utama Unpad

Rina, mahasiswa Fikom Unpad tingkat 4, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan 60 km/jam. Bermobil dari Perumahan Puri Indah, ia menyusuri jalan dari pangkalan bis Damri lama, melewati Universitas Winaya Mukti (Unwim), menuju Gerbang Utara Unpad yang letaknya jauh dari jalan utama Jatinangor. Rina harus berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya karena jarak tempuh yang lebih jauh dari biasanya untuk menuju kampus.

“Sekarang kalau mau pergi ke kampus susah ya, harus muter jauh dulu? Gue heran deh, kenapa gerbang BNI (Gerbang Barat Unpad, red) itu nggak dibuka aja untuk jalan masuk mobil? Kan boros bensin jadinya. Lagipula, masa universitas ternama pintu gerbang utamanya kok tersembunyi di belakang?” keluhnya.

Hal seperti itu tidak saja dirasakan mahasiswa, dosen pun memiliki keluhan tersendiri. Salah seorang dosen Fikom yang memang sehari-harinya selalu menggunakan kendaraan umum, mengungkapkan pertanyaan mengapa Gerbang Selatan Unpad justru tidak bisa dimasuki mobil?

“Sejarahnya, kan, Gerbang Unpad memang terletak di selatan sejak bertahun-tahun lalu. Dan itu menjadi penanda bahwa Universitas Padjadjaran terletak di situ. Sekarang, tulisan penanda Universitas Padjadjaran saja sudah tidak ada. Coba, kita lihat di UGM, Undip, atau ITB, selalu jalan masuk mereka terlihat dari jalan utama. Unpad justru meletakkan gerbang utama jauh di bagian utara. Bayangkan orang tua mahasiswa baru yang akan memasuki Unpad, pasti bingungnya luar biasa hanya untuk masuk Unpad. Belum lagi tidak ada penunjuk arah untuk masuk Unpad melalui Gerbang Utara. Apakah di Unpad ini tidak ada sarjana yang bisa membantu mendesain gerbang yang baik?” katanya dalam sebuah forum perkuliahan.

Continue reading