Dipra dan Kegemarannya akan Novel, Film, dan Psikologi

“Kalau kamu penyuka pantai, aku bisa tebak kamu pasti adalah orang yang terbuka,” ujar Muhammad Khairul Sasmitadipraja yang akrab dipanggil Dipra.

Peramalkah dia? Begitulah hal pertama yang muncul di kepalaku saat mengenal Dipra, lelaki berkulit putih dan tampak terawat itu. Selanjutnya kesan yang mampu kutangkap dari sosoknya adalah periang dan mudah bergaul.

Benar saja, setelah berjam-jam mengenal Dipra, ternyata dia mampu membawa siapa pun untuk masuk lebih jauh mengenal dirinya. Lelaki kelahiran 28 September 1986 itu tak pandang bulu dalam bergaul.

Continue reading

INDONESIA JADI TUAN RUMAH HLS ENVIROMENTALLY SUSTAINABLE CITIES

 Jakarta, 2/3 (ANTARA)-Indonesia melalui Kementrian Lingkungan Hidup menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan High Level Seminar on Environmentally Sustainable Cities (HLS ESC), yang dihadiri 16 negara di kawasan Asia Pasifik yang berkomitmen mewujudkan green city.

Apa yang dihasilkan dalam HLS ESC ini nantinya akan dijadikan rekomendasi untuk East Asia Summit Environment Ministers Meeting di Brunei Darussalam tahun ini,” kata Mentri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, di Jakarta, Selasa.

Continue reading

Eksplorasi Seks Dalam Sastra

WAWANCARA

M. Irfan Hidayatullah, M.Hum:

Eksplorasi Seks dalam Sastra, Apakah Sebuah Perjuangan Feminisme?

”…Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia mengintrogasi mata-mata yang tertangkap. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu atau membiarkan kamu tersiksa tak memperolehnya. Membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harfiah.” (Saman; hal. 157)

Petikan beberapa kalimat di atas mengundang pro dan kontra mengenai eksplorasi seks dalam dunia sastra. Kalimat-kalimat itu hanyalah satu contoh. Masih banyak karya sastra yang mendeskripisikan adegan seks secara detil. Ada yang menyebut para penulis perempuan ini sebagai generasi “sastra wangi”.

Banyak kritikus sastra yang memuji novel-novel yang mengeksplorasi seks karena dianggap begitu ekspresif, indah, dan berani. Namun ada juga yang menentang novel-novel tersebut, salah satunya adalah Taufik Ismail. Dia pernah mengatakan, “Penulis-penulis perempuan, muda usia, berlomba mencabul-cabulkan karya, asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dalam Gerakan Syahwat Merdeka.Dari halaman-halaman buku mereka menyebar hawa lendir yang mirip aroma bangkai anak tikus telantar tiga hari di selokan pasar desa/Aku melihat orang-orang menutup hidung dan jijik karenanya. Jijik. Malu aku memikirkannya.

Feminisme adalah sebuah doktrin yang menyerukan kesetaraan hak-hak sosial dan politik kaum perempuan dengan kaum laki-laki. Para penulis perempuan mengangkat tema emansipasi wanita sebagai wujud kesetaraan sosial, yang ingin lepas dari mindset (format pikiran) bahwa perempuan diikat secara kultural dengan sistem selera dan budaya patriarki. Tubuh perempuan selama ini dijadikan sebagai objek seks dan sangat jarang menjadi subjek seks. Kaum feminisme posmodern sangat menganjurkan dilakukannya kegiatan menulis tentang seksualitas perempuan dalam karya sastra sehingga muncul istilah “sexts” sebagai bentuk akronim dari kata sex dan text.

Dalam novel-novel yang mengeksplorasi seks diperlihatkan bahwa perempuan memunyai kuasa atas tubuhnya dan bisa berinisiatif dalam melakukan hubungan seks. Mungkin saja niat para penulis perempuan ini ingin mengangkat derajat perempuan. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan yang terjadi justru perempuan bertindak rendah dengan menjadi objek seks.

Apakah eksplorasi seks dalam dunia sastra adalah perjuangan untuk menyetarakan gender antara laki-laki dan perempuan? Apakah munculnya karya sastra yang mengeksplorasi seks menyebabkan kemunduran moral bangsa atau kemajuan moral bangsa? Apa permasalahan perempuan yang pantas diangkat dalam karya sastra, selain permasalahan seks?

Untuk menjawab fenomena eksplorasi seks dalam sastra, Purwaningtyas Permata Sari menemui M.Irfan Hidayatullah di kantor Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Fasa Unpad) Bandung, di Jl. Raya Sumedang-Jatinangor Km.21 Jatinangor (4/1), pukul 10.00 WIB. M. Irfan Hidayatullah akan memberikan penilaiannya yang berimbang mengenai permasalahan eksplorasi seks dalam sastra. Ia menilai karya-karya itu dari berbagai sudut, tidak pro maupun kontra. M. Irfan Hidayatullah adalah Ketua Umum Forum Lingkar Pena. Saat ini juga ia adalah dosen sekaligus Ketua Jurusan Sastra Indonesia di Fasa Unpad Bandung. Ia telah menciptakan beberapa judul novel, cerita pendek, dan puisi.

Menurut Anda, apakah eksplorasi seks dalam dunia sastra adalah perjuangan untuk menyetarakan gender antara laki-laki dan perempuan?

Pertanyaan yang sulit, ya. Kalau saya baca dari karya para pembuat teks itu sendiri; Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan sebagainya dan dari kritik-kritik sastra, katanya itu memang merupakan perjuangan untuk menyetarakan gender. Ada semacam usaha perempuan untuk berbicara.

Menurut saya, sebenarnya hal seperti ini sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari dengan cara yang lain. Misalnya, dulu ada Nh. Dhini, Ratna Indraswari Ibrahim, Dayu Oka Rusmini, dan sebagainya. Sekarang ini dengan penuturan seks yang lebih gamblang adalah semacam jenis baru pengekspresian perempuan moderen atau bahkan postmoderen di Indonesia. Intinya sama saja, seks atau bukannya, menurut saya tidak terlalu berpengaruh. Kan, tanpa harus berbicara seksual pun perempuan bisa menyetarakan gender, kalau memang gender itu tidak setara.

Niat novelis-novelis perempuan itu mungkin ingin memperjuangkan penyetaraan gender, tetapi kesetaraan macam apa yang diharapkan dari tokoh-tokoh perempuan seperti yang digambarkan pada novel-novel Ayu Utami, Djenar, Dinar, Dewi Lestari, dan sebagainya?

Misalnya, saya lihat dalam karya Ayu Utami diungkapkan bahwa perempuan juga bisa punya kekuasaan dan otoritas atas tubuhnya. Jadi, perempuan bisa saja berniat untuk melakukan hubungan seksual sebagai subjek, bukan sebagai objek. Selama ini para novelis yang mengeksplorasi seks dalam karya sastra beranggapan bahwa kultur di Indonesia, baik budaya daerah atau agama, selalu memosisikan perempuan sebagai objek.

Jadi, dalam karya-karya sastra tersebut disebutkan perempuan bisa menjadi subjek dengan keinginan dan inisiatif sendiri. Mereka membicarakan tentang tubuh, dengan itu perempuan ada. Menurut saya, pintu permasalahan di situ.

Apakah sebenarnya seks merupakan permasalahan perempuan Indonesia?

Kalau saya baca dari jurnal-jurnal perempuan tentang masalah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), umumnya perempuan menjadi objek seksual seperti pemerkosaan. Makanya mungkin muncul fenomena sastra yang mengangkat tokoh perempuan dan kemudian ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa memerkosa dan berinisiatif. Itu dari fenomena umum.

Dari sudut-sudut lain ada juga yang kontra terhadap novel-novel yang mengeksplorasi seks dan merasa bahwa hal itu biasa-biasa saja. Ya, fitrah perempuan, kan, memang seperti itu, harus menjalankan fungsi-fungsi domestik dan fungsi-fungsi sosial.

Yang dipermasalahkan dalam novel-novel feminisme adalah menggugat kedomestikan fungsi perempuan. Para novelis ingin menunjukkan bahwa perempuan selalu terkurung di rumah dan hanya memasak. Banyak juga perempuan yang menikmati ketersiksaannya, itu yang ada dalam novel Ayu Utami, yaitu sadisme. Perempuan Indonesia memang tertekan tapi menikmati.

Apakah karena saat ini seks dianggap sebagai hal yang biasa sehingga para penulis pun mendeskripsikan seks secara gamblang?

Itulah pergeseran nilai dari jaman dulu dan sekarang. Kita bisa lihat dari media-media bagaimana kasus-kasus hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Dulu mungkin ada, tetapi masih sembunyi-sembunyi. Sekarang, kan, seks sudah menjadi hal umum. Pergeserannya terlihat dari pemuda-pemudi sekarang yang sudah tidak mengindahkan norma-norma adat. Kalau kita melihat statistik yang menampilkan sekin persen remaja sudah tidak perawan lagi.

Apakah eksplorasi seks dalam karya sastra hanya mengikuti tren saja daripada sebagai gerakan feminisme?

Sebenarnya ini tidak menjadi satu-satunya fenomena, ya. Sastra seperti itu hanya salah satu percikan saja dari gelombang, ideologi, dan paradigma feminisme. Jadi, kalau kita lihat dari budaya pemikiran, muncul liberalisme, pluralisme, kolonialisme, yang merelatifkan norma-norma, salah satunya sastra.

Kalau kita baca novel-novel berbau seks dengan kacamata norma budaya setempat, banyak yang mempertanyakan. Jadi, berdasarkan tren mana dan budaya mana pengungkapannya. Ternyata memang, eksplorsasi seks sudah menjadi hal yang global. Dulu ada karya-karya sastra seperti Serat Gatoloco, tapi itu karya sastra yang penyampaiannya dianggap umum dan hanya orang-orang tertentu yang membacanya. Kalau sekarang, kan, sudah berbaur antara budaya populer dengan karya sastra.

Maksud Anda sastra populer?

Ya, jadi sebenarnya ada unsur-unsur pop dalam karya Ayu Utami, baik cara pengemasannya maupu memasukkan isu-isu seksualnya. Dicurigai oleh beberapa pihak bahwa bentuk pop sebagai salah satu penarik pasar.

Sebagian kritikus sastra mengesahkan karya-karya bertemakan seks sebagai karya sastra karena begitu ekspresif, indah, dan berani. Bagaimana dengan Anda?

Secara estetika harus diakui ada pembaruan-pembaruan, berbeda dengan pengungkapan karya-karya sebelumnya. Munculnya Ayu Utami pertama kali memang booming karena menang lomba Sayembara Penulisan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan didukung juga oleh media serta kata-kata bombastis verbal dari para kritikus.

Karya-karya sastra bertemakan seks tidak lepas dari promosi yang dibesar-besarkan. Itu tidak murni karya sastra. Justru menjelimetnya karya sastra sekarang itu menandakan bahwa hakikat sastra yang sederhana, bisa diterima masyarakat, dan elegan sudah ditinggalkan.

Apakah Anda setuju dengan pendapat Ayu Utami bahwa sastra lebih sebagai jalan untuk eksplorasi kreativitas daripada sastra sebagai guru masyarakat?

Bagi penulis sah-sah saja untuk berpendapat. Penulis, kan, punya niat masing-masing. Kita tidak bisa menghakimi salah atau benar. Harus dipisahkan antar niat penulis dengan sisi sosialogis karya sastra tersebut. Kalau secara sosial, karya apapun, berasal dari sumber manapun akan berimbas baik yang berniat menyampaikan ideologinya, berdakwah, atau yang tanpa niat sekali pun.

Tidak ada batasan tertentu dari kacamata sastra?

Iya, kalau memang mau menulis karya sastra. Tetapi ketika sampai ke masyarakat, masyarakat melihat ada tawaran nilai tertentu. Mungkin Ayu Utami menawarkan sesuatu. Putu Wijaya menawarkan sesuatu. Ada juga penulis yang tidak menawarkan sesuatu, mereka hanya menulis saja.

Apakah munculnya karya sastra yang mengeksplorasi seks menyebabkan kemunduran moral bangsa atau kemajuan moral bangsa?

Kalau secara moralitas, jelas telah mengalami kemunduran. Permasalahannya, parameter kritik, kan, tidak hanya moral, ya. Kalau bicara mengenai estetika, itu mungkin suatu yang bagus. Mungkin harus dilakukan penelitian lebih dalam mengenai permasalahan kemunduran moral yang diakibatkan karya sastra itu.

Saya yakin novel-novel berbau seks jika dimasukkan ke dalam segmen, sudah pasti masuk ke segmen dewasa. Dengan adanya segmen itu saja sudah terlihat mana yang karya untuk dewasa atau anak-anak. Masalahnya, novel-novel itu siapa saja, kan, bisa baca.

Apakah sastrawan diharuskan untuk menyebarkan moral yang baik? Dengan menggambarkan kehidupan seks, tidakkah bertentangan dengan ajaran moral?

Sebenarnya di dalam karya Ayu Utami banyak terdapat ajaran moral yang baik, terlepas dari permasalahan seks. Misalkan, kritikan terhadap pemerintah dan penyetaraan gender. Akan tetapi, permasalahan gender tidak terlalu menonjol ajaran moralnya. Kita lihat dalam karya sastra itu dari sisi lainnya jika memang permasalahan gender terlihat bertentangan dengan ajaran moral.

Apakah para penulis perempuan yang mengeksplorasi seks ingin mendobrak budaya patriarki di Indonesia?

Jelas, ya, dari essay-essay para penulis perempuan bahwa ada maksud untuk mendobrak patriarki di bangsa ini. Walaupun juga ada pengamat yang melihat permasalahan dalam novel-novel berbau seks dari kacamata yang terbalik, metafora-metafora yang ada di dalam karya Ayu, misalnya, Ayu dinilai sama sekali tidak membela perempuan.

Sementara itu, dalam kumpulan cerpen (cerita pendek) atau essay Ayu Utami, yang salah satunya dimuat di Koran Seputar Indonesia, sudah terlihat bahwa ia menuju ke arah mendobrak budaya patriarki.

Masyarakat Indonesia sendiri sebenarnya sudah siap atau belum membaca karya sastra bertemakan seks?

Ini mungkin bisa kita lihat dari konflik, ya. Setelah novel-novel bertemakan seks keluar, kan, banyak konflik yang terjadi. Salah satunya Taufik Ismail yang mengatakan bahwa beliau merasa jijik dengan karya sastra yang banyak mengeksplorasi seks. Dengan adanya konflik itu menandakan masih adanya resistensi.Kita bisa melihat kesiapan dari pengarangnya atau dari pembacanya. Dari polemik itu juga bisa ditarik estetika dari kesusastraan timur atau Indonesia

Sebenarnya banyak karya yang bermuatan seksual, tetapi tidak vulgar. Hampir di setiap karya sastra ada adegan-adegan atau fragmen-fragmen yang berhubungan dengan seks, tapi pendobrakan para penulis perempuan itu dengan kevulgaran.

Para penulis, seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, kan mendiskripsikan seks terlalu detil atau vulgar. Tidakkah gaya bahasa seperti itu berselera rendah?

Ya, sebenarnya masih ada cara lain selain mendeskripsikan seks. Ayu Utami, misalkan, dia kan orang pintar. Dia bisa menyampaikan sesuatu dengan lebih bagus. Akan tetapi, justru muatan karyanya terletak pada eksplorasi seks itu karena mungkin sudah terciri sebagai ke-Ayu-Utamia-annya. Saya setuju dengan Ayu Utami kalau dilihat dari segi global.

Misalkan begini, media sudah merebakkan seksualitas. Kan, ada majalah yang bertemakan seks seperti Playboy. Sastra diharapkan menjadi gerbang terakhir untuk melawan eksplorasi seks. Ternyata sastra pun menggenapkan informasi berlebihan mengenai seksualitas. Harusnya sastra mengamankan dengan cara sastra, tetapi ternyata tidak. Ketika saya menyimak pembicaraan di Gramedia, ternyata halaman novel-novel bertemakan seks yang paling sering dibuka oleh pengunjung adalah bagian yang ada adegan seks, karena yang paling lecek.

Jadi, masyarakat hanya ingin membaca adegan seks saja?

Iya, mereka hanya ingin membaca adegan seks saja karena di situlah letak hiburannya.

Jadi, masyarakat tidak menangkap maksud si penulis dan mengartikan lain?

Iya, dikhawatirkan akan terjadi seperti itu untuk masyarakat umum. Kalau untuk ahli sastra atau mahasiswa sastra sudah bisa menangkapa artinya. Jadi, pesan yang disalurkan tetap ditangkap secara utuh.

Di dalam karya sastra, sebaiknya seks dijadikan bumbu atau justru dijadikan sebagai masalah utama?

Seks juga bisa dijadikan permasalahan utama. Saya pernah baca novel karya penulis Chekoslowakia Milan Kundera yang berjudul The Unbearable Lightness of Being. Tema utamanya adalah seks dan peran utamanya laki-laki dan perempuan. Ketika ada seksualitas, yang ada perenungan. Tokoh utama dalam novel tersebut bertanya pada diri sendiri mengapa dia melakukan seks dengan pacarnya. Penggambarannya bukan ditujukan untuk mendukung pornografi, tetapi untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar tentang sifat dasar lelaki yang suka bersikap “light” (entengan) itu. Tidak diceritakan bagaimana hubungan seksnya.

Ada alasan-alasan mendasar yang logis di dalam novel The Unbearable Lightness of Being sehingga pembaca pun bisa menangkap maksud Milan Kundera. Aspek vulgar dalam novel itu tidak terlalu ditonjolkan. Saya mengerti banyak hal setelah membaca novel itu dari segi cara penyampaian Milan Kundera.

Apa maksud sebutan “sastra wangi”?

Sebutan sastra wangi itu juga banyak yang mendebat. Saya pernah membaca salah satu jurnal Dosen UI (Universitas Indonesia) Ibnu Wahyudi. Dia mengatakan sastra wangi adalah istilah sesaat bagi kepopuleran sastra generasi perempuan yang mengandalkan tubuh.

Kalau kita lihat memang para novelis perempuan tidak mengandalkan tulisan saja, tetapi juga tubuh. Kalau kita ketemu Ayu Utami, kita akan lihat betapa seksinya dia. Djenar Maesa Ayu apalagi, dia lebih seksi. Mereka cantik, seksi, dan harum. Berbeda dengan pengarang-pengarang yang tidak memunyai wajah cantik, cenderung tidak favorit.

Jadi ada hubungannya antara penampilan fisik penulis dengan industri penerbitan?

Jadi itu merupakan bagian dari “jualannya”, sebagai iklan. Saya punya teman yang pernah bertanya, “Punya pengarang perempuan yang cantik tidak? Nanti bisa diorbitkan.” Hal itu bagian dari industri.

Mengapa penulis laki-laki tidak seeksis penulis perempuan dalam membuat karya sastra berbumbu seks?

Justru sekarang penulis laki-laki sudah mulai ikut-ikutan. Ada buku yang ditulis laki-laki, misalnya buku Kuda Ranjang yang sekarang sudah ditarik dari peredaran. Istilahnya para penulis laki-laki mengiyakan hal itu, meskipun dari dulu WS Rendra mengeluarkan puisi-puisi berbumbu seks tetapi mengandung kritik sosial, kan? Ada juga Mochtar Lubis. Hampir semua penulis memasukkan seks sebagai bumbu meski tidak detil.

Dalam bangsa kita, apa permasalahan perempuan yang pantas diangkat dalam karya sastra, selain permasalahan seks?

Permasalahan-permasalahan perempuan yang diangkat tidak hanya dalam wilayah-wilayah domestik saja, ya. Maksud para penulis perempuan ingin mengangkat perempuan tetapi justru malah menjadikan perempuan sebagai objek seks dalam karya sastra.

Kita, kan bisa mengangkat kisah-kisah atau legenda-legenda perempuan yang menjadi pejuang, seperi Cut Nyak Dien dan Dewi Sartika. Kehidupan para tokoh itu kompleks, ya, dan ada pelajaran moralitasnya juga.

Jika novel-novel berisi eksplorasi seks dibaca oleh orang-orang di luar negeri, apakah kita patut berbangga atau justru malu jika dianggap nilai ketimurannya sudah hilang?

Asal informasinya seimbang saja, bahwa yang diterjemahkan bukan hanya tentang seks, selain itu tentunya. Kalau hanya novel tentang seks yang diterjemahkan, kita pantas merasa khawatir. Akan tetapi, kalau seimbang, semua jenis novel sastra diterjemahkan, kita bisa berbangga.

Pernah ada dosen di Malaysia yang menganjurkan mahasiswanya membaca karya Ayu Utami karena juara lomba yang diadakan DKJ . Padahal dosen itu juga belum membaca isinya. Pak Taufik Ismail menganjurkan dosen itu untuk membacanya terlebih dahulu. Baru setelah dibaca dan menemukan adanya eksplorasi seksnya, akhirnya novel itu tidak jadi diwajibkan dan diganti dengan novel lain karena stereotipnya miring, ya.

4 Januari 2008

Interview dengan Ivone Terik

WAWANCARA

Ivone Terik:

“Kapan Kita Punya Waktu untuk Mendidik Anak Jalanan?”

Rumah yang dibangun dari kayu, bambu, dan seng itu terletak di tepi Kalimalang, tepatnya di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur No. 30 RT 7 RW 1, Cipinang Melayu Jakarta Timur 13620. Dari bangunannya saja, orang sudah akan tahu siapa penghuninya. Kurang lebih 80 anak jalanan menghuni tempat itu. Rentang usia anak-anak yang tinggal di sana kira-kira dari lima hingga duapuluh tahun. Saya berjalan memasuki pekarangan rumah itu pukul 14.00 WIB pada tanggal 30 Desember 2007.

Di bagian depan rumah “mewah” itu, ada sebuah patung lebah raksasa yang terbuat dari gabus. Di belakang lebah itu ada sebuah jalan masuk yang menuju perpustakaan. Dari jalan masuk itu, seorang gadis berusia kira-kira 14 tahun keluar menyambut saya.

“Patung itu namanya ‘Pulen’, lambang Sanggar Akar,” ujar gadis yang bernama Seti itu. Saya diajak masuk olehnya ke rumah singgah yang bernama Sanggar Akar itu. Perpustakaan itu berisi ribuan buku yang sebagian besar jilidannya sudah rusak. Di belakang perpustakaan, terhampar aula yang sebesar setengah lapangan bulu tangkis.

Anak-anak remaja yang berada di aula sedang berlatih bernyanyi dan bermain alat musik sederhana. Penampilan mereka berantakan, sebagian beranting, dan sebagian bertato. Walau penampilan mereka seperti itu, mereka mampu tersenyum ramah pada saya. Di sekeliling aula ada ruang-ruang yang rupanya kamar anak-anak tersebut.Ini hanya sebagian wajah anak-anak pinggiran di Jakarta, yang sedikit beruntung karena mendapat pendidikan.

Sanggar Akar, mereka sebut sebagai sebuah universitas, dan anak-anak itu mahasiswanya. Guru-guru berdatangan silih berganti untuk mengajar mereka. Sanggar Akar sebagai media belajar dan bermain. Karlina Leksono-Supelli dalam pengantar buku Jurnalisme Anak Pinggiran (1999) mendefinisikan anak pinggiran sebagai, “Anak-anak yang oleh sesuatu sebab tidak mendapatkan tempat yang layak dalam derasnya arus kehidupan. Mereka adalah semua anak yang entah alasan ekonomi, sosial, budaya, dan politik telah kehilangan hak-hak dasarnya sebagai anak”.

Tidak banyak orang yang mau mengorbankan sebagian besar waktunya untuk mengurus anak-anak jalanan. Kalau pun ada, biasanya mereka diberi imbalan atau gaji yang pantas. Ivone Terik (31) termasuk orang yang mau berkorban untuk mengurus anak-anak jalanan di Sanggar Akar. Mbak Ivone, begitu anak-anak memanggilnya, adalah salah pendiri dan penanggung jawab Sanggar Akar. Mbak Ivone yang seorang lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini memilih tidak meneruskan pekerjaan di bidang hukum, tetapi bergelut dengan dunia anak jalanan. Saya diajak masuk ke kantornya. Di situlah saya, wartawan Intisari, mewawancarai Mbak Ivone.

Bagaimana latar belakang keluarga Anda?

Saya anak ketiga dari enam bersaudara. Ayah saya berasal dari Kepulauan Rote, Nusa Tenggara Timur. Kalau ibu dari desa di Manado. Akan tetapi, dari kecil saya tinggal di Jakarta, lahir juga tahun ’66 di Jakarta. Saya belum pernah ke Rote atau ke Manado, soalnya nggak punya duit (tertawa). Tahun ’99 saya nikah. Mulai tahun 2002, saya tinggal sama ibu di daerah Gadok Jakarta. Anak saya umurnya lima tahun sekarang.

Bagaimana riwayat formal pendidikan Anda?

Sejak TK hingga SMA, saya bersekolah di Jakarta. Lulus SMA, tuh, tahun 1985. Sesudah itu, saya melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Habis lulus, sekitar tahun 1992, saya masuk ke low firm dan pekerjaan saya melegalisir barang-barang bukti kalau ada kasus-kasus. Karena pekerjaan saya itu, saya dijuluki tukang pos. Setelah itu, saya diajak ke Bantargebang dan masuk ke Institut Sosial Jakarta (ISJ). Saya di bagian Biro Hukum waktu itu. Saya menangani kasus anak-anak jalanan dan buruh. Tapi saya ngerasa belum diterima dan nggak nyaman di bidang itu.

Mengapa Anda tidak meneruskan bekerja di bidang hukum?

Saya tidak mau meneruskan sebagai pengacara atau notariat. Saya belajar hukum sebagai ilmu saja dan tidak berharap lebih. Saya nggak sreg dengan dunia hukum. Dunia itu terlalu keras bagi saya. Hukum itu bisa dibeli, tersangka bisa bebas jika memberi uang kepada jaksa atau hakim. Saya sendiri menyaksikan itu. Saya lebih suka bekerja untuk mengentaskan kehidupan anak-anak pinggiran. Cita-citaku adalah agar sanggar ini menjadi tempat yang bisa mendidik anak dengan pengorganisasian yang lebih rapi. Saya harap sangar memiliki guru-guru yang lebih jelas. Harus ada yang mendampingi anak-anak selama tujuh ahri tujuh malam.

Sejak kapan Anda bergabung dengan Sanggar Akar? Awalnya bagaimana?

Nah, waktu itu, kan, saya gabung di Biro Pendampingan Pekerja Kota, menangani kasus korupsi. Di situ saya ketemu senior-senior saya sewaktu kuliah dulu. Ada beberapa yang mengajak saya ke Bantargebang untuk melihat kehidupan anak-anak jalanan. Mulai tahun 1994 Sanggar Akar terbentuk, masih dalam naungan ISJ waktu itu dan ikut Romo sandyawan juga. Pendirinya itu ada Karyo, Agus, Ivon, Deby, dan Jupri. Tahun 2000 Sanggar Akar pisah dari ISJ dan berdiri sendiri.

Mengapa pisah dari ISJ?

Ya, supaya bisa lebih fokus ke anak-anak jalanan. Membuka kesempatan juga kepada masyarakat agar bisa berinteraksi. Kalau masih gabung dengan LSM, kan, lebih rumit. Setelah lepas dari ISJ, kami nggak punya fan link tetap, kami harus cari sendiri. Sumber pendapatan kami juga tidak tetap. Kami sendiri lebih senang disebut gerakan pendidikan.

Bagaimana mengenai pendapatan Anda, apakah sudah mencukupi?

(Tertawa) Di sini namanya tunjangan. Ada juga uang transportasi, uang makan, dan uang hiburan. Kalau ada sisa uang kebutuhan anak-anak, ya, dikasih tunjangan. Kalau nggak ada, ya, nggak dikasih. Misalnya, tunjangan September 2006 baru dikasih Februari 2007. Sekarang harusnya terima tunjangan bulan November 2007, tetapi baru diberi tunjangan yang bulan Oktober 2007. Pemberian tunjangan jumlahnya tidak konstan, berubah-ubah. Saya yang selalu menerima tunjangan pertama kali karena saya punya anak. Pengurus lain mengalah. Deby, kan, masih punya rumah di Jakarta. Sedangkan Karyo, Agus, dan Jupri, kan, masih tinggal di sanggar.

Anda tidak keberatan dengan kehidupan Anda sekarang?

Saya sama sekali tidak keberatan. Saya dan suami saya belajar untuk tidak konsumtif. Kami tidak membeli hal-hal yang tidak perlu, bahkan buku pun tidak. Padahal dahulu saya sangat suka membaca. Memang harus ada yang dikorbankan dalam kehidupan saya. Saya nggak malu bila ada yang memberi uang.

Tidakkah Anda ingin menjalani kehidupan normal?

Mungkin bagi orang lain, hidup yang normal adalah pekerjaan yang memadai, gaji yang konstan, dan bisa memperhatikan keluarga. Bagi saya, inilah kehidupan normal. Saya dan suami nggak mau kerja di bawah orang.Kalau mau hidup normal, kita harus menjadi bos dalam kehidupan kita. Semua harus diusahakan sendiri. Saya normal karena saya punya anak, saya seorang ibu. Saya juga nggak selalu membebasakan anak. Namun saya juga punya ruang berpisah dengannya, itu saja.

Anda berada di sanggar untuk waktu berapa lama dalam sehari dan dalam seminggu?

Saya di sini sebagai pendamping, di samping juga pengurus. Saya ceritakan sedikit, tahun ’99 setelah sebulan menikah, saya sempat keguguran. Saya sempat diberi kesempatan beristirahat selama setahun sehabis melahirkan dulu. Oh, iya, mulai tahun 2002, anak-anak dikasih tanggung jawab lebih, tidak lagi seenaknya. Itu untuk memberikan ruang lebih pada para pendamping untuk mengembangkan diri. Mulai tahun 2004, para pengurus punya tugas pengembangan di tempat lain. Jadi, itu supaya pengurus nggak punya kesempatan mengembangkan diri melalui kegiatan lain, nggak melulu mengurusi persoalan sanggar. Saya sendiri berada di sanggar tiga kali seminggu untuk menghemat ongkos.

Tidak pernahkah keluarga komplain karena kesibukan Anda di sini?

Suami, sih, nggak keberatan dengan kegiatan saya. Soalnya saya dan suami saya punya minat yang sama. Kalau anak saya memang sering nangis. Pernah sewaktu anak saya berulang tahun, dia bilang begini, “Ibu, aku mau hadiah dari Ibu. Ibu jangan pergi kerja hari ini.” Itu diucapkan sambil bercanda, namun saya tahu dia sedang kangen sama saya. Lalu saya bilang, “Ibu tahu kamu kangen. Ibu juga kangen sama kamu.” Anak saya paling membutuhkan saya kalau sakit dan saya pun nggak tega ninggalin dia. Saya dan suami saya bergantian antar-jemput anak saya ke sekolah.

Anak jalanan, kan, seringkali dianggap sebagai anak kasar, tidak berpendidikan, dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Bagaimana cara pendekatan terhadap mereka untuk meyakinkan bahwa niat Anda baik?

Pendekatan saya dahulu bersama teman-teman lewat kasus anak-anak jalanan sewaktu masih di Biro Hukum ISJ. Kami mendatangi anak-anak, berbagi dengan mereka, mendengarkan cerita mereka. Bahkan kami menyewa rumah bersama. Nah, pada tahun 2000 itu, kami mengambil advokasi untuk mereka, tetap tetap mengutamakan pendidikan, kerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Kami menawarkan bantuan untuk anak-anak jalanan, kami ajak ke teman-teman kami yang mau memberi bantuan. Kami memiliki komunitas basis dengan anak-anak jalanan di Penas, Cakung, Bantargebang.

Apakah masyarakat tidak curiga terhadap kegiatan ini? Atau mungkin ada yang tidak percaya?

Pada awalnya dulu, masyarakat sangat tidak percaya pada kami. Sudah lima kali kami pindah, di Kalimalang ini kelima kalinya kami pindah. Masyarakat tidak terima dengan kondisi anak-anak jalanan ini. Pertama di Kampung Jembatan, kami tidak dianggap oleh warga. Mereka tidak suka penampilan anak-anak yang berantakan, yang bertato. Sewaktu kami bertempat di Jalan Yahya, kami diusir. Anak-anak memang mencuri dari warga. Mereka maling. Kami diusir dengan cara diarak, benar-benar dipaksa keluar dari kompleks mereka (tertawa). Lalu pernah juga di Jalan Usaha 3 dan di Bantargebang. Baru setelah itu di sini.

Bu Ivone, mengapa anak-anak tersebut mencuri? Apakah kurangnya kontrol dari para pengurus?

Kenapa mereka mencuri? Karena mereka menginginkan sesuatu namun tak terbeli. Mereka sangat kesulitan mencari uang. Di sanggar juga tak pernah ada aturan. Lihat saja di dinding-dinding kami, tidak ada larangan seperti “Dilarang Merokok!”. Tidak mudah bagi kami untuk mengeluarkan anak dari sanggar. Itu keputusan yang berat. Ada juga yang pernah terlibat kasus narkoba, kami memberi mereka peringatan. Kadang-kadang teman-teman mereka sendiri yang dengan tegas memutuskan apakah si A sebaiknya dikeluarkan atau dipertahankan. Kami akui, sebagai pengurus, kami memang kurang tegas. Menurut kami, jika anak-anak bermasalah tidak diberi kesempatan, bagaimana mereka bisa berubah? Kalau sekarang, sih, sudah ada sanksi.

Apakah ada pembatasan umur anak-anak penghuni sanggar?

Keputusan batasan umur baru aja diterapkan. Dulu belum ada. Kami tidak menerapkan batasan umur karena kami bukan pekerja sosial, kami melihat dari sisi kemanusiaan. Kami melihat apa yang mereka inginkan. Dulu kami nggak berani menentukan batasan usia sebab kami berpikir, “Emang kita sudah ngasih apa ke mereka?” Baru pada tahun 2002, kami berani menentukan fase—kami tidak menyebut usia. Ada fase lembut untuk anak-anak SD. Ada fase tanggung yang terdiri dari anak berusia 14 sampai 17 tahun, mereka yang memegang organisasi. Kemudian yang terakhir fase transisi, dari umur 18-20 tahun, mereka harus sudah mandiri pada usia itu. Jika memang ada anak yang mau menjadi pengurus sanggar, mereka harus diseleksi. Beberapa fasilitator di sini, kan, berasal dari anak-anak sanggar dulunya.

Pendidikan apa yang diberikan untuk anak-anak jalanan ini?

Pendidikan kami berikan dari segi kognitif, rasa, dan sikap. Anak-anak sanggar yang berada di komunitas basis belajar baca, hitung, dan tulis. Kalau yang berada di komunitas sanggar, mereka diajarkan secara akademis. Akademis di sini diaplikasikan dalam kegiatan refleksi dan eksplorasi. Mereka dibimbing untuk bermain teater, bermain musik, mempelajari penyusunan data dan penulisan, ketrampilan tangan, kepustakaan, dan organisasi. Ada organisasi Dewan Korrdinasi Anak (DKA) yang diurusi oleh anak fase tanggung. Anak-anak sudah dua kali rekaman, terakhir tahun 2001. Setelah itu kami nggak pernah rekaman lagi, nggak ada duit juga (tertawa). Nanti tanggal 8 Desember mereka akan tampil di acara Nokia yang merangkul musisi-musisi jalanan. Sedangkan untuk pementasan teater, kami menyiapkan semuanya sendiri. Alat-alatnya pun kami buat dari barang-barang bekas. Biasanya kami tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Dari mana sumber dana untuk membiayai anak-anak?

Mereka, kan, juga bekerja. Jika tabungan mereka mencukupi, ya, mereka membayar sendiri. Akan tetapi, banyak anak di sini sudah menjadi tulang punggung keluarga, jadi kami yang mencarikan dana. Kami harus berpikir keras untuk mendapatkan uang sebab kami tidak seperti LSM. Sumber dana kami tidak tetap. Cukup banyak yang mau menyumbangkan alat-alat tulis. Lalu kami juga punya Lingkar Sahabat Akar yang senantiasa membantu. Sahabat Akar ini yang suka memberikan pelatihan bagi anak-anak. Ada beberapa nama yang aktif di sanggar: Agung Ayu Ratih, Agung Putri, Arswendi Nasution, Dolorosa Sinaga, Erlyni Rosalinda, Hilmar Farid, Karlina Leksono Supelli, Roni Polluan, Susilo Adinegoro, Maria Hartiningsih, dan lain-lain.

Anak-anak jalanan penghuni sanggar berasal dari berbagai agama?

Nggak. Setahu saya, mereka semua beragama Islam.

Anda sendiri Katolik, bukan?

Ya, saya Katolik.

Sebagai orang Katolik, adakah dorongan-dorongan internal, seperti motivasi keagamaan ketika Anda mengurusi dunia anak jalanan?

(Tersenyum) Pada dasarnya, keluarga besar saya berasal dari agama yang beragam. Orang tua saya Katolik dan saya menjadi Katolik sudah sejak kecil. Di keluarga saya, kami tidak terlalu diajar untuk selalu ke gereja. Orang tua saya selalu mengajarkan bahwa semua manusia baik, jangan melihat dari agama saja. Saya melihat anak-anak ini sebagai korban harus mendapat perhatian. Katolik sendiri, kan, artinya umum. Jadi, semestinya orang Katolik nggak menarik diri dari lingkungan sekitar. Mereka harus terbuka pada perbedaan. Justru sifat orang Katolik yang eksklusif yang harus dipertanyakan. Orang Katolik harus mengutamakan solidaritas, jujur, dan penuh kasih.

Apa tidak ada konflik batin atau jarak antara Anda dengan anak-anak ini, mengingat Anda berbeda keyakinan dengan mereka?

Nggak pernah ada konflik batin. Di sini, yang ada terjadinya dialog antara saya dengan anak-anak. Banyak anak yang sejak kecil hingga besar tumbuh di sanggar, dan mereka umumnya tidak berasal dari keluarga yang fanatik. Saya nggak lihat mereka berbeda. Justru mereka merasa berbeda bukan dari segi agama. lebih kepada sesuatu yang begini, “Mbak Ivone itu punya keluarga jelas. Hidupnya lebih enak.” Kalau di komunitas basis, dialog yang terjadi lebih tajam. Ada orang politik yang pernah bertanya, ”Mbak Ivone Islam atau Katolik?” Saya menjawab, “Saya Katolik, tapi itu nggak penting. Saya milih PPP, kok.” Dengan begitu masalah kelar dan saya memang memilih PPP.

Pernahkah menghadapi prasangka pelik atau tuduhan pelik seperti misi kristenisasi?

Iya, pernah dan itu sangat wajar. Biasanya isu tersebut berasal dari orang yang berkepentingan di politik. Dulu pernah sewaktu di Haji Yahya pernah diajari lagu-lagu Kristen yang ada Yesusnya (tertawa). Jelaslah warga marah. Akan tetapi, biasanya yang menjelaskan warga sendiri mengenai kegiatan kami. Ada beberapa warga yang tahu niat kami, kemudian memberitahu warga lain bahwa misi kami bukan kristenisasi. Pernah ada yang bertanya, “Mbak Ivone agamanya Kristen, ya?” Lalu saya balikkan, ”Emang kenapa kalau saya Kristen. Emang kalau saya Kristen kamu nggak mau berteman dengan saya?” Dengan begitu suasana biasanya menjadi lebih cair. Isu misi kristenisasi itu sengaja ditiupkan oleh kelompok kepentingan tertentu.

Pernahkah ada rencana untuk membuka sanggar lain seperti ini?

Ya, tentu pernah. Jupri sedang mengembangkan sanggar seperti ini di Malang. Karyo sedang membangun di Klaten. Sejak April 2007, di Sanggar Akar hanya ada Ivone, Deby, dan Agus.

Yang di Klaten dan di Malang akan dinamakan sama?

Karyo dan Jupri istilahnya sudah memiliki ternak sendiri. Mereka mengembangkan sendiri. Karyo dan Jupri benar-benar cari uang sendiri. Saya dengar yang di Klaten namanya Lare Mentas.

Setelah semua yang Anda lakukan untuk anak-anak jalanan, pernahkah Anda mengharapkan apresiasi dari masyarakat?

(Tertawa) Apresiasi masyarakat pada kami tahun 1992 dulu adalah kami-kami ini dianggap sebagai pahlawan kesiangan. Saat itu LSM tidak dianggap. Sejak tahun 1997, apresiasi masyarakat tinggi. Kesadaran masyarakat untuk membangun gerakan di luar pemerintah semakin tinggi. Mereka tidak bisa terus-menerus bergantung pada pemerintah. Dan pemerintah sendiri juga tidak sanggup mengatasi semua permsalahan sendiri. Sekarang gaji orang-orang LSM tinggi, tetapi tetap saja mereka mengeluh bahwa gaji mereka lebih kecil dari LSM luar negeri. Padahal gaji mereka sudah tujuh juta!

Apa kritik Anda terhadap LSM-LSM seperti itu?

Seperti bantuan bencana di Aceh, itu nggak perlu dikritik. Harusnya masyarakat yang melihat hal itu. Kalau kami dulu mengembangakan usaha lewat Komiski—Koprasi Miskin Kita (tertawa). Kalau kami butuh uang, ya, kami usahakan sendiri. Terkadang tunjangan kami berlima dipotong untuk membeli alat-alat sanggar. Kami nggak mau berhenti karena alasan kekurangan dana. Ada LSM yang berhenti karena kekurangan dana.

Tanah di Inpeksi Jatiluhur ini, saya dengar masih menyewa? Apa tidak ada ketakutan suatu saat akan digusur?

Dulu menyewa tapi sejak tahun 2002, tanah ini sudah menjadi milik Sanggar Akar. Kami juga dengar kabar bahwa akan ada penggusuran tahun depan. Kami, sih, percaya saja bahwa kami bisa lalui itu. Asal kami yakin dan bergerak, pasti ada jalan. Dari dulu kami sudah terbiasa dengan pengusiran. Selama masih ada teman-teman kami yang siap membantu, kami tidak terlalu khawatir. Yang paling utama, anak-anak akan balik ke basis-basis terlebih dahulu. Barang-barang bisa dititipkan ke rumah-rumah para sahabat Akar.

Menurut Anda, sudahkah pemerintah memberikan perhatian untuk anak-anak jalanan, khususnya untuk Sanggar Akar?

Nggak pernah ada perhatian dari pemerintah. Mereka itu justru cenderung menyingkirkan kami. Program-program mereka yang berkenaan dengan anak jalanan hanya untuk kepentingan mereka saja. Misalkan proyek rumah singgah tahun 2002, hal itu direalisasikan tetapi tidak ada pendampingan, sama saja bohong. Seharusnya anak-anak itu tetap harus didampingi agar mereka bisa berubah menjadi lebih baik. Solusi dari pemerintah waktu itu ada pendidikan gratis. Namun tetap saja, proyek tersebut kalau ada uang, ya, jalan, kalau nggak ada uang, ya, mandheg. Biasanya, kan, seperti itu. Sanggar Akar nggak mau seperti itu. Pendidikan untuk anak jalanan harus diteruskan, meskipun jumlah dana tidak menentu.

Selama ini bagaimana dukungan masyarakat pada anak-anak jalanan?

Masyarakat dahulu menganggap anak-anak jalanan sebagai sampah masyarakat yang mengotori kota. Namun, sekarang mereka lebih ngeliat anak-anak jalanan sebagai korban dari pemerintah. Banyak yang sudah mau memberikan bantuan. Sanggar Akar sendiri memiliki Perkumpulan Sahabat Akar, mereka kumpulan masyarakat yang peduli masa depan anak-anak pinggiran seperti ini.

Apa pendapat Anda mengenai peraturan daerah yang melarang pengamen atau pedagang asongan beredar di jalanan, mengingat itu adalah sumber nafkah anak-anak jalanan?

Dulu ada perda tahun ’88, kurang lebih isinya sama. Orang-orang miskin tidak boleh mendirikan rumah di pinggir sungai. Dengan adanya perda seperti ini, tentu akan semakin menindas kaum miskin. Aturan yang sekarang bukan hanya ditujukan untuk orang pinggirannya saja, tetap justru untuk orang yang membantu. Kan ada juga peraturan yang melarang orang untuk memberikan sedekah. Aneh, ya, orang mau perhatian kepada orang miskin, juga nggak boleh. Itu sebuah kesalahan. Pemerintah benar-benar membuat gap antara yang kaya dan yang miskin. Pemerintah sering berkata bahwa jangan terbiasa memberikan uang kepada peminta-minta sebab itu sesuatu yang tidak mendidik. Saya masih ingat kata-kata Taufik Ismail, kira-kira begini, “Kita seringkali berkata jangan memberi anak-anak uang, tetapi kapan kita punya waktu untuk mendidik anak jalanan?” Benar, kan, pemerintah bilang hal itu tidak mendidik, tetapi kita bahkan nggak punya waktu mendidik mereka. Dalam bentuk apa didikan kita?

Apa harapan Anda mengenai sikap masyarakat dan pemerintah terhadap kaum tersisih seperti mereka?

Pemerintah agak sulit diharapkan karena masih harus berpikir tentang bangsa. Untuk membenahi masalah saja sudah sulit, memikirkan anak jalanan mana sempat. Masyarakat sejauh ini sudah tahu dan sadar. Mereka seharuanya tidak melulu memberikan baju bekas. Sekarang sekolah-sekolah mulai didikan untuk mereka. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk berjumpa dan bertukar pengalaman.

Desember 2008