Berilah ‘Ruang’ untuk Anak Kecil dalam Acara Televisi

“Diobok-obok airnya diobok-obok… Ada ikannya kecil-kecil pada mabok…”

Sepenggal lirik lagu Diobok-Obok milik Joshua itu tentu masih melekat di benak kebanyakan orang. Periode 1994-1999 adalah masa keemasan program-program acara yang disajikan khusus untuk anak-anak. Mantan anak-anak yang pernah melewati tahun itu tentu mengenal nama mantan artis-artis cilik seperti Joshua, Chikita Meidi, Meisya, Trio Kwek Kwek, Giovani, Bondan Prakoso, Agnes Monica, Enno Lerian, dan sebagainya.

Pada periode itu pula acara-acara musik untuk anak kecil masih marak ditayangkan di televisi. Hampir setiap televisi memiliki acara musik untuk anak kecil, sebut saja Cilukba, Dunia Anak, dan Tralala-Trilili. Mantan artis-artis cilik tersebut kini telah menjadi dewasa dan mereka pun masih bergerak di dunia hiburan. Sejak tahun 2000, acara musik untuk anak tersebut sudah tenggelam, digantikan tren baru berupa telenovela dan sinetron. Maka tak heran ketika kita menginjak tahun 2015, tidak ada lagi mantan artis cilik yang dikenal pada tahun 2000 ke atas.

Sebenarnya acara musik untuk anak sangat dibutuhkan. Usia pra-remaja, antara 5-10 tahun masih dikategorikan sebagai anak kecil. Mereka masih menikmati lagu-lagu anak-anak. Wajarnya anak-anak dalam interval usia itu masih belum bisa merasakan emosi yang kompleks, masih ingin bersenang-senang. Dengan mendengarkan lagu untuk anak kecil, kreativitas mereka sebenarnya bisa dirangsang. Mereka berada dalam masa “berbahagia”, belum mulai mencari jati diri, dan masih berusaha membuat diri mereka nyaman dengan keadaan mereka. Mereka tumbuh sebagaimana adanya.

Namun sekarang, bisa kita lihat, minim sekali acara televisi yang dikhususkan untuk anak. Jikapun ada, acara anak hanya menjadi komoditas belaka, bukan murni untuk anak-anak. Citra anak kecil yang masih polos pun kini telah luntur, digantikan oleh citra lain yang bisa merusak pola pikir anak yang masih polos. Contohnya adalah Idola Cilik, acara itu memang kesannya diperuntukkan bagi anak kecil, namun tidak ada nilai moral yang baik yang ditanamkan dalam acara tersebut. Anak kecil dipaksa menerima bahwa pemberian rapot merah berarti mereka telah gagal berprestasi. Padahal selama ini rapot merah atau nilai merah dikenal sebagai pertanda bahwa murid tidak belajar dengan baik dan hasil ujiannya jelek. Dalam acara itu, rapot merah berarti anak harus tersingkir dari ajang cari bakat itu karena SMS dukungan untuk mereka sangat sedikit, bukan berarti suara mereka jelek, melainkan mereka memang tidak punya massa. Kepentingan acara itu meraup uang malah mendiskrimanasi anak kecil. Anak kecil dipaksa percaya bahwa usaha mereka kurang baik. Jika berniat baik, mengapa tidak menggelar acara lomba nyanyi dengan juri yang objektif, tidak perlu pendapat masyarakat banyak, karena masyarakat belum tentu objektif.

Hal lain yang muncul dalam Idola Cilik adalah terkadang anak dengan suara yang merdu dan pantas mendapatkan gelar kandidat juara satu terpaksa kalah karena dukungan bagi “anak kurang mampu” mengalir deras. Para pemilik televisi tampaknya sadar betul bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat melodramatik, yaitu masyarakat yang memiliki karakter yang suka akan hal-hal sedih yang melantun-lantun, mengharu-biru, pemimpi, dan kebanggaan semu. Masyarakat kita mudah lupa, mudah kasihan, dan mudah bosan. Maka hadirlah tayangan-tayangan yang telah didramatisir begitu rupa.

Selain itu anak-anak sekitar usia SD sepertinya tidak lagi “merasakan” kodratnya sebagai anak kecil. Acara sinetron sekarang tidak mendidik anak kecil sesuai dengan kodrat mereka. Anak kecil hanya dijadikan sebagai pelengkap saja pada sinetron orang dewasa. Anak-anak—melalui sintron—diperkenalkan kepada gaya hidup kapitalisme karena sinetron saat ini gemar mempertontonkan kemewahan duniawi, tidak ada pesan moral untuk anak kecil.

Sepuluh tahun lalu, para orang tua masih memiliki sinetron atau acara sebagai referensi untuk mendidik anak mereka. Ada Keluarga Cemara dan Lup. Keluarga Cemara mengajarkan kepada anak-anak, meski hidup susah, mereka tetap harus berjuang. Dalam sinetron itu juga diajarkan bagaimana anak menghormati orang tua, dan bagaimana orang tua menghargai anak mereka. Sinetron Lup bercerita tentang persabahatan lima orang remaja yang masih SMP. Dalam kisah itu yang diceritakan hanyalah suka-duka menjalani persabahatan. Remaja diajarkan untuk setia kawan. Tidak ada kisah percintaan di dalam Lup. Justru kisah cintalah yang sekarang ramai memenuhi sinetron, bahkan untuk remaja sekalipun. Anak-anak dan remaja diajarkan untuk memadu kasih. Sekarang para orang tua merasa kewalahan untuk menyaring acara apa yang boleh atau tidak boleh ditonton karena semua acara memiliki tipe yang hampir sama. Pada akhirnya para orang tua pun hanya membiarkan saja anak-anak mereka menonton acara yang tidak memiliki pendidikan moral yang baik.

Sepuluh tahun yang lalu, pada pukul 16.00, berbagai televisi menayangkan acara-acara kartun dan musik anak untuk menemani anak-anak berisitirahat sore setelah mandi sore. Pukul 16.00 adalah waktu anak-anak bermain setelah seharian bersekolah dan setelahnya tidur siang. Maka, penayangan kartun dan acara musik anak sangat cocok. Sekarang, apa yang disajikan sebagian besar televisi Indonesia pada pukul 16.00? Tentu saja acara gosip. Tak heran jika saat ini anak-anak kecil ‘melek’ gosip karena mereka terpaksa ikut menonton acara gosip yang ditonton sang ibu.

Sekarang pemerintah harus membuka mata untuk persoalan kecil seperti ini—persoalan kecil bila dibandingkan dengan urusan memberantas korupsi, misalnya. Menjelang Hari Anak pada 23 Juli ini, ada baiknya pemerintah ikut memikirkan resolusi untuk membentuk moral yang baik bagi anak-anak kecil. Pemeritah bisa mengeluarkan perintah agar para pemilik televisi menyediakan waktu khusus dalam menayangkan program anak-anak yang bermutu dan baik bagi perkembangan moral anak. Sekali-kali kan tidak ada salahnya mengeluarkan peraturan eksentrik seperti halnya Singapura yang melarang orang merokok sembarangan atau Perancis yang melarang warganya untuk menggunakan atribut keagamaan. Ini juga demi masa depan anak-anak kecil yang nantinya jadi penerus negara. Tentu kita tidak mau jika para penerus itu bermoral tidak baik dan bermental ‘tempe ‘ karena kurang didikan di masa kecil?

2 Comments Add yours

  1. Iwan says:

    Permisi…Saya sedang mencari artikel tentang televisi dan anak….kebetulan artikel anda yang disodorkan Mr.Google…jadi saya “terpaksa” membacanya…Terimakasih..hahahah…

  2. Oz says:

    saya adalah “mantan anak2” yang anda sebut di dalam artikel dan saya merasa bersyukur hidup sebagai anak-anak di era tersebut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s