Sanggar Femi Salon – Perias Pengantin Sekitar Solo, Klaten, Yogyakarta

Memilih perias pengantin atau make up artist memang salah satu hal krusial bagi calon pengantin, terutama calon pengantin perempuan. Beragam referensi pun  dicari agar penampilan pada saat hari pernikahan menjadi maksimal.

Saya termasuk salah satu pengantin yang paling sulit menentukan pilihan untuk make up. Bila belum ada contoh hasil riasannya, saya tak berani memilihnya. Saya tinggal di Jakarta, merayakan resepsi pernikahan di Karawang, namun pilihan make up artist saya berasa dari Klaten. Membingungkan bukan?

Bukan berarti perias di Jakarta atau Karawang kurang bagus, bukan begitu, ini hanya masalah kecocokan. Saya percaya setiap make up artist pasti akan membuat pengantin terlihat lebih cantik pada saat hari pernikahannya. Setiap make up artist juga pasti memiliki ciri tersendiri dalam riasannya.

Bagi saya, saya percaya bahwa hasil riasan tiap make up artist pasti bisa membuat saya nampak berbeda di hari pernikahan saya. Namun, satu hal yang menjadi pertimbangan saya adalah bagaimana cara si perias membuat paes Solo di dahi saya. Terus terang, menemukan perias yang mahir membuat paes yang sesuai dengan bentuk wajah kita itu tidak mudah. Pun ada perias yang cocok dengan kemauan saya, harganya ternyata tidak cocok di kantong.

Singkat cerita, pilihan saya jatuh pada Sanggar Femi yang terletak di daerah Cawas, Klaten. Tempatnya terpencil, sangat jauh dari pusat keramaian, namun siapa sangka ada perias berbakat di daerah sana. 

Pemilik Sanggar Femi bernama Tina. Berawal dari pernikahan kakak sepupu tahun 2008 silam, saya sangat suka dengan hasil riasan Tina pada kakak sepupu saya. Awalnya saya belum terpikir untuk memakai jasa rias Tina, namun karena tidak menemukan perias yang cocok dengan selera saya di Karawang atau di Jakarta (baik jenis riasan atau harganya) maka saya pun memilih make up Sanggar Femi.

Soal harga, boleh diadu, lebih murah dibandingkan tarif di kota besar (padahal sudah termasuk ongkos jalan dari Klaten ke Karawang). Sekalian saja saya ambil paket lengkap rias pengantin beserta kelurga inti dan keluarga besar. 

Bagi yang berminat untuk memakai jasa Sanggar Femi dengan menghubungi Tina di 081548492717 (phone/text) dan 2A3E4F48 (BBM). Dan berikut hasil make up Tina. 

  

  
 

Review Dekorasi Pernikahan by Ming Art Gallery

Pernikahan saya sudah berlalu dua bulan lalu, namun saya belum sempat posting review soal vendor dekorasi pernikahan saya. Minggu kedua di bulan September, gedung serba guna Restoran Indo Alam Sari disulap Ming Art Gallery menjadi ruang pesta bernuansa putih, soft pink, dan fucshia, sesuai dengan permintaan saya.

Saya dan suami (yang kebetulan memakai pakaian adat Jawa) memang ingin sentuhan dekorasi tradisional yang ada sentuhan moderennya. Ming Art Gallery sukses mewujudkan keinginan kami itu. 

Dimulai dari pintu masuk, para tamu akan memasuki lorong berkain putih, pink, fucshia, di mana terdapat kotak angpao dan galeri foto prewedding kami. Kesan misterius masih melekat karena para tamu tidak langsung melihat dekorasi inti pelaminan dari lorog tersebut. Di Restoran Indo Alam Sari ini tipikalnya tamu akan langsung bisa melihat pelaminan saat memasuki ruang pesta di lantai 2. Jadi penggunaan lorong bisa mempermanis dekorasi agar tamu sedikit penasaran.   

   
Keluar dari lorong kain tadi, tamu juga tidak langsung berhadapan dengan pelaminan, melainkan jajaran standing flower dan beberapa foto prewedding. Jika tamu berbelok ke kanan, maka tamu akan melihat pelaminan. Jika tamu berbelok ke kiri, maka tamu akan langsung menuju tempat makanan.

 
Dekorasi pelaminan berupa gebyok putih bersih yang dihiasi dengan bunga-bunga segar di pelaminan. Ini yang saya suka dari Ming Art Galery, hampir seluruh bunga yang dipajang adalah bunga asli sehingga wanginya semerbak. Bunga palsu hanya berupa bola-bola bunga yang menghiasi mini garden. 

Kenapa saya pilih gebyok? Karena gebyok putih itu representasi dari tema javanese modern seperti kemauan saya dan suami.  Dari awal saya memang kurang suka apabila pelaminan didekorasi dengan kain-kain, jadi saya pilih gebyok.   

   Hasil pelaminannya bagus dan memuaskan, banyak bunga, dan diberi background lighting yang bisa berubah warna. Perubahan warna lighting itu bisa memeriahkan suasana dan tentunya bagus banget untuk difoto. 
Untuk vendor dekorasi pernikahan, saya tidak mensurvei vendor lain, langsung deal dengan Ming Art Gallery. Sebelumnya saya sudah sering memperhatikan dekorasi Ming Art saat datang ke resepsi teman-teman saya, makanya saya langsug tahu apa yang saya mau. 

Pemilik Ming Art cukup kooperatif. Saya sendiri lebih banyak komunikasi dengan anak si pemilik yang ikut mengelola usaha papanya ini. Kemauan kita bisa terakomodir dan terkadang muncul ide baru saat diskusi. 

Kalau tertarik menggunakan dekorasi Ming Art, langsung aja datang ke workshop nya di Niaga, Karawang. 

  
   

Bali Prewedding Photoshoot Session Is Done! (Tukad Unda, Monumen Bajra Sandhi, Hotel Nikko, and Tegalwangi Beach)

Hello bloggers!

Kali ini saya mau sharing soal pengalaman foto prewedding saya. Pilihan vendor akhirnya jatuh ke Ricky & Co Photography di Bali. Mengapa Bali? Karena alamnya yang memang indah, harga jasa penyedia prewedding photohoot di Bali relatif lebih murah. Bagi pecinta foto outdoor, layak untuk dicoba prewedding di Bali.

Ricky & Co Photography terletak di Jl. Pulau Kawe No. 35, Denpasar, Bali. Well, sejujurnya saat di sana saya tidak menginjakkan kaki di kantornya. Yang saya sambangi hanyalah rekanannya, Bridal Glamz, di situ saya melakukan make up.

Saya ambil paket foto prewedding full day 12 jam. Karena saya sudah deal dari tahun lalu, jadi saya cuma bayar Rp 15 juta (sudah termasuk kanvas ukuran 60 x 90 cm, magazine 60 halaman, sewa 1 baju pengantin + 1 baju pesta + make up). Foto-foto kita nanti dieditkan sebanyak 200 foto dan kita semua yang pilih.

Oke kembali ke topik. Sesi foto prewedding saya dilakukan tanggal 4 Mei 2015 dan dimulai pukul 06.00. Lokasi pertama saya yaitu air terjun Tukad Unda, Klungkung. Kurang lebih perlu waktu tempuh 1 jam dari Kuta. Saya berangkat pukul 05.00. Make up ala kadarnya saja karena ya make up artist-nya belum ready saat subuh.

Tukad Unda merupakan bendungan. Apabila difoto dari jarak jauh, terlihat seperti kita dilatarbelakangi air terjun. Tempatnya curam dan licin, jadi harus sangat berhati-hati. Oh iya untuk menggunakan lokasi ini sebagai latar foto, kita harus mengocek uang Rp 200.000,-

Berikut hasil foto di Tukad Unda (dengan make up seadanya) :

   
   
Selesai dari Tukad Unda, saya langsung ke Bridal Glamz untuk didandani. Kali ini saya akan mengenakan wedding gown. Wedding gown ini sudah saya pilih dua hari sebelum photo session.

Wedding Gown Pilihan Saya

Setelah dari Tukad Unda, saya baru ke Bridal Glamz untuk make up. Selesai make up, kami langsung menuju Monumen Perjuangan Bajra Sandhi di Denpasar.

Monumen ini bagus, mirip candi dan kental sekali dengan etnik Bali. Sayangnya untuk photo session di sini kita harus rela mengeluarkan Rp 400.000,- Seharusnya bisa lebih murah sih tapi sayangnya fotografernya tidak mau membantu menawar.

Berikut hasil foto di Monumen Bajra Sandhi :

   
    
   
Selesai di Bajra Sandhi, saatnya main ke pantai. Saya berganti pakaian dengan gaun yang kainnya ringan supaya kelihatan bagus tertiup angin. Pilihan saya jatuh pada warna merah. Di sini saya retouch make up dan ubah sedikit gaya rambut. 

Tujuan kami adalah camel riding di Hotel Nikko. Kebagian jam 14.30, hasil booking hari sebelumnya. Kalau mau foto di Hotel Nikko memang harus booking dulu. Oh iya, jangan kaget ya, kocek yang harus kita rogoh USD 65 untuk 1/2 jam photo session dengan unta. 

Berikut hasil fotonya :

   

 

 
Pohon tumbang di private beach Hotel Nikko memang iconic, bagus untuk dijadikan latar belakang foto. Overall, saya paling suka hasil foto-foto di Hotel Nikko ini sih.

Next, hari sudah mulai sore, maka beranjaklah kami ke tujuan terakhir, yakni ke Pantai Tegalwangi di Jimbaran. Lokasinya dekat dengan Ayana Resort.

Pemandangan di Tegalwangi memang bagus sekali. Pantainya bersih dan relatif sepi (namun ramai dengan orang-orang yang melakukan sesi prewedding photo). 

Mari kita lihat bagaimana wujud Tegalwangi ini…

  

    

Pantai Selatan Yogyakarta, Surga Tersembunyi di Pulau Jawa

Pantai-pantai di selatan Yogyakarta layak disebut sebagai surga tersembunyi karena hingga saat ini belum ada satu hotel berbintang pun yang dibangun di sana. Di sana hanya tersedia beberapa penginapan warga dengan harga yang relatif murah.

Beberapa pantai di selatan Yogyakarta yang indah luar biasa sebut di antaranya Sepanjang, Krakal, Indrayanti, dan Sundak. Tidak banyak orang tahu tentang keberadaan pantai-pantai tersebut kecuali orang Yogya atau mahasiswa luar koya yang bermukim sementara di Yogya.

image

Garis Pantai Sepanjang

Favorit saya adalah Pantai Sundak. Berbeda dengan pantai lainnya, ombak di Pantai Sundak relatif lebih bersahabat karena ada batu besar yang memecah ombak dari laut selatan sehingga ombak tersebut tidak terlalu besar saat tiba di pantai.

image

Pantai Sundak, Bagus Juga untuk Prewedding Photo Session

Seperti pantai selatan Yogya lainnya, Pantai Sundak memiliki pasir putih yang lembut namun sedikit kerikil. Waktu yang paling tepat mengunjungi Pantai Sundak adalah pagi hari saat matahari terbit. Anda bisa duduk-duduk di tepi pantai sambil menikmati datangnya ombak yang membasahi tubuh kita. Jangan khawatir untuk berbasah-basahan karena di Sundak sudah ada penyewaan toilet yang cukup bersih.

Bila datang ke Sundak pada siang hari menuju sore, tak perlu khawatir akan kepanasan. Di sana ada penyewaan payung-payung tepi pantai. Atau Anda juga bisa memilih untuk istirahat di bawah karang yang akan meneduhi Anda dari sinar matahari.

image

Berteduh di Bawah Karang Pantai Sundak

image

Siang Hari di Pantai Sundak

Menuju Pantai Sundak tidaklah sulit, namun memang tidak ada angkutan umum menuju ke sana. Dari arah Yogya, Anda hanya tinggal menuju terusan Pantai Parangtritis. Nanti di sana akan ada penunjuk jalan menuju Pantai Sundak, Pantai Indrayanti, Pantai Sepanjang atau Pantai Krakal.

Setidaknya setahun sekali saya mengunjungi pantai-pantai selatan ini. Jarang sekali ditemui keadaan pantai yang terlalu crowded. Semoga akan selalu menjadi seperti ini!

World Map Wedding Invitation

Memikirkan konsep undangan pernikahan yang merepresentasikan kedua belah pihak calon mempelai bisa dikatakan sulit. Karena pernikahan hanya terjadi sekali (amin), saya ingin wedding invitation card saya menggambarkan kepribadian dan cita-cita kami.

Awalnya saya dan pasangan sepakat bahwa warna undangan merupakan perpaduan warna kesukaan kami berdua, yakni biru dan merah. Kemudian setelah merenung, kami memikirkan kembali cita-cita hidup pernikahan kami berdua. Semua pasangan pasti ingin punya kehidupan bahagia dan dikaruniai anak-anak manis dan baik. Namun, itu saja tidak cukup bagi kami.

Kami berdua sama-sama penyuka travelling. Saat sudah menikah nanti, akan ada banyak waktu itu melakukan hobi kami tersebut. Maka dengan mimpi ingin bisa keliling dunia, kami memilih “world map” sebagai tema wedding card kami disertai dengan gambar ikon-ikon yang terkenal dari beberapa negara. Berikut penampakan wedding card kami (belum design final).

image

World Map Invitation Theme

Tema world map itu kemudian kami sempurnakan dengan kata-kata mutiara yang cukup cocok dengan temanya. “We are, each of us angels with only one wing and we can fly by embracing one another.” – Luciano de Crescenzo.

image

Ikon Bangunan di Beberapa Negara untuk Amplop

image

Postcard Invitation Style

Informasi Tambahan :
Nama vendor “Kudalaut Printing”
Jl. Duri Pasar No. 3, Tambora, Jakarta Barat
(021) 631 3343

Indahnya Pantai Tanjung Tinggi dan Pulau Lengkuas, Belitung

Masih di sekitar Sumatera, kali ini saya mau berbagi cerita tentang liburan saya ke Belitung. Bagi pecinta pantai, snorkeling, dan ketenangan, liburan ke Belitung layak dicoba. Belitung masih jauh dari hedonisme sehingga kita bisa menikmati pemandangan laut, laut, dan laut.

Hari pertama tiba di Belitung, saya dan kawan-kawan langsung menuju pantai Tanjung Tinggi. Kata orang, di sanalah tempat syuting Laskar Pelangi. Warna lautnya biru-kehijauan dan relatif dangkal. Pantai ini cocok sekali untuk berenang karena banyak bebatuan raksasa yang menahan ombak agar tidak terlalu besar di tepi pantai.

image

Batu-Batu Besar di Pantai Tanjung Tinggi

Bayangkan saya sudah berenang beberapa meter dari tepi pantai – tanpa menggunakan pelampung, namun saya masih bisa menapakkan kaki di dasarnya. Pantai Tanjung Tinggi membuat orang-orang betah berlama-lama berdiam diri di situ hingga matahari nyaris tenggelam.

Saya dan teman-teman meski kami sudah basah kuyup, tetap nekat naik ke batu sambil menunggu matahari tenggelam. Sayangnya baterai kamera sudah habis sehingga tidak bisa mengambil gambar matahari terbenam.

image

Bergaya di Antara Batu

image

Kita Bisa Berteduh di Bawah Batu

Keesokan harinya kami berkeliling pulau-pulau kecil Belitung. Ada satu pulau yang menarik minat saya, yakni Pulau Lengkuas! Di pulau ini berdiri mercusuar yang sudah tidak dipakai lagi. Dari atasnya kita bisa melihat keindahan perairan Belitung. Namun untuk menuju ke atasnya, kita harus menaiki ratusan anak tangga yang setara 15 lantai gedung bertingkat.

image

Mercusuar di Pulau Lengkuas

image

Pemandangan dari Puncak Mercusuar

image

Semua Serba Biru

image

Bagian Belakang Mercusuar yang Belum Banyak Pedagang

Untuk mengunjungi Belitung, lebih baik traveller memakai jasa tur karena di sana angkutan umum tidak ada dan penyewaan mobil pun terbatas. Saya memakai jasa tur Wisata Kita, hanya perlu membayar Rp 1,2 juta untuk 4 hari 3 malam (sudah include penginapan, mobil + driver + bensin, makan, sewa perahu, dan sewa alat-alay snirkeling).

Next time saya posting tempat lain di Belitung ya. Salam!

Wisata Kuliner Aceh dan Sabang

Setelah minggu lalu posted tentang serunya liburan di Pulau Weh-Sabang, kini giliran saya posting tentang kuliner Aceh dan Sabang. Hari pertama tiba di Aceh, kami tidak langsung menyeberang ke Sabang, namun menginap satu malam di Aceh.

Setelah mendarat, berhubung hari sudah sore dan perut sudah mulai merasa lapar, saya dan teman-teman ingin sekali mencicipi Mie Aceh yang emang beneran asli dari Aceh. Pergilah kami ke Kedai Razali, di sini Surganya Mie Aceh. Beragam mie rebus dan goreng aneka topping dijual di sini. Pengunjung bisa memilih campuran (topping) mie sesuai selera, ada udang, ayam, cumi-cumi, sapi, kambing, telur, dan lain-lain.

Saya sendiri memilih mie goreng kuah standar tanpa tambahan topping. Mie goreng kuah itu sekilas penampakannya mirip mie nyemek di Jawa. Harga seporsi mie standar hanya Rp 10.000,- saja. Apabila ada tambahan topping, harganya lebih mahal bisa mencapai Rp 25.000,-

image

Mie Aceh di Kedai Razali

Tak cukup hanya menyantap mie, lidah kami masih gatal ingin berwisata kuliner lainnya. Malamnya kami pergi ke Sate Matang. Sate Matang itu dagingnya sapi, disajikan dengan bumbu kacang dan kuah santan terpisah. Rasanya? Tak usah ditanya, enak sekali apalagi bila dipadukan dengan es jeruk murni.

Tak lengkap rasanya apabila ke Aceh tanpa menyeruput kopi khas Aceh. Malam itu juga kami mengunjungi Solong Coffee yang menjual aneka kopi khas Ulee  Kareng. Kopi yang terkenal di Solong adalah kopi sanger (sejenis kopi susu). Ada pula kopi hitam yang dicampur ikan teri yang sudah dihaluskan, rasanya pahit-manis-gurih menjadi satu. Andalan saya tetap teh tarik karena tak ada yang mengalahkan rasa teh tarik asli Sumatera. Harga minuman kopi dan teh di Solong Coffee berkisar antara Rp 6.000 – Rp 9.000.

image

Solong Coffee, Ulee Kareng

Mari beranjak dari Aceh dan menyeberang ke Sabang. Makanan yang paling saya suka adalah sate gurita. Salah satu tempat menjual sate gurita adalah Pulau Rubiah. Enak rasanya setelah lelah snorkeling langsung menyantap sate gurita yang empuk, disajikan dengan bumbu kacang pedas. Harga seporsi sate gurita adalah Rp 20.000,-. Selain di Pulau Rubiah, sate gurita juga bisa ditemukan di Pusat Jajanan Selera Rakyat, Sabang.

image

Sate Gurita

Makanan lain yang patut dicoba di Sabang adalah nasi lemak dan mie jalak, keduanya dapat ditemukan di toko Aneka Ria, Jalan Perdagangan, Sabang. Nasi lemak adalah semacam nasi uduk, disajikan dengan rendang ayam rasa pedas-asam-manis, telor, tumis tempe, dll. Mie jalak adalah mie semacam mie ayam namun kuahnya lebih sedikit, disajikan dengan telur dan daging olahan ikan atau seafood.

image

Mie Jalak

image

Nasi Lemak

Selain di Pujasera dan Toko Aneka Ria, ada satu tempat nongkrong (minum kopi dan makan) di Sabang yang jadi favorit saya dan teman-teman, yakni De Sagoe. Di sini sedia berbagai macam makanan, mulai dari nasi lemak, mie aceh, hingga pempek palembang. Kopi yang dijual pun lumayan enak. De Sagoe selalu ramai mulai dari jam makan pagi, jam makan siang, dan sore hari.

Satu hal yang perlu teman-teman ketahui, jam buka operasional rumah makan. Para pedagang makanan di Sabang buka dari jam 8 pagi hingga jam 1 siang. Selewat jam 1 siang, mereka akan tutup dan baru akan bukan jam 5 sore.

Bagi para pengunjung blog yang akan menungjungi Aceh atau Sabang, jangan lewatkan wisata kuliner sepeti yang saya ulas di atas. Terima kasih:)