Kisah Anak Haram Bangsawan Mencari Harta dan Cinta

Judul              : In The Prince’s Bed (Peraduan Sang Pangeran)

Penulis          : Sabrina Jeffries

Tahun Terbit : 2004

In The Prince’s Bed merupakan novel pertama dari trilogi Royal Brotherhood karya Sabrina Jeffries. Novel berlatar abad 18-an ini berkisah tentang kehidupan bangsawan kala itu dengan segala permasalahandan intrik yang mungkin timbul.

Alexander Black adalah seorang pria yang menyandang gelar ’Lord Iversley’ karena merupakan anak seorang tuan tanah dan juga bangsawan di Edenmore, Inggris. Berhubung sang ayah tidak meninggalkannya dengan warisan yang berarti—hanya estat bobrok dan ladang kering—Alec berniat pergi ke London untuk menikahi seorang wanita bangsawan yang mewarisi banyak harta.

Tidak mudah memang untuk mewujudkan mimpinya itu. Alec hanya ingin mendapatkan dana untuk bisa merenovasi estatnya yang rusak. Alec terpaksa bermain licik dan membuka rahasia yang selama ini ia tutupi agar rencananya berjalan mulus. Ia mengundang Lord Draker dan Byrne yang mulanya bermusuhan untuk bersekutu dengannya. Kepada Lord Draker dan Byrne, Alec mengaku bahwa dirinya adalah anak haram dari Prinny alias Raja George VI. Itu berarti menjadikan mereka bertiga sebagai saudara satu ayah.

Kepada Byrne ia meminta pengaruh Byrne untuk memperkenalkan dirinya sebagai Lord Iversley di London. Sebagai imbalan, Alec akan berusaha menikahi seorang ahli waris yang berutang sangat banyak kepada Byrne. Lord Draker yang reputasinya sebagai viscount naga di kalangan bangsawan tidak begitu baik, bersedia membantu Alec dengan meminjamkannya kereta kuda agar Alec bisa berkeliling mendatangi pesta demi pesta untuk mendapatkan gadis kaya impiannya. Sebagai imbalan, Alec berjanji saat dirinya sudah kaya, ia akan membantu memperbaiki reputasi Lord Draker.

Katherine Merivale, seorang perempuan cantik, merupakan ahli waris keluarga Merivale. Namun, Katherine belum bisa mendapatkan warisannya sebelum ia menikah. Dengan setia Katherine menunggu kekasihnya Sydney Lovelace, seorang baronet, untuk menikahinya.

Continue reading

By elisabetyas Posted in Resensi

Green Zone, Konspirasi Pengadaan Senjata Pemusnah Massal

Green Zone bercerita tentang pengungkapan ada atau tidak adanya Weapon of Mass Destruction (WMDs) atau senjata pemusnah massal yang kabarnya disembunyikan di Irak. Adalah seorang chief  warrant officer bernama Roy Miller (Matt Damon) yang ditugaskan untuk menemukan WMDs di Bagdad, Irak.

Setelah beberapa kali melakukan penggalian, Miller dan timnya tidak pernah menemukan WMDs yang disebutkan, meski informasi mengenai keberadaan WMDs berasal dari bagian intel. Hal itu membuat Miller mempertanyakan keakuratan data dan ada atau tidaknya WMDs itu.

Ketika timnya mulai menggali, salah seorang warga sipil bernama Freddie (Khalid Abdalaa) datang kepada Miller dan menceritakan kecurigaannya tentang adanya pertemuan rahasia yang dihadiri Jenderal Al Rawi (Yigal Naor), orang yang disebut-sebut mengetahui dengan pasti mengenai WMD’s.

Inilah saat yang menentukan bagi Miller. Ia merasa perlu untuk mengungkap kebenaran seputar keberadaan WMDs. Maka, Miller dan timnya, ditemani Freddie yang kemudian menjadi penerjemahnya, menggebrek tempat terjadinya pertemuan rahasia tersebut.  Baku tembak pun terjadi, namun Al Rawi berhasil lolos. Miller berhasil menawan “orang dalam” Al Rawi yang bernama Seyyed Hamza (Said Farraj), yang memiliki buku berisi data tentang tempat-tempat yang mungkin jadi persembunyian Al Rawi.

Tindakan inisiatid Miller itu tercium oleh Pentagon Special Intellegence Clark Poundstone yang langsung mengirim pasukan Delta Forces untuk mengambil alih apa yang telah dilakukan Miller karena hal itu di luar kewenangan Miller. Skuad Mille dan pasukan Delta Forces sempat terlibat pertengkaran. Hamza pun ditawan Delta Forces. Namun, data persembunyian Al Rawi tetap dipegang Miller.

Miller yang sudah tak lagi mempercayai Poundstone dan Pentagon Special Intelligence, memutuskan untuk membeberkan data tersebut kepada pegawai CIA Martin Brown (Brendan Gleeson. Baik Miller maupun Brown berpendapat bahwa WMDs itu tidak ada. Maka mereka merencanakan untuk mencari tahu tentang kebenarannya.

Sejak saat itu, Miller bekerja secara rahasia untuk CIA. Misi yang diembannya selanjutnya adalah menemui Hamzah dan menyogoknya dengan uang agar tidak memberikan informasi apa pun kepada Delta Forces. Namun sayang, Hamzah telah terlebih dahulu mati. Satu-satunya hal yang harus dilakukannya adalah menemui Al Rawi untuk mendapatkan kejelasan.

Poundstone yang telah mengetahui pengkhiatan Miller, mendatangi CIA dan membawa surat perintah bahwa CIA tak lagi diperkenankan untuk ikut campur dalam masalah di Irak. Miller pun dinon-aktifkan sementara. Akan tetapi, hal tersebut tak membuat langkah Miller menjadi surut.

Miller tetap berusaha untuk menemui Al Rawi, tapi orang-orang Al Rawi justru menangkap Miller terlebih dahulu. Dalam percakapan itu, Miller mengetahui bahwa WMDs sebenarnya tidak ada. Dan Al Rawi, yang dikenal sebagai “Magellan” versi cerita Poundstone, hanya dijadikan sebagai alat untuk menggelontorkan cerita tentang WMDs, dengan perjanjian bahwa tentara AS akan memberinya kekuasaan.

Malang bagi Miller dan Al Rawi, pertemuan mereka itu diketahui pihak Delta Forces yang langsung mengepung tempat persembunyian itu. Pasukan Delta Forces berniat membunuh Al Rawi, namun Miller justru mengejar Al Rawi dengan tujuan untuk menyelamatkan nyawa Al Rawi.

Miller membutuhkan Al Rawi tetap hidup karena ialah saksi yang bisa mengungkapkan kebenaran mengenai skandal yang telah dilakukan Poundstone. Namun sayang, Al Rawi akhirnya mati ditembak orang yang tak disangka-sangka, yaitu Freddie.

Ternyata selama itu Freddie terus membuntuti Miller. Dan ketika tiba mendapat kesempatan, ia membunuh Al Rawi. Freddie mengatakan itu adalah untuk mewujudkan perdamaian Irak karena rakyat Irak membenci Al Rawi.

Apakah yang terjadi kemudian? Apakah skandal Poundstone mengenai WMDs akan dibuka kepada pers? Mungkinkah Miller berani ambil risiko untuk memberitahu dunia tentang kebohongan AS tentang WMDs?

Film besutan Paul Greengrass yang bergenre action thriller war ini dikemas dengan alur cepat dan menarik. Setiap scene yang ditampilkan penuh dengan kejutan baru. Penonton akan dibuat “lelah” karena melihat adegan berlari dari para tokohnya. Penonton akan merasa ikut berlari di belakang para pemain.

Paul Greengrass dikenal sebagai sutradara yang ahli dalam membuat film-film aksi dan perang. Film-filmnya sebelum Green Zone juga tergolong sukses, sebut saja The Bourne Supremacy (2004) dan The Bourne Ultimatum (2007). Dalam kedua film itu juga, Greengrass berduet dengan aktor Matt Damon.

Akting Matt Damon dalam Green Zone tetap memesona seperti halnya saat ia memainkan trilogi The Bourne Identity (2002), The Bourne Supremacy (2004), dan The Bourne Ultimatum (2007). Matt Damon memang merupakan spesialis dalam action thriller war. Hal itu terlihat dalam film-film yang pernah dimainkannya Ocean’s Series (2001, 2004, 2007) dan Saving Private Ryan (1998).

Green Zone layak ditonton karena kecerdasan dan kerumitan cerita yang ditawarkan. Saat ini Green Zone masih diputar di bioskop-bioskop. Menurut catatan The Internet Movie Database (IMDb), popularitas film ini meningkat 366 persen dalam minggu ini.

By elisabetyas Posted in Resensi

Hachiko, Kisah Anjing yang Setia Sampai Mati

Judul         : Hachiko, A Dog’s Story

Pemain     : Richard Gere, Joan Allen

Sutradara: Lasse Hallstrom

Film Hachiko: A Dog’s Story bercerita tentang seekor anjing yang sangat setia pada tuannya, melebihi batas kesetiaan anjing pada rata-rata. Cerita ini bermula ketika  Profesor Parker Wilson (Richard Gere) menemukan seekor anjing kecil di Stasiun Kereta Api Bedridge, Wonsocked, Amerika Serikat, tempat ia biasa pergi bekerja dan pulang dari kerja.

Anjing berjenis akita inu itu kemudian diajaknya pulang ke rumah dan diberi nama Hachiko. Parker dan istrinya Cate (Joan Allen) merawat anjing itu hingga Hachiko bertumbuh besar. Tiada hari yang dilewatkan Parker tanpa bermain dengan Hachiko.

Suatu hari, ketika Hachiko sudah beranjak dewasa, tanpa disangka ia mengikuti Parker ke stasiun saat Parker berangkat kerja. Parker terpaksa keluar dari kereta untuk memulangkan Hachico ke rumah. Namun, ternyata Hachico menjemputnya di stasiun pada pukul 17.00. Sejak saat itu Parker membiarkan Hachico mengantar-jemputnya di stasiun.

Para pemilik kios, pedagang, dan pejalan kaki, serta commuter (orang yang bekerja secara nglaju) tercengang-cengang dengan kelakuan Hachiko yang tidak seperti anjing pada umumnya. Semua orang orang di sekitar Stasiun Bedridge menyayangi Hachiko dan selalu menyapa anjing itu layaknya sebagai manusia.

Sampai pada satu hari, Hachiko tak menemukan kedatangan tuannya di stasiun pada pukul 17.00. Parker Wilson meninggal karena serangan jantung ketika ia tengah mengajar. Hachiko sepertinya tak pernah mengerti perihal meninggalnya Parker.

Setelah kematian Parker, Cate menjual rmahnya dan meninggalkan Bedridge. Sementara Hachiko dipelihara oleh anak perempuan Parker, Andy Wilson (Sarah Roemer). Berulang kali Hachiko kabur dari rumah Andy untuk pergi ke stasiun, berharap ia akan menemukan tuannya kembali.  Andy selalu menjemput Hachiko di stasiun hingga pada akhirnya Andy merelakan Hachiko pergi.

Hachiko tinggal di stasiun dan pada pukul 17.00, ia akan duduk di bundaran di depan stasiun, menanti kedatangan tuannya. Keunikan tingkah laku Hachiko itu menarik perhatian orang-orang di sekitar situ, bahkan tulisan mengenainya dimuat di koran-koran sehingga kisah anjing ini menjadi legenda. Mereka memberi makan Hachiko secara bergantian.

Kesetiaan Hachiko bertahan hingga tahun kesepuluh meninggalnya Parker. Sampai akhirnya pada musim dingin tahun ke sepuluh, Hachiko meninggal di bundaran stasiun pada tengah malam.

Patung Hachiko di Stasiun Shibuya

Pembuatan film ini diinspirasi dari kisah nyata seekor anjing bernama Hachiko yang hidup dalam rentang waktup tahun 1923-1935  di Jepang. Kisah yang disajikan dalam Hachiko: A Dog’s Story persis sama dengan kisah aslinya. Di Jepang, sebuah monumen berupa patung untuk mengenang kesetiaan Hachiko didirikan di depan Stasiun Shibuya.

Seperti film tentang kesetiaan anjing lainnya, sebut saja Lassie (2005) dan Marley and Me (2009),  film ini menyentuh sisi halus perasaan manusia. Bahkan bukan penggemar anjing pun yang menonton film ini bisa meneteskan air mata.

Kekurangan dalam film bergenre drama keluarga ini adalah banyaknya scene yang diulang dan adegan yang hampir mirip satu sama lain. Singkatnya jalan cerita namun berdurasi 90 menit membuat film ini cenderung membosankan pada pertengahan cerita. Namun, emosi sedih penonton mulai meningkat ketika mendekati akhir cerita.

Sutradara Lasse Hallstrom mengemas cerita ini dengan apik, dan alur yang cukup lambat. Kerja keras tim pelatih anjing pemeran Hachiko tergolong sukses sebab anjing tersebut seolah bisa menunjukkan emosi dan ekspresinya yang memesona penonton.

By elisabetyas Posted in Resensi

Alice In Wonderland, Petualangan di Dunia Asing

Judul             : Alice In Wonderland

Sutradara    : Tim Burton

Pemain         : Mia Wakikowska, Johnny Depp, Helen Bonham Carter, Anne Hathaway

Alice (Mia Wasikowska), putri bangsawan Inggris, hidup dalam dunia yang serba mewah dengan fasilitas memadai. Ia menjalani kehidupannya sesuai dengan kehidupan bangsawan pada saat itu, yang harus memiliki jodoh seorang pangeran atau keturunan bangsawan juga. Para gadis yang hidup pada masa itu diharuskan menikah pada umur 19 tahun.

Suatu hari, keluarga Alice mengadakan pesta besar-besaran yang tujuannya tidak diketahui Alice. Ternyata pesta tersebut adalah pesta pertunangan Alice. Tentu Alice sangat terkejut dengan hal itu. Baik ibu dan kakaknya menyarankan agar dia tidak menolak pinangan sang pangeran.

Namun, tanpa disangka, menjelang acara pertunangan, Alice justru mengalami petualangan lain yang tak pernah diduganya. Petualangannya itu bermula ketika ia melihat kelinci putih bernama McTwisp (Michael Sheen) yang memakai baju dan bisa berjalan layaknya manusia. Karena penasaran, Alice-pun mengikuti kelinci itu hingga memasuki lubang kelinci.

Ketika memaskui lubang kelinci itulah, Alice terjatuh ke dalam lorong panjang yang membawanya ke Wonderland. Tubuh Alice mengecil sebesar ibu jari manusia saat memasuki pintu pasuk ke Wonderland.

Tanpa dipahami Alice, ternyata kedatangannya ke Wonderland telah dinanti-nantikan oleh seluruh makhluk menakjubkan yang tinggal di Wonderland. Ia berteman dengan penghuni Wonderland, di antaranya Mad Hatter (Johnny Depp), Si Kembar Tweedledee dan Tweedledum (Matt Lucas), dan kucing yang bisa menghilang Cheshire Cat (Stephen Fry).

Menurut cerita teman-teman barunya, Alice pernah datang ke Wonderland ketika berusia 6 tahun saat Wonderland berada dalam bahaya. Kali ini, Alice diundang kembali ke Wonderland untuk menggulingkan kekuasaan Red Queen Iracabeth (Helena Bonham Carter), si ratu jahat pemimpin Kerjaan Crims yang saat itu berkuasa di Wonderland.

Caranya adalah dengan mengalahkan monster Jabberwocky ganas dan menyerupai naga. Hal itu diramalkan akan terjadi pada Frabjous Day menurut kalender Wonderland. Dan takdir Alice untuk menghadapi Jabberwocky telah tersuratkan.

Kedatangan Alice ke Wonderland akhirnya terendus Red Queen Iracabeth . Segera saja ia mengirim pasukan untuk menangkap Alice. Namun, bukan Alice yang tertangkap, justru Hatter-lah yang mengumpankan dirinya untuk ditangkap.

Alice tak bisa tinggal diam mengetahui bahwa Hatter telah ditangkap. Maka ia memutuskan untuk datang ke Kerajaan Crims demi menyelamatkan Hatter. Di sana ia bertemu McTwisp lagi yang membantunya agar bisa masuk ke dalam istana.

McTwisp memberinya kue yang membuat Alice bisa membesar seperti raksasa agar bisa diterima di Kerajaan Crims. Red Queen menerima siapa saja menjadi pengikutnya asalkan memiliki keanehan pada tubuhnya karena Red Queen sendiri bertubuh aneh dengan ukuran kepala kelewat besar.

Alice mengaku namanya adalah Umbradge. Segera saja Alice menjadi kesayangan baru Red Queen. Berkat Alice pulalah, Hatter tidak dihukum, tetapi dijadikan sebagai pembuat topi bagi sang ratu.

Di belakang Red Queen, Alice berkonspirasi dengan teman-temannya untuk mencuri pedang Volpar milik White Queen Mirana (Anne Hathaway), pemimpin Kerajaan Marmoreal, yang dipercaya bisa membunuh Jabberwocky.

Alice berhasil membawa pedang Volpar ke Marmoreal untuk mengembalikan pedang itu kepada White Queen. Beberapa tawanan Red Queen ikut serta dibawa oleh Alice dalam pelariannya.

Kemarahan Red Queen meledak saat diketahuinya Alice berhasil kabur membawa pedang Vorpal dan Hatter yang rencananya akan dieksekusi dengan dipenggal kepalanya juga berhasil kabur. Ia memerintahkan pasukan perangnya untuk bersiap menghadapi perang dengan pasukan White Queen. Tentu saja ia membawa Jabberwocky.

Pasukan White Queen telah siap pula. Red Queen mengutus Jabberwocky untuk berperang mewakili Red Queen. Sementara Alice maju sebagai utusan White Queen, yang akan menghadapi Jabberwocky.

Seperti dongeng pada umumnya, peperangan pun dimenangkan pihak yang baik. Perang itu pun dimenangkan pihak White Queen karena Alice berhasil memenggal kepala Jabberwocky, yang berarti tamatlah pula kekuasaan Red Queen di negeri itu.

Film Alice In Wonderland ini sangat menakjubkan dengan berbagai efek yang tidak dibayangkan sebelumnya. Penonton akan dibawa ke dalam suasana alam Wonderland yang mempesona sekaligus tidak masuk akal. Begitulah enaknya membuat cerita khalayan, karena segalanya menjadi mungkin.

Tim Burton sebagai sutradara telah berhasil mengemas film ini dengan baik, seperti film animasi dan bergende dongeng besutannya yang telah terlebih dulu ada, The Nightmare Before Christmas (1993), Big Fish (2003 ), dan Charlie and The Chocolate Factory (2005).

Selain itu, Tim Burton piawai dalam memilih pemain yang berperan di film ini. Bukan pertama kalinya ia menggandeng arktor Johnny Depp dan aktris Helena Bonham Carter. Keduanya pernah membintangi film besutan Tim Burton berjudul Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street (2007).

Kemampuan akting Johnny Depp tidak perlu diragukan lagi. Ia adalah pemain watak yang bisa memainkan segala macam karakter, baik sebagai penjahat maupun tokoh konyol yang disukai anak-anak. Depp pernah berperan sebagai Willy Wonka dalam Charlie and The Chocolate Factory dan sebagai Jack Sparrow dalam trilogi Pirates of The Carribean (2003, 2006, 2007), di mana ia dituntut bertingkah konyol.

Mad Hatter dan Red Queen Iracabeth

Tak kalah dengan Johnny Depp, Helena Bonham Carter pun bukan aktris baru. Ia patut disejajarkan dengan Jonhnny Depp. Terakhir kali, Helena Bonham Carter menjadi peran pembantu dalam rangkaian film Harry Potter mulai seri kelima hingga seri ketujuh, sebagai Bellatrix Lestrange.

Ada pula mantan aktris remaja Anne Hathaway yang tak perlu diragukan lagi kemampuan aktignya. Artis yang namanya melejit lewat Princess Diaries 1&2 (2001,2004) ini pernah membintangi film bergenre dongeng, yaitu Ella Enchanted (2004).

Sementara itu, meskipun tergolong belia dan belum memiliki banyak pengalaman malang melintang di dunia perfilman, penampilan Mia Wasikowska sebagai Alice cukup mengagumkan.

Mia dikenal sebagai aktris muda dari Australia, Mia Wasikowska menjajal perfilman internasional lewat drama seri In Treatment (2008) dan membintangi film Amelia (2009). Mia diprediksikan menjadi nominasi Oscar 2011 kategori best actress.

Alice In Wonderland mulai tayang di bioskop Indonesia mulai awal Maret. Beberapa bioskop menyediakan efek 3D, bila ada penonton yang ingin merasakan “nyata”-nya negeri Wonderland.

Film ini berisi banyak humor yang mampu mengocok perut penonton. Alice In Wonderland cocok ditonton semua umur dan keluarga.

By elisabetyas Posted in Resensi

Supermom Tried to Heal Her Cancer Girl

Judul                : The Sister’s Keeper

Sutradara        : Nick Cassavetes

Pemain            : Cameron Diaz, Abigail Breslin, Sofia Vassilieva, Jason Patric.

Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang mengorbankan hampir segalanya untuk menyembuhkan salah seorang anggota keluarga mereka yang terkena penyakit leukemia. Sara (Cameron Diaz) dan Brian (Jason Patric) seperti hidup seperti keluarga harmonis pada masa-masa awal kehidupan mereka. Mereka telah dikaruniai dua anak, laki-laki dan perempuan yang dinamai Jesse dan Kate. Kehidupan mereka yang nyaris sempurna dilanda cobaan ketika Kate yang pada saat itu berusia 4 tahun divonis menderita leukemia ganas.

Kate sepertinya sudah tidak dapat disembuhkan lagi karena tidak ada sumsum tulang belakang dari ayah, ibu, maupun kakaknya yang cocok untuknya. Dalam kebuntuan itu, dokter menyarankan hal yang tidak lazim, yaitu merencanakan kelahiran anak donor yang dikondisikan agar memiliki gen-gen yang menyerupai Kate. Sperma Brian dan ovum Sara dipertemukan di luar rahim dan disuntikkan gen tertentu agar nantinya anak donor ini bisa menjadi “penyedia” kebutuhan tubuh Kate. Continue reading

By elisabetyas Posted in Resensi

Be Careful, You Can Lose Your Identity

Film ini menceritakan tentang seorang analis sistem computer, Hope Cassidy, yang sangat pintar dan hebat. Hope diterima bekerja di perusahaan keuangan di Istanbul. Meski pacaranya, James, sudah melarangnya pergi, Hope tetap pergi ke Istanbul.

Kejadian-kejadian ganjil pun mulai muncul semenjak ia menginjakkan kaki di pesawat. Ia bertemu seorang pramugari yang sangat murah hati dan ramah. Pramugari tersebut memberinya sebuah gelang, yang untuk seterusnya selalu dipakai oleh Hope. Hal aneh kedua yang terjadi adalah bahwa saldo Hope yang mulanya bernilai $44.200.000 lenyap begitu saja. Kemudian ketika tiba di Istanbul, paspornya tiba-tiba dibekukan.

Hope hampir-hampir tidak memiliki uang tunai, apalagi ia terlantara di negeri baru dan tak tahu harus melangkah ke mana. Untunglah, ada seorang supir taksi yang berbaik hati mengantarkannya ke hotel.

Jika Hope berpikir akan bisa beristirahat tenang di hotel, ia salah. Tak lama setelah memasuki hotel. Para pelanggan hotel diminta keluar dari hotel karena keadaan darurat. Saat semua orang berada di luar hotel, kamar Hope pun digeledah tetapi Hope tidak menyadarinya. Continue reading

By elisabetyas Posted in Resensi

Hiroshima, Karya Jurnalistik Bebentuk Sastra

Judul             : Hiroshima, Ketika Bom Dijatuhkan

Penulis           : John Hersey

Penerbit        : Komunitas Bambu, 2008

13799Buku ini bukanlah karangan fiksi, melainkan sebuah karya jurnalistik John Hersey ketika membongkar realitas ketika bom dijatuhkan di Hiroshima pada tahun 1945. Dengan bergaya penulisan sastra, kita bisa menikmati bacaan ini. Terdapat enam tokoh utama yang merupakan korban selamat dari bom itu. Dalam tulisan yang dibukukan ini diceritakan kronologis sebelum dan sesudah bom dijatuhkan dari sudut pandang para korban. Selain itu, terdapat juga pendapat para pakar mengenai radiasi yang mungkin disebabkan oleh bom atom tersesbut. Hersey akan membawa kita menyelami setiap detik yang terjadi di Hiroshima.

Kesan pertama saat membaca beberapa halam dalam buku ini adalah saya sebagai pembaca menikmati bacaan ini. Saya seakan-akan tak mau melepaskan buku ini dan terlarut dalam membacanya sehingga membuat saya selalu penasaran dengan akhir laporan yang dituliskan seperti sebuah narasi ini. Continue reading

By elisabetyas Posted in Resensi

The Ugly Truth, Kebenaran Tak Selalu Indah

Judul                     : The Ugly Truth

Sutradara            : Robert Luketic

Pemain                 : Katherine Heigl, Gerard Butler, Cheryl Hines, Eric Winter, Kevin Connoly, dan Bree   Turner

Sebuah film komedi romantis persembahan Columbia Pictures, Sony Pictures Entertainment, dan Lakeshore Entertainment ini menghadirkan cerita mengenai keunikan cinta, dibalut dengan percakapan cerdas dan lucu. Adalah produser morning show SacramentoAm, Abby Richter—yang diperankan Katherine Heigl (27 Dresses, Knocked Up)—perempuan yang perfeksionis, haus kekuasaan, dan berada pada puncak karir pada usianya yang relatif muda, namun tidak begitu beruntung dalam hal percintaan.

Kemunduran rating SacramentoAm membuat sang bos berinisiatif untuk merekrut salah seorang bintang televisi acara The Ugly Truth, Mike Chadway—yang diperankan Gerard Butler (P.S I Love You)—untuk menjadi presenter tambahan dalam SacramentoAm. Hal itu membuat Abby sangat marah karena ia membenci Mike dan The Ugly Truth. Menurutnya, acara yang mulanya disajikan tengah malam itu adalah acara pembodohan dan berisi hal-hal vulgar yang bertentangan dengan prinsip percintaan. Mike yang bertindak sebagai penasihat cinta sekaligus host The Ugly Truth gemar menghina para penelepon atas kebodohan mereka akan percintaan.

Abby dan Mike akhirnya bekerja sama dalam SacramentoAm dengan meleburnya juga The Ugly Truth di dalamnya. Mike membuat ulah dengan berimprovisasi di luar skrip dan alur yang sudah diatur Abby. Abby mengira karirnya akan hancur karena ulah Mike, namun kemasyuran yang justru didapatnya kemudian.

Merasa Abby sepertinya sangat membencinya, Mike berusaha mendekati Abby untuk berdamai dengannya. Mike berhasil mengetahui bahwa Abby sedang jatuh cinta pada tetangganya, Colin (Eric Winter). Secara sukarela, Mike memberikan saran-saran agar Colin bisa jatuh cinta pada Abby. Ada aturan-aturan yang harus dijalani untuk mendapatkan seorang pria. Abby menuruti saran-saran Mike dalam hal berkencan dan berdandan. Abby pun rela  melepas citra dirinya sebagai perempuan yang suka mengambil alih kontrol dan menjadi perempuan manis yang selalu mendukung kekasihnya.

Popularitas Mike yang semakin menanjak membuat stasiun televisi nasional di San Fransisco ingin merekrutnya. Mike diundang hadir dalam sebuah acara terkenal sebagai narasumber dan pada akhirnya akan ditawari menjadi presenter dengan gaji dua kali lipat. Untuk memastikan Mike menolak tawaran itu, Abby rela membatalkan kencannya dengan Colin dan memilih menemani Mike sepanjang talk show berlangsung.

Mike menolak bergabung dengan acara tersebut. Abby senang karena usahanya tak sia-sia. Mereka pun merayakan hal itu di sebuah klab. Dalam percakapan malam itu, Mike menyadarkan Abby bahwa selama ini hanya berpura-pura menjadi orang lain yang manis di hadapan Colin. Abby mulai sadar bahwa ia tidak  menjadi dirinya sendiri. Ternyata hanya di hadapan Mike-lah, Abby bisa menunjukkan diri seutuhnya, baik hal yang positif maupun negatif.

Tanpa disadari, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara keduanya malam itu. Secara spontan, mereka berciuman di lift sebelum akhirnya mereka masuk ke kamar masing-masing. Abby mulai memikirkan Mike dan ia terkejut saat pintu kamarnya diketuk. Ternyata Colin datang untuk memberi kejutan pada Abby. Padahal, ia tengah menantikan kedatanan Mike.

Malang bagi Abby karena pada saat itu Mike mengunjungi kamarnya juga untuk berterus terang mengenai perasaannya. Tanpa disangka Colin-lah yang membukakan pintu untuk Mike. Dan mereka bertiga terlibat percakapan basa-basi. Abby mengejar Mike di sepanjang lorong hotel dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Abby bersikap jujur ketika mengatakan bahwa Mike-lah yang ditunggunya sejak tadi, namun justru Colin yang datang. Abby meminta saran pada Mike apakah ia harus mengusir Colin atau tidak. Mike berpendapat tidak seharusnya ia mengusir Colin karena Abby telah bekerja keras untuk mendapatkan Colin.

Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apakah Abby akan menuruti saran Mike atau sebaliknya? Sebaiknya Anda saksikan sendiri akhir dari kisah ini. Film ini layak ditonton. Stephen Holden dari New York Times berpendapat, “Nice, funny, romance, and fantastic movie. I like this movie.

Lagi, kebusukan pria diungkapkan dalam film ini, sebelumnya ide seperti ini pernah muncul dalam film He’s Just Not That Into You yang disutradarai Chihiro Fujii. Dalam film itu terdapat pesan bahwa perempuan harus bisa membaca gelagat pria. Pria selalu memiliki aturan-aturannya sendiri dalam berkencan. Mike tak ubahnya seperti Alexander (Justin Long) dalam He’s Just Not That Into You yang gemar memberi saran pada salah seorang perempuan, namun akhirnya jatuh cinta pada yang diberi saran tersebut.

Meski memiliki kesamaan dengan film lain yang terlebih dulu ada, The Ugly Truth memiliki pesan terselubung di dalamnya. Hal yang bisa kita petik adalah bagaimana hal-hal yang dianggap vulgar telah sangat disukai masyarakat dan penonton televisi. Pemilik televisi pun harus mengubah citra mereka sesuai dengan permintaan mayarakat, meski harus menyuguhkan hal-hal yang tidak pantas.

By elisabetyas Posted in Resensi

Konflik Jerusalem, Dilihat dari Sisi Historis

jerusalemkesuciankonflikdanpengadilanakhir_937Judul Buku  : Jerssalem Kesucian, dan Pengadilan Terakhir

Penulis           : Trias Kuncahyono, Wakil Pimred Kompas

Penerbit        : Penerbit Buku Kompas

Tahun Terbit: 2008

Tebal                : 315 halaman

Cerita mengenai kota legendaris dan dicintai oelh dunia internasional ini telah menarik minat Trias sejak kecil untuk menuliskan cerita dan fakta tentangnya. Dalam buku ini, Trias berusaha menjabarkan latar belakang dan sejarah terbentuknya Jerusalem sejak zaman dulu kala. Berangkat dari cerita-cerita Alkitab, Trias menelaah awal mula konflik mulai berkembang di tanah Jerusalem, dan masih berlangsung hingga sekarang.

Jerusalem berasal dari kata yeru dan shalem yang berarti “Tuhan akan menampakkan diri di kota yang damai”. Ada pula yang mengatakan Jerusalem berasal dari kata yerushalayim yang berarti “warisan perdamaian”. Jerusalem yang dikenal sebagai kota Nabi Daud, juga merupakan kota suci bagi tiga agama samawi, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Meski Yerusalem masih menjadi sengketa,orang-orang dari ketiga agama tersebut hidup rukun di Kota Lama Jerusalem yang dikelilingi tembok dan memiliki delapan pintu gerbang.

Tanah Palestina sekarang ini adalah negeri dua bangsa: Israel dan Palestina. Dua bangsa inilah yang selalu bermusuhan, saling menyerang, dan saling membunuh. Tak ada seorang pun yang dapat meramalkan kapan perseteruan antara kedua bangsa itu berakhir. Israel selalu menyatakan bahwa posisi legal internasional mereka atas Jerusalem berasal dari Mandat Palestina (24 Juli 1922). Palestina juga menyatakan Jerusalem atau Al Quds akan menjadi ibu kota Negara Palestina Merdeka di masa mendatang, atas dasar klaim pada agama, sejarah, dan jumlah penduduk kota itu.

Buku ini membaca pembacanya kembali ke sejarah yang jauh, ke masa-masa satu-dua milenium Sebelum Masehi. Trias berusaha seobjekif mungkin dalam memaparkan masalah politik, agama, dan latar belakang historis kota ini. Selama ini jarang sekali ditemukan penulis tentang Jerusalem yang tidak bisa meninggalkan subjektivitas mereka atas negara atau agama tertentu. Itulah salah satu kelebihan buku ini.

Alur yang diceritakan Trias cukup mudah dipahami. Dari setiap titik atau tempat yang dilewatinya dari Bandara Ben Gurion di Tel Aviv hingga masuk ke Jerusalem, Trias menceritakan sejarah yang ia ketahui dari tempat-tempat tersebut. Setelah menjelaskan tempat-tempat, Trias menceritakan sejarah yang ia ketahui dari tempat-tempat tersebut. Setelah menjelaskan tempat-tempat, Trias menjabarkan konflik yang terjadi dari berbagai kesepakatan damai yang pernah dibuat antara Israel dan Palestina. Buku ini bisa disorot dari sisi relevansinya dengan masalah aktual yang terjadi di Israel dan Palestina sekarang ini.

By elisabetyas Posted in Resensi

Divortiare, Ika Natassa

Sebuah novel kedua karya Ika Natassa yang menceritakan tentangs seorang wanita bernama Alexandra, 27 tahun. Ia adalah seorang worcaholic banker penikmat hidup yang idealnya memiliki hidup yang penuh dengan masa depan yang cerah. Seharusnya memang ia memiliki hidup yang ideal, selain memiliki paras yang cantik, pekerjaan yang membanggakan, teman, dan tentu saja suaminya sang dokter. Namun, tenyata kehidupannya tidak semulus yang ia bayangkan. Semua kehidupannya berubah menjadi tidak lagi cerah setelah ia bercerai dengan suaminya.

Alexandra merasa dirinya adalah seseorang yang sangat buruk setelah ia bercerai. Wanita ini berusaha melanjutkan hidupnya dengan kisah lalu yang ada pada dirinya dan tentunya mantan suaminya. Novel ini menceritakan bagaimana Alexandra terus melanjutkan hidupnya di saat ia telah bercerai dan ternyata mantan suaminya selalu saja berada di sekeliling hidupnya. Tidak mudah untuk menjalani kehidupan dengan menyandang status janda bagi Alexandra. Namun, ia tetap melanjutkan hidupnya. Berusaha menerima kenyataan dan belajar apa itu komitmen.
7b420542677c494ab14aca00b8f3737d1Novel ini cukup menarik untuk dibaca saat santai. Dalam novel ini, penulis menggunakan bahasa yang santai dan mudah dimengerti. Cerita ini seru, lucu, dan dapat membuat pembaca larut dalam cerita fiksi metropop ini. Selain itu, divortiare merupakan salah satu novel yang cukup inspirasional. Dibalik semua cerita fiksi ini ada banyak hal yang dapat kita pelajari. Beberapa hal yang mungkin dapat kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena cerita ini cukup simple tapi dapat menyentuh para pembaca dengan kejadian-kejadian yang diceritakan oleh penulis.

By elisabetyas Posted in Resensi