Bali Prewedding Photoshoot Session Is Done! (Tukad Unda, Monumen Bajra Sandhi, Hotel Nikko, and Tegalwangi Beach)

Hello bloggers!

Kali ini saya mau sharing soal pengalaman foto prewedding saya. Pilihan vendor akhirnya jatuh ke Ricky & Co Photography di Bali. Mengapa Bali? Karena alamnya yang memang indah, harga jasa penyedia prewedding photohoot di Bali relatif lebih murah. Bagi pecinta foto outdoor, layak untuk dicoba prewedding di Bali.

Ricky & Co Photography terletak di Jl. Pulau Kawe No. 35, Denpasar, Bali. Well, sejujurnya saat di sana saya tidak menginjakkan kaki di kantornya. Yang saya sambangi hanyalah rekanannya, Bridal Glamz, di situ saya melakukan make up.

Saya ambil paket foto prewedding full day 12 jam. Karena saya sudah deal dari tahun lalu, jadi saya cuma bayar Rp 15 juta (sudah termasuk kanvas ukuran 60 x 90 cm, magazine 60 halaman, sewa 1 baju pengantin + 1 baju pesta + make up). Foto-foto kita nanti dieditkan sebanyak 200 foto dan kita semua yang pilih.

Oke kembali ke topik. Sesi foto prewedding saya dilakukan tanggal 4 Mei 2015 dan dimulai pukul 06.00. Lokasi pertama saya yaitu air terjun Tukad Unda, Klungkung. Kurang lebih perlu waktu tempuh 1 jam dari Kuta. Saya berangkat pukul 05.00. Make up ala kadarnya saja karena ya make up artist-nya belum ready saat subuh.

Tukad Unda merupakan bendungan. Apabila difoto dari jarak jauh, terlihat seperti kita dilatarbelakangi air terjun. Tempatnya curam dan licin, jadi harus sangat berhati-hati. Oh iya untuk menggunakan lokasi ini sebagai latar foto, kita harus mengocek uang Rp 200.000,-

Berikut hasil foto di Tukad Unda (dengan make up seadanya) :

   
   
Selesai dari Tukad Unda, saya langsung ke Bridal Glamz untuk didandani. Kali ini saya akan mengenakan wedding gown. Wedding gown ini sudah saya pilih dua hari sebelum photo session.

Wedding Gown Pilihan Saya

Setelah dari Tukad Unda, saya baru ke Bridal Glamz untuk make up. Selesai make up, kami langsung menuju Monumen Perjuangan Bajra Sandhi di Denpasar.

Monumen ini bagus, mirip candi dan kental sekali dengan etnik Bali. Sayangnya untuk photo session di sini kita harus rela mengeluarkan Rp 400.000,- Seharusnya bisa lebih murah sih tapi sayangnya fotografernya tidak mau membantu menawar.

Berikut hasil foto di Monumen Bajra Sandhi :

   
    
   
Selesai di Bajra Sandhi, saatnya main ke pantai. Saya berganti pakaian dengan gaun yang kainnya ringan supaya kelihatan bagus tertiup angin. Pilihan saya jatuh pada warna merah. Di sini saya retouch make up dan ubah sedikit gaya rambut. 

Tujuan kami adalah camel riding di Hotel Nikko. Kebagian jam 14.30, hasil booking hari sebelumnya. Kalau mau foto di Hotel Nikko memang harus booking dulu. Oh iya, jangan kaget ya, kocek yang harus kita rogoh USD 65 untuk 1/2 jam photo session dengan unta. 

Berikut hasil fotonya :

   

 

 
Pohon tumbang di private beach Hotel Nikko memang iconic, bagus untuk dijadikan latar belakang foto. Overall, saya paling suka hasil foto-foto di Hotel Nikko ini sih.

Next, hari sudah mulai sore, maka beranjaklah kami ke tujuan terakhir, yakni ke Pantai Tegalwangi di Jimbaran. Lokasinya dekat dengan Ayana Resort.

Pemandangan di Tegalwangi memang bagus sekali. Pantainya bersih dan relatif sepi (namun ramai dengan orang-orang yang melakukan sesi prewedding photo). 

Mari kita lihat bagaimana wujud Tegalwangi ini…

  

    

Pantai Selatan Yogyakarta, Surga Tersembunyi di Pulau Jawa

Pantai-pantai di selatan Yogyakarta layak disebut sebagai surga tersembunyi karena hingga saat ini belum ada satu hotel berbintang pun yang dibangun di sana. Di sana hanya tersedia beberapa penginapan warga dengan harga yang relatif murah.

Beberapa pantai di selatan Yogyakarta yang indah luar biasa sebut di antaranya Sepanjang, Krakal, Indrayanti, dan Sundak. Tidak banyak orang tahu tentang keberadaan pantai-pantai tersebut kecuali orang Yogya atau mahasiswa luar koya yang bermukim sementara di Yogya.

image

Garis Pantai Sepanjang

Favorit saya adalah Pantai Sundak. Berbeda dengan pantai lainnya, ombak di Pantai Sundak relatif lebih bersahabat karena ada batu besar yang memecah ombak dari laut selatan sehingga ombak tersebut tidak terlalu besar saat tiba di pantai.

image

Pantai Sundak, Bagus Juga untuk Prewedding Photo Session

Seperti pantai selatan Yogya lainnya, Pantai Sundak memiliki pasir putih yang lembut namun sedikit kerikil. Waktu yang paling tepat mengunjungi Pantai Sundak adalah pagi hari saat matahari terbit. Anda bisa duduk-duduk di tepi pantai sambil menikmati datangnya ombak yang membasahi tubuh kita. Jangan khawatir untuk berbasah-basahan karena di Sundak sudah ada penyewaan toilet yang cukup bersih.

Bila datang ke Sundak pada siang hari menuju sore, tak perlu khawatir akan kepanasan. Di sana ada penyewaan payung-payung tepi pantai. Atau Anda juga bisa memilih untuk istirahat di bawah karang yang akan meneduhi Anda dari sinar matahari.

image

Berteduh di Bawah Karang Pantai Sundak

image

Siang Hari di Pantai Sundak

Menuju Pantai Sundak tidaklah sulit, namun memang tidak ada angkutan umum menuju ke sana. Dari arah Yogya, Anda hanya tinggal menuju terusan Pantai Parangtritis. Nanti di sana akan ada penunjuk jalan menuju Pantai Sundak, Pantai Indrayanti, Pantai Sepanjang atau Pantai Krakal.

Setidaknya setahun sekali saya mengunjungi pantai-pantai selatan ini. Jarang sekali ditemui keadaan pantai yang terlalu crowded. Semoga akan selalu menjadi seperti ini!

World Map Wedding Invitation

Memikirkan konsep undangan pernikahan yang merepresentasikan kedua belah pihak calon mempelai bisa dikatakan sulit. Karena pernikahan hanya terjadi sekali (amin), saya ingin wedding invitation card saya menggambarkan kepribadian dan cita-cita kami.

Awalnya saya dan pasangan sepakat bahwa warna undangan merupakan perpaduan warna kesukaan kami berdua, yakni biru dan merah. Kemudian setelah merenung, kami memikirkan kembali cita-cita hidup pernikahan kami berdua. Semua pasangan pasti ingin punya kehidupan bahagia dan dikaruniai anak-anak manis dan baik. Namun, itu saja tidak cukup bagi kami.

Kami berdua sama-sama penyuka travelling. Saat sudah menikah nanti, akan ada banyak waktu itu melakukan hobi kami tersebut. Maka dengan mimpi ingin bisa keliling dunia, kami memilih “world map” sebagai tema wedding card kami disertai dengan gambar ikon-ikon yang terkenal dari beberapa negara. Berikut penampakan wedding card kami (belum design final).

image

World Map Invitation Theme

Tema world map itu kemudian kami sempurnakan dengan kata-kata mutiara yang cukup cocok dengan temanya. “We are, each of us angels with only one wing and we can fly by embracing one another.” – Luciano de Crescenzo.

image

Ikon Bangunan di Beberapa Negara untuk Amplop

image

Postcard Invitation Style

Informasi Tambahan :
Nama vendor “Kudalaut Printing”
Jl. Duri Pasar No. 3, Tambora, Jakarta Barat
(021) 631 3343

Indahnya Pantai Tanjung Tinggi dan Pulau Lengkuas, Belitung

Masih di sekitar Sumatera, kali ini saya mau berbagi cerita tentang liburan saya ke Belitung. Bagi pecinta pantai, snorkeling, dan ketenangan, liburan ke Belitung layak dicoba. Belitung masih jauh dari hedonisme sehingga kita bisa menikmati pemandangan laut, laut, dan laut.

Hari pertama tiba di Belitung, saya dan kawan-kawan langsung menuju pantai Tanjung Tinggi. Kata orang, di sanalah tempat syuting Laskar Pelangi. Warna lautnya biru-kehijauan dan relatif dangkal. Pantai ini cocok sekali untuk berenang karena banyak bebatuan raksasa yang menahan ombak agar tidak terlalu besar di tepi pantai.

image

Batu-Batu Besar di Pantai Tanjung Tinggi

Bayangkan saya sudah berenang beberapa meter dari tepi pantai – tanpa menggunakan pelampung, namun saya masih bisa menapakkan kaki di dasarnya. Pantai Tanjung Tinggi membuat orang-orang betah berlama-lama berdiam diri di situ hingga matahari nyaris tenggelam.

Saya dan teman-teman meski kami sudah basah kuyup, tetap nekat naik ke batu sambil menunggu matahari tenggelam. Sayangnya baterai kamera sudah habis sehingga tidak bisa mengambil gambar matahari terbenam.

image

Bergaya di Antara Batu

image

Kita Bisa Berteduh di Bawah Batu

Keesokan harinya kami berkeliling pulau-pulau kecil Belitung. Ada satu pulau yang menarik minat saya, yakni Pulau Lengkuas! Di pulau ini berdiri mercusuar yang sudah tidak dipakai lagi. Dari atasnya kita bisa melihat keindahan perairan Belitung. Namun untuk menuju ke atasnya, kita harus menaiki ratusan anak tangga yang setara 15 lantai gedung bertingkat.

image

Mercusuar di Pulau Lengkuas

image

Pemandangan dari Puncak Mercusuar

image

Semua Serba Biru

image

Bagian Belakang Mercusuar yang Belum Banyak Pedagang

Untuk mengunjungi Belitung, lebih baik traveller memakai jasa tur karena di sana angkutan umum tidak ada dan penyewaan mobil pun terbatas. Saya memakai jasa tur Wisata Kita, hanya perlu membayar Rp 1,2 juta untuk 4 hari 3 malam (sudah include penginapan, mobil + driver + bensin, makan, sewa perahu, dan sewa alat-alay snirkeling).

Next time saya posting tempat lain di Belitung ya. Salam!

Wisata Kuliner Aceh dan Sabang

Setelah minggu lalu posted tentang serunya liburan di Pulau Weh-Sabang, kini giliran saya posting tentang kuliner Aceh dan Sabang. Hari pertama tiba di Aceh, kami tidak langsung menyeberang ke Sabang, namun menginap satu malam di Aceh.

Setelah mendarat, berhubung hari sudah sore dan perut sudah mulai merasa lapar, saya dan teman-teman ingin sekali mencicipi Mie Aceh yang emang beneran asli dari Aceh. Pergilah kami ke Kedai Razali, di sini Surganya Mie Aceh. Beragam mie rebus dan goreng aneka topping dijual di sini. Pengunjung bisa memilih campuran (topping) mie sesuai selera, ada udang, ayam, cumi-cumi, sapi, kambing, telur, dan lain-lain.

Saya sendiri memilih mie goreng kuah standar tanpa tambahan topping. Mie goreng kuah itu sekilas penampakannya mirip mie nyemek di Jawa. Harga seporsi mie standar hanya Rp 10.000,- saja. Apabila ada tambahan topping, harganya lebih mahal bisa mencapai Rp 25.000,-

image

Mie Aceh di Kedai Razali

Tak cukup hanya menyantap mie, lidah kami masih gatal ingin berwisata kuliner lainnya. Malamnya kami pergi ke Sate Matang. Sate Matang itu dagingnya sapi, disajikan dengan bumbu kacang dan kuah santan terpisah. Rasanya? Tak usah ditanya, enak sekali apalagi bila dipadukan dengan es jeruk murni.

Tak lengkap rasanya apabila ke Aceh tanpa menyeruput kopi khas Aceh. Malam itu juga kami mengunjungi Solong Coffee yang menjual aneka kopi khas Ulee  Kareng. Kopi yang terkenal di Solong adalah kopi sanger (sejenis kopi susu). Ada pula kopi hitam yang dicampur ikan teri yang sudah dihaluskan, rasanya pahit-manis-gurih menjadi satu. Andalan saya tetap teh tarik karena tak ada yang mengalahkan rasa teh tarik asli Sumatera. Harga minuman kopi dan teh di Solong Coffee berkisar antara Rp 6.000 – Rp 9.000.

image

Solong Coffee, Ulee Kareng

Mari beranjak dari Aceh dan menyeberang ke Sabang. Makanan yang paling saya suka adalah sate gurita. Salah satu tempat menjual sate gurita adalah Pulau Rubiah. Enak rasanya setelah lelah snorkeling langsung menyantap sate gurita yang empuk, disajikan dengan bumbu kacang pedas. Harga seporsi sate gurita adalah Rp 20.000,-. Selain di Pulau Rubiah, sate gurita juga bisa ditemukan di Pusat Jajanan Selera Rakyat, Sabang.

image

Sate Gurita

Makanan lain yang patut dicoba di Sabang adalah nasi lemak dan mie jalak, keduanya dapat ditemukan di toko Aneka Ria, Jalan Perdagangan, Sabang. Nasi lemak adalah semacam nasi uduk, disajikan dengan rendang ayam rasa pedas-asam-manis, telor, tumis tempe, dll. Mie jalak adalah mie semacam mie ayam namun kuahnya lebih sedikit, disajikan dengan telur dan daging olahan ikan atau seafood.

image

Mie Jalak

image

Nasi Lemak

Selain di Pujasera dan Toko Aneka Ria, ada satu tempat nongkrong (minum kopi dan makan) di Sabang yang jadi favorit saya dan teman-teman, yakni De Sagoe. Di sini sedia berbagai macam makanan, mulai dari nasi lemak, mie aceh, hingga pempek palembang. Kopi yang dijual pun lumayan enak. De Sagoe selalu ramai mulai dari jam makan pagi, jam makan siang, dan sore hari.

Satu hal yang perlu teman-teman ketahui, jam buka operasional rumah makan. Para pedagang makanan di Sabang buka dari jam 8 pagi hingga jam 1 siang. Selewat jam 1 siang, mereka akan tutup dan baru akan bukan jam 5 sore.

Bagi para pengunjung blog yang akan menungjungi Aceh atau Sabang, jangan lewatkan wisata kuliner sepeti yang saya ulas di atas. Terima kasih:)

Berlibur ke Pulau Weh, Pulau dengan Kehidupan Sederhana

image

Dermaga Iboih Inn

Bila traveller yang menyukai kesunyian dan suasana damai, Pulau Weh adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi. Saya berkesempatan mengunjungi Pulau Weh pada tgl. 8-11 Februari 2015 silam. Saya bersama tiga kawan tiba di Banda Aceh hari sebelumnya dan memutuskan untuk bermalam sehari di Banda Aceh. Esok harinya kami baru menyeberang ke Pulau Weh dengan menggunakan kapal cepat pukul 10.30 WIB.

Ada baiknya bila mengunjungi Pulau Weh, Anda memastikan moda transportasi untuk di sana dan booking penginapan terlebih dulu. Tiba di Pulau Weh, saya sudah ditunggu supir yang akan mengantarkan saya ke penginapan, yakni Iboih Inn. Iboih Inn tidak berada di tepian jalan raya, namun di hutan kecil yang langsung menghadap perairan antara Pulau Weh dan Pulau Rubiah. Untuk menuju Iboih Inn, kami harus menumpang boat kecil yang dari Teupi Ayeuh ke Iboih Inn. Jarak tempuhnya tidak jauh, kurang lebih 5-10 menit. Untuk mencapai Iboih Inn bisa juga jalan kaki menyusuri hutan kecil dengan jalan setapak sekitar 500-700 meter.

image

Restoran dan Reservasi Iboih Inn

Di sekitar Iboih Inn banyak penginapan yang setipe dengan Iboih Inn, yaitu cottage seperti rumah panggung, namun sejauh pengamatan saya, hanya Iboih Inn yang memiliki dermaga yang menjorok ke laut. Fasilitas di kamar cukup nyaman dengan tempat tidur berkelambu, air minum, AC, dan kamar mandi yang bersih, tapi jangan harap ada TV karena memang Iboih Inn didesain untuk orang-orang yang suka tempat sunyi. Sekedar pemberitahuan, Iboih Inn tidak menerima calon penghuni bukan muhrim untuk tinggal sekamar.

Tiba di Iboih Inn, mata saya langsung berbinar-binar, tidak sabar ingin langsung menceburkan diri ke air yang super bening. Hari itu kami langsung snorkeling ke Pulau Rubiah (seberang Iboih). Karang bawah lautnya dan ikan-ikannya, tak perlu ditanya, indah sekali. Setelah puas snorkeling di Rubiah, jangan lupa membeli sate gurita yang sangat lezat. Ada beberapa pedagang sate gurita di Rubiah sana.

image

Pemandangan Bawah Laut Pulau Rubiah

Selesai dari Pulau Rubiah, saya masih tergoda untuk berenang di depan Iboih Inn yang membuat kita merasa memiliki nature’s pool sendiri. Setelah puas berenang, saya berleha-leha di kursi malas depan Iboih Inn, menikmati pemandangan hingga matahari terbenam. Makan malam saya pesan di Iboih Inn karen tak mungkin berwisata kuliner ke pusat kota Sabang yang berjarak 30 km dari Iboih.

image

Nature's Pool Depan Iboih Inn

image

Kolam Alami di Depan Iboih Inn

Malam pun tiba, suasana makin sepi dan sunyi, namun kami menikmati kesunyian di kamar kami dengan perasaan seperti punya rumah di hutan kecil tepi pantai. Asyiknya, di setiap kamar tersedia hammock untuk bersantai sehingga kami bisa sekedar bermasal-malasan membaca buku sambil berayun di hammock.

Keesokan harinya kami check out dan berpindah ke daerah Sumur Tiga, yang dekat dengan pusat kota Sabang. Hotel yang kami tuju adalah Freddie’s Santai Sumur Tiga, yang punya adalah orang bule Australia. Bentuk penginapannya didesain agar para tamu merasakan homey.

Jangan melewatkan makan malam di Freddie’s karena Mr. Freddie menyajikan makanan yang sangat beragam, mulai dari Eropa, Amerika Selatan, Timur Tegah, dan Indonesia. Lucunya semua tamu diharapkan sudah berkumpul pukul 20.30 di ruang makan. Mr. Freddie akan menyapa semua tamu dan menjelaskan menu apa saja yang tersaji hari itu. Sungguh menyenangkan!

image

Dining Room Ambience at Freddie's Santai

image

Pagi hari adalah surganya sunrise di Sumur Tiga. Bangunlah pukul 06.00 WIB untuk bersantai di pantai dan menyaksikan sunrise. Pantai Sumur Tiga tak kalah bagusnya dengan Pantai Iboih, namun pantai di sini tidak cocok untuk snorkeling karena berhadapan langsung dengan laut lepas yang ombaknya sangat kencang.

image

Pemandangan Laut dari Dalam Kamar di Freddie's

Masih ada tempat wisata lain di Sabang, di antaranya Volcano Berapi, danau, tempat pemandian air panas, dan beberapa pantai lainnya tapi tempat wisata tersebut tidak terlalu nyaman untuk dikunjungi.

Bila sore tiba, sempatkan mampir ke Sabang Fair, tempat berkumpulnya masyarakat Sabang sambil menyongsong sunset. Di sana ada taman yang ramai dikunjungi karena terdapat banyak tukang makanan. Sambil menikmati snack sore, menyenangkan rasanya duduk di gasebo tepian pantai.

Sekian share saya tentang Pulau Weh! Selamat berkunjung ke Sabang!

*) Informasi Tambahan :
Iboih Inn (iboih.inn@gmail.com), harga Rp 450 ribu/ malam untuk 2 orang. Include breakfast.
Freddie’s (santaisumurtiga@yahoomail.com.au), harga Rp 365 ribu (untuk 3 orang) tidak include breakfast, dinner Rp 64 ribu.
Sewa Mobil Bang Arphen 085260106230, harga Rp 350 ribu/ hari.

What A Great View from Cimory Riverside

image

Makan Sambil Melihat Pemandangan Riverside

Sabtu lalu  gue dan pacar memutuskan untuk jalan ke Puncak karena bosan dengan tempat-tempat hiburan yang ada di Jakarta. Kita berangkat dari Jakarta sekitar jam 6.30 pagi. Awalnya berharap jalan bakal lancar. Emang lancar sih pada awalnya, tapi begitu liat belokan tol menuju Puncak udah super padat merayap, kita bablasin aja lewat Ciawi. Ternyata sodara-sodari, jalanan lancar jaya!

Sampai di Cimory Riverside gitu kira-kira udah jam 9.30, restonya sih udah buka tapi masih dalam tahap siap-siap gitu deh. Kita tetep masuk aja, liat-liat toko cokelat dan supermarketnya. Baru jam 10.00 kita masuk ke resto dan pesan makanan. Sebenarnya sih makanannya biasa banget dan harganya lumayan mahal juga. Hal yang bikin kunjungan ke sana jadi berharga ya karena pemandangan tepi sungainya yang masih tergolong jernih itu ya. Beruntung banget datang pas jam buka resto karena kita bisa pilih tempat di balkon yang menghadap langsung ke sungai.

Di sisi lain sungai itu ada pepohonan serba hijau, nggak tepat sih kalau disebut hutan,mungkin hutan mini kali ya. Sekitar 15 menit, pesanan kami datang. Lebay sih, tapi damai aja rasanya makan sambil lihat pemandangan yang hijau-hijau dan ngedengerin suara gemericik air sungai, setelah sehari-hari cuma liatin macetnya Jakarta.

Setelah makan, kita memustuskan buat beli oleh-oleh buat keluarga di rumah. Wuih, kalap banget waktu lihat deretan susu segar, yoghurt, dan aneka makanan olahan di sana, kepingin beli semua. Akhirnya gue beli beberapa botol yoghurt, susu, dan sosis plus nugget yang variatif rasanya.

Jam 11.00 teng kita berencana pulang lagi ke Jakarta.Tapi ternyata jalanan udah dijadikan 1 arah yg mana berarti kami gak bisa balik ke Jakarta. Mau gak mau ya ngikutin arus. Akhirnya kita terus jalan aja sampe ke Padalarang. Hiks jalan pulangnya bener-bener penuh perjuangan.