Andai Aku Bisa Mengukir Bahasa

Kemeriahan menyambut tahun baru belum juga lewat. Masih terlihat bekas perayaan malam tahun baru semalam. Semangat orang-orang belum menyusut meski semalam suntuk berkumpul di kota untuk menanti perayaan kembang api di kota Bandung. Siang ini kerumunan orang memenuhi Jalan Braga, salah satu jalan yang terkenal di kota yang dijuluki Paris van Java itu.

Suasana saat ini mirip acara karnaval. Di pinggir-pinggir trotoar digelar dagangan dan kedai-kedai yang menjual barang-barang serba unik tetapi murah. Heran, barang-barang murah itu justru yang membeli adalah orang kaya. Begitulah model orang kaya zaman sekarang, tetap ingin mendapatkan barang berkualitas bagus dengan harga supermurah. Beberapa kali lewat perarakan mobil yang memamerkan keunikan dan kebudayaan Sunda. Ada juga badut-badut yang berkeliling di sekitar Braga, menghibur bocah-bocah yang ditinggal belanja oleh ibu-ibu mereka. Di pusat Braga didirikian sebuah podium yang dinaungi tenda. Sepertinya Walikota Bandung sempat berpidato menyerukan visi misi baru kota Bandung. Entah para pengunjung mendengarkan atau tidak, yang jelas mereka bersorak kegirangan ketika sang walikota turun dari podium. Apa yang membuat walikota mau meluangkan waktu untu berpidato, tidak biasanya walikota hadir di acara rakyat seperti ini.

Pesta rakyat kali ini memang salah satu ide dari walikota. Festival Seni dan Budaya namanya. Berbagai budayawan dan seniman dari sekitar Bandung dan beberapa di antaranya adalah orang asing hadir di sini. Budayawan Sunda dengan piawai memainkan angklung di trotoar. Rupanya masih ada orang yang mempertahankan alat musik tradisional itu agar tidak menjadi hak cipta negara tetangga, tidak hanya sekedar marah saja. Orang akan ternganga melihat lekuk tubuh para penari Jaipong. Jaipong, tarian yang tidak akan disuguhkan oleh para muda-mudi moderen kota. Jaipong, yang dianggap bisa membangkitkan nafsu para lelaki hidung belang, nyatanya hanya sebuah tarian rakyat. Para pelukis berjejer di sepanjang pinggir jalan untuk memeriahkan acara itu. Selama sepanjang siang mereka diberi kebebasan untuk melukis dengan tema bebas. Kebahagiaan terasa menghinggapi setiap orang yang rela berpanas-panas di terik matahari yang melotot tanpa berkedip.

Kebahagiaan ikut merasuki Robert, salah seorang pelukis yang diundang dari Ausralia untuk memeriahkan festival ini. Penampilannya terlihat nyentrik dengan rambut sewarna padi menguning model alfro, yang sering disebut kribo. Ia memakai kemeja hijau lengan panjang, tiga kancing atasnya dibiarkan terbuka. Syal hitam bergaris putih menghiasi lehernya. Ia memakai celana hitam cutbray, dilengkapi dengan sepatu pantofel hitam. Senyumnya mengembang penuh di bibirnya. Ia sangat mencintai Bandung; keseniannya, bangunan lawasnya, dialek sunda, dan setiap senti kota ini. Mungkin kecintaannya melebihi orang-orang asli daerah sini. Banyak objek yang sudah dilukisnya di kota ini, sebagai koleksi galerinya di Melbourne. Ia tersenyum pada setiap orang yang melewatinya. Tentu ini adalah budaya yang ditirunya dari orang Indonesia, ramah dan selalu tersenyum. Entah masih berapa gelintir orang Indonesia yang masih ingat untuk tersenyum meski pada orang yang tidak dikenalnya. Jika saja Robert mampu mengukir bahasa, ia akan menyapa orang-orang  di sekelilingnya.

Robert belum beride untuk melukis saat itu. Para pelukis di kiri-kanannya sudah mulai menggoreskan kuas mereka ke dalam kanvas. Lagi-lagi Robert tersenyum melihat keseriusan yang terpahat pada wajah sesama pelukis. Tak tahu dan tak mengerti mengapa hari ini ia begitu tak tega menodai kanvas putih itu. Ia ingin hanyut bercengkerama dengan kerumunan orang, sesuatu yang amat dirindukannya. Memandang berkeliling hanya membuatnya semakin ingin meninggalkan jajaran para pelukis. Ia ingin belajar bermain  angklung. Ia ingin membeli baju kebaya dan kain batik untuk ibunya, batik yang ia yakini adalah kekayaan budaya Indonesia. Siapa tahu ibunya terlihat anggun seperti perempuan-perempuan Indonesia tempo dulu. Sayang, sudah jarang perempuan Indonesia yang memakai baju seindah itu.

Sesaat ketika idenya semakin jauh terengkuh oleh angannya, seluruh indranya berhenti memerhatikan satu titik. Pemandangan yang menarik perhatiannya begitu indah. Senyumnya pudar berpadu dalam kekaguman saat mengamati pemandangan itu. Robert sudah tidak asing dengan pemandangan indah yang membuatnya memuja dalam hati. Namun, pemandangan kali ini memiliki arti indah yang sangat jarang ditemuinya. Pemandangan itu terpancar dari makhluk bernama perempuan.

Di depan jalan masuk Braga City Walk, di sebelah podium tempat walikota berpidato, di depan sebuah gerai yang menjual tirai-tirai, seorang perempuan duduk dengan gelisah. Robert tertegun melihatnya. Perempuan itu menyimpan kekayaan alami perempuan asli Indonesia. Kulitnya kuning langsat memancar walau peluh membasahi kulit itu. Wajahnya oval seperti campuran wajah orang sunda dan jawa. Rambut hitam lurusnya terurai panjang, rambut khas ras Asia. Kecantikan itu patut disetarakan dengan kecantikan para perempuan di negeri Ratu Elizabeth. Perempuan itu berdiri sejenak, berjalan mondar-mandir di sekitar gerai tirai. Sekilas tubuhnya terlihat ideal, terbalut dalam kemeja putih garis-garis, celana jeans hitam, dan sepatu kets. Tubuhnya bisa menimbulkan decak kagum dari kaum Adam. Namun Robert tak setega itu berdecak padanya karena penghargaan pada perempuan itu labih dari sekedar decak kagum yang biasa dikumandangkan para lelaki. Gadis itu… Ah, tidak, Robert tak berani berspekulasi menyebutnya dengan kata “gadis” karena semakin jarang perempuan menjaga mahkota keperawanan mereka.

Kekaguman yang semakin kentara dari kilat mata Robert membuat kuasnya terayun luwes di atas kanvas. Ia tak peduli dengan para pelukis yang mengusung tema festival dalam lukisan mereka. Bagi Robert, melukis tidak bisa dibatasi dengan satu tema tertentu. Ia melukis jika ia ingin melukis. Dan, saat itu pikirannya merayu tangannya untuk mengabadikan paras perempuan itu dalam kanvasnya. Semakin memerhatikan, semakin Robert larut dalam perasaannya. Itu bukan lagi sebuah kekaguman, rasa itu adalah cinta. Cinta pada apa, Robert tak paham. Ia bahkan belum mengenal perempuan yang dipandanginya dari jarak sekitar enam meter.

Kegelisahan pada wajah perempuan itu hilang digantikan oleh kekesalan. Perempuan itu memandangi sekitarnya dengan bosan. Keceriaan di sekitarnya tak mampu membuatnya tersenyum. Meski dalam raut wajah kesal, parasnya tetap cantik. Matanya yang hitam dan bulat menelanjangi segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Sepertinya perempuan itu sedang menunggu sesuatu atau seseorang. Robert heran, apa dan siapa yang tega membuat perempuan itu menunggu selama itu. Jika saja perempuan itu menanti Robert, tak akan  ia membiarkan sang perempuan menanti begitu lama seorang diri. Sudah sekitar satu jam perempuan itu hanya duduk saja. Posisinya yang terus diam di depan gerai tirai membuat Robert tak kesulitan melukiskannya. Perempuan itu belum sadar akan perhatian yang Robert berikan padanya. Robert setengah berharap perempuan itu menatap lurus ke arahnya, menyadari kehadirannya.

Perlahan kepala perempuan itu menoleh menatap Robert. Matanya bertemu pandang dengan mata Robert. Robert mengirimkan pandangan misterius bercampur kagum padanya. Senyum Robert menggantung dalam balutan sekelebat pandangan yang mampu menusuk jiwa. Biarlah setiap isyarat yang ditangkap perempuan itu diterjemahkan hati dan logikanya. Biarlah sang perempuan bertanya akan niat Robert pada hati dan logikanya.

Lukisan itu sudah hampir sempurna ketika sang perempuan berdiri dari tempat duduknya. Hati dan logikanya rupanya menangkap  isyarat yang dikirimkan Robert. Sang perempuan tak mampu menyembunyikan wajah penasaran. Mungkin ia heran mengapa Robert terus menatapnya lalu menghadapi lukisannya, menatap lagi, begitu seterusnya. Tangan Robert membeku seakan musim dingin datang lebih cepat ketika  sang perempuan menghampirinya. Apakah ia akan marah melihat dirinya bertemu pandang dengan dirinya yang lain dalam kanvas? Apakah Robert harus meminta izin untuk melukiskan parasnya?

Wajah perempuan itu masih dihinggapi rasa bosan, lebih tepatnya ingin tahu apa yang dilukis Robert. Aura wajah bosan perempuan itu menguap digantikan raut terkejut ketika memandang dirinya dalam lukisan. Ia tersenyum seketika pada Robert, mengisyaratkan rasa sangat terharu karena dirinya disanjung lewat lukisan itu. Musim dingin yang sempat menghinggapi Robert sirna. Ia kembali bisa merasakan hangatnya matahari lewat senyum perempuan itu.

“Kamu perhatikan saya dari  tadi hanya untuk melukis saya?” sapa sang perempuan.

Robert tersenyum padanya, senyum yang dirasanya paling manis.

“Belum pernah  saya dilukis oleh seseorang. Pasti kamu melihat wajah saya yang kesal. Saya malu.”

Suaranya pasti selembut peri. Robert bisa merasakan energi mengaliri nadinya saat bibir itu berucap.

“Nama saya Mahesa.” Perempuan itu mengulurkan tangan kepada Robert. Robert menyambut tangan itu diiringi dengan anggukan dan senyuman kecil.

Keheningan yang tercipta di antara mereka berarti sesuatu. Sedangkan bagi Robert keheningan adalah bagian hidupnya. Robert tak mau melepaskan tangan itu. Sunyi tanpa kata terucap dari bibir Robert. Tiba-tiba sepasang tangan kekar memegang pundak Mahesa dengan mantap. Mahesa melepaskan jabatan tangannya dari Robert dan berbalik menghadapi orang yang memegang pundaknya.

“Aku sudah satu setengah jam nunggu kamu di sini,” hardik Mahesa kepada pria itu.

“Maafin aku, Mahes. Jalan menuju Braga semuanya macet. Kamu nggak apa-apa, kan? Gimana kalau kita langsung pergi?” ujar pria itu yang menatap lukisan Robert dengan pandangan tidak suka.

“Saya pergi dulu, ya, pelukis. Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi,” kata Mahesa.

Robert tertegun melihat perempuan yang dikaguminya berlalu begitu saja di hadapannya, dengan orang yang membuatnya menunggu. Kesenyapan yang selalu menjadi teman Robert datang lebih dalam saat ini. Robert memandang sang perempuan digandeng menjauh dari kerumunan orang oleh kekasihnya. Entah kapan Robert bisa bertemu lagi dan berharap bisa bercakap dengannya. Sejenak perempuan itu menoleh mencari-cari sosok Robert dan meleparkan senyum termanisnya untuk terakhir kali.

Bagi Robert  Mahesa tetap bernama “sang perempuan”. Ia tak akan tahu nama perempuan itu. Robert hanya meyakini suaranya selembut peri walau tak pernah tahu bagaimana nada tersusun dalam suaranya. Sekali dalam hidupnya Robert menyesali kesunyian yang dianugrahkan pada dirinya, yaitu saat ini. Ia menyesal sang perempuan tak tahu siapa dirinya dan perasaannya. Perasaan hampa bertengger di ujung hatinya, yang mungkin tak akan hilang. Ia benci karena banyak hal tak bisa ia utarakan. Semuanya tak terkatakan. Namun , ia masih berusaha menyukuri pertemuannya dengan perempuan itu, setidaknya ada citra diri perempuan itu yang melekat dalam kanvasnya. Dalam hati Robert bicara, “Andai aku bisa mengukir bahasa…”

Sunday, 20th on January 2008

11.00 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s