Eksplorasi Seks Dalam Sastra

WAWANCARA

M. Irfan Hidayatullah, M.Hum:

Eksplorasi Seks dalam Sastra, Apakah Sebuah Perjuangan Feminisme?

”…Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia mengintrogasi mata-mata yang tertangkap. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu atau membiarkan kamu tersiksa tak memperolehnya. Membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harfiah.” (Saman; hal. 157)

Petikan beberapa kalimat di atas mengundang pro dan kontra mengenai eksplorasi seks dalam dunia sastra. Kalimat-kalimat itu hanyalah satu contoh. Masih banyak karya sastra yang mendeskripisikan adegan seks secara detil. Ada yang menyebut para penulis perempuan ini sebagai generasi “sastra wangi”.

Banyak kritikus sastra yang memuji novel-novel yang mengeksplorasi seks karena dianggap begitu ekspresif, indah, dan berani. Namun ada juga yang menentang novel-novel tersebut, salah satunya adalah Taufik Ismail. Dia pernah mengatakan, “Penulis-penulis perempuan, muda usia, berlomba mencabul-cabulkan karya, asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dalam Gerakan Syahwat Merdeka.Dari halaman-halaman buku mereka menyebar hawa lendir yang mirip aroma bangkai anak tikus telantar tiga hari di selokan pasar desa/Aku melihat orang-orang menutup hidung dan jijik karenanya. Jijik. Malu aku memikirkannya.

Feminisme adalah sebuah doktrin yang menyerukan kesetaraan hak-hak sosial dan politik kaum perempuan dengan kaum laki-laki. Para penulis perempuan mengangkat tema emansipasi wanita sebagai wujud kesetaraan sosial, yang ingin lepas dari mindset (format pikiran) bahwa perempuan diikat secara kultural dengan sistem selera dan budaya patriarki. Tubuh perempuan selama ini dijadikan sebagai objek seks dan sangat jarang menjadi subjek seks. Kaum feminisme posmodern sangat menganjurkan dilakukannya kegiatan menulis tentang seksualitas perempuan dalam karya sastra sehingga muncul istilah “sexts” sebagai bentuk akronim dari kata sex dan text.

Dalam novel-novel yang mengeksplorasi seks diperlihatkan bahwa perempuan memunyai kuasa atas tubuhnya dan bisa berinisiatif dalam melakukan hubungan seks. Mungkin saja niat para penulis perempuan ini ingin mengangkat derajat perempuan. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan yang terjadi justru perempuan bertindak rendah dengan menjadi objek seks.

Apakah eksplorasi seks dalam dunia sastra adalah perjuangan untuk menyetarakan gender antara laki-laki dan perempuan? Apakah munculnya karya sastra yang mengeksplorasi seks menyebabkan kemunduran moral bangsa atau kemajuan moral bangsa? Apa permasalahan perempuan yang pantas diangkat dalam karya sastra, selain permasalahan seks?

Untuk menjawab fenomena eksplorasi seks dalam sastra, Purwaningtyas Permata Sari menemui M.Irfan Hidayatullah di kantor Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Fasa Unpad) Bandung, di Jl. Raya Sumedang-Jatinangor Km.21 Jatinangor (4/1), pukul 10.00 WIB. M. Irfan Hidayatullah akan memberikan penilaiannya yang berimbang mengenai permasalahan eksplorasi seks dalam sastra. Ia menilai karya-karya itu dari berbagai sudut, tidak pro maupun kontra. M. Irfan Hidayatullah adalah Ketua Umum Forum Lingkar Pena. Saat ini juga ia adalah dosen sekaligus Ketua Jurusan Sastra Indonesia di Fasa Unpad Bandung. Ia telah menciptakan beberapa judul novel, cerita pendek, dan puisi.

Menurut Anda, apakah eksplorasi seks dalam dunia sastra adalah perjuangan untuk menyetarakan gender antara laki-laki dan perempuan?

Pertanyaan yang sulit, ya. Kalau saya baca dari karya para pembuat teks itu sendiri; Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan sebagainya dan dari kritik-kritik sastra, katanya itu memang merupakan perjuangan untuk menyetarakan gender. Ada semacam usaha perempuan untuk berbicara.

Menurut saya, sebenarnya hal seperti ini sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari dengan cara yang lain. Misalnya, dulu ada Nh. Dhini, Ratna Indraswari Ibrahim, Dayu Oka Rusmini, dan sebagainya. Sekarang ini dengan penuturan seks yang lebih gamblang adalah semacam jenis baru pengekspresian perempuan moderen atau bahkan postmoderen di Indonesia. Intinya sama saja, seks atau bukannya, menurut saya tidak terlalu berpengaruh. Kan, tanpa harus berbicara seksual pun perempuan bisa menyetarakan gender, kalau memang gender itu tidak setara.

Niat novelis-novelis perempuan itu mungkin ingin memperjuangkan penyetaraan gender, tetapi kesetaraan macam apa yang diharapkan dari tokoh-tokoh perempuan seperti yang digambarkan pada novel-novel Ayu Utami, Djenar, Dinar, Dewi Lestari, dan sebagainya?

Misalnya, saya lihat dalam karya Ayu Utami diungkapkan bahwa perempuan juga bisa punya kekuasaan dan otoritas atas tubuhnya. Jadi, perempuan bisa saja berniat untuk melakukan hubungan seksual sebagai subjek, bukan sebagai objek. Selama ini para novelis yang mengeksplorasi seks dalam karya sastra beranggapan bahwa kultur di Indonesia, baik budaya daerah atau agama, selalu memosisikan perempuan sebagai objek.

Jadi, dalam karya-karya sastra tersebut disebutkan perempuan bisa menjadi subjek dengan keinginan dan inisiatif sendiri. Mereka membicarakan tentang tubuh, dengan itu perempuan ada. Menurut saya, pintu permasalahan di situ.

Apakah sebenarnya seks merupakan permasalahan perempuan Indonesia?

Kalau saya baca dari jurnal-jurnal perempuan tentang masalah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), umumnya perempuan menjadi objek seksual seperti pemerkosaan. Makanya mungkin muncul fenomena sastra yang mengangkat tokoh perempuan dan kemudian ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa memerkosa dan berinisiatif. Itu dari fenomena umum.

Dari sudut-sudut lain ada juga yang kontra terhadap novel-novel yang mengeksplorasi seks dan merasa bahwa hal itu biasa-biasa saja. Ya, fitrah perempuan, kan, memang seperti itu, harus menjalankan fungsi-fungsi domestik dan fungsi-fungsi sosial.

Yang dipermasalahkan dalam novel-novel feminisme adalah menggugat kedomestikan fungsi perempuan. Para novelis ingin menunjukkan bahwa perempuan selalu terkurung di rumah dan hanya memasak. Banyak juga perempuan yang menikmati ketersiksaannya, itu yang ada dalam novel Ayu Utami, yaitu sadisme. Perempuan Indonesia memang tertekan tapi menikmati.

Apakah karena saat ini seks dianggap sebagai hal yang biasa sehingga para penulis pun mendeskripsikan seks secara gamblang?

Itulah pergeseran nilai dari jaman dulu dan sekarang. Kita bisa lihat dari media-media bagaimana kasus-kasus hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Dulu mungkin ada, tetapi masih sembunyi-sembunyi. Sekarang, kan, seks sudah menjadi hal umum. Pergeserannya terlihat dari pemuda-pemudi sekarang yang sudah tidak mengindahkan norma-norma adat. Kalau kita melihat statistik yang menampilkan sekin persen remaja sudah tidak perawan lagi.

Apakah eksplorasi seks dalam karya sastra hanya mengikuti tren saja daripada sebagai gerakan feminisme?

Sebenarnya ini tidak menjadi satu-satunya fenomena, ya. Sastra seperti itu hanya salah satu percikan saja dari gelombang, ideologi, dan paradigma feminisme. Jadi, kalau kita lihat dari budaya pemikiran, muncul liberalisme, pluralisme, kolonialisme, yang merelatifkan norma-norma, salah satunya sastra.

Kalau kita baca novel-novel berbau seks dengan kacamata norma budaya setempat, banyak yang mempertanyakan. Jadi, berdasarkan tren mana dan budaya mana pengungkapannya. Ternyata memang, eksplorsasi seks sudah menjadi hal yang global. Dulu ada karya-karya sastra seperti Serat Gatoloco, tapi itu karya sastra yang penyampaiannya dianggap umum dan hanya orang-orang tertentu yang membacanya. Kalau sekarang, kan, sudah berbaur antara budaya populer dengan karya sastra.

Maksud Anda sastra populer?

Ya, jadi sebenarnya ada unsur-unsur pop dalam karya Ayu Utami, baik cara pengemasannya maupu memasukkan isu-isu seksualnya. Dicurigai oleh beberapa pihak bahwa bentuk pop sebagai salah satu penarik pasar.

Sebagian kritikus sastra mengesahkan karya-karya bertemakan seks sebagai karya sastra karena begitu ekspresif, indah, dan berani. Bagaimana dengan Anda?

Secara estetika harus diakui ada pembaruan-pembaruan, berbeda dengan pengungkapan karya-karya sebelumnya. Munculnya Ayu Utami pertama kali memang booming karena menang lomba Sayembara Penulisan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan didukung juga oleh media serta kata-kata bombastis verbal dari para kritikus.

Karya-karya sastra bertemakan seks tidak lepas dari promosi yang dibesar-besarkan. Itu tidak murni karya sastra. Justru menjelimetnya karya sastra sekarang itu menandakan bahwa hakikat sastra yang sederhana, bisa diterima masyarakat, dan elegan sudah ditinggalkan.

Apakah Anda setuju dengan pendapat Ayu Utami bahwa sastra lebih sebagai jalan untuk eksplorasi kreativitas daripada sastra sebagai guru masyarakat?

Bagi penulis sah-sah saja untuk berpendapat. Penulis, kan, punya niat masing-masing. Kita tidak bisa menghakimi salah atau benar. Harus dipisahkan antar niat penulis dengan sisi sosialogis karya sastra tersebut. Kalau secara sosial, karya apapun, berasal dari sumber manapun akan berimbas baik yang berniat menyampaikan ideologinya, berdakwah, atau yang tanpa niat sekali pun.

Tidak ada batasan tertentu dari kacamata sastra?

Iya, kalau memang mau menulis karya sastra. Tetapi ketika sampai ke masyarakat, masyarakat melihat ada tawaran nilai tertentu. Mungkin Ayu Utami menawarkan sesuatu. Putu Wijaya menawarkan sesuatu. Ada juga penulis yang tidak menawarkan sesuatu, mereka hanya menulis saja.

Apakah munculnya karya sastra yang mengeksplorasi seks menyebabkan kemunduran moral bangsa atau kemajuan moral bangsa?

Kalau secara moralitas, jelas telah mengalami kemunduran. Permasalahannya, parameter kritik, kan, tidak hanya moral, ya. Kalau bicara mengenai estetika, itu mungkin suatu yang bagus. Mungkin harus dilakukan penelitian lebih dalam mengenai permasalahan kemunduran moral yang diakibatkan karya sastra itu.

Saya yakin novel-novel berbau seks jika dimasukkan ke dalam segmen, sudah pasti masuk ke segmen dewasa. Dengan adanya segmen itu saja sudah terlihat mana yang karya untuk dewasa atau anak-anak. Masalahnya, novel-novel itu siapa saja, kan, bisa baca.

Apakah sastrawan diharuskan untuk menyebarkan moral yang baik? Dengan menggambarkan kehidupan seks, tidakkah bertentangan dengan ajaran moral?

Sebenarnya di dalam karya Ayu Utami banyak terdapat ajaran moral yang baik, terlepas dari permasalahan seks. Misalkan, kritikan terhadap pemerintah dan penyetaraan gender. Akan tetapi, permasalahan gender tidak terlalu menonjol ajaran moralnya. Kita lihat dalam karya sastra itu dari sisi lainnya jika memang permasalahan gender terlihat bertentangan dengan ajaran moral.

Apakah para penulis perempuan yang mengeksplorasi seks ingin mendobrak budaya patriarki di Indonesia?

Jelas, ya, dari essay-essay para penulis perempuan bahwa ada maksud untuk mendobrak patriarki di bangsa ini. Walaupun juga ada pengamat yang melihat permasalahan dalam novel-novel berbau seks dari kacamata yang terbalik, metafora-metafora yang ada di dalam karya Ayu, misalnya, Ayu dinilai sama sekali tidak membela perempuan.

Sementara itu, dalam kumpulan cerpen (cerita pendek) atau essay Ayu Utami, yang salah satunya dimuat di Koran Seputar Indonesia, sudah terlihat bahwa ia menuju ke arah mendobrak budaya patriarki.

Masyarakat Indonesia sendiri sebenarnya sudah siap atau belum membaca karya sastra bertemakan seks?

Ini mungkin bisa kita lihat dari konflik, ya. Setelah novel-novel bertemakan seks keluar, kan, banyak konflik yang terjadi. Salah satunya Taufik Ismail yang mengatakan bahwa beliau merasa jijik dengan karya sastra yang banyak mengeksplorasi seks. Dengan adanya konflik itu menandakan masih adanya resistensi.Kita bisa melihat kesiapan dari pengarangnya atau dari pembacanya. Dari polemik itu juga bisa ditarik estetika dari kesusastraan timur atau Indonesia

Sebenarnya banyak karya yang bermuatan seksual, tetapi tidak vulgar. Hampir di setiap karya sastra ada adegan-adegan atau fragmen-fragmen yang berhubungan dengan seks, tapi pendobrakan para penulis perempuan itu dengan kevulgaran.

Para penulis, seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, kan mendiskripsikan seks terlalu detil atau vulgar. Tidakkah gaya bahasa seperti itu berselera rendah?

Ya, sebenarnya masih ada cara lain selain mendeskripsikan seks. Ayu Utami, misalkan, dia kan orang pintar. Dia bisa menyampaikan sesuatu dengan lebih bagus. Akan tetapi, justru muatan karyanya terletak pada eksplorasi seks itu karena mungkin sudah terciri sebagai ke-Ayu-Utamia-annya. Saya setuju dengan Ayu Utami kalau dilihat dari segi global.

Misalkan begini, media sudah merebakkan seksualitas. Kan, ada majalah yang bertemakan seks seperti Playboy. Sastra diharapkan menjadi gerbang terakhir untuk melawan eksplorasi seks. Ternyata sastra pun menggenapkan informasi berlebihan mengenai seksualitas. Harusnya sastra mengamankan dengan cara sastra, tetapi ternyata tidak. Ketika saya menyimak pembicaraan di Gramedia, ternyata halaman novel-novel bertemakan seks yang paling sering dibuka oleh pengunjung adalah bagian yang ada adegan seks, karena yang paling lecek.

Jadi, masyarakat hanya ingin membaca adegan seks saja?

Iya, mereka hanya ingin membaca adegan seks saja karena di situlah letak hiburannya.

Jadi, masyarakat tidak menangkap maksud si penulis dan mengartikan lain?

Iya, dikhawatirkan akan terjadi seperti itu untuk masyarakat umum. Kalau untuk ahli sastra atau mahasiswa sastra sudah bisa menangkapa artinya. Jadi, pesan yang disalurkan tetap ditangkap secara utuh.

Di dalam karya sastra, sebaiknya seks dijadikan bumbu atau justru dijadikan sebagai masalah utama?

Seks juga bisa dijadikan permasalahan utama. Saya pernah baca novel karya penulis Chekoslowakia Milan Kundera yang berjudul The Unbearable Lightness of Being. Tema utamanya adalah seks dan peran utamanya laki-laki dan perempuan. Ketika ada seksualitas, yang ada perenungan. Tokoh utama dalam novel tersebut bertanya pada diri sendiri mengapa dia melakukan seks dengan pacarnya. Penggambarannya bukan ditujukan untuk mendukung pornografi, tetapi untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar tentang sifat dasar lelaki yang suka bersikap “light” (entengan) itu. Tidak diceritakan bagaimana hubungan seksnya.

Ada alasan-alasan mendasar yang logis di dalam novel The Unbearable Lightness of Being sehingga pembaca pun bisa menangkap maksud Milan Kundera. Aspek vulgar dalam novel itu tidak terlalu ditonjolkan. Saya mengerti banyak hal setelah membaca novel itu dari segi cara penyampaian Milan Kundera.

Apa maksud sebutan “sastra wangi”?

Sebutan sastra wangi itu juga banyak yang mendebat. Saya pernah membaca salah satu jurnal Dosen UI (Universitas Indonesia) Ibnu Wahyudi. Dia mengatakan sastra wangi adalah istilah sesaat bagi kepopuleran sastra generasi perempuan yang mengandalkan tubuh.

Kalau kita lihat memang para novelis perempuan tidak mengandalkan tulisan saja, tetapi juga tubuh. Kalau kita ketemu Ayu Utami, kita akan lihat betapa seksinya dia. Djenar Maesa Ayu apalagi, dia lebih seksi. Mereka cantik, seksi, dan harum. Berbeda dengan pengarang-pengarang yang tidak memunyai wajah cantik, cenderung tidak favorit.

Jadi ada hubungannya antara penampilan fisik penulis dengan industri penerbitan?

Jadi itu merupakan bagian dari “jualannya”, sebagai iklan. Saya punya teman yang pernah bertanya, “Punya pengarang perempuan yang cantik tidak? Nanti bisa diorbitkan.” Hal itu bagian dari industri.

Mengapa penulis laki-laki tidak seeksis penulis perempuan dalam membuat karya sastra berbumbu seks?

Justru sekarang penulis laki-laki sudah mulai ikut-ikutan. Ada buku yang ditulis laki-laki, misalnya buku Kuda Ranjang yang sekarang sudah ditarik dari peredaran. Istilahnya para penulis laki-laki mengiyakan hal itu, meskipun dari dulu WS Rendra mengeluarkan puisi-puisi berbumbu seks tetapi mengandung kritik sosial, kan? Ada juga Mochtar Lubis. Hampir semua penulis memasukkan seks sebagai bumbu meski tidak detil.

Dalam bangsa kita, apa permasalahan perempuan yang pantas diangkat dalam karya sastra, selain permasalahan seks?

Permasalahan-permasalahan perempuan yang diangkat tidak hanya dalam wilayah-wilayah domestik saja, ya. Maksud para penulis perempuan ingin mengangkat perempuan tetapi justru malah menjadikan perempuan sebagai objek seks dalam karya sastra.

Kita, kan bisa mengangkat kisah-kisah atau legenda-legenda perempuan yang menjadi pejuang, seperi Cut Nyak Dien dan Dewi Sartika. Kehidupan para tokoh itu kompleks, ya, dan ada pelajaran moralitasnya juga.

Jika novel-novel berisi eksplorasi seks dibaca oleh orang-orang di luar negeri, apakah kita patut berbangga atau justru malu jika dianggap nilai ketimurannya sudah hilang?

Asal informasinya seimbang saja, bahwa yang diterjemahkan bukan hanya tentang seks, selain itu tentunya. Kalau hanya novel tentang seks yang diterjemahkan, kita pantas merasa khawatir. Akan tetapi, kalau seimbang, semua jenis novel sastra diterjemahkan, kita bisa berbangga.

Pernah ada dosen di Malaysia yang menganjurkan mahasiswanya membaca karya Ayu Utami karena juara lomba yang diadakan DKJ . Padahal dosen itu juga belum membaca isinya. Pak Taufik Ismail menganjurkan dosen itu untuk membacanya terlebih dahulu. Baru setelah dibaca dan menemukan adanya eksplorasi seksnya, akhirnya novel itu tidak jadi diwajibkan dan diganti dengan novel lain karena stereotipnya miring, ya.

4 Januari 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s