Indahnya Pantai Tanjung Tinggi dan Pulau Lengkuas, Belitung

Masih di sekitar Sumatera, kali ini saya mau berbagi cerita tentang liburan saya ke Belitung. Bagi pecinta pantai, snorkeling, dan ketenangan, liburan ke Belitung layak dicoba. Belitung masih jauh dari hedonisme sehingga kita bisa menikmati pemandangan laut, laut, dan laut.

Hari pertama tiba di Belitung, saya dan kawan-kawan langsung menuju pantai Tanjung Tinggi. Kata orang, di sanalah tempat syuting Laskar Pelangi. Warna lautnya biru-kehijauan dan relatif dangkal. Pantai ini cocok sekali untuk berenang karena banyak bebatuan raksasa yang menahan ombak agar tidak terlalu besar di tepi pantai.

image

Batu-Batu Besar di Pantai Tanjung Tinggi

Bayangkan saya sudah berenang beberapa meter dari tepi pantai – tanpa menggunakan pelampung, namun saya masih bisa menapakkan kaki di dasarnya. Pantai Tanjung Tinggi membuat orang-orang betah berlama-lama berdiam diri di situ hingga matahari nyaris tenggelam.

Saya dan teman-teman meski kami sudah basah kuyup, tetap nekat naik ke batu sambil menunggu matahari tenggelam. Sayangnya baterai kamera sudah habis sehingga tidak bisa mengambil gambar matahari terbenam.

image

Bergaya di Antara Batu

image

Kita Bisa Berteduh di Bawah Batu

Keesokan harinya kami berkeliling pulau-pulau kecil Belitung. Ada satu pulau yang menarik minat saya, yakni Pulau Lengkuas! Di pulau ini berdiri mercusuar yang sudah tidak dipakai lagi. Dari atasnya kita bisa melihat keindahan perairan Belitung. Namun untuk menuju ke atasnya, kita harus menaiki ratusan anak tangga yang setara 15 lantai gedung bertingkat.

image

Mercusuar di Pulau Lengkuas

image

Pemandangan dari Puncak Mercusuar

image

Semua Serba Biru

image

Bagian Belakang Mercusuar yang Belum Banyak Pedagang

Untuk mengunjungi Belitung, lebih baik traveller memakai jasa tur karena di sana angkutan umum tidak ada dan penyewaan mobil pun terbatas. Saya memakai jasa tur Wisata Kita, hanya perlu membayar Rp 1,2 juta untuk 4 hari 3 malam (sudah include penginapan, mobil + driver + bensin, makan, sewa perahu, dan sewa alat-alay snirkeling).

Next time saya posting tempat lain di Belitung ya. Salam!

Wisata Kuliner Aceh dan Sabang

Setelah minggu lalu posted tentang serunya liburan di Pulau Weh-Sabang, kini giliran saya posting tentang kuliner Aceh dan Sabang. Hari pertama tiba di Aceh, kami tidak langsung menyeberang ke Sabang, namun menginap satu malam di Aceh.

Setelah mendarat, berhubung hari sudah sore dan perut sudah mulai merasa lapar, saya dan teman-teman ingin sekali mencicipi Mie Aceh yang emang beneran asli dari Aceh. Pergilah kami ke Kedai Razali, di sini Surganya Mie Aceh. Beragam mie rebus dan goreng aneka topping dijual di sini. Pengunjung bisa memilih campuran (topping) mie sesuai selera, ada udang, ayam, cumi-cumi, sapi, kambing, telur, dan lain-lain.

Saya sendiri memilih mie goreng kuah standar tanpa tambahan topping. Mie goreng kuah itu sekilas penampakannya mirip mie nyemek di Jawa. Harga seporsi mie standar hanya Rp 10.000,- saja. Apabila ada tambahan topping, harganya lebih mahal bisa mencapai Rp 25.000,-

image

Mie Aceh di Kedai Razali

Tak cukup hanya menyantap mie, lidah kami masih gatal ingin berwisata kuliner lainnya. Malamnya kami pergi ke Sate Matang. Sate Matang itu dagingnya sapi, disajikan dengan bumbu kacang dan kuah santan terpisah. Rasanya? Tak usah ditanya, enak sekali apalagi bila dipadukan dengan es jeruk murni.

Tak lengkap rasanya apabila ke Aceh tanpa menyeruput kopi khas Aceh. Malam itu juga kami mengunjungi Solong Coffee yang menjual aneka kopi khas Ulee  Kareng. Kopi yang terkenal di Solong adalah kopi sanger (sejenis kopi susu). Ada pula kopi hitam yang dicampur ikan teri yang sudah dihaluskan, rasanya pahit-manis-gurih menjadi satu. Andalan saya tetap teh tarik karena tak ada yang mengalahkan rasa teh tarik asli Sumatera. Harga minuman kopi dan teh di Solong Coffee berkisar antara Rp 6.000 – Rp 9.000.

image

Solong Coffee, Ulee Kareng

Mari beranjak dari Aceh dan menyeberang ke Sabang. Makanan yang paling saya suka adalah sate gurita. Salah satu tempat menjual sate gurita adalah Pulau Rubiah. Enak rasanya setelah lelah snorkeling langsung menyantap sate gurita yang empuk, disajikan dengan bumbu kacang pedas. Harga seporsi sate gurita adalah Rp 20.000,-. Selain di Pulau Rubiah, sate gurita juga bisa ditemukan di Pusat Jajanan Selera Rakyat, Sabang.

image

Sate Gurita

Makanan lain yang patut dicoba di Sabang adalah nasi lemak dan mie jalak, keduanya dapat ditemukan di toko Aneka Ria, Jalan Perdagangan, Sabang. Nasi lemak adalah semacam nasi uduk, disajikan dengan rendang ayam rasa pedas-asam-manis, telor, tumis tempe, dll. Mie jalak adalah mie semacam mie ayam namun kuahnya lebih sedikit, disajikan dengan telur dan daging olahan ikan atau seafood.

image

Mie Jalak

image

Nasi Lemak

Selain di Pujasera dan Toko Aneka Ria, ada satu tempat nongkrong (minum kopi dan makan) di Sabang yang jadi favorit saya dan teman-teman, yakni De Sagoe. Di sini sedia berbagai macam makanan, mulai dari nasi lemak, mie aceh, hingga pempek palembang. Kopi yang dijual pun lumayan enak. De Sagoe selalu ramai mulai dari jam makan pagi, jam makan siang, dan sore hari.

Satu hal yang perlu teman-teman ketahui, jam buka operasional rumah makan. Para pedagang makanan di Sabang buka dari jam 8 pagi hingga jam 1 siang. Selewat jam 1 siang, mereka akan tutup dan baru akan bukan jam 5 sore.

Bagi para pengunjung blog yang akan menungjungi Aceh atau Sabang, jangan lewatkan wisata kuliner sepeti yang saya ulas di atas. Terima kasih:)

Berlibur ke Pulau Weh, Pulau dengan Kehidupan Sederhana

image

Dermaga Iboih Inn

Bila traveller yang menyukai kesunyian dan suasana damai, Pulau Weh adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi. Saya berkesempatan mengunjungi Pulau Weh pada tgl. 8-11 Februari 2015 silam. Saya bersama tiga kawan tiba di Banda Aceh hari sebelumnya dan memutuskan untuk bermalam sehari di Banda Aceh. Esok harinya kami baru menyeberang ke Pulau Weh dengan menggunakan kapal cepat pukul 10.30 WIB.

Ada baiknya bila mengunjungi Pulau Weh, Anda memastikan moda transportasi untuk di sana dan booking penginapan terlebih dulu. Tiba di Pulau Weh, saya sudah ditunggu supir yang akan mengantarkan saya ke penginapan, yakni Iboih Inn. Iboih Inn tidak berada di tepian jalan raya, namun di hutan kecil yang langsung menghadap perairan antara Pulau Weh dan Pulau Rubiah. Untuk menuju Iboih Inn, kami harus menumpang boat kecil yang dari Teupi Ayeuh ke Iboih Inn. Jarak tempuhnya tidak jauh, kurang lebih 5-10 menit. Untuk mencapai Iboih Inn bisa juga jalan kaki menyusuri hutan kecil dengan jalan setapak sekitar 500-700 meter.

image

Restoran dan Reservasi Iboih Inn

Di sekitar Iboih Inn banyak penginapan yang setipe dengan Iboih Inn, yaitu cottage seperti rumah panggung, namun sejauh pengamatan saya, hanya Iboih Inn yang memiliki dermaga yang menjorok ke laut. Fasilitas di kamar cukup nyaman dengan tempat tidur berkelambu, air minum, AC, dan kamar mandi yang bersih, tapi jangan harap ada TV karena memang Iboih Inn didesain untuk orang-orang yang suka tempat sunyi. Sekedar pemberitahuan, Iboih Inn tidak menerima calon penghuni bukan muhrim untuk tinggal sekamar.

Tiba di Iboih Inn, mata saya langsung berbinar-binar, tidak sabar ingin langsung menceburkan diri ke air yang super bening. Hari itu kami langsung snorkeling ke Pulau Rubiah (seberang Iboih). Karang bawah lautnya dan ikan-ikannya, tak perlu ditanya, indah sekali. Setelah puas snorkeling di Rubiah, jangan lupa membeli sate gurita yang sangat lezat. Ada beberapa pedagang sate gurita di Rubiah sana.

image

Pemandangan Bawah Laut Pulau Rubiah

Selesai dari Pulau Rubiah, saya masih tergoda untuk berenang di depan Iboih Inn yang membuat kita merasa memiliki nature’s pool sendiri. Setelah puas berenang, saya berleha-leha di kursi malas depan Iboih Inn, menikmati pemandangan hingga matahari terbenam. Makan malam saya pesan di Iboih Inn karen tak mungkin berwisata kuliner ke pusat kota Sabang yang berjarak 30 km dari Iboih.

image

Nature's Pool Depan Iboih Inn

image

Kolam Alami di Depan Iboih Inn

Malam pun tiba, suasana makin sepi dan sunyi, namun kami menikmati kesunyian di kamar kami dengan perasaan seperti punya rumah di hutan kecil tepi pantai. Asyiknya, di setiap kamar tersedia hammock untuk bersantai sehingga kami bisa sekedar bermasal-malasan membaca buku sambil berayun di hammock.

Keesokan harinya kami check out dan berpindah ke daerah Sumur Tiga, yang dekat dengan pusat kota Sabang. Hotel yang kami tuju adalah Freddie’s Santai Sumur Tiga, yang punya adalah orang bule Australia. Bentuk penginapannya didesain agar para tamu merasakan homey.

Jangan melewatkan makan malam di Freddie’s karena Mr. Freddie menyajikan makanan yang sangat beragam, mulai dari Eropa, Amerika Selatan, Timur Tegah, dan Indonesia. Lucunya semua tamu diharapkan sudah berkumpul pukul 20.30 di ruang makan. Mr. Freddie akan menyapa semua tamu dan menjelaskan menu apa saja yang tersaji hari itu. Sungguh menyenangkan!

image

Dining Room Ambience at Freddie's Santai

image

Pagi hari adalah surganya sunrise di Sumur Tiga. Bangunlah pukul 06.00 WIB untuk bersantai di pantai dan menyaksikan sunrise. Pantai Sumur Tiga tak kalah bagusnya dengan Pantai Iboih, namun pantai di sini tidak cocok untuk snorkeling karena berhadapan langsung dengan laut lepas yang ombaknya sangat kencang.

image

Pemandangan Laut dari Dalam Kamar di Freddie's

Masih ada tempat wisata lain di Sabang, di antaranya Volcano Berapi, danau, tempat pemandian air panas, dan beberapa pantai lainnya tapi tempat wisata tersebut tidak terlalu nyaman untuk dikunjungi.

Bila sore tiba, sempatkan mampir ke Sabang Fair, tempat berkumpulnya masyarakat Sabang sambil menyongsong sunset. Di sana ada taman yang ramai dikunjungi karena terdapat banyak tukang makanan. Sambil menikmati snack sore, menyenangkan rasanya duduk di gasebo tepian pantai.

Sekian share saya tentang Pulau Weh! Selamat berkunjung ke Sabang!

*) Informasi Tambahan :
Iboih Inn (iboih.inn@gmail.com), harga Rp 450 ribu/ malam untuk 2 orang. Include breakfast.
Freddie’s (santaisumurtiga@yahoomail.com.au), harga Rp 365 ribu (untuk 3 orang) tidak include breakfast, dinner Rp 64 ribu.
Sewa Mobil Bang Arphen 085260106230, harga Rp 350 ribu/ hari.

What A Great View from Cimory Riverside

image

Makan Sambil Melihat Pemandangan Riverside

Sabtu lalu  gue dan pacar memutuskan untuk jalan ke Puncak karena bosan dengan tempat-tempat hiburan yang ada di Jakarta. Kita berangkat dari Jakarta sekitar jam 6.30 pagi. Awalnya berharap jalan bakal lancar. Emang lancar sih pada awalnya, tapi begitu liat belokan tol menuju Puncak udah super padat merayap, kita bablasin aja lewat Ciawi. Ternyata sodara-sodari, jalanan lancar jaya!

Sampai di Cimory Riverside gitu kira-kira udah jam 9.30, restonya sih udah buka tapi masih dalam tahap siap-siap gitu deh. Kita tetep masuk aja, liat-liat toko cokelat dan supermarketnya. Baru jam 10.00 kita masuk ke resto dan pesan makanan. Sebenarnya sih makanannya biasa banget dan harganya lumayan mahal juga. Hal yang bikin kunjungan ke sana jadi berharga ya karena pemandangan tepi sungainya yang masih tergolong jernih itu ya. Beruntung banget datang pas jam buka resto karena kita bisa pilih tempat di balkon yang menghadap langsung ke sungai.

Di sisi lain sungai itu ada pepohonan serba hijau, nggak tepat sih kalau disebut hutan,mungkin hutan mini kali ya. Sekitar 15 menit, pesanan kami datang. Lebay sih, tapi damai aja rasanya makan sambil lihat pemandangan yang hijau-hijau dan ngedengerin suara gemericik air sungai, setelah sehari-hari cuma liatin macetnya Jakarta.

Setelah makan, kita memustuskan buat beli oleh-oleh buat keluarga di rumah. Wuih, kalap banget waktu lihat deretan susu segar, yoghurt, dan aneka makanan olahan di sana, kepingin beli semua. Akhirnya gue beli beberapa botol yoghurt, susu, dan sosis plus nugget yang variatif rasanya.

Jam 11.00 teng kita berencana pulang lagi ke Jakarta.Tapi ternyata jalanan udah dijadikan 1 arah yg mana berarti kami gak bisa balik ke Jakarta. Mau gak mau ya ngikutin arus. Akhirnya kita terus jalan aja sampe ke Padalarang. Hiks jalan pulangnya bener-bener penuh perjuangan.

Donamici, Wedding Shoes Idaman

Untuk persiapan wedding, kebanyakan gue cari-cari info dulu baru datang langsung ke tempatnya. Begitu pula untuk urusan sepatu. Pertama kali gue dikasih tahu teman kantor kalau di ITC Mangga Dua ada toko sepatu yang spesialis bikinin sepatu buat wedding. Karena dia lupa namanya apa, langsung deh gue browsing dan ketemulah Donamici.

Melalui penelusuran internet, sudah banyak calon pengantin yang memesan wedding shoes di sini karena selain sepatunya nyaman dan empuk dipakai, harganya relatif lebih murah dibandingkan sepatu-sepatu yang ada di mall. Kebanyakan komentarnya positif sih, tapi ada pula yang ngasih komentar negatif tentang Donamici ini.

Ada yang bilang Donamici lambat pengerjaannya dan ada yang hasilnya kurang memuaskan pelanggan. Setelah gue cari tahu, kayaknya ada calon pengantin yang bawa contoh dari majalah untuk ditiru tapi kurang pas pengerjaannya jadi dia gak puas. Saran gue sih mending lihat model di display Donamici lalu memesan model yang memang udah jadi spesialisasi mereka.

Berhubug gue agak trauma dalam memesan sepatu, gue akhirnya putuskan untuk beli langsung. Tanggal 9 Januari 2015 gue meluncur ke sana untuk lihat-lihat sepatu. Kurang lebih 1 jam yang gue pakai untuk memilih sepatu mana yang kelihatan mewah dan elegan tapi nggak terlalu ramai batu-batunya.

image

Sepatu Donamici Pilihan Gue

Harga yang ditawarkan beragam, mulai dari Rp 450 ribu untuk model selop. Nah sepatu yang gue beli itu harganya Rp 750 ribu. Kayaknya paling mahal harga Rp 1 jutaan deh. Model udah ketemu yang gue suka seperti gambar di atas (yang batu-batunya di samping), tinggal cari ukurannya. Puji Tuhan ukuran 39 tersedia, jadi gue nggak perlu pesan, tinggal gue bungkus aja.

Wedding shoes yang gue beli itu warnanya putih, model platform (bagian depannya tebal), dengan hak 10 cm. Sengaja gue pilih yang depannya tebal supaya nggak capek pas resepsi. Sepatu itu akan gue pakai pas acara Misa (dipadukan dengan international wedding gown) dan pas acara resepsi malamnya  (dipadukan dengan kebaya modern putih dan kain).

Sepatu Donamici adalah sepatu high heels yang paling nyaman yang pernah gue pakai. Gue yakin deh gue nggak bakalan capek atau lecet-lecet pas resepsi. So, buat para calon pengantin wanita yang lagi pilih-pilih wedding shoes, bisa lho dicoba untuk datang ke Donamici di ITC Mangga Dua Lt. 3, Jakarta!

Dari Sanggar Rima ke Shine Bride Wedding Organizer

Weekend di bulan November – Desember 2014 selalu diisi dengan kegiatan survei ke vendor pernikahan. Yang paling dilematis itu adalah mencari make up artist yang bisa mendandani ala Paes Solo. Mama gue sih sempat berkeras bahwa kami lebih baik memboyong perias dari Solo langsung. Gue memprotes ide ini karena bakal ribet ngongkosin itu dukun manten, belum lagi gak bisa pilih paket.

Akhirnya gue ajak Mama ke Sanggar Rima (tempatnya di Ruko Galuh Mas, sederetan sama Harry Salon, Karawang). Setelah melihat hasil riasan Mbak Rima, Mama pun yakin Mbak Rima bisa mendadani pengantin Jawa. Gue sendiri udah yakin hasil riasan Mbak Rima bakal bagus soalnya gue pernah didandanin dia untuk tunangan di bulan April 2014.

Maunya sih selain dandanin manten plus ortu, ngurus acara siraman, gue pengen sekalian nyewa kostum buat among tamu dan beskap untuk calon suami, ortu, dan adik laki-laki. Tapi kebanyakan beskap yang ada di Sanggar Rima tuh model untuk orang Sunda dan Betawi. Ada sih beskap Jawa tapi kebanyakan warna hitam jadi buat among tamu okelah. Belum terpecahkan nih beskap untuk resepsi pengantin pria bakal cari di mana.

Setelah menjelaskan apa aja yang gue pengenin, Mbak Rima langsung kasih harganya berapa. Kurang lebih gue bakal keluarin kocek Rp 10 juta untuk acara siraman, rias pengantin + ortu 2 x (acara misa dan resepsi), dan sewa beskap among tamu dan adik-adik. Harganya masih on budget sih secara kalau survei di Jakarta, Sis, kita bakal keluarin duit lebih banyak dari itu.

Berhubung jasa rias Mbak Rima itu laku keras, gue langsung DP Rp 1 juta buat booking tanggal 12 September 2015. Bener aja, ternyata bahkan ada yang udah booking tanggal 5 September 2015.

Selesai urusan di Sanggar Rima, minggu-minggu berikutnya gue sibuk nyambangin Shine Bride Wedding Organizer. Showroomnya ada di Jl. Interchange, tepatnya di seberang Perumahan Resinda. Rencana awal ke sana sih cuma mau nanya jasa WO, MC, mobil pengantin, dan entertainment, tapi jadinya malah nyoba gaun. Kebetulan ada 1 gaun baru yang lucu banget, seluruhnya bermotif timbul bunga mawar. Pas cobain baju itu gue langsung jatuh cinta, begitu juga Mama gue. Kami pun jadi beride supaya pas Misa gue pakau gaun internasional aja (secara calon suami juga pake jas gitu). Baru deh pas resepsi pakai adat Jawa.

Setelah ngobrol sama pemiliknya, Ci Farida, gue jadi makin tertarik deh pakai jasa WO Shine Bride. 0rangnya kooperatif dan ide-ide dia tuh sesuai dengan bayangan gue. Ternyata dulu dia WO di Jakarta sebelum akhirnya buka di Karawang. Untuk sewa gaun pengantin, wedding car, MC, dan jasa WO full day, gue dikenakan tarif kurang lebih Rp 10 juta (lagi-lagi masih lebih mending daripada di Jakarta).  MC-nya bakal boyong dari Jakarta karena gue pribadi juga nggak gitu suka dengan MC-MC wedding yang ada di Karawang.

Yang masih jadi ganjalan adalah entertainment, masih bingung mau pilih baby grand piano atau mini band. Gue dan Ci Farida sepaham bahwa sebaiknya tidak menggunakan jasa organ tunggal seperti pernikahan di Karawang pada umumnya. Berdasarkan pengamatan gue, lagu-lagu pilihannya tuh parah banget, masa kadang lagunya terlalu jadul, lagu Indonesia yang out of theme, dan yang lebih parah lagu patah hati jadi lagu wedding song! So calon pengantin yang mau bikin resepsi di Karawang, perhatikan baik-baik pemilihan wedding singer.

Nah udah deh tinggal pilih mau baby grand piano atau mini band. Calon suami sih pengennya mini band karena pasti bisa nyanyiin semua genre lagu. Sedangkan gue pengen baby grand piano karena kesannya sakral dan megah banget, tapi ya itu tadi lagu-lagu yang dibawakan gak cocok untuk lagu ritme nge-beat.

Awalnya sih gue pengen boyong wedding singer dari Jakarta tapi kebanyakan menolak datang ke Karawang. Hiks hiks hiks. Jadi gue bakal minta tolong Ci Farida pakai kenalan dia yang di Jakarta aja deh. Gue udah lihat beberapa videonya dan bagus sih nyanyinya.

Kemarin sih untuk baby grand piano harganya Rp 7 juta dan mini band Rp 9 juta. Keduanya sudah diasumsikan dengan sewa sound system. Pokoknya hindarkan wedding band atau wedding singer atau wedding mini orchestra dari lagu dangdut!

Deal dengan Vendor Gedung Pernikahan & Catering, Indo Alam Sari

Setelah minggu sebelumnya datang ke Wedding Expo, bulan Desember 2014 setelahnya gue gencar survei-survei gedung pernikahan, make up, dekorasi, dan baju-baju seragam pernikahan. Fokus utama gue adalah book gedung pernikahan terlebih dulu. Karena di Karawang nggak banyak gedung pernikahan (pilihannya Indo Alam Sari, Sindang Reret, Lebak Sari Indah, dsb2), gue memutuskan untuk langsung DP di Indo Alam Sari.

Gue beruntung karena langsung DP 25% untuk catering di Indo Alam Sari (pemakaian gedungnya gratis, dikasih bonus ice carving dan sparkling wine untuk wedding toast) karena awal tahun 2015 ada kenaikan harga. Karena gue DP masih di tahun 2014, gue masih dapat price list lama. Ada beberapa paket pernikahan yang ditawarin, mulai Rp 50 juta – Rp 100 jutaan (bisa dilihat di http://www.indoalamsari.com). Gue sengaja nggak pilih paket karena banyak yang bakal gue eliminasi atau di-upgrade di paket-paket itu. Jadi gue pilih vendor lepasan aja.

Tadinya gue berharap di antara hotel-hotel yang dibangun di Karawang (New Landmark atau Mercure) bakal jadi di tahun 2015, tapi kayaknya masih lama baru selesai dibangun, makanya gue deal aja deh di Indo Alam Sari. Saran gue pilihnya mending di Gedung Serba Guna karena selain besar ruangannya, kalau didekorasi hasilnya juga lebih bagus dibandingkan dengan yang outdoornya.

Oh iya sekedar info, bulan Maret 2015 GSG Indo Alam Sari bakal direnovasi dan memakan waktu 4-5 bulan. Pihak Indo Alam Sari sih bilang bulan September 2015 GSG udah selesai direnovasi. Menurut informan rahasia, GSG Indo Alam Sari bakal disulap jadi ballroom yang seperti di hotel-hotel, lampunya diganti lampu kristal besar dan lantainya akan dilapisi karpet.

Buat calon pengantin yang mau booking Indo Alam Sari, lebih baik book tanggal dari jauh-jauh hari. Gue termasuk orang pertama yang booking tanggal untuk tahun 2015. Beberapa minggu kemudian gue ke sana, ternyata tanggal-tanggal di bulan September – Oktober 2015 udah full booked.

Alasan gue pilih Indo Alam Sari karena makanan yang mereka sajikan saat resepsi pernikahan enak-enak dibandingkan gedung lainnya. Kalau soal masakan, Indo Alam Sari nggak perlu diragukan lagi deh.