Finally, I Know That Somethig’s Wrong

Berlari dari lapangan parkir menuju gedung N-Tv ternyata pekerjaan yang melelahkan juga. Mahesa mencengkeram sisi kiri perutnya dan mengernyit kesakitan saat ia berada di lobi kantor. Sudah tahu Jakarta pasti macet pada pukul tujuh pagi, dia tetap tidak bertekad untuk berangkat lebih pagi, apalagi hari Senin seperti ini. Semalam Mahesa memeriksa jadwal liputannya, dan tidak ada kebutuhan mendadak yang harus dilakukannya hari itu. Jadi sebenarnya dia bisa datang agak siang. Sialnya, sang bos yang memproduseri seluruh soft news di N-Tv meneleponnya begitu dia selesai mandi pukul enam. Nada sang bos menyiratkan bahwa dia marah besar.
“Eh Mahes, elo dicariin Pak Abi dari tadi. Udah jam setengah sembilan baru nyampe juga ke kantor! Kebiasaan banget! Buruan naik, elo kayaknya bakal dimarahin deh,” kata Riska yang kebetulan bekerja sebagai kru di divisi soft news bersama Mahesa.
“Duh, bentar dong, Ris, perut gue mau meledak ini! Gue makan roti sambil nyetir tadi, masih sakit usus gue. Nah, elo sendiri mau kemana? Kita nggak rapat bareng Pak Abi sekarang?” ujar Mahesa, masih tersengal.
Riska masih santai-santai duduk di sofa yang ada di lobi. “Apa urusan gue? Kan yang bikin salah elo? Gue mau nemenin Mr. Frederick  syuting wisata kuliner. Hehe, seneng nih gue liputan bareng si bule ganteng itu. Udah gih buruan ke atas!”
Mahesa tak perlu disuruh tiga kali untuk menghadap Pak Abi karena pada saat itu Nokia N-71-nya menderingkan lagu Indonesia Raya yang di-set khusus untuk nomor Pak Abi. Kemeja putih kedodoran semi-transparannya terlihat seperti tak tersetrika dengan baik. Sesampainya di pintu ruangan Pak Abi, Mahesa sempat berkaca di jendelanya, merapikan rambutnya yang berantakan dan mengancingkan tiga kancing kemejanya yang dibiarkannya terbuka, memamerkan tank top warna pelangi di dalamnya. Mahesa mengetuk pelan. Suara deham tertahan menyambutnya dari dalam.
“Selamat pagi, Pak Abi. Maaf, saya terlambat.” Mahesa melihat Pak Abi yang menurutnya sok sibuk membalik-balik kertas. “Ada apa ya, Pak?” kata Mahesa takut-takut. Dia teringat kata-kata Riska di lobi tadi bahwa Pak Abi marah padanya. Namun dia tak tahu pada perihal apa sang bos marah.
Pak Abi mencopot kacamatanya, menatap Mahesa dalam-dalam. “Bos besar N-Tv komplain ke saya tentang liputan kamu minggu lalu yang ditayangkan kemarin. Katanya, liputan kamu tentang Kota Tua itu tidak fresh untuk dijadikan soft news.”
Ini dia saat di mana pemilik tuggal media massa mulai ikut campur pada konten berita. Tak akan ada yang berani melawan. “Bagaimana Pak Wisnu bisa berkata begitu? Jelas-jelas Ani Yudhoyono ada di sana, jogging pagi-pagi bersama ibu-ibu pejabat. Menurut saya, pasti ada agenda politik di dalamnya, secara sekarang kan musim kampanye. Nilai beritanya sangat tinggi malah!”
“Masalahnya, kita ini berbentuk soft news, Mahes. Kita lebih menonjolkan aspek to entertain. Sudah banyak berita politik dibahas di ruangan hard news, buat apa soft news menggarapnya lagi?” kata Pak Abi mulai naik darah mendengar nada nyolot Mahesa barusan. “Kita butuh sesuatu yang menjadi inspirasi bagi pemirsa, sesuai dengan nama program kita, Keep Your Day Inspiring! Kamu malah mewawancarai Ani tentang masalah pencalonan suaminya sebagai presiden! Di mana letak inspirasinya?”
Mahesa menghela nafas panjang. Ketakutannya menghadapi Pak Abi seketika hilang ketika hasil kerjanya tidak dihargai seperti ini. “Pak, itu inspirasi untuk ibu-ibu di rumah, bahwa mendukung suami tuh harus selalu dilakukan. Kan ada pepatah, di belakang pria yang berhasil, pasti ada perempuan yang hebat. Ya, Bu Ani itu contohnya. Bapak kan tidak mau bilang bahwa televisi sekarang ini hanya melulu menghibur penonton? Di balik tayangan entertainment harusnya diselipkan edukasi juga, kan, Pak?”
“Tapi ranahnya berbeda, Mahesa. Saya tidak mau tahu liputan berikutnya harus benar-benar murni hiburan, tidak ada ulasan politik atau ekonomi! Kalau kamu tidak suka, saya bersedia merekomendasikan kamu ke bagian hard news!”  bentak Pak Abi.
Mahesa sadar kali ini Pak Abi sedang mengancamnya. Dan hal itu akan benar-benar dilakukannya jika Mahesa tetap melawan. Mahesa tak mau kehilangan pekerjaannya menggarap soft news dan feature. Maka dia pun mengendalikan diri. “Maaf Pak Abi, saya tadi tidak bisa mengontrol emosi saya. Kalau begitu, Bapak beri saya saran untuk meliput apa minggu ini.”
“Saya dengar akan ada Festival Malang Kembali, dimulai Kamis ini hingga Sabtu. Kamu bisa meliput itu karena setahu saya acaranya sangat menarik. Selain itu kamu bisa juga mampir ke Segara Anakan, pantai di pinggiran Malang. Liput itu, ya, jadikan seperti feature, jangan terkesan seperti dokumenter. Siap?” Pak Abi sudah menurunkan nada tinggi pada suaranya.
“Ya Pak, saya siap. Kalau begitu, Rabu malam saya akan berangkat dengan tim biasanya. Kalau tidak ada keperluan lagi, saya keluar dulu. Permisi.” Pak Abi hanya menggangguk.

Tim yang dimilikinya cukup kompak, terdiri dari lima orang. Damar termasuk ke dalam tim Keep Your Day Inspiring sebagai kamerawan, bersama Adjie. Ada pula Mbak Windu sebagai koordinator liputan. Satu lagi tentu saja Riska, sebenarnya berfungsi sebagai scriptwriter namun lebih sering berurusan dengan make up, sehingga Mahesa terpaksa menulis sendiri naskahnya.
Damar menyeringai senang saat melihat Mahesa keluar dari ruangan Pak Abi. Mahesa menghampirinya dan duduk di biliknya sendiri, yang kebetulan berada di sebelah bilik Damar. “Kenapa? Dimarahin Pak Abi, ya? Elo sih, ngotot pengen ngeliput itu. Mbak Windu aja sampai nggak bisa ngelawan elo.”
“Gue yakin tuh sebenarnya Pak Abi nggak mempermasalahkan. Gara-gara si Wisnu komplain aja, jadi deh kita disalahin. Terus kenapa dia nggak manggil Mbak Windu aja, malah gue?” Mahesa membuka page facebook-nya, mengecek notification.
“Mbak Windu udah dipanggil kali tadi sebelum elo. Dia sih langsung minta maaf ama Pak Abi. Terus dia juga bilang susah berkompromi sama elo. Jadi deh, elo yang disalahin,” kata Damar.
Tidak ada tulisan di wall atau message dari Regi, menyebalkan. Mahesa membuka page Regi. Dia memutar kursi menghadapi Damar. “Si Windu tuh nusuk gue dari belakang nih ceritanya? Kenapa dia nggak mengonfrontasi gue aja dari dulu?”
“Lha, bukannya nggak ada yang bisa ngasih tahu elo, kecuali gue? Nggak sadar nih kalau keras kepala?” Damar tertawa puas. Mahesa menjambak rambut Damar dan baru melepaskan cengkeramannya ketika Damar berteriak. “Ampun, Hes! Udah ah, kayak anak kecil aja. Eh, kita liputan apa minggu ini?”
“Festival Malang Kembali. Udah gitu kita berwisata ke Segara Anakan. Seneng kan, lo, pulang ke kampung halaman? Bagus nggak sih Segara Anakan itu?” kata Mahesa sambil mengecek wall Regi. Ada beberapa wall yang ditulis perempuan bernama Anggraini Sancoko!
“Serius lo? Buat ke Segara Anakan itu medannya sulit banget lho! Tapi tempatnya emang bagus banget! Yah, you’ll find heaven-like place, after walk trough the hell way. FMK sih emang selalu menarik. Keren banget, deh! Terus ya, banyak makanan yang asli …”
Damar menyerocos terus menceritakan tentang Malang tanpa sepatah kata pun disimak Mahesa.  Matanya tertuju pada wall dari Anggraini itu, contohnya begini “Regi, lagi patah hati ya, sabar ya” atau “Duh, Regi hari ini kamu bau banget, mentang-mentang baru putus jadi nggak nafsu mandi, ya?” atau “Regi, jangan tidur menjelang subuh dong, kan nggak enak dilihat di kantor, loyo banget. Semangat ya!” atau “Huh, iri nih yang desain cover-nya udah selesai, punyaku belum. Bantuin dong!” atau “Duh, anjing kamu lucu, ya? Cium buat Brindon ya, beneran dicium lho, bukan sekedar dielus.”
Apa urusannya nih cewek komentar kalo mantan laki gue jarang mandi? Emang keharusan mantan laki gue bantuin dia ngerjain cover? Terus napa nggak cium sendiri aja anjing bernama Brindon itu, pake perantara mantan laki gue segala? Girang banget nih cewek tahu Regi putus! Pikiran-pikiran itulah yang menyerang Mahesa saat itu juga. Jangan-jangan perempuan inilah yang mengejar-ngejar Regi sejak kuliah itu, yang namanya Angga. Seketika Mahesa ingin melihat profil Angga dan mengetahui wall yang ditulis Regi untuk Angga, namun ternyata tidak bisa sembarang orang mengakses profilnya, dikunci! Mahesa mendengus kesal. Dan sisa hari itu dilewatinya dengan menggerutu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s