Kisah Anak Haram Bangsawan Mencari Harta dan Cinta

Judul              : In The Prince’s Bed (Peraduan Sang Pangeran)

Penulis          : Sabrina Jeffries

Tahun Terbit : 2004

In The Prince’s Bed merupakan novel pertama dari trilogi Royal Brotherhood karya Sabrina Jeffries. Novel berlatar abad 18-an ini berkisah tentang kehidupan bangsawan kala itu dengan segala permasalahandan intrik yang mungkin timbul.

Alexander Black adalah seorang pria yang menyandang gelar ’Lord Iversley’ karena merupakan anak seorang tuan tanah dan juga bangsawan di Edenmore, Inggris. Berhubung sang ayah tidak meninggalkannya dengan warisan yang berarti—hanya estat bobrok dan ladang kering—Alec berniat pergi ke London untuk menikahi seorang wanita bangsawan yang mewarisi banyak harta.

Tidak mudah memang untuk mewujudkan mimpinya itu. Alec hanya ingin mendapatkan dana untuk bisa merenovasi estatnya yang rusak. Alec terpaksa bermain licik dan membuka rahasia yang selama ini ia tutupi agar rencananya berjalan mulus. Ia mengundang Lord Draker dan Byrne yang mulanya bermusuhan untuk bersekutu dengannya. Kepada Lord Draker dan Byrne, Alec mengaku bahwa dirinya adalah anak haram dari Prinny alias Raja George VI. Itu berarti menjadikan mereka bertiga sebagai saudara satu ayah.

Kepada Byrne ia meminta pengaruh Byrne untuk memperkenalkan dirinya sebagai Lord Iversley di London. Sebagai imbalan, Alec akan berusaha menikahi seorang ahli waris yang berutang sangat banyak kepada Byrne. Lord Draker yang reputasinya sebagai viscount naga di kalangan bangsawan tidak begitu baik, bersedia membantu Alec dengan meminjamkannya kereta kuda agar Alec bisa berkeliling mendatangi pesta demi pesta untuk mendapatkan gadis kaya impiannya. Sebagai imbalan, Alec berjanji saat dirinya sudah kaya, ia akan membantu memperbaiki reputasi Lord Draker.

Katherine Merivale, seorang perempuan cantik, merupakan ahli waris keluarga Merivale. Namun, Katherine belum bisa mendapatkan warisannya sebelum ia menikah. Dengan setia Katherine menunggu kekasihnya Sydney Lovelace, seorang baronet, untuk menikahinya.

Continue reading

By elisabetyas Posted in Resensi

Menjadi Profesional VS Wirausahawan

“Me without working isn’t me.”

Begitulah kalimat yang diucapkan Sarah Jessica Parker dalam sebuah scene di film “I Don’t Know How She Does It” yang diputar di bioskop-bioskopIndonesia awal tahun 2012 ini. Film ini mengisahkan tentang seorang perempuan yang mampu mengejar karirnya, namun juga berupaya sekuat tenaga untuk mengurus keluarganya. Satu hal yang bisa dipetik dari film ini adalah bahwa dengan ketekunan, seorang pekerja kantoran akan mampu mencapai puncak karirnya.

Sayangnya akhir-akhir ini banyak orang yang berpikir bahwa berwirausaha jauh lebih baik daripada menjadi pekerja kantoran. Alasannya, dengan berwirausaha mereka bisa mengatur pola kerja mereka sendiri; mereka bisa mendapatkan untung yang lebih besar; dan tidak perlu diatur atasan.

Sebuah ide yang sering menghinggapi karyawan adalah bahwa kreativitas mereka tidak akan berkembang apabila mereka tetap menjadi karyawan, apalagi bagi yang sulit untuk naik jabatan atau penghasilan. Terkadang mereka tak menyadari bahwa banyak kreativitas bisa berkembang saat menjadi karyawan. Hanya saja mereka tak berpikir demikian.

Jangan kira dengan menjadi wirausaha lantas dagangan kita akan serta-merta laris. Masih banyak saingan di luar sana yang berdagang atau menawarkan jasa layanan tertentu. Siapkah kita berkompetisi dengan wirausahawan yang sudah lebih dulu eksis? Berwirausaha tidak semudah yang dipikirkan orang.

Memilih jenis usaha juga tak semudah membalikkan telapak tangan. Berwirausaha juga merupakan sebuah kesukaan atau terkadang orang mengatakan hal itu bakat. Jika seseorang sudah menyukai bidang dagang tersebut, maka peluang untuk sukses pun semakin besar.         Kesukaan, itu pula kunci sukses bagi karyawan. Berdagang dan bekerja adalah pilihan atas kesukaan. Dengan menggeluti bidang kerja kesukaannya, maka seseorang bisa meniti karir hingga posisi yang diidamkan.

Seseorang seharusnya tidak berpikir ”asalkan saya bisa bekerja dan punya penghasilan”. Dengan pemikiran seperti itu, sudah pasti seorang karyawan tidak akan maju dalam karirnya. Pilihlah pekerjaan yang memang disukai agar dalam melakukannya pun kita terpacu untuk maju. Kreativitas pun akan menyusul di belakang ketika kita sudah suka pada suatu hal.

Belajar dari ”Pursuit of Happyness”

Salah satu contoh di mana seorang profesional mampu meniti karir pada bidang yang ia suka adalah Chris Gardner. Kisah hidupnya sudah difilmkan dengan judul ”Pursuit of Happyness”. Peran utamanya dimainkan oleh Will Smith. Jika ada kesempatan, Anda boleh menonton film ini untuk membakar semangat Anda agar bisa meniti karir dengan sukses.

Chris Gardner adalah seorang pialang saham yang sukses di Amerika Serikat. Gardner sempat menjadi orang miskin dan tidak memiliki tempat tinggal. Terkadang ia dan puteranya harus mengantri untuk bisa tidur di rumah singgah pada sore hari. Pada saat itu ia menjual pemindai kepadatan tulang yang rupanya tak terlalu laku, padahal seluruh tabungannya dihabiskan untuk modal membeli alat itu. Continue reading

Finally, I Wake Up!

Tadi siang di twitter, gue berkata, “Saya berniat meninggalkan “dunia” media massa, but it’s sad to be told, saya masih tetap peduli dengan tetek bengek tentang pemberitaan jurnalisme.” Menyedihkan rasanya bagi seseorang untuk akhirnya memilih tidak ingin terjun di bidang media massa padahal mulanya itu adalah idealismenya. Ya, idealisme gue terkikis, gue nggak mau menjadi wartawan. Kebanyakan orang yang kenal gue menyayangkan hal itu. Continue reading

Menjelajahi Paradise Island, Bintan

Kepulauan Riau merupakan salah satu provinsi baru, hasil pemekaran dari provinsi Riau. Dengan jumlah pulau besar dan kecil mencapai 2.408 pulau, dapat dibayangkan bahwa masyarakat di sana akrab dengan kehidupan laut.  Selain menjadi sumber mata pencaharian sehari-hari, laut di sekitar Kepulauan Riau menawarkan keindahan alam yang layak dikunjungi.

Pulau Bintan termasuk bagian dari Kepulauan Riau, bahkan mungkin menjadi pulau teramai di provinsi itu. Pasalnya, ibukota provinsi Kepulauan Riau terletak di Tanjungpinang, Bintan.  Segala kegiatan perdagangan terpusat di Tanjungpinang, selain di kota Batam.

Bagi masyarakat Indonesia, berwisata di Pulau Bintan belum menjadi favorit, meski wisata di Pulau Bintan sudah terkenal hingga mancanegara.  Jika ingin mengunjungi Pulau Bintan, turis domestik bisa melalukan perjalanan udara langsung ke bandara Raja Haji Fisabilillah di Bintan. Namun, untuk turis mancanegara, perjalanan menggunakan pesawat terbang harus terlebih dahulu  transit di Singapura, lalu lanjut ke bandara internasional Hang Nadim, Batam. Setelah itu, perjalan dilanjutkan melalui Selat Riau dan Teluk Bintan dengan menumpang kapal ferry dari pelabuhan Telaga Punggur di Batam menuju Sri Bintan Pura di Tanjungpinang.

Namun, jika turis domestik ingin melihat pemandangan laut penghubung Batam dengan Bintan, bisa mencoba menggunakan kapal ferry. Rasanya tidak lengkap bila pergi ke Bintan tidak menyeberangi laut menggunakan kapal ferry. Perjalanan melalui laut menawarkan pemandangan indah pulau-pulau berpasir putih yang terlewati antara Batam dan Bintan. Tak jarang juga ditemukan pulau tak berpenghuni yang dipenuhi tanaman Bakau hingga ke tepiannya. Sedikit merapat ke pelabuhan Sri Bintan Pura, akan terlihat pulau kecil berpasir cokelat yang bisa hilang-timbul saat air laut pasang dan surut. Dulu ada pohon di atasnya, jadi ketika laut pasang, akan terlihat sebatang pohon melayang di lautan.

Ketika Anda telah menyempatkan diri untuk setidaknya mengitari Tanjungpinang dan sekitarnya, Anda akan melihat laut di mana pun Anda berada. Tanjungpinang sendiri memiliki kontur tanah yang tidak rata permukaannya, membuatnya memiliki dataran-dataran yang lebih tinggi hingga masih memungkinkan untuk melihat lautan. Banyak taman dibangun di dataran yang merupakan tebing, yang berbatasan dengan laut, menjadikannya tempat yang asyik untuk disinggahi pada waktu sore hari bersama kerabat atau teman sekedar untuk bercengkerama.

Kawasan Wisata Laut

Bintan merupakan pulau yang menjanjikan pemandangan alam yang elok di sepanjang garis pantainya. Salah satu pantai yang terkenal berada di kawasan Lagoi, di sebelah barat daya Bintan. Pengunjung di kawasan Lagoi belum membeludak seperti tempat wisata pantai pada umumnya. Bagi Anda yang ingin berelaksasi dan mengusir penat dari pikiran Anda, berwisata ke Lagoi patut dicoba.

 Memasuki kawasan wisata Lagoi, tiap mobil dikenakan biaya sebesar 5.000 rupiah. Sebelum menemukan pantai, wisatawan akan disambut dengan pemandangan patung-patung binatang-binatang asal Indonesia. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan keanekaragaman fauna kita kepada turis dari mancanegara. Continue reading

Eksistensi Buku Di Era Digital*

“Sebelum sebagian besar penduduk dunia ini menjadi kutu buku, kita telah sampai pada satu masa ketika dunia melesat ke alam audio-visual, virtual, dan multimedia.” (“Pada Mulanya Sebuah Buku”, dalam Bukuku Kakiku)

Begitulah kekhawatiran yang diungkapkan Melani Budianta, seorang pengamat budaya dan sastra. Kekhawatiran lainnya adalah dengan adanya zaman digital dan virtual, zaman buku pun perlahan akan punah. Mungkin tidak ada lagi tumpukan buku di perpustakaan suatu hari nanti, tergantikan oleh tumpukan CD berisi konten buku-buku.

Dunia telah melalui masa beretorika atau berbicara. Lalu kita pernah masuk ke era percetakan. Tak lama dunia menghadapi era penyiaran yang disajikan oleh televisi. Sekarang kita berada di era digital. Dunia berubah begitu cepat, terutama perubahan teknologi. Itu berpengaruh kepada bagaimana orang berpikir dan bertindak.

Tanpa disadari, setiap hari manusia tak bisa lepas dari terpaan pengaruh digital. Lebih dari satu dekade lalu teknologi Short Message Service (SMS) muncul, lalu disusul dengan surat elektronik (email), messenger, e-book, e-newspaper, e-tabloid, e-magazine, dan e-brochure. Belum lagi blog, microblogging, dan social networking, memudahkan orang untuk mencari informasi, tak perlu sulit-sulit mencari dan membaca buku. Rasanya penggunaan buku atau sesuatu yang tercetak akan semakin jarang dilakukan.

Satu pertanyaan dasar yang kemudian muncul di era digital ini, bagaimanakah nasib industri percetakan atau penerbitan? Apakah mereka akan mati perlahan-lahan?

Continue reading

Dipra dan Kegemarannya akan Novel, Film, dan Psikologi

“Kalau kamu penyuka pantai, aku bisa tebak kamu pasti adalah orang yang terbuka,” ujar Muhammad Khairul Sasmitadipraja yang akrab dipanggil Dipra.

Peramalkah dia? Begitulah hal pertama yang muncul di kepalaku saat mengenal Dipra, lelaki berkulit putih dan tampak terawat itu. Selanjutnya kesan yang mampu kutangkap dari sosoknya adalah periang dan mudah bergaul.

Benar saja, setelah berjam-jam mengenal Dipra, ternyata dia mampu membawa siapa pun untuk masuk lebih jauh mengenal dirinya. Lelaki kelahiran 28 September 1986 itu tak pandang bulu dalam bergaul.

Continue reading

Cerita dari Tengah Lautan

Aku merasa seperti amfibi, hidup di dua alam secara bergantian, darat dan laut. Jika malam tiba dan kebetulan badai datang, kdng ak ketakutan. Angin itu kecepatannya mencapai 60 knot. Dengan kekuatan angin secepat itu, mungkin aku bisa terbawa angin dan terjatuh ke laut bila aku berada di area luar anjungan.Tapi, hey, ini mimpiku, buah dari kekuatan pikiranku. Melihat enam hingga tujuh ekor lumba-lumba meloncat-loncat tiap fajar adalah salah satu kebahagiaan yang kutemukan di tengah laut ini.

Masa-masa cuaca buruk mengundang hiu tutul mendekat ke anjungan tempatku berada di tengah laut entah terbawa dari mana. Lebarnya 1.5 meter dengan panjang 4 meter. Kadang aku merasa hiu tutul itu menjaga anjungan. Hiu itu mengusir nelayan yang datang terlalu dekat ke area penyedotan minyak.Lucu sekali cara mengusir si hiu tutul. Hiu itu akan mengitari perahu nelayan agar nelayan ketakutan, dan meninggalkan anjungan.

Pilar penyangga anjungan ini cukup tebal, 1.5 meter. Namun, betapa pun kokohnya, bangunan ini terlihat ringkih di tengah lautan. Aku selalu berdoa agar saat menjelang kepulanganku, badai urung mengamuk, agar kapalku bisa menjemputku dan berlabuh di daratanmu.

Posted with WordPress for BlackBerry.

By elisabetyas Posted in Cerpen

Mewujudkan Produk Kertas yang Ramah Lingkungan *

Pernahkah Anda bertanya berapa banyak kertas yang manusia pergunakan selama satu tahun? Menurut data yang dihimpun oleh The Bureau of International Recycling, rata-rata penduduk Amerika Utara mengonsumsi 323 kg kertas/ capita, sedangkan penduduk Eropa 125 kg kertas/ capita. Penduduk Asia memiliki data yang beragam dalam konsumsi kertas per capita. Jepang menduduki peringkat tertinggi di Asia dalam konsumsi kertas, yakni 247 kg/ capita, diikuti oleh Singapura (228 kg/ capita), Malaysia (106 kg/capita), Taiwan (51 kg/ capita), dan China (42 kg/ capita). Sedangkan konsumsi kertas oleh penduduk Indonesia tercatat 22 kg/ capita. Tak bisa dipungkiri, konsumsi kertas oleh masyarakat dunia diprediksikan akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Confederation of European Paper Industry memperkirakan permintaan dunia untuk kertas akan meningkat 25 persen pada tahun 2020.

Hal yang menjadi kekhawatiran kebanyakan orang di dunia adalah semakin bertambahnya konsumsi terhadap kertas, maka hutan dan lingkungan hidup manusia akan semakin rusak. Asumsi dari kekhawatiran tersebut berdasarkan fakta bahwa pembuatan pulp (bubur kertas), bahan dasar kertas, menggunakan virgin fiber dari pohon. Maka, pohon harus ditebang untuk mendapatkan virgin fiber tersebut. Namun, benarkah demikian, bahwa penggunaan kertas lah yang berkontribusi terhadap perusakan hutan?

Industri kehutanan dunia mengelola lahan konsesinya dengan mengacu kepada prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management) yang diatur oleh pemerintah negara masing-masing. Prinsip pengelolaan hutan lestari ini mempertahankan dan meningkatkan ‘kesehatan’ ekosistem hutan dalam jangka panjang, dan pada saat yang sama juga menyediakan peluang-peluang sosial, lingkungan, ekonomi dan budaya untuk generasi-generasi sekarang dan masa depan. Di Indonesia, pengelolaan hutan lestari ini tertuang dalam skema pengelolaan hutan yang diatur oleh Kementerian Kehutanan, yang disebut dengan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL).

Continue reading

Bedakan Bahaya Sinar UVB & UVA

Kadang perempuan suka memakai krim tabir surya yang memiliki Sun Protector Factor (SPF) tinggi, pdhl SPF tinggi tak diperlukan oleh perempuan Asia. Asumsinya, semakin besar SPF, maka makin melindungi kulit dari terpaan sinar matahari.

Tidak seperti kulit perempuan kaukasia yang memerlukan krim ber-SPF tinggi, kulit perempuan Asia tidak seperti itu. SPF 17 saja sudah cukup bagi perempuan Asia. Itu disebabkan butir-butir pigmen melanin Asia lebih banyak dari kulit kaukasia, sehingga secara alami sudah memiliki perlindungan terhadap sinar UV.

Tahukah Anda bahwa sinar UV terbagi menjadi UVA dan UVB? Sinar UVB menembus lapisan kulit ari (epidersmis) dan UVB menembus lapisan kulit jangat (dermis). Sinar UVB menyebabkan kulit terbakar (sunburn). Sedangkan UVA berakibat lebih fatal lagi, yaitu hiperpigmentasi dan penuaan dini.

SPF hanya melindungi kulit dari terpaan sinar UVB. Padahal terpaan sinar UVA lebih berbahaya, menyebabkan early aging, wajah terlihat lebih tua. Parahnya lagi, UVA tidak hanya merusak kulit dan menyebabkan kanker kulit, tapi juga menyerang sistem tubuh. Radikal bebas yg disebarkan UVA beredar di seluruh tubuh dan menyebabkan kanker payudara, kanker serviks, serta membuat penyakit kian parah.

Intensitas matahari yang tinggi membuat perempuan Indonesia membutuhkan krim yang bs memberi perlindungan total dari UVA dan UVB. Tabir surya yang dibutuhkan perempuan Indonesia adalah tabir surya yang berspektrum luas, yang dapat menyaring UVB dan menangkal UVA.

*Dirangkum setelah membaca salah satu info di Kompas Female.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Perempuan Jawa dan Lelaki Kumal

Perempuan jawa lugu itu berkenalan dengan liarnya dunia laki-laki.
Aihh ada lelaki kumal. Dia kiri, suka caci, kata-kata wangi.

Di Al kitab kampungku lelaki itu setan, serupa iblis yg merayu adam.

Oohh iblis dibenci dan dicari, diingat untuk mendustai hati.
Mari menari. Di sini aja sesaji, bujuk rayu,kecupan dan sepotong janji.

Lelaki kumal itu terpana pada perempuan jawa.
Memendam rindu utk melihatnya tertawa.

Untuk gadisnya, diukirnya kata.
Aih, ternyata dia mudah dicinta.

Sang adam pun jatuh hati.
Setiap malam mimpi dinanti.

Perempuan itu lugu, begitu katanya.
Begitu anggunnya, hawa pun rebut hatinya.

Perempuan jawa, suka wangi, dipeluk janji, malu birahi.
Ahh dia punya lelaki takut dimaki.

Meski dia curi semburat lelaki kiri
Jadi candu tak mau pergi dari lelaki kiri.

Lelaki kumal, penuh birahi, perayu ulung.
Mengais hati perempuan bagai pemulung.

Bagai Cassanova, dia rayu wanita.
Bagai lentera, seakan membuat pelita.

Pesona lelaki liar itu takut ditampik.
Memakai topeng bagai orang munafik.

Membohongi hati nurani, dua hati diraihnya.
Dia punya kekasih, tak tega ditinggalkannya.

Posted with WordPress for BlackBerry.

By elisabetyas Posted in Cerpen