Etika Komunikasi

  1. KONSEP DASAR ETIKA

Etimologis berasal dari kata ethos, berarti adat kebiasaan. Kata etika sama dengan kata “moral”. Etika memiliki tiga arti: a) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk an tentang hak dan kewajiban moral; b) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; c) nilai mengenai tindakan yang benar dan salah yang dianut suatu golongan masyarakat.

Tindakan Sengaja

Jika tindakan manusia dilakukan dengan sadar, maka faktor kesengajaan menjai penentu penilaian baik-buruk. Penilaian ini disebut penilaian etis atau moral. Penguakan motif komunikasi menjai tugas ahli komunikasi. Tugas etika adalah menguak kesengajaan untuk menilai moralitas baik-buruknya suatu tindakan.

Ilmu komunikasi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari usaha penyampaian pesan antarmanusia. Antarmanusia berarti ilmu ini hanya mengkaji komunikasi antarmanusia. Penyampaian pesan berarti yang dikaji ilmu ini adalah tindakan manusia dalam daripada itu dan semata-mata hanya pesan; selain penyampaian pesan, bukan merupakan objek kajiannya. Usaha, artinya pesan yang disampaikan dilatari dengan kesengajaan, adanya motif komunikasi.

Dalam kacamata etika, tanpa kesengajaan tidak ada penilaian baik-buruk. Jadi, bila ingin melakukan penilaian etis, harus ada kehendak dalam memilih, atau disebut kehendak bebas. Ada dua aliran filsafat mengenai kehenda bebas: determinisme dan anti determinisme.

Determinisme: Tidak Ada Kehendak Bebas

Aliran ini menyatakan tidak ada kehendak bebas, segalanya telah tertentukan: setiap materi alam harus tunduk pada hukum alam. Karena menyangkut materi ala, lazim disebut determinisme materialistis. Di Jerman, materialisme dirumuskan oleh Feuerbach. Ia menyatakan, manusia adalah benda alam, pengetahuannya ialah pengalamannya, arah tujuannya adalah alamnya. Dalam perkembangannya, konklusi determinisme materialistis dapat dilihat pada ajaran Marxisme, yang menyatakan hidup manusia tertentukan oleh keadaan ekonomi. Segala hasil tindakan manusia tidak lain dari endapan keadaan, dan keadaan itu ditentukan oelh sejarah.

Dalam agama, berkembang determinisme religius. Tuhan Mahakuasa, kekuasaan-Nya tidak terbatas oleh apapun. Kalaupun ada kehendak bebas pada manusia, kebebasan itu tentu terbatas, sehingga memilih sebagai hakikat kebebasan yang sesungguhnya tidak pernah ada.

Dalam psikologi, terdapat tiga teori determinisme yang diterima secara luas, sendiri-sendiri atau kombinasi, untuk menjelaskan sifat manusia. Ketiganya yaitu determinisme genetis, determinisme psikis, dan determinisme lingkungan.

Antideterminisme: Ada Kehendak Bebas

Walau pada dasarnya memiliki kehendak bebas, manusia tetap dapat melakukan pilihan atas tindakannya. Sebagai materi alam, manusia mutlak terikat paad hukum-hukum alam. Peralatan jasmani manusia yang bersifat materi takluk pada hukum-hukum alam. Namun, roh manusia beserta peralatannya—hati nurani, akal, dan budi—tetap dapat menentukan pilihan-pilihan atas tidakannya. Manusia dengan akal budinya tidak takluk pada hukum-hukum alam, bahkan dapat menaklukkan alam.

Henri Bergson berpendapat hidup ,merupakan tenaga eksplosif yang ada sejak awal dunia. Sebagian tunduk kepada materi, sedangkan yang lain tetap memiliki kemampuan untuk berbuat secara bebas sesuai kehendaknya, dan terus bergerak keluar dari genggaman materi.

Naluri bekerja secara otomatis. Akal mencakapkan manusia untuk menyadarkan diri akan kepentingan individu manusianya. Akal amat berguna  bagi pendalaman hakikat sesuatu. Pada manusia, naluri berkembang menjadi intuisi. Intuisi merupakan tenaga rohani, suatu kecakapan yang dapat melepaskan diri dari akal.

Manusia memiliki peralatan rohaniah berupa hati nurani, akal, budi, dan naluri Peralatan rohaniah ini menghasilkan falsafah hidup, konsepsi kebahagiaan, dan motif komunikasi. Herbert Blumer berpendapat manusia bukan semata-mata organisme yang bergerak di bawah pengaruh stimulus, baik dari dalam maupun dari luar, melainkan organisme yang sadar akan dirinya.

Dengan diakuinya kehendak bebas, berarti ada kesengajaan. Walau tidak selalu dapat menunjukkan batas-batasnya dengan mudah, kita dapat membedakan mana tindakan yang disengaja dan yang tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, kesengajaan menjadi dasar penilaian terhadap kesalahan manusia.

Tindakan Moral

Tindakan Moral adalah perbuatan manusia yang dilakukan dengan sengaja dan terkait dengan penilaian baik dan buruk. Inilah yang dipersoalkan oleh etika.

Manusia dapat menentukan tindakan, ia dapat memilih tindakannya. Namun, yang dinilai etika hanya tindakan yang terkait moral, dan disebut sebagai tindakan moral. Manusia dengan kehendak bebas dapat melakukan pilihan moral.

Diakui adanya suatu situasi yang mungkin mengurangi atau bahkan menghilangkan kehendak bebas. Faktor internal dalam diri manusia, misalnya : ketakutan, kegelisahan, kebingungan, nafsu, dan kebiasaan.

Sementara faktor eksternal yang mungkin menghambat kehendak bebas, misalnya : intimidasi, ancaman, paksaan, siksaan fisik maupun mental, atau penyakit.

Penilaian moral diartikan sebagai penilaian atas suatu tindakan moral. Dalam hal ini, yang menilai adalah budi manusia, dan yang memutuskan serta menghakimi adalah hati nurani. Artinya, alat yang berfungsi sebagai penilai moralitas adalah budi dan diputuskan oleh hati nurani manusianya sendiri.

Hak dan Kewajiban

Dengan adanya kehendak bebas, muncullah persoalan hak yang akan selalu terkait dengan kewajiban.Hak hanya dimiliki manusia yang bebas. Hanya manusia bebas yang dapat melakukan pilihan-pilihan tindakan dengan sengaja. Karena tindakan dilakukan dengan sengaja, manusia mutlak bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.

Seseorang harus mempertimbangkan dampak baik-buruk atas setiap tindak komunikasi yang dilakukan, baik selaku praktisi maupun sebagai ilmuwan.

Undang-undang dan Kode Etik

Untuk mengatur hak dan kewajiban serta kebebasan dan tanggung jawab, disusunlah hukum tertulis, sehingga jelas apa yang boleh dan tidak boleh. Masalahnya, tidak semua tindakan manusia memiliki aturan hukum tertulis. Dalam situasi ini, yang menjadi penilai suatu tindakan adalah budi manusianya sendiri sedangkan sang hakim adalah hati nurani.

2.Aliran-Aliran Filsafat Moral

Hedonisme

Sejak kelahirannya, manusia berusaha mendapatkan kesenangan.  Manusia selalu menjauhkan diri dari ketidaksenangan. Maka kesenangan itulah yang baik, dan ketidaksenangan adalah buruk.

Bagi Aristippos (sekitar 433-355 sM) : kesenangan bersifat badani dan aktual, bukan kesenangan dari masa lampau atau masa depan karena hanya sekadar ingatan dan antisipasi kesenangan. Artinya, yang baik adalah kesenangan kini dan di sini pada hari ini; bersifat badani, aktual dan individual.

Kesenangan ada batasnya, yang penting adalah pengendalian diri. Pengendalian diri bukan berarti meninggalkan kesenangan, tapi menggunakan kesenangan dengan baik dan tidak membiarkan diri terhanyut olehnya

Freud berpenapat tindakan manusia adalah mencapai kepuasan libido. Adler adalah untuk mencapai kekuasaan. Dalam perkembangannya, pengertian hedonisme telah melenceng dari ajaran awalnya dan lebih dimaknai sebagai individu yang memetingkan kesenangan fisik duniawi.

Eudomonisme

Aristoteles menganggap manusia mengejar tujuan akhir dan terbaik bagi hisupnya, yaitu kebahagiaan : eudaemonia. Tapi ia mengingatkan, kesenangan adalah semu dan bukan tujuan akhir yang ingin dicapai. Jika manusia menjalankan fungsinya dengan baik, ia akan mencapai tujuan akhirnya untuk menjadi manusia yang baik, dan itulah kebahagiaan hakiki, kesenangan rohani, intelektual (akal), da keutamaan moral (budi).

Manusia adalah baik dari segi moral jika selalu mengadakan pilihan-pilihan rasional yang tepat dalam perbuatan moralnya dan mencapai keunggulan dalam penalaran intelektual. Didorong hati nurani, akal, budi, dan naluri, manusia menyusun konsepsi kebahagiaan pada berbagai bidang kehidupan. Pada setiap bidang kehidupan, manusia menetapkan nilai-nilai kebahagiaan.

Utilitarisme

Bagi utilitarisme, yang baik adalah yang utlis: berguna. Utitarisme berada pada tataran masyarakat atau negara. Jeremy Bentham menekankan bahawa manusia sesuai hakikatnya ditempatkan di bawah dua titik yang berkuasa penuh: ketidaksenangan dan kesenangan.

Kebahagiaan tercapai jika manusia memiliki kesenangan bebas dari kesusahan. Karena itu, suatu perbuatan akan dinilai baik atau buruk sejauh dapat meningkatkan dan memenuhi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Bagi Bentham, moralitas suatu tindakan harus ditentukan dengan menimbang kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia, yakni masyarakat keseluruhan.

Suatu perbuatan dapat dimaknai baik jika menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi semua orang. Namun, prinsip utilitarisme dewasa ini tidak memberi jaminan bahwa kebahagiaan dibagi dengan adil. Artinya bagi utilitarisme, tidak ada tempat untuk hak. Padahal, hak merupakan sebuah kategori moral yang sangat penting.

Religiosisme

Aliran ini berpendapat tindakan baik adalah yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan yang buruk adalh yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Adalah tugas teologi untuk menetapkan yang baik dan yang buruk.

3. Dilema yang Kekal

Tiga Persoalan Pokok

Dalam mengupas falsafah hidup manusia, sebagaimana diutarakan dapat diidentifikasi tiga persoalan pokok yang coba dijawab, yaitu:

Di mana, kebahagiaan diraih di dunia atau akhirat.

Apa yang dapat memberi kebahagiaan itu? Sesuatu yang bersifat material? Atau, spiritual? Ataukah keseimbangan antara material dan spiritual?

Siapa yang akan meraih kebahagiaan, individu atau masyarakat?

4. Akar Tindak Komunikasi: Falsafah Hidup

Tanpa adanya kehendak bebas, tidak ada tindakan sengaja, membuat tidak ada penilaian moralitas baik dan buruk dari kacamata ilmu komunikasi. Untuk memahami tindak komunikasi yang dilakukan manusia adalah dengan melihat pada akarnya: falsafah hidup yang dianut, meliputi tataran pribadi, tataran massa, dan tataran organisasi.

5.Apakah Ilmu Komunikasi Bebas Nilai

Sebagian orang berpendapat bahwa ilmu harus bebas nilai dan adapula yang terkait nilai. Bagi penganut terkait nilai, ia akan menggunakan pengetahuan hasil penelitiannya hanya untuk kebaikan. Bagi penganut bebas nilai, ia tidak peduli apakah hasil penelitiannya digunakan untuk tujuan positif atau negatif.

Objek materialnya adalah tindakan manusia dalam konteks sosial. Karena itu, alat ukur atas baik-buruknya cara penelitian adalah moralitas sang peneliti Moral atau etika, sebagaimana diketahui, adalah sesuatu yang tidak eksak menurut pandangan positivisme. Positivisme menuntut penelitian bebas nilai. Dengan demikian bagi ilmuwan komunikasi penganut positivisme, dalam pelaksanaannya moral penelitianlah yang akan menentukan jenis penelitian dan teknik penelitian yang dilakukan untuk memenuhi keingitahuan dalam membangun ilmunya.

One Comment Add yours

  1. asih meilani says:

    kalo yang lebih lengkap lagi ada gak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s