Masa-Masa Perkembangan Filsafat

Neo-Platonisme

Istilah ini ditemukan untuk menggambarkan usaha untuk menghasilkan suatu sintesis yang serba lengkap filsafat dan cita-cita religius. Dari Plotinus ada suatu sistem yang kompleks yang memunyai pusat ide “YANG SATU” ini, sesuatu yang terunggul, yang merupakan kekuatan yang mengemanasikan kebaikan. Para Neo-Platonis menyatukan ide-ide Aristoteles, para Stoa, beberapa dari Pythagoras, ide-ide mistik, sebagian dari mitos dan penggarapan ulang secara platonik mengenai segala sesuatu  di mana badan dianggap jelek dan yang rohani baik.

Runtuhnya Kekaisaran Romawi dan Munculnya Kristianitas

Menjelang tahun 300, gejolak besar terjadi. Gerakan raksasa dari bangsa barbar—Huns, Goths, Vandal, dll, membayangi. Bagi bangsa Romawi, ini merupakan akhir Kekaisaran, dan suatu peristiwa buruk. Ini juga merupakan peristiwa buruk bagi para filsuf. Kemudian agama menggantikan penalaran.

Tidak seperti filsafat, agama memiliki jawaban atas segalanya—yaitu Allah. Agama Kristen mendapat perlawanan dari Yudaisme dan lain-lain. Ada penyembahan dewa Isis, Mithraisme, dewa-dewa resmi, dan Mistitisme Orphik. Sebenarnya Kristianitas bisa punah, tetapi ternyata Kristianitas berkembang.

Santo Paulus yang menyelamatkan Kristianitas dari kepunahan seperti sekte-sekte Yahudi lainnya. Ia menggabungkan Kristianitas dengan filasafat Yunani dan menghasilkan bentuk yang cemerlang. Kristianitas dan filsafat memunyai hubungan yang erat dan semakin berkembang untuk masa lebih dari 1.000 tahun.

Kristianitas, seperti semua agama, berkembang bertahun-tahun. Hal ini menjadi suatu sintesis sangat besar dari banyak unsur, yang mungkin menjadi penyebab mengapa dapat bertahan demikian baik. Setelah mencerap Neo-Platonisme dan Plotinus Kristianitas segera mendominasi filsafat sampai zaman Renaissance. Pikiran bebas hanya mungkin bila pikiran bebas itu bersifat Kristiani.

Akhir dari pemikiran bebas, munculnya dogma Kristen, dan kemunduran kebudayaan Yunani-Romawi disimbolisasikan di dalam kehidupan dan kematian Hypatia. Ia adalah tokoh perempuan, seorang filsuf, ilmuwan, matematikus, politikus. Orang-orang Kristen tidak suka padanya kemudian membunuh Hypatia. Semenjak itu filsafat mengalami kemunduran. Pada tahun 525 Justinianus menutup sekolah filsafat yang ada, dan datanglah apa yang dikenal Zaman Kegelapan.

Zaman Kegelapan

Sementara yang lain runtuh di Eropa, Gereja Katolik roma secara sistematis menata dirinya menjadi bahan yang berkuasa. Di zaman perang, wabah “Kepausan” mengisi kekosongan politik yang ditinggalkan oleh keruntuhan kekaisaran Romawi.

Sementara terjadi tarik-menarik antara kaisar-kaisar Yunani, pangeran-pangeran Italia, serbuan kaum Vandal, perang bangsa Lombard dan Frank dan semua orang lain yang ikut menyumbangkan sedikit bagian Eropa, Kepausan dengan mantap memperluas kekuasannya.

Berikutnya diklaim bahwa Roma dan tanah-tanahnya diberikan kepada Kepausan ketika Konstatinus memindahkan tahta kekaisarannya ke Konstatinopel.

Masa Awal Moderen

Filsafat modern hadir pada abad ke-17, ditandai dengan munculnya Rene Descartes (1596-1650) yang beraliran rasionalisme. Apa yang dimiliki Descartes adalah idenya mengenai “benda berpikir”. Ia tidak dapat menunjukkan bahwa budi itu dapat mengetahui dunia luar. Untuk membuktikan ia tidak tertipu, maka ia harus membuktikan eksistensi Allah. Maka, muncullah konsep “Cogito Ergo Sum”, Aku Berpikir Maka Aku Ada.

Filsuf selanjutnya yang beraliran rasionalisme adalah Baruch Spinoza (1632-1677). Ia adalah salah satu filsuf istimewa yang tidak hanya percaya apa yang dikatakannya, tetapi bertindak sesuai dengannya. Ia berusaha menyusun suatu Geometri Filsafat. Sistem Spinoza menjelaskan kenyataan dalam dunia yang secara ketat ditentuka karena “tata dan hubungan ide-ide sama dengan tata dan hubungan benda-benda”. Sistem bertujuan untuk menjelaskan secara matematis bagaimana menjalani hidup yang lebih bermoral.

Aliran empirisme memiliki tokoh, salah satunya John Locke (1632-1704). Locke membenci metafisika. Ia tidak menyukai teori Plato mengenai yang universal, dan menolak segala macam ide bawaan . “Budi diperlengkap dengan ide hanya lewat pengalaman”. Locke menyatakan ada kualitas-kualitas primer dan sekunder. Kualitas primer “benar-benar ada di dalam bendanya sendiri”. Kualitas sekunder berada dalam budi, bukan dalam objek.

Seorang oportunis yang ortidoks, pragmatic, ambisius, dan cerdas, yakni Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) muncul membawa ide tentang idealisme. Leibniz mengajukan suatu ketidakterbatasan substansi-substansi sederhana yang kecil atau monad. Setiap monad berbeda dan mencerminkan seluruh semesta, tetapi tidak berada dalam ruang atau waktu. Setiap monad bersifat immaterial dan memunyai jiwa. Monad-monad tidak saling berinteraksi. Monad-monad terlihat berinteraksi karena harmoni yang telah ditentukan Allah.

Berikutnya David Hume (1711-1776) muncul membawa skeptitisme-nya. Idenya adalah objek-objek seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk dipahami budi kita. Ia juga mengemukakan suatu ilmu pengetahuan mengenai manusia yang akan memperkenalkan metode penalaran secara eksperimental ke dalam pokok-pokok moral.

Zaman Pencerahan

Setelah 1668, Inggris menjadi tenang. Berkeley dan Hume tidak terlalu tertarik pada filsafat politik. Karena reputasi sains Newtonian dan liberalism Locke, semua seluruh kaum progresif Eropa abad XVIII berpaling ke Inggris. Abad XVIII umumnya disebut Zaman Pencerahan karena menyebarkan ide-ide rasional, progresif, liberal, dan ilmiah. Sesudah Locke dan Hume, filsafat Inggris surut dan kurang berperan dala pencerahan. Sementara Perancis mengalami gejolak intelektual dan kemudian politik, kaum borjuis Inggris memusatkan perhatian pada kekayaan, perdagangan, dan pertanian. Tokoh-tokoh dalam zaman ini di antaranya Quesnay, Buffon, D’Alembert, Voltaire, Montesquieu, dan Diderot.

Romantitisme dan Pencerahan Jerman

Tokoh Romantitisme adalah Jean-Jacques Rousseau (1712-1778). Ia berpikiran bahwa perasaan lebih penting daripada pikiran sebagai dasar pendekatan teologi dan politik. Ia menempat hati di atas akal, puisi di atas ilmu, menekankan perasaan, emosi, dan imajinasi. Teori Rousseau sangat penting dalam Revolusi Perancis. Di dalam social contrac-nya, ia membela perluasan demokrasi bagi semuanya. “Manusia Lahir Bebas dan Di Manapun Dia Terbelenggu”.

Dalam banyak hal pemikiran progresif Pencerahan berkaitan dengan keberhasilan ekonomis dan politik golongan borjuis. Oleh karenanya tidak heran bahwa penguasa-penguasa feodalistik di Jerman tidak menghasilkan kelas menengah yang kuat maupun badan pemikiran radikal setara dengan Inggris dan Perancis. Muncullah Christian Wolff (1659-1754), salah satu pengikut ide Leibniz. Ia menolak empirisme dan berpendapat bahwa filsafat merupakan pelukisan tepat mengenai konsep-konsep dan esensi, bukan mengenai pengalaman.

Masa  Aufklarung

Tokoh-tokoh Pencerahan mengira telah menyeleksi segalanya dan Rousseau dalam romantiknya telah memporak-porandakan akal budi. Untungnya Immanuel Kant (1724-1804) muncul dan memberikan suatu sintesis besar, arah baru dan model filsafat yang seutuhnya baru.

Ia berusaha menggabungkan empirisme dan rasionalisme. Bagi Kant, pengetahuan datang dari sintesis antara pengalaman dan konsep: tanpa indra kita tidak akan sadar akan objek apapun, tetapi tanpa pemahaman kita tidak akan membentuk pengertian tentangnya. Proses memperoleh pengetahuan merupakan satu kesatuan yang melibatkan persepsi, imajinasi, dan pemahaman: sendibilitas dan pengalaman berinteraksi.

Ia mengatakan bahwa ruang dan waktu dimiliki setiap orang sebagai intuisi apriori murni. Kedua ia mengusulkan kategori-kategori pikiran yang menentukan cara kita menangkap kenyataan. Hal-hal itu merupakan sejenis alat konseptual dasar untuk mengartikan dunia.

G. W. F Hegel (1770-1831) merupakan salah satu penganut idealisme pasca-Kant. Diktumnya yang terkenal adalah “Yang Nyata itu Rasional dan Yang Rasional itu Nyata”. Dasar pemikiran Hegel adalah pengertian bahwa segala sesuatu saling terkait. Maka muncullah teori dialektika dengan tesis (sistesis) dan antitesisnya.

Masa Positivisme

Tokoh yang berperan dalam positivisme adalah Auguste Comte (1798-1857). Filsafat positivisme bukan suatu sistem metafisik, bukan pula penjelasan tentang esensi. Filsafat posivisme hanya melihat kenyataan dan hanya menggunakan metode ilmiah. Hanya sains-lah yang berguna dan metafisik hanya buang-buang waktu.

Comte berpendapat bahwa budi manusia berkembang dari tahap teologis melalui tahap metafisik ke tahap akhir positif. Ia mengklaim bahwa semua sains berkembang dalam cara itu. Teologis, segala sesuatu dijelaskan dengan kekuasaan Ilahi. Metafisik, kekuasaan Ilahi menjadi esensi atau kekuatan abstrak. Positif, hanya fenomena dan keterkaitan antarfenomena yang diperhitungkan. Segala sesuatu di luar pengalaman tidak relevan.

Fenomenologi dan Eksistensialisme

Tokoh yang mengemukakan fenomenologi adalah Edmund Husserl (1859-1938). Intinya dalam berpikir buanglah dulu akal budi, rasionalisme, dan teori. Dengan proses reduksi ke yang benar-benar jelas, kita sampai pada esensi dari pengalaman. Husserl berbicara tentang “intersubjektivitas transedental”, yang berarti bahwa esensi-esensi dan makna-makna yang didapat diperlihatkan, dengan analogi, untuk menyerupai milik Anda. Husserl menekankan objek “intensional” kesadaran. Inilah objeknya—tidak harus real atau material—yang menjadi tujuan pemikiran.

John-Paul Sartre (1905-1980) mengembangkan ide-ide Husserl menjadi pengetahuan koheren yang dikenal sebagai eksistensialisme. Sartre memperhatikan filsafat keputusan, filsafat kebebasan. “Eksistensi Mendahului Eksistensi”, tidak ada apa pun yang menentukan eksistensi, seperti Roh Allah atau Roh Absolut.

Sumber:

1. Filsafat untuk Pemula karya Richard Osborne

2. Dunia Sophie karya Jostein Gaarder

2 Comments Add yours

  1. Hi,

    Thank you for the great quality of your blog, each time i come here, i’m amazed.

    black hattitude.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s