She’s Nothing Compared To Me

Terkadang jika kesedihan itu tak terbendung dan sudah melampaui batas limitnya sehingga menangis saja sudah tiada guna, melamun di tempat umum bisa menjadi penghiburan, seperti yang dilakukan Mahesa saat ini. Tidak di tempat terlalu umum di mana orang berlalu lalang hingga bisa melihat mata bengkaknya, cukup di kedai kopi di sebuah mall, menikmati minuman berkafein.

Hi, sorry I’m late,” kata Damar sambil mengambil tempat duduk di depannya. Mahesa hanya mengangguk pelan tanpa menatap Damar. “Four cigarettes in an hour, a cane of bear, two cups of Arabian coffee. Not a good combination. Kapan terakhir elo makan?”

“Empat puluh delapan jam yang lalu,” jawab Mahesa datar.

You’re insane. What the hell is going on with you? Kemaren elo masih ketawa-ketawa, hepi-hepi, ngasih semangat ke semua orang. Tapi sekarang elo kayak gini, bikin gue bingung. Elo bukan Mahes yang gue kenal. Kenapa, Hes? Cerita sama gue!”

Love thing.”

Damar mendengus sambil memanggil pelayan untuk memesan hazelnut latte. “Nggak masuk akal. Mana bisa orang seperti elo menderita karena cinta sampai kayak gini? Orang sekuat elo?”

I’m not strong enough. Just pretending that I’m strong.”

Love thing? Tunggu, ini soal Regi?”

Mahesa diam saja, malah mulai membuka bir lagi. Damar cepat-cepat merebut bir itu dan membuangnya ke tong sampah. Ia memesankan panekuk untuk sarapan Mahesa . Dengan ekspresi yang yang masih datar dan memandang ke jendela, air mata Mahesa tiba-tiba meleleh.

“Oke. Yang gue tahu elo udah putus sama Regi sebulan lalu. Dan selama ini gue nggak pernah lihat ada sesuatu yang aneh sama elo. Elo selalu keliatan santai. Ada apa sebenarnya, Hes?”

Mahesa menatap Damar agak lama memancarkan rasa marah tapi amarah itu bukan untuk Damar. “Elo tahu tabiat gue. Gue emang suka minta putus yang sebenernya itu cuma terucap di bibir aja. Regi pasti akhirnya akan minta balikan lagi setelah sehari dua. Gue emang gengsi. Gue tunggu sampai tiga minggu, tapi dia diam aja nggak ada reaksi apa-apa. Baru minggu lalu gue nyinggung masalah hubungan gue dan Regi.”

“Terus?” Pelayan datang membawakan panekuk strawberry kesukaan Mahesa. “Mahes, sambil makan, ya? Gue nggak mau elo sakit.”

“Minggu lalu gue memutuskan buat pergi ke Surabaya menemui Regi. Gue nggak sanggup menerima sikap dingin Regi. Gue kesana buat memastikan apakah dia masih sayang sama gue atau nggak. Sori Damar, gue nggak cerita sama elo tentang gue ke Surabaya.”

Damar mendengarkan dengan penuh simpati, hal yang sangat jarang dilakukannya. Biasanya dia selalu menggoda Mahesa, menganggapnya seperti teman laki-laki yang bisa diajak bercanda. Damar heran perempuan sekeras kepala dan sekuat ini bisa terluka hatinya begitu dalam. Mahesa tidak menyentuh panekuk itu. Maka, Damar menyuapkan panekuk itu sedikit demi sedikit ke mulut Mahesa.

“Gue seneng banget waktu minggu lalu ke Surabaya. Regi terlihat seneng ketemu gue, sumringah. Tatapan matanya sama seperti dulu, masih terlihat sayang sama gue. Dia sering banget tersenyum sambil ngeliatin muka gue. Dia gandeng gue waktu jalan-jalan. Bahkan dia peluk gue, he kissed me like before. Rasanya nggak ada yang berubah saat itu, Mar. Rasanya semua beres waktu itu. Gue lega karena Regi ternyata masih sayang gue. Dan gue meyakinkan diri bahwa dia hanya jenuh dengan long distance relationship.”

“Bagus dong,” kata Damar tersenyum senang. “And then?

“Kita sepakat buat pacaran lagi tapi nggak perlu kasih tahu siapa-siapa. Setelah gue pulang ke Jakarta, sikap dia jadi aneh. I don’t know him anymore. Sikapnya aneh, berubah, dingin, dan gampang banget marah. Sampai akhirnya kami bertengkar hebat.”

Mahesa menolak suapan keempat. Perutnya melilit saat menceritakan bagian terpenting ini pada Damar. Ekspresinya masih datar. Sebisa mungkin dia menahan air mata yang hampir jatuh lagi. Damar menggenggam tangan Mahesa yang sangat dingin. Tangan itu bergetar. Bibir Mahesa sesaat sesaat seperti tidak bisa bergerak. Suaranya sudah serak saat ia berbicara.

“Dia ungkapin betapa tertekannya dia menjalani hubungan selama tujuh tahun kami pacaran. Dia ungkapin semua kejelekan gue. Dia bilang gue terlalu mendominasi hubungan ini. Dia bilang dia selalu tertekan saat gue mulai cerewet dan atur dia.” Mahesa tersedak sesaat, air matanya meleleh lagi. “ Bahkan dia tega bilang kalau dia muak sama gue, rasa sayangnya ke gue udah berkurang. Dia nggak mau jalani hubungan sama gue. Tapi gue mohon supaya kasih gue kesempatan buat berubah. Dan gue emang berusaha berubah.”

Pada saat itu Mahesa mulai kehilangan kontrol. Dia tak lagi memasang ekspresi datar. Kedua tangannya disilangkan di depan dadanya, memeluk dirinya sendiri dan tangisnya mulai sesenggukan. Damar berpindah tempat duduk di sebelah Mahesa, merangkulnya.

“Ssst… Tenang Mahesa, elo tuh cewek kuat. Elo nggak pernah serapuh ini. Kalau elo nggak siap cerita, nggak usah cerita. Kita pulang aja, gue anter,” kata Damar sambil mengelus kepala Mahesa.

Mahesa menggeleng cepat. Dia tidak mau pulang ke rumah. Setiap orang di rumahnya akan melihat betapa kacaunya penampilannya dengan mata bengkak seperti itu. Dia tak siap menjawab pertanyaan yang mungkin dilontarkan kedua orang tuanya. Mahesa belum menceritakan putusnya dengan Regi pada orang tuanya. Orang tuanya pasti tidak akan menerima hal itu dan akan sangat terpukul. Regi adalah kesayangan mereka, sudah sangat diterima di keluarga Mahesa. Bahkan, ayah Mahesa pun sudah tidak sungkan lagi membicarakan tentang masa depan putrinya dengan Regi.

“Gue nggak habis pikir kenapa baru sekarang dia ungkapin itu semua yang ternyata membuatnya terganggu dan tertekan. Sedangkan gue udah mulai bisa nerima kekurangan dia, Mar. Biasanya kalau gue udah ngasih perhatian ke dia, dia bakal luluh. Tapi kali ini nggak. Semudah itukah rasa sayangnya selama tujuh tahun ke gue ilang gitu aja?”

“Iya, gue ngerti. Mungkin dia sedang dalam keadaan sangat jenuh, elo sabar aja, ya.”

“Kalau cuma jenuh, udah sejak dulu kami kadang alami hal itu. Tapi perasaan gue bilang ini udah bukan sekedar jenuh. Alasan dia tentang nggak kuat long distance relationship mulai nggak masuk akal, secara kami sudah pacaran jarak jauh selama empat tahun. Dan it doesn’t even matter.”

“Terus?” Damar mulai mengerenyitkan wajah, merasa tahu akan apa yang keluar dari mulut Mahesa selanjutnya.

“Dia udah suka sama cewek lain, Damar. I don’t know what to do.” Mahesa menggigit jaketnya agar tangisnya tak terdengar meraung-raung. Di luar kemauannya tangisnya menjadi pecah seperti itu.

“Lo taunya darimana?” tanya Damar kaget sambil melepaskan pelukannya. Kenyataan itu membuatnya sedikit gusar.

He said that last night after I asked him. I begged him to be honest, I’ll accept whatever he wanted to tell me.”

Damar tertawa sinis. “Bener kan kata gue dulu? Nggak akan ada yang bisa membuat putus kecuali rasa sayang hilang. Dan rasa sayang nggak hilang begitu saja kalau bukan karena ada orang lain. Elo nggak pernah percaya. Kapan dia mulai suka sama cewek itu?”

“Sejak putus dari gue. Cewek itu ngasih perhatian dan support buat Regi di kala gue nggak ada. Ternyata Regi udah jalan kayak nge-date gitu sama dia beberapa kali. Sakit banget hati gue membayangkan Regi perhatian ke cewek lain. Gue speechless waktu Regi bilang dia menikmati kebersamaan sama cewek itu. Dan Regi menggandeng cewek itu kalau jalan bareng. Begitu cepat ya, Mar, dia berpaling.”

Let’s say her name, supaya kita nggak usah pake kata ‘cewek itu’. Gue tahu elo pasti benci kalau harus menyebut namanya. Tapi elo harus melatih kekuatan diri elo, siapa tahu yang terjadi adalah hal buruk. Everything can be happened,” kata Damar yang kini tidak terlihat selembut tadi.

Mahesa mendengus pelan. “Elo kedengeran seperti dia, Mar. Everything can be happened. Kalimat itu cuma keluar dari mulut orang yang terlalu pengecut untuk memutuskan. Walaupun dia cewek, namanya Angga.” Mahesa menarik beberapa tisu basah untuk menyeka matanya. “Dan herannya, gue dari dulu udah punya feeling bahwa Angga mungkin akan bisa menarik perhatian Ragi. Gue benci cewek ini dari dulu. Dari awal kuliah dia udah suka sama Regi. Dan gue ngelarang Regi deket-deket sama dia. Regi selalu bilang hal itu nggak akan pernah terjadi. Katanya, gue terlalu ‘tinggi’ untuk cemburu sama dia.”

Suasana menjadi lebih cair. Mahesa tidak lagi menangis. Damar mulai menyalakan sebatang rokok milik Mahesa. “Terkadang semua berubah, Mahes. Elo nggak bisa nyalahin dia karena dia menerima perhatian Angga secara waktu itu kalian dalam status putus. Gue harap elo nggak marah ataupun nangis semalam, malu-maluin. Jangan tunjukin kalau elo berharap sama dia. If you beg too much, he’ll become so selfish and leave you.”

Mahesa tersenyum sedih. “I wasn’t angry to him, but I cried. Firasat gue ternyata bener. Gue nggak berhak marah ke dia, secara gue juga pernah flirting sama orang lain. Tapi beda…”

“Apa yang beda? Yang namanya flirting ke orang lain tetap saja berkhianat sama perasaan sendiri.”

“Gue flirting cuma saat gue jenuh dan gue selalu bisa jaga perasaan gue. Nggak pernah ada pikiran untuk ninggalin Regi, toh gue tetep sayang sama Regi. Gue nggak pernah mau diajak nge-date atau sekedar jalan. You know-lah flirting-an gaya SMP, cukup sms-an. Gue dengan berani tegasin ke flirting-an gue pada akhirnya bahwa gue milik Regi. Dan emang gue selalu kembali ke Regi. Gue yang berusaha memelihara cinta gue ke Regi. I’m his wife-to be and he’s my husband-to be. Tapi Regi dengan jahatnya bilang ke gue sulit untuk memutuskan karena rasa sayang dia ke Angga dan gue fifty-fifty.”

Damar sedikit membanting cangkir hazelnut milk-nya. “Fifty-fifty? Dia lagi ngehina elo, Hes!”

“Iya sih, gue sedikit merasa terhina. Singkat kata, semalem dia bilang dia udah mulai mantap lagi ma gue setelah gue ingetin tentang janji-janji kami, rencana-rencana kami, dan janji bahwa gue akan berubah seperti yang dia ingini.”

It’s your choice. Kalau elo tetap mau bertahan, it’s okay. Elo mesti nunjukin betapa luar biasanya elo sayang sama dia. Gue yakin dia juga pasti ngerasa ngegantung dan sangat bingung. Tapi elo harus tetep usaha buat pertahanin kebahagiaan elo selama tujuh tahun ini. You deserve this.” Damar menepuk punggung Mahesa dengan bangga. Ia bangga karena temannya itu telah bisa menghilangkan egonya. “Terus masalah Angga gimana?”

Mahesa mengambil kotak rokoknya, tapi ternyata rokoknya sudah habis. “Kita nyewa shisa aja, yuk. Lumayan bikin hangat badan. Kita pakai rasa kesukaan elo deh, Mar, cherry mint.” Dua menit kemudian mereka sudah menghisap shisa. “Angga, itu yang jadi pikiran gue sekarang. Regi bilang dia emang udah milih gue. Dan katanya, dia akan kasih penjelasan ke Angga.”

Congratulation to you! You win his heart again,” kata Damar enteng.

It’s not that simple. Dia sempet bilang untung gue duluan yang nelpon dia dan membicarakan masalah ini. Kalau Angga duluan, mungkin dia akan ninggalin gue.”

Twice! Itu penghinaan lagi. Dan elo bisa sabar? Hebat.”

Love can make someone go crazy. And I drove my self insane. Dia bilang dia juga nggak bisa nyakitin perasaan Angga. Angga sudah berharap pada Regi karena Regi bilang ke Angga dia menikmati perhatian Angga. Dia bilang kemarin malam akan hubungi Angga, tapi ternyata nggak jadi. Mungkin hari ini dia akan lakukan itu. Sementara itu, gue sedang berharap-harap cemas. Dari semalem gue nangis terus. Gue nggak tidur, Mar.”

Okay, let’s pray for good news tonight,” kata Damar sambil tertawa.

Arrrghhh, kenapa kedai kopi sialan ini muter lagu Jason Mraz… lucky I’m in love with my best friend. Buktinya, gue nggak pernah fall in love with you, kan, Mar? Kenapa Regi dengan gampangnya berpaling sama temannya. Ingat ya, bukan his best friend. Sahabat gue dan Regi udah lama meninggal. Dan kedekatan Angga dan Regi bukan seperti sahabat, soalnya Angga suka sama Regi, dan bukan teman curhat juga.”

“Hahaha! Kekonyolan elo mulai muncul lagi nih. Elo tuh emang nggak bisa sedih lama-lama, Hes, menyia-nyiakan waktu aja, seperti prinsip elo.”

“Iya, seneng kalau ada yang nemenin, kalau sendiri, mungkin gue lama-lama bunuh diri aja. Nggak, gue harus mengejar cinta gue, orang yang pernah cinta sama gue. ”

Damar memesan cappuccino untuk mereka berdua. Gelas mereka sudah kosong. “Gila. Gue salut sama elo, Hes. Jangan kayak gue, gue cowok, tapi malas mempertahankan kebahagiaan. Kenapa sih selama ini elo selalu menampakkan elo baik-baik saja? Nggak akan ada yang nyangka elo serapuh ini. Dan elo selalu membanggakan Regi walaupun elo putus. Elo nggak pernah cerita tentang perlakuan Regi ke elo.”

“Gue begitu untuk menghibur diri. Kalau gue cerita hal-hal jelek tentang Regi, ntar pas gue marah, depresi, dan pengen ninggalin Regi, siapa yang akan ngingetin gue betapa baiknya Regi ke gue. Semua pasti manas-manasin untuk putus aja sama Regi. Beda kan, sekarang semua temen kuliah dan temen SMA mendukung agar gue balikan sama Regi karena mereka pikir kami udah serasi banget. Dan gue ingin membuktikan itu.”

Damar menggeleng pelan. “Terkadang elo bisa juga menipu diri kayak gini. Bodoh. Terus Regi udah ngehubungin elo hari ini?”

“Gue hubungin dia tadi pagi, Mar. Tapi dia kedengeran ketus, mungkin baru bangun tidur, dan nggak mesra sama sekali. Ya udah, gue mungkin mau biarin dia berpikir hari ini untuk ngomong ke Angga. Waktu dia bilang nggak mau nyakitin perasaan Angga, gue bilang bahwa dari semua ini gue-lah yang paling tersakiti hatinya. Mungkin perasaan Angga nggak akan sesakit gue. Did she sacrifice enough for Regi like I did?

“Bener sih, gue dukung elo. Kalau elo mau nangis lagi, silakan. Bahu sebelah kiri gue masih kering, kita tukar tempat duduk aja,” kata Damar nyengir.

“Sempet ya bercanda. Kebayang nggak sih cewek kayak gue bisa berubah seperti ini kalau bukan karena gue udah cinta mati sama Regi. Gimana pun semalem gue sempet seneng waktu dia bilang dia suka sama penerimaan gue masalah Angga ini. Gue memosisikan diri untuk dewasa. Gue bertekad untuk lebih dewasa, secara gue udah 22 tahun. I want to be a woman so that I can make him proud of me.” Mereka melakukan toast walau sebenarnya cangkir cappuccino tidak pas untuk dipakai ber-toast ria. “Arghhh. Ini waitress-nya sakit jiwa ya? Kenapa lagu Lucky ini diputar lagi?”

Damar tertawa kemudian meminta pelayan untuk mengganti lagu itu. Ia menyodorkan CD yang berisi lagu-lagu hip hop agar Mahesa tidak terlarut-larut mendengar lagu-lagu cinta.

“Jadi penutup pembicaraan kalian di telepon semalam apa?” tanya Damar.

“Dia meyakinkan gue bahwa dia milih gue. Gue bilang dia nggak ada apa-apanya dibandingkan gue. Gue bukan pilihan. Dia nggak lebih baik dari gue.”

Saat itu pelayan kedai kopi kembali memutar lagu melankolis. Kali ini yang diputarnya adalah The Day You Went Away-nya M2M. “Tahu nggak, Mar, lagu ini cengeng banget. Masa liriknya ‘Did I lose my love to someone better? And does she love you like I do. I know, you know I really really do. Nggak nunjukin girl power banget,” kata Mahesa.

“Bagusnya kayak apa?”

Will I lose my love to someone that worse? And does she love you like I do? You know, she is nothing compared to me.”

Mahesa mendendangkan lagu itu persis seperti nada M2M. Lalu mereka berdua tertawa keras. Mahesa memutuskan untuk pulang ke rumah Damar. Dia hanya tinggal menunggu kabar nanti malam dari Regi. Bisa sangat membahagiakan atau malah menghancurkannya. Entah masih sanggupkah Mahesa menangis nantinya karena belum pernah merasa sehancur itu. Everything can be happened, like he said… A sentence from a loser…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s