“Sebelum sebagian besar penduduk dunia ini menjadi kutu buku, kita telah sampai pada satu masa ketika dunia melesat ke alam audio-visual, virtual, dan multimedia.” (“Pada Mulanya Sebuah Buku”, dalam Bukuku Kakiku)
Begitulah kekhawatiran yang diungkapkan Melani Budianta, seorang pengamat budaya dan sastra. Kekhawatiran lainnya adalah dengan adanya zaman digital dan virtual, zaman buku pun perlahan akan punah. Mungkin tidak ada lagi tumpukan buku di perpustakaan suatu hari nanti, tergantikan oleh tumpukan CD berisi konten buku-buku.
Dunia telah melalui masa beretorika atau berbicara. Lalu kita pernah masuk ke era percetakan. Tak lama dunia menghadapi era penyiaran yang disajikan oleh televisi. Sekarang kita berada di era digital. Dunia berubah begitu cepat, terutama perubahan teknologi. Itu berpengaruh kepada bagaimana orang berpikir dan bertindak.
Tanpa disadari, setiap hari manusia tak bisa lepas dari terpaan pengaruh digital. Lebih dari satu dekade lalu teknologi Short Message Service (SMS) muncul, lalu disusul dengan surat elektronik (email), messenger, e-book, e-newspaper, e-tabloid, e-magazine, dan e-brochure. Belum lagi blog, microblogging, dan social networking, memudahkan orang untuk mencari informasi, tak perlu sulit-sulit mencari dan membaca buku. Rasanya penggunaan buku atau sesuatu yang tercetak akan semakin jarang dilakukan.
Satu pertanyaan dasar yang kemudian muncul di era digital ini, bagaimanakah nasib industri percetakan atau penerbitan? Apakah mereka akan mati perlahan-lahan?

