Saung Budaya Sumedang, Riwayatmu Kini

Saung Budaya Sumedang yang terletak di samping Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin) Jatinangor dan didirikan pada tahun 2000. Saung budaya ini berdiri atas prakarsa Bupati Sumedang saat itu, Haji Misbach, dengan mengusung visi misi budaya. Dengan dibantu oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dan Departemen Pariwisata. Saung Budaya Sumedang terbentuk dengan menghabiskan dana tak kurang dari 1,4 miliar.

Pada awal berdirinya, masyarakat sekitar, mahasiswa, dan para budayawan serta seniman setempat menyambut dengan baik. Beberapa orang ikut menyumbangkan properti untuk melengkapi Saung Budaya Sumedang. Seniman dan anak-anak didikan sanggar sering mengadakan pertunjukan seni dan memamerkan kerajinan tangan. Para pedagang berjualan barang atau bahan asli ciri khas Sumedang di luar saung.

Pak Supriatna, salah seorang pengurus saung saat itu, mengaku bahagia dengan hadirnya Saung Budaya Sumedang karena banyak budaya sunda khususnya Sumedang yang patut dilestarikan. Ada beberapa program yang diusung Pak Supriatna saat itu, di antaranya mengadakan pelatihan, lomba kesenian, dan rampak sekar. Pelatihan tersebut terdiri dari tari klasik, gamelan, dan tari jaipong).

Pengelolaan saung ini beralih ke pihak swasta yang juga pengelola Bandung Giri Gahana (BGG), yaitu Mohammad Bangun. Pihak swasta ingin mendapatkan keuntungan dari saung tetapi tidak pernah mengeluarkan dana untuk memelihara saung. Sayangnya, kegiatan positif dari saung ini hanya mampu bertahan selama beberapa bulan setelah berdirinya. Pak Supriatna mengakui bahwa para seniman pengelola saung kesulitan mendapat kucuran dana. Para pelatih dan seniman tidak diberi “uang saku” padahal jasa mereka dipakai untuk kebutuhan saung. Biaya operasional saung juga menjadi salah satu kendala.

Setelah saung tidak lagi dipakai sebagai ajang membudayakan seni tradisional, fungsi tempat ini beralih. Tempat ini sering dijadikan tempat berkumpul sebuah kelompok tertentu dan terkadang menjadi tempat berbuat mesum. Pada tahun 2002, Pak Haji Dedep, salah satu tokoh masyarakat, berinisiatif mengumpulkan pengkritik dari berbagai unsur untuk memerjuangkan ekseistensi kegiatan saung.

Pada tahun 2004 akhirnya Pak Supriatna mengundurkan diri dari kepengurusan saung karena ada ketidakcocokan visi dengan pengelola saung. Semua seniman dan budayawan pun ikut mengundurkan diri. Para pemuda saung menyangka pengunduran diri Pak Supriatna adalah pemecatan dari pihak pengelola. Maka para pemuda pun melakukan aksi protes, salah satunya dengan cara merusak bagian depan saung. Pak Supriatna sempat dituduh sebagai dalang dari aksi para pemuda dan ia pun dibawa ke DPRD Sumedang untuk dimintai keterangan. Ternyata terjadilah diskusi antara anggota DPRD Sumedang dengan Pak Supriatna.

Memang pernah ada rencana menghidupkan kembali kegiatan saung saat pemerintahan Don Murdiono masih berlangsung. Akan tetapi, ternyata itu hanya sebuah wacana belaka. Pak Supriatna pun mau ditawari menjadi pengurus kembali, asalkan saung dikelola dengan benar.

23 Januari 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s