Kisah Kaum Miskin di Pedesaan

Jika kita terus menelusuri Desa Sukawening hingga ke pelosoknya, kita akan menemukan Kampung Sukanegla. Dari pemandangan jajaran pondokan yang terkesan “mewah” di Sukawening, lama-lama kita akan menemukan rumah-rumah bilik yang letaknya berdesakan di Sukanegla. Sawah masih terhampar luas di kampung itu. Para penduduk di kampung itu rata-rata asli dari Jatinangor.

Saat pertama memasuki kampung, segerombol ibu-ibu yang sedang mengobrol melihat ke arah kami dengan penuh minat. Saya dan teman-teman saya menganggukkan kepala sebagai rasa hormat dan tersenyum seraya mengucapkan “punten”. Saya rasa mereka merasa kedatangan sekelompok mahasiswa adalah hal aneh. Salah satu ibu menanyakan apa yang sedang kami cari di kampung itu. Segera saja kami mengatakan bahwa kami ingin menemui Ketua RT setempat. Dengan ramah, ibu tadi mengantar kami ke tempat ketua RT.

Sesampainya di rumah ketua RT, kami disambut ibu RT karena kebetulan bapak RT sedang tidak di rumah. Kami menanyakan siapa saja warga kampung itu yang berpenghasilan rendah dan kira-kira menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT). Rombongan kami yang mulanya berlima kemudian berpencar untuk mencari narasumber. Saya dan dua orang teman saya diantar ke rumah Ibu Mimi.

Ibu Mimi adalah penduduk asli Jatinangor. Usianya hampir mencapai 79 tahun. Kulitnya sudah sangat keriput namun berdirinya masih tegak. Saat pertama kami menyapanya, ia hanya tersenyum malu-malu. Ibu Mimi dan anaknya mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya.

Rumah itu terbuat dari bilik dan beralaskan rotan. Ukurannya hanya 6×4 meter saja. Sepenglihatan mata, di dalam rumah itu hanya ada tiga ruangan; satu ruang depan yang biasa dipakai duduk-duduk dan dua kamar tidur. Ruang depan ini mungkin ingin dipakai sebagai ruang tamu, tapi tidak ada kursi di dalamnya, hanya ada sebuah lemari dan radio yang sudah meja. Di dinding-dinding ruang depan tergantung foto anak Ibu Mimi dan suaminya, serta bekas leaflet kampanye Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf.

DSC00189 Di sebelah kanan ruang depan terdapat kamar anak ibu Mimi dan suaminya. Sedangkan kamar Ibu Mimi terletak di sebelah kiri ruang depan. Di rumah itu tidak ada alat elektronik selain radio kecil yang sudah sangat butut. Dapur mereka terletak di luar rumah, itu pun tidak seperti dapur. Saya tidak menemukan jamban atau kamar mandi di rumah itu. Rupanya mereka buang air besar di kali dan mandi di kamar mandi umum yang hanya berupa bilik-bilik kain di tepi sungai. Jika mereka membutuhkan air bersih untuk sekedar minum, mereka menimba di sumur milik ketua RT karena mereka tidak memiliki sumur.

Saya terkesan dengan keramahan mereka. Tak pernah senyum lenyap dari wajah mereka. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. Untungnya salah satu dari kami cukup menguasai bahasa Sunda. Saya sendiri memahami perbincangan, tetapi tidak bisa berbicara dalam bahasa Sunda. Jadi, saya melontarkan pertanyaan dalam bahasa Indonesia, lalu teman saya yang menerjemahkannya kepada Ibu Mimi dan anaknya.

Mereka adalah orang-orang lugu yang cenderung malu-malu untuk bicara. Ibu Mimi tidak akan menjawab pertanyaan jika tidak dipancing oleh jawaban-jawaban yang kami sediakan. Kebanyakan ia menjawab, “Abdi duka (Saya tidak tahu).”

Meski Ibu Mimi sulit menjawab tetapi kami berhasil mengetahui beberapa fakta tentang kehidupan Ibu Mimi. Ibu Mimi masih bekerja sebagai buruh tani meski umurnya sudah tua. Jika musim panen tiba, Ibu Mimi ikut memanen dan biasanya ia diupah sepuluh ribu rupiah per hari. Itu pun panen hanya tiga bulan sekali. Dan sekali panen tidak sampai seminggu Ibu Mimi bekerja sebagai buruh tani. Uang sepuluh ribu itu hanya cukup untuk makan sehari-hari. Jika belum saatnya musim panen, Ibu Mimi hanya menganggur saja di rumah. Bisa dibayangkan betapa rendahnya taraf hidup Ibu Mimi. Anaknya pun tidak bekerja. Menantunya bekerja sebagai tukang bangunan yang tidak tentu pekerjaannya. Penghasilan menantunya juga tidak banyak untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Cucu-cucu Ibu Mimi hanya sekolah sampai tingkat SD; tidak ada yang bertahan hingga lulus SMP.

DSC00185 Ibu Mimi sendiri tidak sampai lulus Sekolah Rakyat (SR) waktu mudanya dulu. Empat orang anaknya tidak sampai tamat SMP, bahkan ada yang sejak kelas 3 SD sudah enggan meneruskan sekolah. Orientasi Ibu Mimi dan almarhum suaminya memang tidak mematok anak-anak mereka agar bersekolah hingga minimal lulus SMA. Ketika anak-anak mereka tidak ingin meneruskan sekolah, mereka pun menerima saja. Selain ketidakmauan anak-anak mereka meneruskan sekolah, mereka juga tidak memiliki cukup uang untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Untungnya Ibu Mimi masih menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Seperti orang Sunda pada umumnya yang tidak menyukai perantauan, anak-anak Ibu Mimi tinggal berdekatan di kampung itu juga. Hanya satu orang yang tinggal di Bandung. Ibu Mimi sendiri tinggal di rumah anak bungsunya.

Ibu Mimi tidak pernah bermimpi yang muluk-muluk. Harapan hidupnya selama ini hanya agar ia dan keluarganya bisa makan sehari-hari. Ia terkadang makan nasi saja tanpa lauk, hanya dibarengi sambal dan garam. Maka ia dan almarhum suaminya tak pernah berharap anak-anaknya mencapai jenjang pendidikan yang sepantasnya. Kalau ada uang, ya, baru bisa disekolahkan. Akan tetapi, kemauan sekolah mereka juga rendah. Akhirnya mereka hanya menjadi seperti orang tua mereka. Taraf hidup mereka tak jauh berbeda dengan orang tua mereka.

Saat ditanya apa yang akan dikatakannya jika bertemu presiden, Ibu Mimi kembali tersipu. Kemudian dijawabnya bahwa janganlah harga barang poko dimahalkan dan harga BBM diturunkan.

Dari Ibu Mimi yang renta, kita beralih pada kisah Euis yang umurnya setengah abad lebih muda dari Ibu Mimi. Umur Euis baru menginjak 20 tahun tetapi ia sudah memiliki dua anak. Anak pertamanya berusia 6 tahun.

Euis tinggal di daerah perbukitan, Kecamatan Teluk Jambe, Karawang. Tempat itu tidak bisa dikatakan sebagai perkampungan apalagi pedesaan. Penduduk jarang sekali yang tinggal di daerah itu. Perbukitan di situ sangat luas. Tanaman-tanaman yang tumbuh hanya ilalang dan padi yang ditanam di sawah. Jarak antar satu rumah dan rumah lain berkisar antara 100 hingga 120 meter. Dalam 300 meter, kita hanya akan menemukan tiga rumah. Jika kita terus berjalan sejauh 2 km ke arah barat, kita akan menemukan perkampungan yang jarak rumahnya berdekatan. Tiga kilometer ke arah timur, kita akan menemukan pabrik-pabrik yang baru akan dibangun.

DSC00178 Rumah bilik Euis berukuran 5×6 meter. Rumah itu hanya terbagi menjadi dua bagian. Bagian dalam adalah ruangan berisi tempat tidur, dipan, sofa butut, lemari rusak dan tali jemuran yang dibentangkan membujur. Bagian luar rumah adalah tempat Euis berjualan. Di situ ada dipan panjang, meja panjang, dan dua kursi panjang yang mengapit meja panjang. Barang dagangan Euis hanya makanan ringan yang biasa dibeli anak-anak. Saya menyebutnya makanan kampung karena merek-merek yang ada tidak pernah saya lihat di warung-warung kota. Ada juga beberapa gelintir kelapa yang dijual Rp. 4000,00 per buah.

Saat saya mengunjungi warung sekaligus rumah Euis, ia dan Maman, suaminya menatap saya dengan heran. Mereka tidak seramah keluarga Ibu Mimi. Ketika saya ajak basa-basi, mereka terkejut dan terkesan takut-takut. Saya menikmati kelapa sambil berbincang dengan Euis. Tak lama kemudian Maman sudah ngacir dengan motornya, padahal sebelumnya hanya tidur-tiduran di dipan. Kentara sekali ia takut pada saya. Mungkin tidak biasanya orang kota datang pada hari-hari biasa. Selama perbincangan, Euis sama sekali tidak tersenyum.

DSC00176 Tingkat pendidikan Euis rendah. Ia tak sampai lulus SMP. Waktu kelas 2 SMP, Euis yang berusia tiga belas tahun berhenti sekolah dan memutuskan untuk menikah dengan Maman. Selama beberapa tahun setelah pernikahan, Euis masih tinggal di rumah emaknya di kampung yang tak jauh dari rumahnya sekarang. Sedangkan Maman saat itu hanya bekerja serabutan. Asal ada kerjaan, ya dikerjakan. Jika tidak ada kerjaan, ya nganggur. Baru sekitar dua tahun lalu ia memiliki rumah sendiri dan dagang kecil-kecilan. Bapak Euis yang punya sepetak kecil sawah menjual sawah itu. Uangnya dibuat membangun rumah Euis dan kredit motor untuk suami Euis.

Warung Euis sepi pengunjung, maklum karena letaknya yang jauh dari kota. Pembelinya pun biasanya hanya anak-anak kecil yang membeli jajanan. Sedangkan jumlah anak-anak di daerah itu sangat sedikit.

“Ramainya, mah, hari Minggu. Suka ada yang jogging di sini. Biasanya pada beli es kelapa muda. Kalau sehari-hari gini, mah, nggak ada yang beli, Teh,” ujar Euis.

Penghasilan Euis per hari tidak sampai Rp. 20.000,00, paling hanya sekitar Rp. 15.000,00 sampai Rp. 18.000,00. Jarang yang membeli kelapa muda di hari-hari biasa. Pada hari Minggu penghasilan Euis dan keluarga bisa meningkat hingga Rp. 40.000,00 per hari. Penghasilan seminggu itu dipakai untuk puter modal lagi.

“Kalau hari Senin Kang Maman ke daerah Cemara buat beli kelapa. Jadi duit saya habis di ongkos dan beli kelapa. Kredit motor juga nggak kebayar. Tahu, Teh, sebentar lagi mungkin motor dijual lagi aja,” lanjut Euis.

Di rumahnya hanya ada kamar mandi yang terbuat dari seng. Itu pun hanya ada ember-ember berisi air bersih untuk minum, tidak ada jamban. Jika ingin buang air besar, Euis dan keluarganya harus ke rumah orang tua Euis. Kalau malas ke rumah ibunya, keluarga Euis buang air besar di selokan dekat sawah.

Meski hidup kesusahan, Euis masih memiliki mimpi ingin hidup lebih layak. Ia ingin bisa berjualan makanan sunda, seperti pepes dan lalapan, nasi timbel, dan sayur asem. Siapa tahu daerah sepi ini suatu saat akan ramai, apalagi dengan akan dibangunnya pabrik baru. Akan tetapi ia takut juga rumahnya digusur karena akan dibangunnya pabrik. Tanah tempat didirikan rumahnya bukan tanah miliknya. Jika sewaktu-waktu digusur, Euis tak lagi punya rumah.

Anaknya akan disekolahkan hingga tamat SMA agar tidak seperti bapak-ibu mereka. Euis mendengar bahwa gubernur baru akan mengusahakan pendidikan gratis dan ia berharap janji itu bisa terpenuhi.

11 Juni 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s