Jurnalisme Infotainment sebagai Bentuk Komersialisasi Media

Hampir semua orang mengetahui kasus perselingkuhan Mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton denan Monica Lewinsky. Masyarakat Amerika Serikat menikmati berita mengenai perselingkuhan itu dan media komunikasi massa di Amerika Serikat gencar memberitakan hal itu.

Media memberikan ruang yang amat besar untuk mendengar kisah cinta mereka yang keluar dari mulut Monica Lewinsky. Jurnalisme infotainmet lebih cepat melambungkan nama seseorang, tak peduli yang diberitakan hal baik atau hal buruk. Jurnalisme infotainment memberikan sudut pandang lain mengenai pekerjaan pers. Disebut pekerjaan karena para wartawan infotainment bekerja seperti wartawan sejati, meski tidak melenceng dari prinsip-prinsip jurnalisme.

Komersialisasi Media dan Jurnalisme Infotainment

Mungkin saat pertama kali pers muncul, penggagasnya adalah orang-orang yang mulia dan penuh idealisme. Tujuan jurnalisme adalah untuk melayani kesejahteraan umum dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi. Segala sesuatunya penting untuk diberitakan kepada khalayak. Jurnalisme turut juga membentuk opini publik. Masyarakat diajak untuk sadar akan kejadian atau peristiwa yang terjadi di sekeliling mereka.

Rasanya semua orang yang tulus ingin memenuhi kebutuhan masyarakat—yang kemudian disebut wartawan—bergabung menjadi satu untuk membuat suratkabar. Walau hanya bermodal uang yang tidak behitu banyak dan idealisme yang sanga kuat, mereka nekat bahwa mereka bisa melayani masyarakat.

Namun, nyatanya media massa tidak bisa hidup hanya dengan bermodal idealisme. Idealisme akan luntur juga jika sudah dihadapkan dengan realitas bernama uang. Walaupun berita yang disuguhkan sudah bagus, jika terjegal masalah dana maka penerbitan pun bisa terhambat. Maka masuklah sebuah kepentingan baru bernama bisnis.

Media massa adalah ladang subur untuk meraup keuntungan dalam hal materi. Sebenarnya masih banyak sektor yang bisa dimiliki oleh para pemegang saham, tetapi media massa tetap diliriknya juga menjadi ladang bisnis. Masalahnya, tidak semua pemegang saham paham akan prinsip jurnalisme. Prinsip jurnalisme tidak bisa dikaitkan dengan uang. Pemegang saham seringkali memaksa wartawan untuk menyajikan berita yang bisa menarik banyak pengiklan untuk memasang iklan di medianya. Sedangkan tidak semua berita bisa menghasilkan uang. Adalah sebuah keuntungan bagi wartawan jika berita yang dibuatnya ternyata disukai pemegang saham sehingga banyak pengiklan yang berminat.

Kepentingan bisnis dan kepentingan pemberitaan yang berimbang selamanya akan menimbulkan perdebatan. Mungkin memang kepentingan pemberitaan yang berimbang lebih dominan daripada permasalahan bisnis, tetapi akhirnya kepentingan pemberitaan yang berimbang harus ‘mengalah’ kepada bisnis. Para redaksi seolah lupa bahwa tanggung jawab utama jurnalisme adalah kepada masyarakat. Pengiklan hanyalah pembeli, yang berarti yang membutuhkan pers dan media massa untuk memenuhi kebutuhannya. Jangan justru media yang bergantung pada pengiklan.

Peran wartawan ternyata tidak hanya menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat, wartawan juga dituntut untuk membuat hal penting dan menarik. Pada kenyataannya, hal penting yang menarik menjadi hal penting versus menarik karena menggabungkan keduanya ternyata tidak mudah.

Pada perkembangannya, hal penting menjadi lebih tersingkirkan oleh hal yang menarik. Esensi sebuah informasi tergantikan oleh estetika yang memukau banyak orang. Mungkin ini juga adalah pengaruh dari komersialisasi media massa, terutama televisi. Ternyata menampilkan hal yang menarik jauh lebih mudah dan mendatangkan keuntungan daripada memusingkan hal penting sekaligus menarik. Buah dari pemikiran itu adalah munculnya jurnalisme infotainment.

Infotainment adalah Wujud dari Kebablasan Pers

Di Indonesia sendiri, jurnalisme infotainment sudah begitu menjamur. Keberadaannya diterima dengan baik oleh sebagian besar masyarakat. Jurnalisme infotainment menawarkan bentuk pers yang baru. Media massa merasa bahwa mereka sudah memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi yang sarat hiburan. Akan tetapi, media massa juga harus sadar bahwa masyarakat tidak sepenuhnya tahu informasi apa yang penting untuk mereka. Justru media massa yang harus memilihkan informasi apa yang benar-benar bisa mendidik. Dengan memunculkan infotainment, media justru telah membodohi masyarakat. Di mana letak tanggung jawab media massa dalam hal ini? Masyarakat akan semakin terlena jika terus disuapi informasi yang tidak seimbang.

Sebenarnya jurnalisme infotainment telah banyak menyalahi aturan, prinsip, elemen jurnalisme, dan kode etik jurnalistik. Wartawan infotainment manyalahi intisari jurnalisme yaitu disiplin verifikasi. Wartawan infotainment memberitakan sesuatu berdasarkan spekulasi dan interpretasi pribadi, jarang berdasarkan fakta. Verifikasi tidak dilakukan untuk check dan recheck informasi yang muncul. Suatu kabar yang masih bias kebenarannya justru memiliki nilai jual yang lebih tingi karena menghembuskan desas-desus.

Loyalitas wartawan yang utama memang kepada khalayak, tetapi bukan loyalitas yang menghadirkan pembodohan untuk masyarakat. Jika memang ingin menunjukkan fungsi hiburan, televisi punya banyak program yang bisa memenuhi fungsi ini. Mengapa harus peran pers yang kemudian dibelokkan?

Memang pada awalnya kemunculan jurnalisme infotainment bisa meraup keuntungan yang banyak, karena semakin disukai masyarakat, maka semakin banyak pengiklan yang masuk. Akan tetapi, seperti dikatakan Bill Kovach, kukti memperlihatkan bahwa menarik audiens hanya dengan menyajikan tontonan enak dilihat akan gagal sebagai stategi bisnis jurnalisme jangka panjang.

Orang-orang menilai bahwa jurnalisme infotainment yang semakin menjamur adalah sebuah kebablasan dari kebebasan pers yang disalahgunakan. Setelah pers melewati masa-masa suram pada zaman Orde Baru, kini keberadaan pers tidak menjaga kualitasnya dengan membiarkan infotainment tetap ada. Maka tidak salah jika orang menyebut menjadi wartawan di masa Orde Baru lebih sulit daripada wartawan di masa Reformasi dan setelahnya karena idealisme wartawan lebih teruji saat masa Orde Baru.

Jangan lupa bahwa pers juga sebagai cermin dari suatu bangsa. Apa pentingnya jika masyarkat terus disajikan masalah pribadi para artis? Apa pentingnya jika masyarakat diajari untuk berspekulasi tanpa dasar? Kapan bangsa akan maju jika berita infotainment lebih gencar disiarkan daripada siaran berita yang sesungguhnya? Dalam satu stasiun televisi saja ada lebih dari tiga acara infotainment, mengalahkan acara siaran berita yang paling-paling hanya disiarkan tiga kali dalam sehari, dan satu di tengah malam. Tolonglah televisi jangan hanya mendahulukan keuntungan. Jangan sampai acara-acara yang menyangkut kepentingan masyarakat luas disiarkan pada saat waktu tidur tiba.

20 Januari 2008

One Comment Add yours

  1. SUGALI says:

    komersil…but manfaat, why not

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s