Soekarno dalam Memperjuangkan Kepentingan dan Hak Perempuan

Cover_PEREMPUAN DI MATA SOEKARNOJudul : Perempuan di Mata Soekarno
Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit : Garasi, Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2009
Tebal Buku : 151 halaman

“Sebab kita tidak bisa menjusun negara dan tidak dapat menjusun masjarakat, djika (antara lain-lain soal) kita tidak mengerti soal-wanita” (Soekarno dalam Sarinah, 1963: 5)
Memperbincangkan pemikiran-pemikiran Soekarno memang tak pernah ada habisnya. Akan selalu ada bahan baru yang bisa diulas dengan munculnya buku baru mengenai Soekarno. Nurani Soyomukti yang pernah menulis buku Soekarno dan Nasakom tertarik untuk menguak pemikiran Soekarno tentang kaum hawa dengan menulis buku berjudul Perempuan di Mata Soekarno (PMS) ini. Apa yang menarik minat Soekarno terhadap perempuan?
Jika dilihat dari sampul yang menggambarkan salah satu istri Soekarno dan sepasang kaki indah seorang perempuan, sekilas lalu orang bisa menyangka bahwa buku ini berisi tentang pandangan Soekarno terhadap perempuan dari segi seksualitas. Namun, ternyata tidak seperti itu isinya. Buku ini berisi tentang pemikiran dan pendapat Soekarno mengenai makna perempuan dalam kapitalisme, dan pergerakan perempuan dalam politik serta negara, seperti diungkapkan dalam kutipan di awal resensi.
Nurani membagi buku ini menjadi 3 bab; bab pertama berisi tentang gerakan perempuan sebelum dan sesudah kemerdekaan. Pada bab dua penulis berusaha menguraikan secara singkat kisah hidup Soekarno. Pada bab tiga barulah dijelaskan pemikiran Soekarno tentang perempuan dari beberapa sisi. Selain berisi tentang pemikiran Soekarno, buku ini disisipi pula oleh pendapat pribadi sang penulis.
Hal yang menarik dari buku ini adalah pandangan Soekarno tentang perempuan dalam perspektif marxisme-sosialisme. Paradigma bahwa perempuan lemah, sedangkan laki-laki kuat, terbentuk dari sejarah. Dikisahkan pada zaman purbakala, justru perempuanlah yang duduk di tigkatan atas dan laki-lakilah yang tunduk kepada perempuan. Perempuan pernah menjadi produktif, berpengaruh dalam kehidupan ekonomi, menduduki pusat kerjasama sosial. Kedudukan menjadi terbalik ketika ras manusia mulai memasuki zaman peradaban yang berarti telah mengenal tulisan. Dimulainya ketika memasuki zaman barbarisme di mana perempuan sebagai sumber berharga dari umat manusia diubah menjadi budak.
Pernikahan dalam masyarakat kapitalis dianggap Soekarno sebagai pelarian perempuan dari ketidakberdayaannya sehingga melahirkan ketergantungan terhadap laki-laki. Nurani menuliskan, “Dalam kondisi kelemahan dan ketergantungan mental perempuan yang dibentuk oleh penindasan kelas dan penindasan gender selama berabad-abad itulah, tak heran jika di dalam pernikahan perempuan mengalami berbagai macam penindasan dan diskriminasi.” (106)
Dalam konteks kapitalisme, perempuan yang mulanya belum menikah memiliki kebebasan untuk menikmati dan mengeksplorasi pikiran dan daya gunanya sendiri. Namun, ketika menikah kebebasan seperti itu seakan dilumpuhkan. Bung Karno, meski menganut poligami, tetap percaya bahwa suami-istri bisa membangun hubungan yang demokratis dalam pernikahan.
Menurut penulis, kapitalisme dan ide-ide feminisme liberal identik dengan pelembagaan pelacuran. Secara empiris, pelacuran adalah ‘orang yang memperdagangkan tubuh untuk dipertukarkan dengan uang kepada orang yang membelinya.’ Nurani berpendapat bahwa tidak ada bedanya antara pelacur miskin penjaja seks dan pelacur penjual tubuh dengan goyangan dan tariannya. Hal tersebut didasari anggapan bahwa ‘memperdagangkan tubuh’ tidak hanya merujuk pada payudara dan alat kelamin perempuan, tetapi juga kaki, tangan, dan kepala.
Soekarno Muda diceritakan sebagai orang yang aktif memperjuangkan berdirinya organisasi dan pergerakan perempuan. PNI yang pada saat itu dipimpin Soekarno juga membuat kongres yang bertemakan isu-isu perempuan seperti penghapusan poligami, kawin paksa, dan kawin bawah umur.
Pada saat itu muncul Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang sering disebut-sebut sebagai salah satu divisi PKI—yang berarti berhubungan dekat dengan Soekarno. Awalnya, Gerwani menganut anti-poligami. Namun ketika Soekarno menikah lagi dan melakukan poligami, Gerwani tidak melakukan apapun.
Kelemahan yang paling fatal terletak pada kegemaran penulis untuk mengulang ide atau gagasan yang sama pada bab-bab yang berbeda. Bahkan bukan hanya ide yang sama, melainkan juga paragraf demi paragraf terkadang mengalami pengulangan tanpa editan sama sekali alias copy-paste. Hal ini sangat disayangkan karena menurunkan kredibilitas penulis. Peresensi mengganggap hal itu sebagai plagiarisme penulis terhadap diri sendiri.
Jika diperhatikan, beberapa penggal paragraf 38 dan 63 sama persis, yaitu berisi tentang PHK besar-besaran yang menyebabkan mogok kerja di pegadaian dan perusahaan kereta api, serta menuai reaksi berlebihan dari Jenderal Dirk Fock. Kesamaan paragraf ditemukan pula pada halaman 66 dan 134, yang berisi tentang pendirian Partai Nasional Indonesia (PNI) dan bagaimana Soekarno mendapat julukan “Singa Podium”. Ada juga kesamaan pada halaman 71 dan 141, berkisah tentang pemindahan Soekarno ke Bengkulu yang menyebabkannya mengenal Fatmawati, putri Hasan Din. Pada halaman 61 dan 100 terdapat pengulangan kutipan Soekarno mengenai “guru” dalam hidupnya, yakni HOS Cokroaminoto, Muso, dan Alimin. Penulis kembali menuangkan gagasannya tentang pelacur murahan dan pelacur penjual tubuh pada halaman 118—sebelumnya berada pada halaman 16.
Kesalahan lain yang terdapat dalam buku ini di antaranya adalah ketidakkonsistenan Nurani menyebut dirinya dengan kata “penulis” dan “saya”. Ada kesimpangsiuran fakta yang dituliskan yakni mengenai penyebutan Hartini sebagai istri kedua Soekarno setelah Fatmawati. Padahal sebelumnya disebutkan bahwa Inggit adalah istri pertama Soekarno. Di dalam buku ini tidak ada penjelasan apakah Soekarno bercerai dengan Inggit dan menikah dengan Fatmawati sehingga Fatmawati menjadi istri pertama. Kesalahan lain adalah pembentukan kata “merubah” yang seharusnya “mengubah”. Tentu kedua kata ini memiliki makna berbeda. Merubah berarti menjadikan rubah, sedangkan mengubah berarti melakukan pengubahan.
Dalam penyusunan buku ini, Nurani tak bisa terlepas dari buku-buku mengenai Soekarno yang ditulis Soekarno sendiri ataupun orang lain. Buku yang paling berpengaruh dalam PMS adalah Sarinah karya Soekarno tentang perempuan dalam perjuangan Republik Indonesia. Selain itu, Nurani menggunakan banyak kutipan dari Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid I dan II, serta Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis oleh Cindy Adams.
Buku PMS ini seolah-olah menjadi intisari dari buku-buku tersebut dan buku lainnya yang ada hubungannya dengan Soekarno. Bagi kita yang malas membaca buku yang relatif tebal, buku ini menyediakan inti-inti pemikiran dan peristiwa-peristiwa yang dalami Soekarno. Sayang sekali, pemikiran asli penulis tidak terlalu banyak, dan justru terdapat dalam prolog.
Buku ini menjadi lebih menarik apabila menjelaskan pandangan Soekarno mengenai perempuan dalam segi seksualitas karena di dalam judul disebutkan kata “perempuan” yang bisa dilihat dari berbagai segi. Dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat disebutkan Soekarno bahwa ia mengagumi perempuaan sebagai simbol keindahan karena pada dasarnya ia mencintai segala jenis keindahan di alam—tidak melulu keindahan perempuan dikorelasikan dengan seks.
Poin tersebut tidak akan mengubah esensi buku ini jika diselipkan karena banyak orang yang ingin mengetahui apa sebab Soekarno terkesan plaboy. Mungkin penambahan poin tersebut bisa menambah halaman dan ketebalan buku, daripada penulis meletakkan paragraf-paragraf yang sama di halaman yang berbeda.
Pada akhir buku, penulis menyimpulkan bahwa “… feminisme Soekarno diabdikan pada upaya untuk mewujudkan sosialisme Indonesia, tentu tak dapat dibantah jika kita mengacu pada buku Sarinah yang ditulis di era revolusi mempertahankan kemerdekaan pada saat Belanda mau menjajah kembali itu.” (149)
Buku ini layak dibaca para Soekarnois meski mungkin tidak “seberat” buku tentang Soekarno lainnya. Bagi para pecinta dan pejuang feminisme, buku ini cocok untuk dipelajari, menambah referensi, dan menambah koleksi. Hal yang patut diingat adalah belum ada presiden yang menandingi Soekarno dalam hal perhatiannya kepada perempuan, dan itu dituangkan dalam buku ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s