Kasus Penyadapan SMS dan Dihukumnya Time Mengancam Kemerdekaan Pers

Berangkat dari permasalahan Metta Dharmasaputra mengenai penyadapan pesan singkatnya (SMS) dengan Vincentius Amin Sutanto, para wartawan Indonesia sepatutnya berhati-hati saat melakukan komunikasi dengan narasumber. Metta yang bukan seorang pelaku tindak pidana, teroris, dan pengedar narkotika (sesuai Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi dan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000) ternyata bisa disadap, itu berarti hal serupa bisa terjadi pada siapa saja. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) mengakui telah memberikan salinan sms Metta kepada penegak hukum, namun kepala Polri justru membantah telah memerintahkan penyadapan pesan singkat tersebut. Sedangkan menurut Ajun Komisaris Besar Aris Munandar, Kepala Satuan Fiskal Moneter dan Devisa Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Metro Jaya, meminta rekaman percakapan lewat pesan singkat itu sesuai dengan undang-undang untuk kebutuhan penyidikan. Padahal jelas penyadapan terhadap segala bentuk percakapan baru bisa dilaksanakan setelah ada penetapan pengadilan.

Saya tidak setuju atas tindakan yang dilakukan oleh PT Telkom dan penegak hukum karena penyadapan tersebut bisa membahayakan keselamatan Metta dan narasumber, apalagi rekaman pesan singkat tersebut sudah tersebar luas di kalangan wartawan. Seolah tidak ada privasi bagi wartawan. Dengan ini, wartawan seakan tidak memiliki kebebasan dalam menyelidiki dan mengungkap suatu kasus yang pantas diketahui khalayak.

Selanjutnya mengenai Mahkamah Agung (MA) yang memenangkan Soeharto atas majalah Time edisi Asia, hal itu membingungkan karena sebelumnya Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta tidak meluluskan gugatan Soharto. Di berbagai media disebutkan bahwa menutut MA, cover maupun tulisan di malah Time berupakan perbuatan melawan hukum karena mengakibatkan nama baik dan kehormatan Soeharto selaku jenderal besar TNI dan mantan Presiden RI tercemar. Apakah karena Soeharto menyandang jenderal besar TNI dan mantan Presiden RI, maka gugatan terhadap Time diloloskan? Apa karena pihak Soeharto menjanjikan bahwa 1 triliun itu akan dibagikan pada rakyat juga? Apakah pemberitaan Time tidak memiliki dasar fakta yang kuat? Atau perihal Soeharto melakukan KKN untuk memenuhi kekeyaan pribadinya hanyalah rumor, bukan fakta, sehingga tidak pantas diketahui publik? Lagipula pemberitaan jumlah uang yang dikorupsi oleh siapa pun di media massa sangat lazim dimuat. Lalu, mengapa hanya Soeharto yang merasa nama baiknya tercemar?

Setahu saya, masyarakat secara umum memiliki hak untuk mengetahui apa yang terjadi di negaranya dan apa yang sudah dilakukan para pejabat negara (hal baik maupun buruk). Dan karena masyarakat memiliki keterbatasan untuk mengetahui, maka tugas mencari tahu informasi didelegasikan kepada pengelola media massa atau wartawan. Jika judul ”Soeharto Inc. How Indonesia’s Longtime Boss Built a Family Fortune” dianggap tak layak, judul seperti apa yang pantas mengungkapkan kesalahan besar Soeharto?

Kasus penyadapan SMS dan hukuman kepada Time menandakan kemerdekaan pers sedang terancam padahal UU Pers selama ini telah berhasil memerdekakan pers. UU Pers memungkinkan pers mengontrol pemerintah, sementara pemerintah tidak berwenang mengintervensi pers seperti yang dilakukan pada masa lalu. Tetapi saat ini baru saja dimulai intervensi dari pihak pemerintah (penegak hukum dan mantan presiden) dan Mahkamah Agung.

UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers bukanlah basa-basi. Itu menjadi landasan para wartawan untuk bekerja dan seharusnya menjadi pengetahuan juga bagi pihak pemerintah untuk menghormati kebebasan pers. Kemerdekaan pers tidak diberikan oleh pemerintah tetapi diberikan oleh rakyat. Jadi jangan sampai pemerintah menghalangi hak ingin tahu rakyat dengan mencoba intervensi terhadap apa yang dilakukan pers.

Purwaningtyas Permata Sari

Telah dimuat di KOMPAS Jabar tanggal 24 September 2007

Dan simuat di Media Indonesia tanggal 25 September 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s