Kisah Kaum Miskin di Perkotaan

Jalan Braga adalah salah satu tempat terkenal di Bandung yang banyak didatangi pengunjung dari luar Bandung. Daya tarik Braga terletak pada bangunan lawasnya yang sudah “disulap” menjadi toko, café, dan tempat berbelanja. Banyak lukisan karya yang dijual di trotoar Braga. Selayang pandang tidak ada yang cacat di sepanjang jalan ini, pemandangannya memanjakan mata setiap orang.

Namun, pendatang dari luar Bandung tak akan menyangka bahwa di balik kemegahan toko-toko itu terdapat perkampungan kumuh yang dihuni orang-orang miskin. Di sepanjang jalan itu ternyata terdapat gapura yang berdiri diapit toko-toko; yang menjadi jalan penghubung menuju perkampungan kumuh tadi.

Saya tertarik memasuki salah satu gapura yang di atasnya bertuliskan “Jalan Apandi”. Awalnya saya melihat jajaran rumah sederhana yang masih layak huni. Semakin masuk ke dalam gang, rumah-rumah semakin berdempetan dan terkadang hanya menyisakan jalan setapak. Sungguh pemandangan yang miris melihat Hotel Aston yang berdiri megah di Jalan Braga dilatarbelakangi perkampungan kumuh dan kali kotor yang mengalir.

DSC00205Ketika saya berjalan menyusuri gang, warga melihat ke arah saya dengan pandangan bertanya-tanya. Karena saya orang asing di tempat itu, saya selalu menyungingkan senyum dan berucap “punten” setiap waktu. Mereka pun menjawab saya. Dalam perjalanan itu, saya menghampiri seorang bapak setengah baya yang sedang mengobrol dengan segerombolan ibu-ibu.

Bapak itu merespon saya dengan baik ketika saya mengatakan ingin mewawancarainya. Ia mempersilakan saya memasuki rumahnya. Bapak itu bernama Ujang dan berusia 60 tahun. Rumahnya berukuran 8×9 meter, itupun bersekat-sekat. Empat keluarga menempati rumah itu. Pak Ujang menempati bagian depan dan bagian atas rumah.

DSC00193Sejak kecil Pak Ujang sudah tinggal di daerah Braga. Zaman dulu, pemukiman itu tidak sepadat sekarang; masih ada tanah lapang untuk bermain sepak bola. Kepadatan itu disebabkan keturunan orang-orang daerah itu yang semakin banyak dan tidak pindah dari tempat itu.

Pak Ujang tidak sempat menamatkan SMP pada tahun 1963 karena kehidupan orang tua Pak Ujang semakin miskin. Sejak itulah Pak Ujang mulai bekerja sebagai tukang atau kuli bangunan. Ia turut serta membangun Hotel Aston yang melindungi perkampungan itu dari pandangan. Penghasilannya dikumpulkan bersama penghasilan ayahnya untuk menghidupi delapan orang adik mereka.

Pekerjaan seperti kuli bangunan tidak memiliki pendapatan yang tetap setiap bulan. Jika ada job, sehari bisa mendapatkan Rp. 35.000,00 hingga Rp. 40.000,00. Itupun tidak mungkin bekerja selama sebulan penuh, paling banyak dua minggu. Jika proyek bangunannya jauh dari rumah, pendapatan itu dipotong dengan ongkos naik kendaraan umum. Pendapatan terbesarnya sebanyak Rp. 240.000,00.

DSC00194Meski pendapatannya hanya sebesar itu, Pak Ujang tidak menerima pendataan sebagai penerima BLT. Menurutnya, Ketua RT setempat tidak menganggapnya sebagai orang miskin. Ia tidak merasa sebagai orang yang mampu, bahkan jika tidak ada uang terpaksa meminjam dulu di warung.

“Daripada pemerintah ngasih BLT, mendingan perbanyak saja lapangan pekerjaan. Uang BLT pasti akan langsung habis terpakai,” ucapnya.

Semakin tua usia Pak Ujang, semakin ia kehilangan tenaga untuk bekerja. Apalagi saat ini kesehatannya tidak begitu baik akibat penyakit asam urat yang dideritanya. Sudah dua bulan ini ia tidak mendapatkan pekerjaan sebagai kuli bangunan.

Untunglah salah satu anak Pak Ujang yang sudah bekerja masih mengiriminya uang. Walau taraf kehidupan Pak Ujang rendah, ia berpendapat anak-anaknya harus menamatkan SMA. Dua anaknya sudah lulus SMA dan bekerja, salah satu di antaranya menikah. Anaknya yang terakhir masih bersekolah.

DSC01796Jika ada yang menawarinya untuk menjadi kuli bangunan, ia akan menerima pekerjaan itu. Inginnya jadi mandor, tapi apa daya para pemborong tak akan mempercayainya. Mereka akan lebih memilih mandor yang bersertifikasi. Padahal Pak Ujang sangat mengetahui permasalahan bangunan. Ia akan mengetahui mana mandor yang korupsi dan yang jujur. Menurutnya, bangunan-bangunan zaman sekarang banyak yang rapuh karena bahan-bahannya berkualitas rendah. Uang untuk membeli bahan berkualitas bagus sudah dikorupsi terlebih dahulu. Berbeda dengan zaman dulu yang lebih mementingkan kualitas bangunan.

“Saya lagi mau usaha jualan makanan keliling untuk mencari uang tambahan. Tapi belum ada modal, baru ada gerobaknya saja,” ujarnya sambil tertawa.

Pak Ujang memiliki cita-cita menjadi pemborong, namun cita-cita itu tak pernah kesampaian karena terbentur modal. Harapannya hanya agar harga-harga barang pokok dan BBM diturunkan. Ia merasa sudah tidak memiliki “rasa” terhadap pemerintah. Pernah suatu kali ia check up ke rumah sakit dan menunjukkan kartu Askeskin. Pelayanan yang diberikan rumah sakit itu hanya sekadarnya saja, berbeda dengan orang-orang yang memiliki uang. Ia kecewa dengan pelayanan itu. Katanya pemerintah memberi bantuan untuk kesehatan orang miskin, tapi ke mana uang dari pemerintah itu larinya?

“Buat makan aja susah sekarang. Nggak kebayang kalau saya sakit, cari nafkah berhenti tapi biaya makin besar,” keluhnya.

Dari Braga, kita akan melanjutkan perjalan menuju Tol Cipularang. Jika kita hendak menuju Jakarta, kita pasti akan melewati Kabupaten Karawang yang dikenal sebagai lumbung padi. Cobalah mampir ke kota itu. Sebagian besar wilayah Karawang dihiasi oleh sawah-sawah yang ditanami padi. Ayunan tanaman keemasan itu mengundang orang untuk meraihnya. Akan tetapi ternyata para petani di sana bahkan tidak bisa meraih ayunan emas itu. Mereka tetap miskin dan hanya mampu menikmati kemakmuran semu pada saat penen raya.

Kisah seperti itu dialami salah seorang petani di Karawang bernama Udin. Saat ditemui, Pak Udin sedang berdiri sambil membungkuk di pematang sawah. Rupanya ia sedang melihat-lihat dan memeriksa tanaman padinya yang masih muda dan hijau. Ketika ditanya umurnya, Pak Udin berpikir. Rupanya ia tidak ingat umurnya.

Rumah Pak Udin terletak di pusat kota Karawang di Kelurahan Adiarsa Kecamatan Karawang Barat. Kampungnya dekat dengan Perumahan Bumi Taruno Permai. Dari dulu keluarganya memang bertani dan memiliki sawah sendiri. Namun, sekarang sawah yang tersisa hanya 0,25 hektar.

Diceritakannya dulu hamparan sawah di Adiarsa ini sangat luas sebelum dibangun Perumahan Taruno dan Bumi Adiarsa Kencana. Sebagian besar tanah keluarga Pak Udin dijual untuk dijadikan lahan perumahan. Menjual sawah rasanya menyenangkan pada awalnya karena punya banyak uang. Keluarga Pak Udin bisa membeli alat elektronik, seperti televisi, tape, dan radio. Akan tetapi, kini rasanya sayang jika diingat bahwa tanah itu ternyata dijual sangat murah pada waktu itu.

Dengan luas sawah sebesar 0,25 hektar, keuntungan Pak Udin tidak seberapa. Setiap hektar sawah paling tidak bisa mengasilkan 6 ton gabah kering pungut (GKP) setiap panen. Itu berarti sawahnya hanya menghasilkan 1,5 ton GKP. Setiap kilogram gabah dihargai Rp.2.000,00 hingga Rp.2.500,00. Bisa kita hitung sekali panen Pak Udin mendapatkan uang Rp.3.000.000,00 hingga Rp. 3.750.000,00. Dalam setahun ada dua kali panen, berarti penghasilannya setahun antara Rp.6.000.000,00-Rp.7.500.000,00. Dalam sebulan ia mendapatkan uang sebesar Rp. 500.000,00-Rp.625.000,00. Penghasilan per bulan itu belum dipotong keperluan membeli pupuk dan pestisida. Kadang-kadang harus pinjam uang untuk mulai menanam padi. Jika musim panen, pendapatannya untuk bayar hutang.

“Kalau lagi nganggur gini, saya biasa kerja serabutan saja. Pernah disuruh orang di Taruno untuk membetulkan genteng dan dibayar Rp.20.000,00. Kadang kalau malam, ya, cari belut atau jangkrik di sawah. Lumayan untuk biaya tambahan,” ujarnya.

Cita-cita Pak Udin ingin menyekolahkan keempat anaknya hingga lulus SMA. Dua anaknya yang tertua sudah lulus STM dan menikah. Keduanya kini ikut istri mereka di daerah Rengas Dengklok. Pak Udin masih punya tanggungan dua orang anak perempuan yang duduk di bangku SMP dan SD.

Harapannya pada pemerintah agar kehidupan petani lebih diperhatikan. Harga beras bisa mahal sedangkan harga gabah ditekan hingga semurah mungkin. Bantuan uang tunai tidak terlalu membantu. Menurutnya, lebih baik petani dicarika pekerjaan saat menunggu waktu panen tiba.

11 Juni 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s