Itinerary Liburan ke Jepang (Hari #2) : Bermain Sampai Puas di Tokyo DisneySea

Pada hari kedua, kami tidak hopping tempat di Tokyo karena seharian penuh akan bermain di Tokyo DisneySea. Hal utama yang membuat kami memilih Best Western Nishikasai adalah karena hotel tersebut terletak cukup dekat dari Tokyo DisneySea dan menyediakan free shuttle ke area taman bermain Disney.

Bagi Anda yang ingin ke Tokyo DisneySea / Disneyland menggunakan kereta dari pusat kota Tokyo juga bisa. Stasiun terdekat dari taman bermain tersebut adalah JR Maihama Sta. Dari Maihama Sta, Anda perlu berjalan menyusuri pertokoan sekitar 300-500 m dan pindah ke Resort Gateway Sta (line khusus milik kawasan Disne) kemudian berhenti di Tokyo DisneySea Sta atau Tokyo Disneyland Sta. 

Peta Tokyo DisneySea

 
Tibalah kami di Tokyo DisneySea dengan menggunakan free shuttle pukul 08.30 am. Anda harus memesan tempat terlebih dahulu ke resepsionis hotel untuk mendapatkan tempat di dalam shuttle.

Antrian tiket ke taman bermain itu cukup panjang padahal saat itu hari Senin. Untungnya kami tidak perlu membeli tiket karena tiket masuk ke DisneySea sudah kami beli di Indonesia seharga JPY 6.900. Saat itu kami masih mendapatkan harga lama. Ternyata bila beli tiket on the spot, harganya sudah JPY 7.200. Lumayan bisa menghemat JPY 300 per orang.

 Wow! Begitulah kesan yang muncul saat pertama kali menginjakkan kaki di Tokyo DisneySea. Arena bermain ini sangat luas dan terbagi menjadi beberapa tema, di antaranya American Waterfront, Mediterranian Harbor, Port Discovery, Lost River Delta, Mysterious Island, Arabian Coast, dan Mermaid Lagoon. 

Perlu diketahui, ada beberapa wahana yang menjadi favorit di sini sehingga bukan tidak mungkin antriannya akan sangat panjang. Untuk mengurai antrian, pihak Disney memberikan fasilitas fast pass bagi Anda yang ingin mengefektifkan waktu. Anda hanya harus scan barcode tiket Anda di booth fast pass yang terletak di wahana yang Anda naiki, kemudian akan keluar tiket yang menunjukkan kapan waktu Anda harus kembali ke wahana itu. 

Bagi saya, permainan yang paling menarik adalah Raging Spirits dan Indiana Jones Adventure. Keduanya berada di area Lost River Delta. Karena antrian masih cukup sepi, maka kami tidak perlu memakai fasilitas fast pass. Kedua permainan ini cukup menegangkan dan sepertinya kurang cocok untuk anak kecil.

Ragging Spirits (Photo Credit by http://www.tokyodisneyresort.jp)

  

Indiana Jones Adventure (Photo Credit by http://www.tokyodisneyresort.jp)

 

Oh iya, di DisneySea terdapat beberapa transportasi yang memungkinkan kita untuk pindah dari area satu ke area lainnya, yaitu transit streamer line dan electric railway. Port transit steamer line (semacam boat) berada di area Lost River Delta, Mediterranian Harbor, dan American Waterfront. Sedangkan stasiun untuk electric railway terdapat di Port Discovery dan American Waterfront.
Selesai bermain di area Lost River Delta, kami pindah ke area Mysterious Island yang letaknya berada di tengah DisneySea. Di sini juga terdapat wahana yang menjadi favorit, yakni Journey to The Center of The Earth dan 20.000 Leagues Under The Sea. 

Journey to The Journey of The Earth (Photo Credit by http://www.tokyodisneyresort.jp)

  

20.000 Leagues Under The Sea (Photo Credit by http://www.tokyodisneyresort.jp)

 

Sudah tengah hari saat kami selesai menjajal atraksi di area Mysterious Island. Kami pun membuka bekal makan siang kami. Sebenarnya terdapat banyak restoran di sini, tapi karena kami ingin lebih berhemat maka kami membeli bento sebelum berangkat ke DisneySea.

 

Bersantai Saat Makan Siang

 
Semakin siang Tokyo DisneySea semakin ramai pengunjung. Antrian di tiap-tiap wahana pun sudah mengular. Kami mencoba memakai fast pass untuk atraksi Strom Rider di area Port Discovery dan kebagian jam 02.00 pm, berarti masih ada waktu satu jam untuk berjalan-jalan. Kami pun mencoba menaiki electric railway dari Port Discovery ke American Waterfront. Sesampainya di American Waterfront, kami berfoto-foto di area itu, sungguh sangat menggambarkan Amerika tempo dulu. 

 

Di Area American Waterfront


Puas bermain di area Lost River Delta, Mysterious Island, dan Port Discovery, kami pun mencoba permainan di area yang biasanya lebih disukai oleh anak kecil, Arabian Coast dan Mermaid Lagoon.
Di Arabian Coast, Anda bisa menemukan Carousel, Jamine’s Flying Carpet, Sinbad’s Storybook, dan The Magic Lamp Theater. Bermain di wahana Carousel dan Jasmine’s Flying Carpet membawa kita kembali ke masa kecil. 

 

Di Depan Arabian Coast

 
Pada atraksi Sinbad’s Storybook, kita akan menaikin perahu dan melihat petualangan Sinbad dalam bentuk 3D berupa boneka-boneka yang bisa bergerak di kanan-kiri perahu. Pertunjukan ini berlangsung kurang lebih 15 menit. The Magic Lamp Theater akan menyuguhkan kita pentas sulap yang merupakan perpaduan sulap konvensional dan sulap digital. Anda harus memakai kacamata 3D. 

Area berikutnya yang kami eksplor adalah Mermaid’s Lagoon. Area ini khusus diperuntukkan bagi anak kecil karena permainannya pun hanya cocok untuk anak kecil, menurut saya. Kami hanya menaiki wahana Blowfish Balloon Race, Jumpin’ Jellyfish, dan Flying Fish Coaster. 

Pukul 04.00 pm adalah saatnya festival di Tokyo DisneySea. Beragam karakter Disney beratraksi di penjuru taman bermain maupun di atas kapal. Terdapat juga penari-penari yang semakin menyemarakkan suasana. Bila saat festival tiba, wahana steamer line dan Venetian Gondola tidak beroperasi.
Wahana terakhir yang kita coba adalah Tower of Terror di area American Waterfront. Namun, sebelumnya kami mencoba naik steamer line dari port Lost River Delta ke port American Waterfront.

Di Depan Tower of Terror

Tak terasa sudah pukul 06.00 pm. Angin dari laut semakin kencang dan suhu mendadak menjadi lebih dingin. Kami pun menyudahi kunjungan kami ke Tokyo DisneySea. Karena free shuttle dari Best Western tidak termasuk penjemputan saat pulang, maka kami pun pulang naik kereta.

Dari stasiun Tokyo DisneySea, kami menuju stasiun Resort Gateway. Dari Resort Gateway kami harus berjalan 300-500 m untuk menuju JR Maihama Sta. Dari JR Maihama Sta, ambil jalur Musashino Line dan turun di Nishi-Funabashi. Setelah itu, ambil jalur Tozai Line dan turun di Nishi-Kasai.

Sekian pengalaman kami di Tokyo DisneySea! 

Itinerary Liburan ke Jepang (Hari #1) : Berburu Sakura di Tokyo

Dengan menggunakan direct flight malam pukul 11.30 pm, saya dan suami tiba di Haneda International Airport sekitar pukul 08.00 am. Setelah beres urusan imigrasi dan ambil bagasi, kami pun beranjak untuk berburu wifi router.

Biasanya orang-orang yang berlibur ke Jepang akan membawa wifi router yang disewa dari Indonesia, tapi berhubung saya sudah kehabisan, jadi saya berniat menyewa di bandara saja. 

Harga sewa wifi router termurah yang kami dapatkan adalah JPY 12.000 (JPY 1 = IDR 121) untuk 10 hari. Karena kami merasa harga itu terlalu mahal , maka kami memutuskan untuk tidak menyewa wifi router dan hanya mengandalkan wifi yang tersedia di tempat umum.

Hal berikutnya yang kami lakukan adalah mencari informasi soal transportasi. Ada beberapa one day pass untuk kereta api di bawah bendera JR Group ataupun metro dan subway. Semuanya bisa dijelaskan di bagian informasi. 

Kami memang memiliki JR Pass untuk tujuh hari, namun karena total kami berada di Jepang adalah 10 hari, maka  sisa tiga hari tidak di-cover oleh JR Pass.

Ternyata tempat kami menginap, yaitu Best Western Nishi-Kasai (yang dekat dengan stasiun Nishi-Kasai) tidak di-cover oleh one day pass manapun, maka kami pun tidak jadi membeli one day pass.

Berikut itinerary hari pertama (10 April 2016) :

  • Menuju Best Western Nishi-Kasai untuk titip koper dan ganti baju.
  • Imperial East Garden
  • Shinjuku Gyoen Park
  • Shinjuku, Harajuku, Shibuya
  • Ueno Park

Bagi Anda yang kebetulan akan menginap di Best Western Nishi-Kasai, saya akan menjelaskan transportasi dari airport menuju hotel tersebut. 

Kawasan Nishi-Kasai dapat dicapai dengan menggunakan metro. Dari International Arrival Building Station, kita bisa naik kereta Toei Subway Asakusa Line dan turun di Nihombashi. Kemudian pindah ke Tozai Line dan turun di Nishi-Kasai. 

Cara Menuju Best Western Nishi-Kasai

Best Western terletak sekitar 300 m dari Nishi-Kasai Sta. Kalau Anda bingung, coba tanya saja ke polisi di mana letak Best Western Nishi-Kasai. 

Destinasi wisata pertama, Imperial Palace East Garden. Karena berada dekat Otemachi Sta, Imperial Palace East Garden cukup mudah dicapai dari hotel kami karena Otemachi Sta berada satu line dengan Nishi-Kasai Sta melalui Tokyo Metro Tozai Line. 

Berhubung Otemachi Sta sangat luas dan terintegrasi dengan beberapa line, maka cara tercepat untuk menemukan pintu exit yang tepat adalah dengan bertanya kepada petugas. Akhirnya tibalah kami di pintu exit yang tepat, yakni di gedung Imperial Palace Hotel. Imperial Palace East Garden berada tepat di depan hotel tersebut.

Kami beruntung bisa berkunjung ke Imperial Palace East Garden pada  hari Minggu karena jalan di depannya car free day hampir sepanjang hari sehingga kita bisa bersepeda di area itu.

Jalan di Depan Imperial Palace East Garden

Untuk masuk ke Imperial East Garden tidak dipungut biaya. Anda hanya harus mengambil kartu kemudian pada saat keluar, kartu itu harus dikembalikan.

Ketika berada di dalam taman tersebut, Anda bisa melihat banyak pengunjung berpiknik di hamparan rumput hijau atau di bawah pohon Sakura. Sayang sekali kami tidak membawa peralatan piknik sehingga kami hanya berjalan-jalan menikmati keindahan Sakura yang masih tumbuh lebat saat itu. 

Pintu Masuk Imperial Palace East Garden

Selesai menjelajah Imperial East Garden, kami pun kembali menuju Otemachi Sta untuk pindah ke JR Tokyo Station (hanya perlu berjalan kaki untuk pindah station). Tujuan kami selanjutnya, yakni Shinjuku, Harajuku, Shibuya, dan Ueno, dilewati oleh JR Yamanote Line Inner Loop. 

Shinjuku Gyoen bisa dicapai dari Shinjuku Sta (new south exit) dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Biaya masuknya JPY 200. Anda bisa melihat Sakura bermekaran dengan cantik di sini. 

Selesai dari sini, kami pun naik kereta lagi ke Harajuku melalui JR Yamanote Line. Anda akan menemukan banyak orang berpenampilan ajaib layaknya tokoh-tokoh pada manga. Kami tidak membeli apa-apa di area ini karena beberapa outlet memang cukup mahal. 

Untuk menuju ke tujuan kami selanjutnya, yakni Shibuya Crossing, kami memutuskan untuk jalan kaki saja, kurang lebih 1 km. Lumayan, kami bisa cuci mata melihat jajaran toko yang apik dan desain-desain bangunan yang tidak ada di Indonesia.

Suatu Perempatan di Dekat Harajuku

Setelah sekitar 15 menit berjalan, tibalah kami di Shibuya Crossing yang terkenal itu. Begitu menakjubkan melihat orang-orang menyeberang jalan secara bersamaan dari lima arah yang berbeda. Momen menyeberang jalan itu banyak diabadikan oleh fotografer. 

Di dekat Shibuya Crossing yang bersisian dengan JR Shibuya Sta, Anda akan menjumpai patung Hachiko, anjing yang sangat terkenal itu.

Berfoto Bersama Hachiko

Bila Anda memiliki waktu lebih, boleh dicoba untuk mengantri di Genki Sushi. Katanya, sushi di tempat tersebut paling enak dan paling murah. Karena antriannya cukup panjang, kami mengurungkan niat untuk makan di sana.

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pm, saatnya kami menuju Ueno Park untuk menikmati Illumination Festival di Ueno Park yang biasanya diselenggarakan pada saat Sakura mekar. Beruntung kami tiba di Jepang pada saat hari terakhir diselenggarakannya Illumination Festival.

Bunga Sakura Pada Saat Malam di Ueno Park

Melihat bunga Sakura ditimpa cahaya-cahaya lampion sungguh sangat indah. Meski sudah malam, masih banyak orang yang melakukan hanami alias piknik di bawah pohon Sakura.

Banyak kedai penjual makanan pada saat Illumination Festival. Masih di dalam Ueno Park, bila kita berjalan ke Toshogu Shrine yang di dekat danau, maka kita akan menemukan kedai-kedai penjual makanan.

Makanan yang dijual bervariasi, ada mie goreng, takoyaki, okonomiyaki, sosis panggang, dan lain sebagainya. Harga per porsi rata-rata JPY 500.

Setelah puas berjalan-jalan dan makan di Ueno Park. Kami pun kembali ke hotel. Oh iya, sebagai tambahan informasi, tepat di depan JR Ueno Station terapat kedai udon yang lumayan murah. Kita hanya perlu memasukkan koin ke vending machine dan memilih makanan apa. Kemudian serahkan receipt yang keluar dari vending machine itu ke penjaga kedai. Dalam sekejap, makanan akan tersaji. Suami memutuskan untuk makan (lagi) di kedai itu.

Untuk mencapai Nishi-Kasai Sta, kami tidak lagi menggunakan jalur Yamanote Line Inner Loop dari Ueno Sta karena Nishi-Kasai Sta tidak dilewati oleh Yamanote Line Inner Loop.

Dari Ueno Sta, kami mengambil jalur Ginza Line tujuan Shibuya dan turun di Nihombashi. Dari Nihombashi, pindah jalur ke Tozai Line tujuan Nishi-Funabashi dan turun di Nishi-Kasai Sta.   

Selesai sudah petuangalan kami hari pertama di Jepang. Meski tidak banyak tempat di Tokyo yang yang kunjungi, tapi dengan jalur kereta yang tepat, maka perjalanan akan efektif. Jadi, saran saya, tentukan tujuanmu lalu cek di rutenya di Google Map atau Hyperdia.

    Menikmati Keindahan Gunung Fuji dari Danau Kawaguchiko

    The Mountain which is standing alone. Ya, di antara sekian banyak gunung yang berjajar di dataran Jepang, Fuji-san hanya berdiri sendirian, begitu megah dan begitu indah, terutama manakala puncaknya tertutupi es. Itulah yang membuat gunung yang satu ini menjadi icon Jepang dan sangat terkenal hingga masuk ke dalam kategori Unesco the world heritage.

    Gunung Fuji dikelilingi oleh lima danau. Danau yang terbesar adalah Danau Kawaguchiko. Bagi Anda yang baru pertama kali mengunjungi kaki Fuji-san, ada baiknya Anda datang ke area Kawaguchiko.

    Musim yang paling tepat mengunjungi Kawaguchiko adalah spring season atau musim semi, di mana meski udara masih dingin namun Anda masih bisa melihat bunga Sakura bermekaran di mana-mana. Selain itu, salju di puncak Fuji-san saat musim semi juga masih ada. Musim lain yang patut dipertimbangkan untuk mengunjungi Fuji-san adalah autumn season atau musim gugur.

    Perjalanan ke Kawaguchiko bisa melalui kereta atau bus. Ada highland bus yang berangkat dari Tokyo Station, Shinjuku Station, Kyoto Station, dan lain-lain. Anda juga bisa naik kereta dari Tokyo menuju JR Otsuki Station. Setelah itu, disambung dengan Fujikyu Railway (private railway) ke Kawaguchiko Station.

     

    Kawaguchiko Station Dilatarbelakangi Gunung Fuji

     
     Banyak wisatawan yang hanya melakukan tur satu hari di Kawaguchiko. Namun, sebenarnya menikmati keindahan area Kawaguchiko tidak cukup hanya satu hari. Sangat disarankan untuk menginap setidaknya satu malam di sini. Perlu diketahui, aktivitas di area ini berhenti di pukul 19.00. Namun, ada 7/11 dan Lawson yang buka 24 jam.

    Cara terbaik untuk mengeksplor area Kawaguchiko adalah dengan membeli tiket terusan Retro Red Line Bus ( 1 day pass or 2 pass). Bus ini akan mengantar Anda ke tempat-tempat wisata terkenal di Kawaguchiko. Anda bebas naik dan turun di halte-halte yang dilewati Retro Red Line Bus.

    Namun, tidak semua tempat wisata di Kawaguchiko perlu dikunjungi. Salah satu tempat dengan pemandangan Gunung Fuji terbaik adalah dengan naik ke Mt. Tenjo melalui Kachi-Kachi Ropeway yang bisa ditempuh dengan jalan kaki 800 meter dari Kawaguchiko Station. Harga masuk Kachi-Kachi Ropeway pada April 2016 adalah JPY 800 per orang.

    Berdekatan dengan dengan Kachi-Kachi Ropeway terdapat pier Sight Seeing Boat atau disebut juga Pleasure Boat. Dengan menaiki boat ini, wisatawan akan dibawa ke seberang Danau Kawaguchiko agar bisa melihat pemandangan Gunung Fuji. 

    Pemandangan dari Kachi-Kachi Ropeway

     
    Menjelang sore hari antara pukul 16.00-17.00 adalah waktu yang tepat untuk bersantai menikmati semilir angin di tepi Danau Kawaguchiko. Di tepi Danau Kawaguchiko yang dekat dengan pier Pleasure Boat, Anda akan menemukan karang yang menjorok ke danau. Di atasnya terdapat beberapa tempat duduk. Tempat itu relatif sepi pada pukul 16.00-17.00 karena wisatawan lainnya masih sibuk dengan hopping tempat wisata di area Kawaguchiko. 

     

    Lake Kawaguchiko

     
    Damai rasanya ketika kita meluangkan waktu dengan duduk di tepi danau dan benar-benar menikmati keindahan danau. Pada waktu musim semi di pertengahan April, bila Anda berjalan ke arah Lake Kawaguchiko Hotel (tak jauh dari karang yang menjorok ke danau tadi), Anda akan menemukan jalan yang salah satu sisinya ditanami banyak pohon Sakura. Pemandangan di tempat itu sungguh sangat menakjubkan.

    Bunga Sakura di Tepi Danau Kawaguchiko

     
    Tempat wisata lain yang bisa dikunjungi adalah Chureito Pagoda. Pada musim semi pertengahan April 2016, Sakura sedang full bloom di sini. Sebelum jam 07.30 saja sudah banyak fotografer memadati Chureito Pagoda. Wajar saja banyak fotografer di sana karena terdapat spot di mana mereka bisa mengambil gambar Chureito Pagoda dan Sakura yang dilatarbelakangi Gunung Fuji.

    Chureito Pagoda tidak termasuk jalur yang dilewati Retro Red Line Bus. Menuju ke sana, wisatawan perlu naik kereta dari Kawaguchiko Station ke Shimoyosida Station sekitar 13-15 menit. Saat keluar dari Shinoyosida, Anda tak perlu khawatir akan tersesat karena ada bendera yang ditancapkan di tanah sebagai penanda jalur yang harus ditempuh ke Chureito Pagoda.

     Edit   
    Saat musim semi di bulan April, ada spot lainnya di mana wisatawan bisa menikmati keindahan bunga Sakura, yakni Oshino-Hakkai. Untuk menuju ke sana, Anda hanya perlu membeli tiket bus ke Gotemba. Halte Oshino-Hakkai akan dilewati bus yang menuju Gotemba tersebut.

    Bila Anda kebetulan mengunjungi Kawaguchiko dan bunga Sakura sudah rontok, ada cara lain untuk mengobati kekecewaan Anda. Dari pertengahan April hingga akhir Mei akan ada Shibasakura Festival di mana akan terdapat banyak bunga phlox moss berwarna pink di kaki Gunung Fuji. 

    Untuk menuju ke Shibasakura Festival wisatawan hanya perlu membeli tiket round trip bus Shibasakura Liner. Biasanya di kantor tiket juga menawarkan paket entrance fee dan round trip.

    Bagi wisatawan yang gemar memacu adrenalin, di Kawaguchiko terdapat theme park bernama Fujikyu Highland. Taman bermain itu terkenal karena terdapat roller coaster yang lintasannya panjang, berputar-putar dan sangat tinggi. Menuju Fujikyu Highland hanya memerlukan waktu sekitar lima menit dengan kereta dari Kawaguchiko Station.

    Bagi Anda yang akan berlibur ke Jepang, ada baiknya mempertimbangkan untuk mengunjungi Kawaguchiko area. Selamat berlibur! 

    Menjelajahi Arashiyama, Dari Saga Scenic Railway Hingga Bamboo Groves

    Seorang teman pernah mengatakan kepada saya, “Tyas, menikmati Kyoto itu nggak cukup satu hari, minimal dua hari deh.”  Perkataan itu muncul karena saya bercerita bahwa saya hanya akan berjalan-jalan di Kyoto satu hari saja.

    Akhirnya saya menuruti saran teman saya itu. Saya tinggal di Kyoto selama empat hari tiga malam. Dalam empat hari itu, ada satu hari saya sempatkan mengunjungi Dotonbori di Osaka. 

    Distrik Arashiyama merupakan tempat favorit saya di Kyoto. Keindahan alam perbukitan yang serba hijau, sungai yang bersih, dan tata kota yang unik membuat saya terpukau.

    Ada beberapa tempat terkenal di Arashiyama. Di antaranya Togetsukyo Bridge, Bamboo Groves, kuil-kuil di Arashiyama, dan banyak lagi. Kali ini saya ingin bercerita tentang rute petualangan saya di Arashiyama.

    Tempat wisata pertama yang saya kunjungi adalah Saga Scenic Railway atau sering juga disebut Saga Romantic Railway.  Saga Scenic Railway adalah rute kereta wisata sepanjang 7 km yang membentang dari Saga Arashiyama ke Kameoka. Kita bisa memilih memulai perjalanan dari Saga Arashiyama atau dari Kameoka.

    Penampakan Kereta Saga Scenic

    Saga Scenic Railway memiliki stasiun sendiri yang letaknya tidak jauh dari JR Station. Bila kita berangkat dari Saga Arashiyama, maka kita tinggal menuju stasiun Torokko Arashiyama Station (persis di sebelah JR Saga Arashiyama Station). Bila kita berangkat dari Kameoka, maka departing point – dimulai dari Torokko Kameoka Station (dekat dengan JR Umahori Station). Kereta Saga Scenic berangkat tiap satu jam (jadwal di Torokko Arashiyama Station adalah 09.07, 10.07, 11.07, 12.07, dan seterusnya hingga terakhir sebelum pukul 16.00). Harga tiketnya JPY 62o one way.

    Saya sendiri memilih berangkat dari Torokko Arashiyama Station. A breathtaking view started to come when the train finally departed. Jalur kereta itu bersisian dengan sungai, terkadang membelah bukit, dan melewati jembatan. Dari kereta kita bisa melihat Hozu River dan  perbukitan yang serba hijau. Terkadang ada pula pohon berwarna kuning dan merah. Kebetulan karena saya pergi saat spring season, maka masih banyak bunga Sakura bermekaran. Oh iya, selain spring season, autumn season juga musim yang bagus untuk menikmati pemandangan di Saga Scenic Railway.

    Pemandangan dari Kereta

    Di Dalam Kereta

     
    Saat tiba di Torokko Kameoka Station, ada tiga cara untuk bisa kembali ke area Arashiyama. Pertama, melalui kembali rute Saga Scenic Railway. Kedua, menuju stasiun terdekat yakni JR Umahori. Ketiga, dengan menggunakan Hozu River Boat.

     
    Saya memilih yang ketiga, yakni melalui Hozu River dengan menggunakan boat. Setelah keluar dari Torokko Kameoka Station, kita akan menjumpai spot parkir bus yang menuju Hozu River Boat Terminal. Bus akan berangkat satu jam sekali. Harga sekali naik adalah JPY 310. Siapkan uang pas ya. 

    Jadwal Bus ke Hozu River Boat Terminal

     

    Foto Bersama Suami Sambil Menunggu Bus Datang

     
    Siapkan kocek sebesar JPY 4.200 ya untuk ikut tur melalui Hozu River Boat. Agak mahal memang, tapi semuanya terbayar puas kok. Jalur Hozu River Boat melalui sungai berbatu-batu besar dan arusnya cukup deras. Namun uniknya, boat ini tidak menggunakan tenaga mesin sama sekali, tetap menggunakan tenaga empat orang manusia. 
    Pemandangan sepanjang sungai sulit digambarkan dengan kata-kata, sungguh sangat indah. Terkadang adrenalin kita sedikit terpacu saat and boat meluncur turun di arus yang deras atau saat harus melewati bebatuan tanpa menabrak.

     

       
     
    Perjalanan menggunakan  boat memakan waktu 1,5 jam. Kebetulan sudah lewat jam 14.00 dan kami belum makan siang sehingga lapar sekali. Tak disangka di tengah perjalanan boat, ada boat lainnya mendekat yang ternyata adalah penjual makanan. Boat yang kami tumpangi pun berhenti untuk memberikan kesempatan kepada penumpang untuk makan.

    Kami pun tiba di boat pier yang ternyata terletak sangat dekat dengan Togetsukyo Bridge yang terkenal itu. Langsung saja kami foto-foto di tempat jembatan Togetsukyo.

     

    Di Jembatan Togetsukyo

      

    Latar Belakang Togetsukyo Bridge

     

    Setelah puas berfoto di Togetsukyo Bridge, kami pun segera mencari makan siang di daerah situ. Tenang, ada banyak kedai makan yang sangat menggugah selera. Saya dan suami memesan Beef Curry Udon dan Tamago Miso Udon. 

    Saatnya menuju Bamboo Groves. Tempat itu sebenarnya merupakan jalan sepanjang 700 meter yang kanan-kirinya ditanami bambu-bambu. Suasanya asri, namun menurut saya tetap ada kesan spooky karena ada beberapa spot pemakaman di sana.

     

    Bamboo Groves

     
    Selain tempat-tempat yang saya kunjungi tadi, masih banyak tempat wisata lainnya. Namun karena badan rasanya sudah terlalu lelah, maka kami pun beranjak pulang. JR Saga Arashiyama berada tak jauh dari Bamboo Groves. Berikut saya posting peta wisata di Arashiyama ya.

     

    Saga Arashiyama Map

     
     

    Sanggar Femi Salon – Perias Pengantin Sekitar Solo, Klaten, Yogyakarta

    Memilih perias pengantin atau make up artist memang salah satu hal krusial bagi calon pengantin, terutama calon pengantin perempuan. Beragam referensi pun  dicari agar penampilan pada saat hari pernikahan menjadi maksimal.

    Saya termasuk salah satu pengantin yang paling sulit menentukan pilihan untuk make up. Bila belum ada contoh hasil riasannya, saya tak berani memilihnya. Saya tinggal di Jakarta, merayakan resepsi pernikahan di Karawang, namun pilihan make up artist saya berasa dari Klaten. Membingungkan bukan?

    Bukan berarti perias di Jakarta atau Karawang kurang bagus, bukan begitu, ini hanya masalah kecocokan. Saya percaya setiap make up artist pasti akan membuat pengantin terlihat lebih cantik pada saat hari pernikahannya. Setiap make up artist juga pasti memiliki ciri tersendiri dalam riasannya.

    Bagi saya, saya percaya bahwa hasil riasan tiap make up artist pasti bisa membuat saya nampak berbeda di hari pernikahan saya. Namun, satu hal yang menjadi pertimbangan saya adalah bagaimana cara si perias membuat paes Solo di dahi saya. Terus terang, menemukan perias yang mahir membuat paes yang sesuai dengan bentuk wajah kita itu tidak mudah. Pun ada perias yang cocok dengan kemauan saya, harganya ternyata tidak cocok di kantong.

    Singkat cerita, pilihan saya jatuh pada Sanggar Femi yang terletak di daerah Cawas, Klaten. Tempatnya terpencil, sangat jauh dari pusat keramaian, namun siapa sangka ada perias berbakat di daerah sana. 

    Pemilik Sanggar Femi bernama Tina. Berawal dari pernikahan kakak sepupu tahun 2008 silam, saya sangat suka dengan hasil riasan Tina pada kakak sepupu saya. Awalnya saya belum terpikir untuk memakai jasa rias Tina, namun karena tidak menemukan perias yang cocok dengan selera saya di Karawang atau di Jakarta (baik jenis riasan atau harganya) maka saya pun memilih make up Sanggar Femi.

    Soal harga, boleh diadu, lebih murah dibandingkan tarif di kota besar (padahal sudah termasuk ongkos jalan dari Klaten ke Karawang). Sekalian saja saya ambil paket lengkap rias pengantin beserta kelurga inti dan keluarga besar. 

    Bagi yang berminat untuk memakai jasa Sanggar Femi dengan menghubungi Tina di 081548492717 (phone/text) dan 2A3E4F48 (BBM). Dan berikut hasil make up Tina. 

      

      
     

    Review Dekorasi Pernikahan by Ming Art Gallery

    Pernikahan saya sudah berlalu dua bulan lalu, namun saya belum sempat posting review soal vendor dekorasi pernikahan saya. Minggu kedua di bulan September, gedung serba guna Restoran Indo Alam Sari disulap Ming Art Gallery menjadi ruang pesta bernuansa putih, soft pink, dan fucshia, sesuai dengan permintaan saya.

    Saya dan suami (yang kebetulan memakai pakaian adat Jawa) memang ingin sentuhan dekorasi tradisional yang ada sentuhan moderennya. Ming Art Gallery sukses mewujudkan keinginan kami itu. 

    Dimulai dari pintu masuk, para tamu akan memasuki lorong berkain putih, pink, fucshia, di mana terdapat kotak angpao dan galeri foto prewedding kami. Kesan misterius masih melekat karena para tamu tidak langsung melihat dekorasi inti pelaminan dari lorog tersebut. Di Restoran Indo Alam Sari ini tipikalnya tamu akan langsung bisa melihat pelaminan saat memasuki ruang pesta di lantai 2. Jadi penggunaan lorong bisa mempermanis dekorasi agar tamu sedikit penasaran.   

       
    Keluar dari lorong kain tadi, tamu juga tidak langsung berhadapan dengan pelaminan, melainkan jajaran standing flower dan beberapa foto prewedding. Jika tamu berbelok ke kanan, maka tamu akan melihat pelaminan. Jika tamu berbelok ke kiri, maka tamu akan langsung menuju tempat makanan.

     
    Dekorasi pelaminan berupa gebyok putih bersih yang dihiasi dengan bunga-bunga segar di pelaminan. Ini yang saya suka dari Ming Art Galery, hampir seluruh bunga yang dipajang adalah bunga asli sehingga wanginya semerbak. Bunga palsu hanya berupa bola-bola bunga yang menghiasi mini garden. 

    Kenapa saya pilih gebyok? Karena gebyok putih itu representasi dari tema javanese modern seperti kemauan saya dan suami.  Dari awal saya memang kurang suka apabila pelaminan didekorasi dengan kain-kain, jadi saya pilih gebyok.   

       Hasil pelaminannya bagus dan memuaskan, banyak bunga, dan diberi background lighting yang bisa berubah warna. Perubahan warna lighting itu bisa memeriahkan suasana dan tentunya bagus banget untuk difoto. 
    Untuk vendor dekorasi pernikahan, saya tidak mensurvei vendor lain, langsung deal dengan Ming Art Gallery. Sebelumnya saya sudah sering memperhatikan dekorasi Ming Art saat datang ke resepsi teman-teman saya, makanya saya langsug tahu apa yang saya mau. 

    Pemilik Ming Art cukup kooperatif. Saya sendiri lebih banyak komunikasi dengan anak si pemilik yang ikut mengelola usaha papanya ini. Kemauan kita bisa terakomodir dan terkadang muncul ide baru saat diskusi. 

    Kalau tertarik menggunakan dekorasi Ming Art, langsung aja datang ke workshop nya di Niaga, Karawang. 

      
       

    Bali Prewedding Photoshoot Session Is Done! (Tukad Unda, Monumen Bajra Sandhi, Hotel Nikko, and Tegalwangi Beach)

    Hello bloggers!

    Kali ini saya mau sharing soal pengalaman foto prewedding saya. Pilihan vendor akhirnya jatuh ke Ricky & Co Photography di Bali. Mengapa Bali? Karena alamnya yang memang indah, harga jasa penyedia prewedding photohoot di Bali relatif lebih murah. Bagi pecinta foto outdoor, layak untuk dicoba prewedding di Bali.

    Ricky & Co Photography terletak di Jl. Pulau Kawe No. 35, Denpasar, Bali. Well, sejujurnya saat di sana saya tidak menginjakkan kaki di kantornya. Yang saya sambangi hanyalah rekanannya, Bridal Glamz, di situ saya melakukan make up.

    Saya ambil paket foto prewedding full day 12 jam. Karena saya sudah deal dari tahun lalu, jadi saya cuma bayar Rp 15 juta (sudah termasuk kanvas ukuran 60 x 90 cm, magazine 60 halaman, sewa 1 baju pengantin + 1 baju pesta + make up). Foto-foto kita nanti dieditkan sebanyak 200 foto dan kita semua yang pilih.

    Oke kembali ke topik. Sesi foto prewedding saya dilakukan tanggal 4 Mei 2015 dan dimulai pukul 06.00. Lokasi pertama saya yaitu air terjun Tukad Unda, Klungkung. Kurang lebih perlu waktu tempuh 1 jam dari Kuta. Saya berangkat pukul 05.00. Make up ala kadarnya saja karena ya make up artist-nya belum ready saat subuh.

    Tukad Unda merupakan bendungan. Apabila difoto dari jarak jauh, terlihat seperti kita dilatarbelakangi air terjun. Tempatnya curam dan licin, jadi harus sangat berhati-hati. Oh iya untuk menggunakan lokasi ini sebagai latar foto, kita harus mengocek uang Rp 200.000,-

    Berikut hasil foto di Tukad Unda (dengan make up seadanya) :

       
       
    Selesai dari Tukad Unda, saya langsung ke Bridal Glamz untuk didandani. Kali ini saya akan mengenakan wedding gown. Wedding gown ini sudah saya pilih dua hari sebelum photo session.

    Wedding Gown Pilihan Saya

    Setelah dari Tukad Unda, saya baru ke Bridal Glamz untuk make up. Selesai make up, kami langsung menuju Monumen Perjuangan Bajra Sandhi di Denpasar.

    Monumen ini bagus, mirip candi dan kental sekali dengan etnik Bali. Sayangnya untuk photo session di sini kita harus rela mengeluarkan Rp 400.000,- Seharusnya bisa lebih murah sih tapi sayangnya fotografernya tidak mau membantu menawar.

    Berikut hasil foto di Monumen Bajra Sandhi :

       
        
       
    Selesai di Bajra Sandhi, saatnya main ke pantai. Saya berganti pakaian dengan gaun yang kainnya ringan supaya kelihatan bagus tertiup angin. Pilihan saya jatuh pada warna merah. Di sini saya retouch make up dan ubah sedikit gaya rambut. 

    Tujuan kami adalah camel riding di Hotel Nikko. Kebagian jam 14.30, hasil booking hari sebelumnya. Kalau mau foto di Hotel Nikko memang harus booking dulu. Oh iya, jangan kaget ya, kocek yang harus kita rogoh USD 65 untuk 1/2 jam photo session dengan unta. 

    Berikut hasil fotonya :

       

     

     
    Pohon tumbang di private beach Hotel Nikko memang iconic, bagus untuk dijadikan latar belakang foto. Overall, saya paling suka hasil foto-foto di Hotel Nikko ini sih.

    Next, hari sudah mulai sore, maka beranjaklah kami ke tujuan terakhir, yakni ke Pantai Tegalwangi di Jimbaran. Lokasinya dekat dengan Ayana Resort.

    Pemandangan di Tegalwangi memang bagus sekali. Pantainya bersih dan relatif sepi (namun ramai dengan orang-orang yang melakukan sesi prewedding photo). 

    Mari kita lihat bagaimana wujud Tegalwangi ini…