Is He Precious To Lose

Christo Regi Widhiasta is now  single… Regi menatap layar komputernya yang sedang membuka page facebook. His love life was over, almost ruined. Kemarin sehari setelah ulang tahun mantan pacarnya, Mahesa Ratri Kencana, mereka memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka yang telah terjalin selama tujuh tahun. Sebulan lost contact, no message, no phone call, and no attention. Sulit menjalani  Long Distance Relationship (LDR), apalagi mereka berdua sama-sama sibuk. Regi baru saja mendapat pekerjaan sebagai graphic designer, sedangkan Mahesa yang kerja di salah satu TV swasta sibuk liputan keliling Indonesia. Tidak ada yang salah dalam hubungan mereka, kecuali jenuh…
Sebuah pesan muncul di kotak yahoo messenger-nya. Ternyata dari teman yang duduk hanya lima meter di depannya.
Anggraini Sancoko: Hem… single nih? Sekarang single beneran atau masih bohong-bohongan kayak biasanya?
Christo Regi: Iya, kali ini aku sudah ingin move on.
Anggraini Sancoko: Owh how pity you are… Need a company? This is Saturday night…
Christo Regi: Sounds great. Tunjungan Plasa at 7 p.m. Fast and  Furious.
Aggraini Sancoko atau yang biasa dipanggil Angga, teman dekat Regi sejak kuliah. Regi tak bisa mungkir bahwa gadis ini memang menarik baginya, paling tidak dia selalu ada saat dibutuhkan seperti sekarang saat Mahesa tidak ada. Meski masih berhubungan dengan Mahesa, Regi tetap menyimpan rasa untuk Angga. Regi tahu itu salah, namun perasaan memang tidak bisa dibendung lagi. Dan entah kebetulan atau tidak, Angga melamar pekerjaan yang sama dengan Regi.
Kalau dihitung-hitung mungkin sudah dua tahun Regi berkhianat pada Mahesa dengan mendua rasa seperti ini. Sebetulnya Regi hanya ingin mengganggap Angga sebagai teman, namun tidak bisa, dia harus mengutarakan betapa nyamannya dia berada di dekat Angga. Dan Regi sudah mengungkapkan hal itu dua tahun lalu.
“Kamu bisa nggak sih kalau nyebrang itu liat-liat dulu?” kata Regi sambil menyambar lengan Angga.
“Ups sori. Kamu perhatian banget sih?” kata Angga sambil tersenyum.
“Em, kita langsung ke twenty one aja kayaknya.”
And he held her hand for the first time and didn’t release that holding hands after crossing the road.  Regi merasa meski hatinya hampa karena hubungan cintanya kandas, kali ini dia merasa sangat nyaman. Sesekali merasa gugup  juga, takut jika kepergok teman SMA. Tidak enak rasanya menggandeng tangan perempuan lain sehari setelah putus, apalagi hubungannya dengan Mahesa hampir direstui oleh lima angkatan di SMA mereka dulu.
Di dalam bioskop Regi mencoba keberuntungan lagi untuk menggandeng tangan Angga, dan ternyata Angga tidak menolak. This is non-dating thing but seems too awkward. Mereka sudah sering pergi berdua seperti ini, hanya untuk curhat, bergantian siapa yang mengajak.
“Angga, em, makasih ya kamu selama ini perhatian banget sama aku.”
“Iya nih, aku nggak tahu deh apa jadinya kamu kalau nggak ada aku. Hehe… “
Regi mempererat gandengannya, tersenyum simpel. “Aku udah pernah bilang kan dari dulu kalau aku nyaman banget di dekat kamu.”
“Heeh. Kamu emang suka cari perhatian aku, kan?”
“Kamu ngerasa ya? Tapi kamu juga nyaman ada di dekat aku? Kalau nggak, mana mau sekarang aku gandeng kayak gini?”

Angga menyandarkan kepalanya ke bahu Regi “Yeah you wish.  Tapi kamu, kan punya pacar. Nggak dari awal aku nanggepin kamu kan?”

“Masa?”

***

Dua minggu setelah putus, Regi masih merasa sangat kehilangan. Mahesa tak pernah sekalipun meng-sms-nya untuk sekedar bertanya kabar. Kesibukannya memang seringkali membuat Mahesa lupa segalanya. Andai Mahesa tidak seegois itu. Mungkin Mahesa memang bisa hidup tanpa perhatian Regi dan tak pernah mempermasalahkan hal itu, tapi Regi tak bisa menjalani hubungan seperti itu.

Hari Minggu pukul 11.00, Regi menyalakan TV dan wajah Mahesa-lah yang terpampang di kotak elektronik itu. Mahesa mengenakan pakaian jogging. Rambut panjangnya dikuncir ekor kuda. Dia menjadi reporter di acara Keep Your Day Inspiring, sejenis berita ringan. Tiba-tiba Regi sangat berhasrat untuk menelepon Mahesa, berharap saat itu Mahesa sedang tidak ada liputan.

Regi men-dial nama Mahesa N-Tv di hp-nya, nama Sweetheart langsung diubah menjadi Mahesa N-Tv setelah kata ‘putus’ resmi keluar dari mulut keduanya. Ring back tone Mahesa meraung-raung lama, tidak diangkat… Kenapa RBT itu harus lagu Katon Bagaskara yang berjudul Belahan Jiwa? Lagu itu pernah dinyanyikan Regi untuk Mahesa saat pertama kali menjalani LDR. Regi mencoba lagi, akhirnya diangkat juga.

“Halo…” Suara Mahesa terdengar dingin dan tergesa-gesa.

“Halo, lagi apa, Hes?” tanya Regi gugup.

Mahesa terdengar sedang berbicara dengan orang lain. Sekitar dua puluh detik Regi menunggu Mahesa selesai berbicara pada temannya yang entah siapa. “Hem, aku lagi apa? Lagi di rumah sakit nih, Chris…”

What?! She still calls him ‘Crhis’! Dan itu membuat hati Regi sedikit berbunga.

“Nggak Cuma pengen nanya kabar aja, pengen ngobrol-ngobrol. Emang ngapain di rumah sakit, ada liputan?”

“Harusnya ada liputan tapi aku harus periksa ke rumah sakit, kayaknya aku kena gejala tipes.”

“Hah, kamu sakit? Kamu kebanyakan kerja, kurang istiharat ya? Don’t work too hard, Hes. Jangan lupa makan, maag kamu udah akut, kan?”

“Tenang aja aku tahu batas kekuatan aku. Selama ini aku cukup kuat kok. Why do you care?”

Mahesa masih seperti dulu, tidak bisa diatur. Regi merasa sebal dengan sifat Mahesa yang terlalu mandiri itu. Seharusnya Regi bersyukur punya pacar yang tidak menyusahkan seperti itu, namun lama-lama tidak betah juga dicuekin. “Ya, maklumlah baru dua minggu putus, jadi masih kebiasaan. Nggak pa-pa dong aku masih perhatian ma kamu?”

“Eh Chris, aku udah harus liputan nih ke Kota Tua. Entar malam aja kalau mau telepon, ya. Bye!” Mahesa langsung memutuskan hubungan telepon.

***
Mahesa tersenyum kecil saat mematikan hubungan telepon terlebih dulu. Senang rasanya mendengar Regi masih khawatir akan dirinya. Mahesa meraih Nokia N-71-nya dan mengirim sms untuk Regi.

To: Him (0818025*****)
Tadi sebenarnya mau ngomong apa?

From: Him (0818025*****)
Mau bilang “kangen kamu”. Hehe… pengen aja cerita-cerita sama kamu. Ya udah nanti malam aku telepon lagi. Ati-ati, ya : )

Mahesa tersenyum senang karena Regi-lah yang pertama mengucapkan kata “kangen”. Sebenarnya Mahesa sangat merindukan Regi, tapi gengsi kalau harus menghubunginya terlebih dahulu. Sejak putus, Mahesa berkegiatan lebih banyak dari biasanya. Dia tidak bisa menyendiri karena itu akan membuatnya berpikir tentang Regi.

Mahesa sedang membaca lagi medikom lamanya. Medikom itu singkatan dari Media Komunikasi berupa buku yang digunakannya untuk curhat dengan Regi semasa SMA dulu. Dia tersenyum, kadang tertawa membaca betapa konyolnya mereka dulu. Regi was a romantic man, made Mahesa like a princess. Regi selalu menuruti kemauan Mahesa. Sejak dulu, pada akhirnya jika mereka bertengkar, Regi-lah yang selalu mengalah. Hingga saat ini pun Mahesa masih selalu gengsi mengakui bahwa dia sangat membutuhkan Regi di dalam hidupnya. Pikirnya, saat itu Regi membutuhkan waktu untuk sendiri sebelum nantinya minta balikan lagi.

Take A Bow-nya Rihanna berdering dari N-71-nya. Nama Him berkelap-kelip di layar itu. Mahesa tidak mengangkatnya. Dia ingin tahu seberapa besar keinginan Regi meneleponnya. Ternyata Regi menelepon lagi.

“Hai… Kenapa lagi?” Mahesa membuat  suaranya sekalem mungkin agar tidak terdengar bahwa dia senang.

“Enggak kenapa. Gimana kabar hidupmu setelah dua minggu putus?”

“Baik saja, sedang menikmati kesendirian, hehe. Kamu emangnya kenapa?”

“Aku lagi isi waktu dengan mendesain sampul buku, bikin program keamanan informasi. Kadang liat namamu di hp masih kangen juga.” Suara Regi terdengar hangat, seperti belum putus saja.

“Dasar aneh. Kok bisa gitu? Udah bisa enjoy, kan?”

“Karena sibuk juga jadi mungkin enjoy. Cuma sometimes masih gimana gitu lihat namamu di hp. Apalagi kalao buka facebook ada rasa iri ke teman-teman kamu, mereka bisa dekat sama kamu, sedangkan aku enggak bisa bersama kamu saat aku butuh kamu.”

Mahesa tersenyum kecil, puas dan senang mendengar pengakuan Regi itu. “Kalau masih kangen, liat aja foto-foto aku. Masih ada kan di dompet dan di laptop kamu?”

“ Masih, kok, masih… Itu aku lakukan juga kok. Kamu lagi apa sih kok berisik banget latar belakang kamu.”

“Aku lagi masak air panas, mau bikin cokelat panas. Dingin banget malam ini, padahal Jakarta lho! Enggak ding, AC-nya emang dingin.” Mahesa menuangkan air panas dari ceret ke dalam termos. Regi tidak berbicara apa-apa mendengar kesibukan memasak air Mahesa. “Oh iya, aku bosan deh, Chris, ditanyain teman-teman SMA, napa sih putus?”

Regi tertawa. “Mereka tanya apa lagi? Terus kamu jawab apa?”

“Aku jawab aja kami memutuskan bersama dengan baik-baik, yang jelas tidak ada pertengkaran. Oh iya, nama aku di hp kamu udah diganti, Chris?”
Sejenak Mahesa yakin namanya pasti masih Sweetheart, tapi… “Udah, sekarang jadi Mahesa N-Tv.”

Cokelat panas tersembur dari mulut Mahesa, dia terbatuk. “Oh baguslah, nama kamu di hp-ku juga udah diganti jadi Regi Gramedia. Chris, udah dulu ya, aku mau tidur.” Klik, Mahesa langsung memutuskan hubungan, masih sebal karena namanya diubah, padahal Mahesa tidak mengubahnya. You’ve got one message! N-71 Mahesa berdering singkat.

From: Him (0818025*****)
Met tidur ya, Hes. Mimpi indah. Jangan kecapaian lagi.

Mahesa paling tidak suka dipanggil “Hes” oleh Regi, rasanya seperti tidak spesial. Semasa masih pacaran dulu, Regi selalu memanggilnya “Sayang”, “Honey,” atau “Nona”, sekarang sudah menjadi in memoriam semua panggilan itu. Sedangkan Mahesa masih memanggilnya Chris, satu-satunya yang memanggilnya Chris…

To: Him (0818025*****)
Oke thank you! Aku sih berharap meski kita putus, kita bisa tetep nikah nantinya.

Shit! Bahkan Mahesa tidak sadar dia melupakan harga dirinya dengan mengirimkan sms itu terlebih dahulu. Selama ini kan  Mahesa bisa berpura-pura meng-ignored Regi, supaya Regi sadar bahwa Mahesa bisa hidup tanpanya. Dia ingin memastikan bahwa Regi-lah yang akan mengejarnya lagi seperti biasanya. Aneh juga, dua minggu Regi masih adem ayem saja. You’ve got one message, hp berdering lagi.

From: Him (0818025*****)
Iya, aku juga masih berharap begitu : )

Mahesa tenang karena Regi masih menjawab seperti itu. Dia sudah cemas saja Regi akan give up dengan hubungan ini. Malam ini mungkin malam pertama Mahesa tidur tenang sendiri karena sebelum-sebelumnya dia tidur di kamar hotel bersama temannya, di tempat yang berbeda-beda tergantung tempat liputan. Mahesa masih takut sendirian… He belongs to me, nobody can’t replace me in his heart, I believe that, pikir Mahesa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s