Interview dengan Ivone Terik

WAWANCARA

Ivone Terik:

“Kapan Kita Punya Waktu untuk Mendidik Anak Jalanan?”

Rumah yang dibangun dari kayu, bambu, dan seng itu terletak di tepi Kalimalang, tepatnya di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur No. 30 RT 7 RW 1, Cipinang Melayu Jakarta Timur 13620. Dari bangunannya saja, orang sudah akan tahu siapa penghuninya. Kurang lebih 80 anak jalanan menghuni tempat itu. Rentang usia anak-anak yang tinggal di sana kira-kira dari lima hingga duapuluh tahun. Saya berjalan memasuki pekarangan rumah itu pukul 14.00 WIB pada tanggal 30 Desember 2007.

Di bagian depan rumah “mewah” itu, ada sebuah patung lebah raksasa yang terbuat dari gabus. Di belakang lebah itu ada sebuah jalan masuk yang menuju perpustakaan. Dari jalan masuk itu, seorang gadis berusia kira-kira 14 tahun keluar menyambut saya.

“Patung itu namanya ‘Pulen’, lambang Sanggar Akar,” ujar gadis yang bernama Seti itu. Saya diajak masuk olehnya ke rumah singgah yang bernama Sanggar Akar itu. Perpustakaan itu berisi ribuan buku yang sebagian besar jilidannya sudah rusak. Di belakang perpustakaan, terhampar aula yang sebesar setengah lapangan bulu tangkis.

Anak-anak remaja yang berada di aula sedang berlatih bernyanyi dan bermain alat musik sederhana. Penampilan mereka berantakan, sebagian beranting, dan sebagian bertato. Walau penampilan mereka seperti itu, mereka mampu tersenyum ramah pada saya. Di sekeliling aula ada ruang-ruang yang rupanya kamar anak-anak tersebut.Ini hanya sebagian wajah anak-anak pinggiran di Jakarta, yang sedikit beruntung karena mendapat pendidikan.

Sanggar Akar, mereka sebut sebagai sebuah universitas, dan anak-anak itu mahasiswanya. Guru-guru berdatangan silih berganti untuk mengajar mereka. Sanggar Akar sebagai media belajar dan bermain. Karlina Leksono-Supelli dalam pengantar buku Jurnalisme Anak Pinggiran (1999) mendefinisikan anak pinggiran sebagai, “Anak-anak yang oleh sesuatu sebab tidak mendapatkan tempat yang layak dalam derasnya arus kehidupan. Mereka adalah semua anak yang entah alasan ekonomi, sosial, budaya, dan politik telah kehilangan hak-hak dasarnya sebagai anak”.

Tidak banyak orang yang mau mengorbankan sebagian besar waktunya untuk mengurus anak-anak jalanan. Kalau pun ada, biasanya mereka diberi imbalan atau gaji yang pantas. Ivone Terik (31) termasuk orang yang mau berkorban untuk mengurus anak-anak jalanan di Sanggar Akar. Mbak Ivone, begitu anak-anak memanggilnya, adalah salah pendiri dan penanggung jawab Sanggar Akar. Mbak Ivone yang seorang lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini memilih tidak meneruskan pekerjaan di bidang hukum, tetapi bergelut dengan dunia anak jalanan. Saya diajak masuk ke kantornya. Di situlah saya, wartawan Intisari, mewawancarai Mbak Ivone.

Bagaimana latar belakang keluarga Anda?

Saya anak ketiga dari enam bersaudara. Ayah saya berasal dari Kepulauan Rote, Nusa Tenggara Timur. Kalau ibu dari desa di Manado. Akan tetapi, dari kecil saya tinggal di Jakarta, lahir juga tahun ’66 di Jakarta. Saya belum pernah ke Rote atau ke Manado, soalnya nggak punya duit (tertawa). Tahun ’99 saya nikah. Mulai tahun 2002, saya tinggal sama ibu di daerah Gadok Jakarta. Anak saya umurnya lima tahun sekarang.

Bagaimana riwayat formal pendidikan Anda?

Sejak TK hingga SMA, saya bersekolah di Jakarta. Lulus SMA, tuh, tahun 1985. Sesudah itu, saya melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Habis lulus, sekitar tahun 1992, saya masuk ke low firm dan pekerjaan saya melegalisir barang-barang bukti kalau ada kasus-kasus. Karena pekerjaan saya itu, saya dijuluki tukang pos. Setelah itu, saya diajak ke Bantargebang dan masuk ke Institut Sosial Jakarta (ISJ). Saya di bagian Biro Hukum waktu itu. Saya menangani kasus anak-anak jalanan dan buruh. Tapi saya ngerasa belum diterima dan nggak nyaman di bidang itu.

Mengapa Anda tidak meneruskan bekerja di bidang hukum?

Saya tidak mau meneruskan sebagai pengacara atau notariat. Saya belajar hukum sebagai ilmu saja dan tidak berharap lebih. Saya nggak sreg dengan dunia hukum. Dunia itu terlalu keras bagi saya. Hukum itu bisa dibeli, tersangka bisa bebas jika memberi uang kepada jaksa atau hakim. Saya sendiri menyaksikan itu. Saya lebih suka bekerja untuk mengentaskan kehidupan anak-anak pinggiran. Cita-citaku adalah agar sanggar ini menjadi tempat yang bisa mendidik anak dengan pengorganisasian yang lebih rapi. Saya harap sangar memiliki guru-guru yang lebih jelas. Harus ada yang mendampingi anak-anak selama tujuh ahri tujuh malam.

Sejak kapan Anda bergabung dengan Sanggar Akar? Awalnya bagaimana?

Nah, waktu itu, kan, saya gabung di Biro Pendampingan Pekerja Kota, menangani kasus korupsi. Di situ saya ketemu senior-senior saya sewaktu kuliah dulu. Ada beberapa yang mengajak saya ke Bantargebang untuk melihat kehidupan anak-anak jalanan. Mulai tahun 1994 Sanggar Akar terbentuk, masih dalam naungan ISJ waktu itu dan ikut Romo sandyawan juga. Pendirinya itu ada Karyo, Agus, Ivon, Deby, dan Jupri. Tahun 2000 Sanggar Akar pisah dari ISJ dan berdiri sendiri.

Mengapa pisah dari ISJ?

Ya, supaya bisa lebih fokus ke anak-anak jalanan. Membuka kesempatan juga kepada masyarakat agar bisa berinteraksi. Kalau masih gabung dengan LSM, kan, lebih rumit. Setelah lepas dari ISJ, kami nggak punya fan link tetap, kami harus cari sendiri. Sumber pendapatan kami juga tidak tetap. Kami sendiri lebih senang disebut gerakan pendidikan.

Bagaimana mengenai pendapatan Anda, apakah sudah mencukupi?

(Tertawa) Di sini namanya tunjangan. Ada juga uang transportasi, uang makan, dan uang hiburan. Kalau ada sisa uang kebutuhan anak-anak, ya, dikasih tunjangan. Kalau nggak ada, ya, nggak dikasih. Misalnya, tunjangan September 2006 baru dikasih Februari 2007. Sekarang harusnya terima tunjangan bulan November 2007, tetapi baru diberi tunjangan yang bulan Oktober 2007. Pemberian tunjangan jumlahnya tidak konstan, berubah-ubah. Saya yang selalu menerima tunjangan pertama kali karena saya punya anak. Pengurus lain mengalah. Deby, kan, masih punya rumah di Jakarta. Sedangkan Karyo, Agus, dan Jupri, kan, masih tinggal di sanggar.

Anda tidak keberatan dengan kehidupan Anda sekarang?

Saya sama sekali tidak keberatan. Saya dan suami saya belajar untuk tidak konsumtif. Kami tidak membeli hal-hal yang tidak perlu, bahkan buku pun tidak. Padahal dahulu saya sangat suka membaca. Memang harus ada yang dikorbankan dalam kehidupan saya. Saya nggak malu bila ada yang memberi uang.

Tidakkah Anda ingin menjalani kehidupan normal?

Mungkin bagi orang lain, hidup yang normal adalah pekerjaan yang memadai, gaji yang konstan, dan bisa memperhatikan keluarga. Bagi saya, inilah kehidupan normal. Saya dan suami nggak mau kerja di bawah orang.Kalau mau hidup normal, kita harus menjadi bos dalam kehidupan kita. Semua harus diusahakan sendiri. Saya normal karena saya punya anak, saya seorang ibu. Saya juga nggak selalu membebasakan anak. Namun saya juga punya ruang berpisah dengannya, itu saja.

Anda berada di sanggar untuk waktu berapa lama dalam sehari dan dalam seminggu?

Saya di sini sebagai pendamping, di samping juga pengurus. Saya ceritakan sedikit, tahun ’99 setelah sebulan menikah, saya sempat keguguran. Saya sempat diberi kesempatan beristirahat selama setahun sehabis melahirkan dulu. Oh, iya, mulai tahun 2002, anak-anak dikasih tanggung jawab lebih, tidak lagi seenaknya. Itu untuk memberikan ruang lebih pada para pendamping untuk mengembangkan diri. Mulai tahun 2004, para pengurus punya tugas pengembangan di tempat lain. Jadi, itu supaya pengurus nggak punya kesempatan mengembangkan diri melalui kegiatan lain, nggak melulu mengurusi persoalan sanggar. Saya sendiri berada di sanggar tiga kali seminggu untuk menghemat ongkos.

Tidak pernahkah keluarga komplain karena kesibukan Anda di sini?

Suami, sih, nggak keberatan dengan kegiatan saya. Soalnya saya dan suami saya punya minat yang sama. Kalau anak saya memang sering nangis. Pernah sewaktu anak saya berulang tahun, dia bilang begini, “Ibu, aku mau hadiah dari Ibu. Ibu jangan pergi kerja hari ini.” Itu diucapkan sambil bercanda, namun saya tahu dia sedang kangen sama saya. Lalu saya bilang, “Ibu tahu kamu kangen. Ibu juga kangen sama kamu.” Anak saya paling membutuhkan saya kalau sakit dan saya pun nggak tega ninggalin dia. Saya dan suami saya bergantian antar-jemput anak saya ke sekolah.

Anak jalanan, kan, seringkali dianggap sebagai anak kasar, tidak berpendidikan, dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Bagaimana cara pendekatan terhadap mereka untuk meyakinkan bahwa niat Anda baik?

Pendekatan saya dahulu bersama teman-teman lewat kasus anak-anak jalanan sewaktu masih di Biro Hukum ISJ. Kami mendatangi anak-anak, berbagi dengan mereka, mendengarkan cerita mereka. Bahkan kami menyewa rumah bersama. Nah, pada tahun 2000 itu, kami mengambil advokasi untuk mereka, tetap tetap mengutamakan pendidikan, kerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Kami menawarkan bantuan untuk anak-anak jalanan, kami ajak ke teman-teman kami yang mau memberi bantuan. Kami memiliki komunitas basis dengan anak-anak jalanan di Penas, Cakung, Bantargebang.

Apakah masyarakat tidak curiga terhadap kegiatan ini? Atau mungkin ada yang tidak percaya?

Pada awalnya dulu, masyarakat sangat tidak percaya pada kami. Sudah lima kali kami pindah, di Kalimalang ini kelima kalinya kami pindah. Masyarakat tidak terima dengan kondisi anak-anak jalanan ini. Pertama di Kampung Jembatan, kami tidak dianggap oleh warga. Mereka tidak suka penampilan anak-anak yang berantakan, yang bertato. Sewaktu kami bertempat di Jalan Yahya, kami diusir. Anak-anak memang mencuri dari warga. Mereka maling. Kami diusir dengan cara diarak, benar-benar dipaksa keluar dari kompleks mereka (tertawa). Lalu pernah juga di Jalan Usaha 3 dan di Bantargebang. Baru setelah itu di sini.

Bu Ivone, mengapa anak-anak tersebut mencuri? Apakah kurangnya kontrol dari para pengurus?

Kenapa mereka mencuri? Karena mereka menginginkan sesuatu namun tak terbeli. Mereka sangat kesulitan mencari uang. Di sanggar juga tak pernah ada aturan. Lihat saja di dinding-dinding kami, tidak ada larangan seperti “Dilarang Merokok!”. Tidak mudah bagi kami untuk mengeluarkan anak dari sanggar. Itu keputusan yang berat. Ada juga yang pernah terlibat kasus narkoba, kami memberi mereka peringatan. Kadang-kadang teman-teman mereka sendiri yang dengan tegas memutuskan apakah si A sebaiknya dikeluarkan atau dipertahankan. Kami akui, sebagai pengurus, kami memang kurang tegas. Menurut kami, jika anak-anak bermasalah tidak diberi kesempatan, bagaimana mereka bisa berubah? Kalau sekarang, sih, sudah ada sanksi.

Apakah ada pembatasan umur anak-anak penghuni sanggar?

Keputusan batasan umur baru aja diterapkan. Dulu belum ada. Kami tidak menerapkan batasan umur karena kami bukan pekerja sosial, kami melihat dari sisi kemanusiaan. Kami melihat apa yang mereka inginkan. Dulu kami nggak berani menentukan batasan usia sebab kami berpikir, “Emang kita sudah ngasih apa ke mereka?” Baru pada tahun 2002, kami berani menentukan fase—kami tidak menyebut usia. Ada fase lembut untuk anak-anak SD. Ada fase tanggung yang terdiri dari anak berusia 14 sampai 17 tahun, mereka yang memegang organisasi. Kemudian yang terakhir fase transisi, dari umur 18-20 tahun, mereka harus sudah mandiri pada usia itu. Jika memang ada anak yang mau menjadi pengurus sanggar, mereka harus diseleksi. Beberapa fasilitator di sini, kan, berasal dari anak-anak sanggar dulunya.

Pendidikan apa yang diberikan untuk anak-anak jalanan ini?

Pendidikan kami berikan dari segi kognitif, rasa, dan sikap. Anak-anak sanggar yang berada di komunitas basis belajar baca, hitung, dan tulis. Kalau yang berada di komunitas sanggar, mereka diajarkan secara akademis. Akademis di sini diaplikasikan dalam kegiatan refleksi dan eksplorasi. Mereka dibimbing untuk bermain teater, bermain musik, mempelajari penyusunan data dan penulisan, ketrampilan tangan, kepustakaan, dan organisasi. Ada organisasi Dewan Korrdinasi Anak (DKA) yang diurusi oleh anak fase tanggung. Anak-anak sudah dua kali rekaman, terakhir tahun 2001. Setelah itu kami nggak pernah rekaman lagi, nggak ada duit juga (tertawa). Nanti tanggal 8 Desember mereka akan tampil di acara Nokia yang merangkul musisi-musisi jalanan. Sedangkan untuk pementasan teater, kami menyiapkan semuanya sendiri. Alat-alatnya pun kami buat dari barang-barang bekas. Biasanya kami tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Dari mana sumber dana untuk membiayai anak-anak?

Mereka, kan, juga bekerja. Jika tabungan mereka mencukupi, ya, mereka membayar sendiri. Akan tetapi, banyak anak di sini sudah menjadi tulang punggung keluarga, jadi kami yang mencarikan dana. Kami harus berpikir keras untuk mendapatkan uang sebab kami tidak seperti LSM. Sumber dana kami tidak tetap. Cukup banyak yang mau menyumbangkan alat-alat tulis. Lalu kami juga punya Lingkar Sahabat Akar yang senantiasa membantu. Sahabat Akar ini yang suka memberikan pelatihan bagi anak-anak. Ada beberapa nama yang aktif di sanggar: Agung Ayu Ratih, Agung Putri, Arswendi Nasution, Dolorosa Sinaga, Erlyni Rosalinda, Hilmar Farid, Karlina Leksono Supelli, Roni Polluan, Susilo Adinegoro, Maria Hartiningsih, dan lain-lain.

Anak-anak jalanan penghuni sanggar berasal dari berbagai agama?

Nggak. Setahu saya, mereka semua beragama Islam.

Anda sendiri Katolik, bukan?

Ya, saya Katolik.

Sebagai orang Katolik, adakah dorongan-dorongan internal, seperti motivasi keagamaan ketika Anda mengurusi dunia anak jalanan?

(Tersenyum) Pada dasarnya, keluarga besar saya berasal dari agama yang beragam. Orang tua saya Katolik dan saya menjadi Katolik sudah sejak kecil. Di keluarga saya, kami tidak terlalu diajar untuk selalu ke gereja. Orang tua saya selalu mengajarkan bahwa semua manusia baik, jangan melihat dari agama saja. Saya melihat anak-anak ini sebagai korban harus mendapat perhatian. Katolik sendiri, kan, artinya umum. Jadi, semestinya orang Katolik nggak menarik diri dari lingkungan sekitar. Mereka harus terbuka pada perbedaan. Justru sifat orang Katolik yang eksklusif yang harus dipertanyakan. Orang Katolik harus mengutamakan solidaritas, jujur, dan penuh kasih.

Apa tidak ada konflik batin atau jarak antara Anda dengan anak-anak ini, mengingat Anda berbeda keyakinan dengan mereka?

Nggak pernah ada konflik batin. Di sini, yang ada terjadinya dialog antara saya dengan anak-anak. Banyak anak yang sejak kecil hingga besar tumbuh di sanggar, dan mereka umumnya tidak berasal dari keluarga yang fanatik. Saya nggak lihat mereka berbeda. Justru mereka merasa berbeda bukan dari segi agama. lebih kepada sesuatu yang begini, “Mbak Ivone itu punya keluarga jelas. Hidupnya lebih enak.” Kalau di komunitas basis, dialog yang terjadi lebih tajam. Ada orang politik yang pernah bertanya, ”Mbak Ivone Islam atau Katolik?” Saya menjawab, “Saya Katolik, tapi itu nggak penting. Saya milih PPP, kok.” Dengan begitu masalah kelar dan saya memang memilih PPP.

Pernahkah menghadapi prasangka pelik atau tuduhan pelik seperti misi kristenisasi?

Iya, pernah dan itu sangat wajar. Biasanya isu tersebut berasal dari orang yang berkepentingan di politik. Dulu pernah sewaktu di Haji Yahya pernah diajari lagu-lagu Kristen yang ada Yesusnya (tertawa). Jelaslah warga marah. Akan tetapi, biasanya yang menjelaskan warga sendiri mengenai kegiatan kami. Ada beberapa warga yang tahu niat kami, kemudian memberitahu warga lain bahwa misi kami bukan kristenisasi. Pernah ada yang bertanya, “Mbak Ivone agamanya Kristen, ya?” Lalu saya balikkan, ”Emang kenapa kalau saya Kristen. Emang kalau saya Kristen kamu nggak mau berteman dengan saya?” Dengan begitu suasana biasanya menjadi lebih cair. Isu misi kristenisasi itu sengaja ditiupkan oleh kelompok kepentingan tertentu.

Pernahkah ada rencana untuk membuka sanggar lain seperti ini?

Ya, tentu pernah. Jupri sedang mengembangkan sanggar seperti ini di Malang. Karyo sedang membangun di Klaten. Sejak April 2007, di Sanggar Akar hanya ada Ivone, Deby, dan Agus.

Yang di Klaten dan di Malang akan dinamakan sama?

Karyo dan Jupri istilahnya sudah memiliki ternak sendiri. Mereka mengembangkan sendiri. Karyo dan Jupri benar-benar cari uang sendiri. Saya dengar yang di Klaten namanya Lare Mentas.

Setelah semua yang Anda lakukan untuk anak-anak jalanan, pernahkah Anda mengharapkan apresiasi dari masyarakat?

(Tertawa) Apresiasi masyarakat pada kami tahun 1992 dulu adalah kami-kami ini dianggap sebagai pahlawan kesiangan. Saat itu LSM tidak dianggap. Sejak tahun 1997, apresiasi masyarakat tinggi. Kesadaran masyarakat untuk membangun gerakan di luar pemerintah semakin tinggi. Mereka tidak bisa terus-menerus bergantung pada pemerintah. Dan pemerintah sendiri juga tidak sanggup mengatasi semua permsalahan sendiri. Sekarang gaji orang-orang LSM tinggi, tetapi tetap saja mereka mengeluh bahwa gaji mereka lebih kecil dari LSM luar negeri. Padahal gaji mereka sudah tujuh juta!

Apa kritik Anda terhadap LSM-LSM seperti itu?

Seperti bantuan bencana di Aceh, itu nggak perlu dikritik. Harusnya masyarakat yang melihat hal itu. Kalau kami dulu mengembangakan usaha lewat Komiski—Koprasi Miskin Kita (tertawa). Kalau kami butuh uang, ya, kami usahakan sendiri. Terkadang tunjangan kami berlima dipotong untuk membeli alat-alat sanggar. Kami nggak mau berhenti karena alasan kekurangan dana. Ada LSM yang berhenti karena kekurangan dana.

Tanah di Inpeksi Jatiluhur ini, saya dengar masih menyewa? Apa tidak ada ketakutan suatu saat akan digusur?

Dulu menyewa tapi sejak tahun 2002, tanah ini sudah menjadi milik Sanggar Akar. Kami juga dengar kabar bahwa akan ada penggusuran tahun depan. Kami, sih, percaya saja bahwa kami bisa lalui itu. Asal kami yakin dan bergerak, pasti ada jalan. Dari dulu kami sudah terbiasa dengan pengusiran. Selama masih ada teman-teman kami yang siap membantu, kami tidak terlalu khawatir. Yang paling utama, anak-anak akan balik ke basis-basis terlebih dahulu. Barang-barang bisa dititipkan ke rumah-rumah para sahabat Akar.

Menurut Anda, sudahkah pemerintah memberikan perhatian untuk anak-anak jalanan, khususnya untuk Sanggar Akar?

Nggak pernah ada perhatian dari pemerintah. Mereka itu justru cenderung menyingkirkan kami. Program-program mereka yang berkenaan dengan anak jalanan hanya untuk kepentingan mereka saja. Misalkan proyek rumah singgah tahun 2002, hal itu direalisasikan tetapi tidak ada pendampingan, sama saja bohong. Seharusnya anak-anak itu tetap harus didampingi agar mereka bisa berubah menjadi lebih baik. Solusi dari pemerintah waktu itu ada pendidikan gratis. Namun tetap saja, proyek tersebut kalau ada uang, ya, jalan, kalau nggak ada uang, ya, mandheg. Biasanya, kan, seperti itu. Sanggar Akar nggak mau seperti itu. Pendidikan untuk anak jalanan harus diteruskan, meskipun jumlah dana tidak menentu.

Selama ini bagaimana dukungan masyarakat pada anak-anak jalanan?

Masyarakat dahulu menganggap anak-anak jalanan sebagai sampah masyarakat yang mengotori kota. Namun, sekarang mereka lebih ngeliat anak-anak jalanan sebagai korban dari pemerintah. Banyak yang sudah mau memberikan bantuan. Sanggar Akar sendiri memiliki Perkumpulan Sahabat Akar, mereka kumpulan masyarakat yang peduli masa depan anak-anak pinggiran seperti ini.

Apa pendapat Anda mengenai peraturan daerah yang melarang pengamen atau pedagang asongan beredar di jalanan, mengingat itu adalah sumber nafkah anak-anak jalanan?

Dulu ada perda tahun ’88, kurang lebih isinya sama. Orang-orang miskin tidak boleh mendirikan rumah di pinggir sungai. Dengan adanya perda seperti ini, tentu akan semakin menindas kaum miskin. Aturan yang sekarang bukan hanya ditujukan untuk orang pinggirannya saja, tetap justru untuk orang yang membantu. Kan ada juga peraturan yang melarang orang untuk memberikan sedekah. Aneh, ya, orang mau perhatian kepada orang miskin, juga nggak boleh. Itu sebuah kesalahan. Pemerintah benar-benar membuat gap antara yang kaya dan yang miskin. Pemerintah sering berkata bahwa jangan terbiasa memberikan uang kepada peminta-minta sebab itu sesuatu yang tidak mendidik. Saya masih ingat kata-kata Taufik Ismail, kira-kira begini, “Kita seringkali berkata jangan memberi anak-anak uang, tetapi kapan kita punya waktu untuk mendidik anak jalanan?” Benar, kan, pemerintah bilang hal itu tidak mendidik, tetapi kita bahkan nggak punya waktu mendidik mereka. Dalam bentuk apa didikan kita?

Apa harapan Anda mengenai sikap masyarakat dan pemerintah terhadap kaum tersisih seperti mereka?

Pemerintah agak sulit diharapkan karena masih harus berpikir tentang bangsa. Untuk membenahi masalah saja sudah sulit, memikirkan anak jalanan mana sempat. Masyarakat sejauh ini sudah tahu dan sadar. Mereka seharuanya tidak melulu memberikan baju bekas. Sekarang sekolah-sekolah mulai didikan untuk mereka. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk berjumpa dan bertukar pengalaman.

Desember 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s