Philosophie

Sinar mentari mengintip dari celah gorden, menerangi wajah gadisku yang tertidur pulas di lenganku. Aku tersenyum seraya mengecup keningnya saat kupandangi wajahnya yang elok dan polos. Semalam sungguh pengalaman yang terindah dalam hidupku dan akan selalu terukir dalam ingatanku. Tembok putih ruangan ini menjadi saksi percintaan tulus dua insan berbeda jenis. Hujan badai semalam di luar sana ikut bergemuruh saat tubuh kami bersatu. Itu bukan kenikmatan. Itu cinta, seperti Tuhan menciptakan Adam dan Hawa untuk saling melengkapi. Ya, aku dan dia saling tergila-gila. Aku yakin cinta ini selamanya…

Good morning, Senorita,” sapaku sambil mengecup dahinya saat Sophie membuka matanya.

Dia bergeliat memelukku, mengusap-usapkan rambutnya pada leherku. Tiada perempuan seindah dia. Dia mulai berbisik manja di  telingaku, “Bhara, kemarin malam indah. Thank you, you’ve made me so precious to you.”

Aku memejamkan mata menikmati setiap kata yang meluncur dari bibirnya yang mungil. Kupalingkan wajahku dan kukecup bibir itu. Dia menyambut ciumanku dan melumat bibirku. Kedekapkan pelukanku semakin erat padanya. Perempuan ini begitu indah, tiada seindah dia. Tak akan pernah kulepaskan Sophie dari sisiku.

Perlahan kulepaskan pelukanku. Kuusap rambut ikal pirangnya seraya berbisik, “Senorita, bergegaslah mandi. Kita akan segera check out dari hotel satu setengah jam lagi. Orang tuaku sudah menunggu untuk berkenalan denganmu.” Sophie mengangkat bahunya, terlihat kesal karena kemesraan kami terusik oleh waktu.  Tubuh tanpa balutan kain itu beranjak dengan enggan menuju kamar mandi.

Sesaat teringat perjumpaan pertama kami dua tahun lalu di Munchen. Tak kukira mendapatkan beasiswa di Universitas Munchen dengan program studi philosophische mengantarku bertemu calon pendamping hidupku kelak. Dia duduk di pojok kanan depan, wajahnya terbenam menekuni buku setebal dua puluh senti. Beberapa mahasiswa berkebangsaan Jerman bergerombol dan mengobrol seru. Dari sekitar empat puluh anak di kelas itu, hanya lima orang yang bukan berkebangsaan Jerman, termasuk aku. Ada dua orang Jepang dan seorang yang sepertinya dari daerah Timur Tengah.  Aku langsung tahu bahwa dia tak mungkin orang Jerman. Wajahnya terlalu lembut untuk ukuran orang Jerman yang rata-rata berwajah setipe Adolf Hitler. Aku memilih tempat duduk di samping kirinya, berharap dia akan menyapaku dan kita bisa berkenalan. Tetapi rupanya dia tak mau mengangkat wajahnya dari buku itu.

Ketika dosen masuk, barulah dia menutup bukunya. Aku menyesal telah memilih duduk di depan karena dosen tersebut sama sekali tidak ramah. Dia bahkan langsung mengetes sejauh mana pengetahuan kami tentang filsafat. Kentara sekali bahwa pria itu sangat pintar karena kepalanya hampir pelontos total. Dia bertanya mengenai tokoh-tokoh filsafat dan aliran-aliran yang aku sendiri belum pernah dengar. Aku yakin tak akan ada seorang pun yang mampu menjawab. Dosen ini sungguh keterlaluan.

Ternyata dugaanku salah. Sophie mengangkat tangan, memperkenalkan diri, dan mulai menjawab pertanyaan yang sama sekali aku tak mengerti, “Plato dan Aristoteles berasal dari aliran yang berbeda. Plato beraliran rasionalis. Ia berpendapat semua benda yang nyata di dunia ini semata-mata  gambaran dari jiwa kita, dunia ide dan pikiran kita. Sedangkan Aristoteles yang beraliran empirisis berpendapat sebaliknya, benda-benda yang ada dalam jiwa dan pikiran kita merupakan cerminan dari kenyataan yang ada yang dapat diindera. Pada masa sesudahnya, Plato mendapat dukungan dari Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Teori Aristoteles didukung oleh Locke, Berkeley, dan Hume. Di antara kedua kelompok pemikiran yang berbeda ini saling berbentrokan untuk mempertahankan teori mereka. Sampai hadirlah Kant yang  mematahkan kedua argumen rasionalis dan empiris.”

Sembilan puluh persen aku tak tahu apa yang diocehkannya. Seluruh kelas melongo memandangnya.  Dosen itu hanya menaikkan alis, mengangguk sekali, lalu mulai menuliskan sesuatu di white board. Mungkin itulah caranya menyetujui suatu argumen. Sepertinya mengakui kebenaran ucapan orang lain adalah hal yang sukar dilakukan.

Beberapa waktu sesudahnya, Sophie semakin menunjukkan kepandaiannya. Dia seperti sudah dikawinkan dengan buku-buku, tak pernah terlihat tanpa buku kecuali saat di kelas. Dan teman-teman mulai memanggilnya ‘Philosophie’…

Lamunanku buyar ketika Sophie keluar dari kamar mandi berbalut handuk putih. Dia bergerak menuju lemari dan mulai berganti pakaian. Aku hanya memandanginya kagum. Tubuhnya tinggi semampai, hanya berjarak sekitar lima sentimeter dari tinggiku. Kulitnya putih bersih. Wajahnya unik hasil campuran dari berbagai suku bangsa. Bibir mungilnya didapat dari pihak kakeknya yang berkebangsaan Jepang. Matanya khas orang Indonesia, bulat dengan pupil hitam, warisan dari nenek. Kakek-neneknya itu dari pihak  ibu. Sedangkan dari pihak ayah, ia mendapat gen Latin dari kakeknya, warna kulitnya seperti Jessica Alba. Rambut ikalnya yang pirang diwarisinya dari neneknya yang berkebangsaan Inggris. Krisis identitas, begitulah aku menyebutnya. Dia sendiri sejak kecil tinggal di Inggris bersama orang tuanya.

“Bhara, I feel that I’m not ready to meet your family. Kita undur saja pertemuan ini.” Tiba-tiba Sophie memecah kesunyian dan aku tersentak.

Senorita, are you kidding me? Pertemuan ini sudah kita atur berbulan-bulan. Kamu nggak bisa seenaknya saja membatalkannya. Keluargaku pasti sudah mempersiapkan yang terbaik untuk menyambutmu,” tegasku.

I’m not sure your family can accept me around them. Aku masih ngerasa perbedaan kita terlalu jauh.”

“Mengapa kamu baru bilang sekarang? Mengapa tidak sejak di Munchen kamu mengajukan ketidaksiapanmu?”

Dia mendekatiku dan merengkuhku dalam pelukannya. “Yang aku butuhkan sekarang adalah bertemu dengan anggota keluargaku untuk bertukar pikiran. Allow me to meet my gradma in Yogya…” Dan aku tidak bisa tidak menuruti kehendaknya. Kelemahanku yang terbesar adalah selalu menuruti semua kemauannya karena rasa cinta ini begitu besar. Maka kuantar Sophie ke bandara…

Aku bohong ketika mengatakan keluargaku pasti sudah  mempersiapkan yang terbaik untuk menyambut Sophie. Yang aku tahu setahun lalu ibuku terkena serangan stroke ringan ketika kukabari bahwa aku menjalani hubungan dengan Sophie. Ibuku adalah seorang muslimah yang sangat taat dan menganut kejawen. Beliau selalu mewanti-wantiku agar tidak berpacaran dengan  orang bule yang menurutnya orang-orang kafir yang sarat dengan perzinahan. Mungkin beliau takut aku terperosok jauh dari nilai-nilai Islami. Ibuku mungkin sudah menyerah untuk melarangku tetapi beliau bersikap dingin dan tidak mau tahu apa-apa tentang   Sophie.

“Mas Bhara pulang, Ayah! Mas Bhara, mana oleh-oleh buatku?” Adikku Sari berteriak menyongsong kepulanganku.

Ayahku membantuku mengeluarkan barang-barang dari mobil sewaanku. Wajah rentanya kentara sekali merindukanku yang baru kali ini pulang dari Jerman. Kupeluk erat sosok  favoritku ini. Kesabarannya melebihi siapa pun yang pernah kukenal. Dia menepuk-nepuk punggungku dengan penuh kasih.

“Mana wujud gadis yang kauceritakan itu?” tanya ayahku ramah.

“Ayah, tiba-tiba saja neneknya yang di Yogya sakit keras. Kabarnya baru sampai tadi malam. Maka, pagi ini kuantar dia ke bandara. Mungkin beberapa hari ke depan baru dia bisa menemui kita di sini,” jawabku berbohong.

“Oh, begitu. Ya, ayah akan senang jika bisa bertemu dengannya. Sampaikan salam untuknya. Semoga neneknya lekas sehat.” Seraya berkat begitu ayahku menyeret koper ke dalam rumah.

Aku memakirkan mobil ke dalam pekarangan dengan perasaan galau. Tak ada pesta penyambutan putra pertama yang baru pulang dari rantau. Rumah ini telah kehilangan keramahannya. Sari memasuki mobil , menemaniku. Aku mencium kening adikku yang baru berusia lima belas tahun.

“Mas, untung Kak Sophie tidak dibawa ke sini hari ini. Kasihan dia kalau sampai mendapat perlakuan buruk dari keluarga kita. Budhe-budhe dan pakdhe-pakdhe datang semua ke sini,” ujar Sari.

Sudah dapat kubayangkan akan seperti apa jika kakak-kakak dan adik-adik ibu yang berasal dari Jawa Tengah datang kemari. Jelas, mereka hanya ingin mencemooh Sophie dan menyudutkanku saja. Hatiku terasa getir terperangkap antara cinta, keluarga, budaya, dan agama.

“Semalam ibu menangis mendengar kabar kalau Mas Bhara memilih tidur di hotel setelah landing. Dipikirnya Mas Bhara akan tidur dengan Kak Sophie. Tapi Mas Bhara nggak tidur sama Kak Sophie, kan?” selidik Sari sambil mengelus tanganku.

Nggak, Mas Bhara tidur di kamar lain. Sari, kamu memang adik kesayanganku.” Aku menciptakan kebohongan ketiga hari ini. Kuharap kebohongan-kebohongan  itu mampu memberikan kenyamanan bagi yang menerimanya walau berisi kepalsuan.

Kumasuki rumah dengan memasang wajah ceria. Kuciumi tangan semua pakdhe dan budheku. Tampang mereka semua seperti menganggapku orang asing aneh. Ibuku jelas-jelas menolak sungkemku dan tak mau memandangku. Karena tak ada yang bertanya tentang Sophie, aku beranjak masuk ke kamarku untuk menenangkan diri. Tak lama aku mendengar Sari berteriak kepada semua orang di rumah, “Tapi Mas Bhara nggak melakukan perzinahan dengan Kak Sophie. Kenapa, sih, kalian nggak mencoba berpikir positif?” Sedetik kemudian pintu kamar Sari dibanting keras. Air mataku mengalir perlahan, tersanjung oleh belaan Sari terhadap kakaknya yang seorang pembohong dan munafik. Kembali aku terjatuh di kedalaman memori tentang Sophie…

Baris ujung kanan depan tetap menjadi tempat duduk favorit Sophie di dalam kelas mana pun. Dan aku selalu memilih tempat duduk di samping kirinya. Dua minggu pertama perkuliahan dia tak kunjung menyapaku dan aku terlalu pemalu untuk menegurnya. Tetapi tiba-tiba pada suatu pagi ia berkata padaku, “Sudah tugasmu kerjakan?” Struktur bahasa Indonesianya kacau tetapi aku terkejut dia bisa berbahasa Indonesia. Mulai saat itu aku beranikan untuk selalu mengajaknya mengobrol.

Dia menjadi mentorku di kelas mana pun karena aku memang terlalu bodoh dan aku membutuhkan bantuannya. Sedangkan aku mengajarinya berbahasa Indonesia. Makhluk-makhluk kaum Adam lainnya iri melihat aku bisa berteman dengan Sophie. Setiap akhir minggu Sophie selalu mengajakku mengunjungi tempat-tempat menarik di Jerman. Kota kecil Leipzig menjadi tempat favoritnya. Leipzig adalah kota yang mempertahankan  bangunan-bangunan peninggalan masa lalu. Pusat kotanya terletak di Nikolai Street, yang dipenuhi toko-toko dan setiap akhir pekan dibuka pasar rakyat. Aku senang berkeliling Nikolai Street seraya menunggu Sophie selesai mengikuti Misa di Saint Nikolai Kirche—Gereja Santo Nikolas, yang terletak di ujung Nikolai Street.

Natal pertama tahun itu Sophie kembali mengajakku ke Leipzig. Suasana kota itu mirip kota-kota yang digambarkan dalam kartu-kartu Natal. Santa Claus berkeliaran di sepanjang jalan membagikan hadiah kepada anak-anak. Paduan suara remaja menyanyikan lagu-lagu Natal di bawah pohon cemara setinggi dua meter. Aku kagum melihat kalender raksasa berukuran 15×10 meter yang khusus menampilkan tanggal di bulan Desember dan berisi jendela-jendela kecil mewakili setiap tanggal. Setiap satu hari terlewati, satu jendela akan terbuka, sebagai penghitung mundur bahwa Natal akan tiba. Di bagian bawah kalender tertulis tema Natal tahun itu: A Time to Make Friends. Saat itulah Sophie menggandeng tanganku dan membuat jantungku berdetak kehilangan kendali.

Aku menyambut genggaman tangan Sophie dan menggenggamnya lebih erat. Sebenarnya aku berniat untuk mengutarakan perasaanku padanya saat itu. Di saku mantelku sudah kusiapkan kartu ucapan Natal disertai dengan sebait puisi yang mewakili perasaanku padanya. Menunggu Sophie selesai Misa di halaman Saint Nikolai Kirche adalah saat yang mendebarkan. Seusai Misa akan kuberikan kartu itu padanya. Sophie keluar dari gereja dengan wajah berseri-seri. Tanpa intro, tanpa kata, kuberikan kartu itu. Dia langsung membukanya di depanku. Dia terpaku pada sebait puisi itu:

Ada harum yang menyelinap masuk di ingatanku.

Ada desir yang tertinggal di dada kiriku. Kaukah itu?

Jika saja hasrat-hasrat yang berlarian punya tempat berteduh, tak ada lagi kiamat memikat.

Adakah kau berkenan menjadi tempat berteduh hasrat-hasrat itu?

Puisi itu sebenarnya tak sengaja kutemukan di dalam buku kumpulan puisi Sitor Situmorang, tulisan tangan seseorang. Selewat dua minggu Sophie terlihat acuh dengan ungkapan perasaanku. Perlukah waktu selama itu untuk menjawabku? Ternyata selama dua minggu itu dia menanti surat dari neneknya di Yogyakarta yang mengartikan makna puisiku karena Sophie tidak paham betul setiap kata yang kutuliskan dengan bahasa Indonesia. Dia malu untuk menanyakan artinya padaku, maka lebih baik bertanya pada neneknya. Yang lebih mengejutkan, Philosophie yang superhebat mau menyambut cinta Bhara, perjaka bodoh yang berasal dari negara sederhana.

* * *

Melewatkan dua hari di rumah dengan segerombolan orang acuh sungguh menyiksaku. Ibuku masih enggan berbicara padaku. Para pakdhe-budheku memperlakukanku sama baiknya seperti saat aku datang. Hanya ayah dan Sari yang mengerti perasaanku. Dalam kesuraman itu, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan rumahku. Putri yang sangat anggun keluar dari mobil itu. Aku segera menyongsongnya, tak mengira dia akan datang secepat itu. Ayah dan Sari mengikutiku, ingin berkenalan dengannya. Para pakdhe-budhe­­­­ku mengintip dari jendela-jendela rumah untuk melihat sosok anggun yang selalu membuatku tergila-gila.

Sophie mengeluarkan kemahirannya berbahasa Indonesia, hasil pelatihan dariku. Sikap keluargaku padanya sungguh tidak bisa dibanggakan. Jurus yang mereka pakai sama dengan yang mereka pakai padaku, mengacuhkannya. Ibu jelas-jelas menolak berjabat tangan dengan Sophie. Wajah Sophie menyiratkan kekecewaan atas perlakuan terhadapnya. Hanya ayah dan Sari yang ikut berbincang dengannya di ruang tamu. Kami mendengar paduan suara sumbang yang mempergunjingkan Sophie dari ruang tengah. Aku tahu di balik senyum yang selalu mengembang, hati Sophie sungguh tersayat. Tak sampai satu jam Sophie memilih untuk berpamitan. Padahal aku menjanjikannya untuk tinggal di rumahku selama liburan sebelum kami pulang ke Munchen.

Sekali lagi Sophie menghadapi keluargaku untuk berpamitan. Mereka tetap tidak menjawab salam Sophie. Aku turut dengannya masuk ke mobil sewaannya dan mengantarnya. Aku membawanya ke sebuah restoran di tepi Pantai Ancol agar kami dia bisa menetralkan perasaannya.

“Bhara… Kenapa kamu bohong? Kalau hanya perlakuan semacam ini yang akan kudapat, buat apa jauh-jauh datang ke Indonesia? Ini yang kamu katakan sebagai keramahan?” tanyanya ketika ia sudah duduk di kursi.

“Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku tak habis pikir keluargaku tak bisa lunak sedikit pun,” jawabku menyesal.

Sunyi tercipta di antara kami selama sekitar setengah jam. Sophie tidak menyentuh makanannya. Dia hanya memandangi laut dengan pandangan sedih.

“Sepertinya perbedaan kita terlalu jauh, Bhara… Aku hanya orang yang tidak punya peradaban, orang pecinta perzinahan, dan bisa menyesatkanmu, seperti yang keluargamu katakan.” Percakapan beranjak menjadi tidak enak. Hati perempuan selembut ini sudah terluka begitu dalam.

“Tentu kamu tidak seperti yang mereka katakan. Maklumi mereka, Sophie…”

“Maklum katamu? Aku tidak bisa menerima perlakuan itu. Bhara…sepertinya aku harus mengurungkan niatku untuk melanjutkan hubungan ini.”

“Apa!? Kamu nggak bisa secepat itu memutuskan suatu hal. Setelah semua hal yang kita lakukan dan aku telah mengesampingkan perasaan berdosaku pada Allah karena telah berzinah malam itu, kamu akan pergi dariku?”

“Jika malam itu kauanggap sebagai perzinahan, kamu benar-benar telah merendahkan aku sebagai perempuan. Apa kamu akan mempertahankan hubungan ini hanya karena kita telah melakukan hal itu?”

“Selama ini aku telah menahan diri melakukan hal itu hanya karena aku tak mau melanggar perintah Tuhan, Sophie…”

“Sedangkan aku melakukannya atas dasar cinta yang tulus. Kamu berbicara tentang Tuhan saat ini? Akalmu tidak bisa mencapai titik akan keberadaan Tuhan. Adakah Tuhan akan menghukum orang yang melakukan sesuatu dengan perasaan tulus?”

“Kita berbeda pemahaman mengenai hal ini. Aku sudah telanjur melakukannya denganmu dan aku akan mengakhirinya dengan menikahimu.”

“Pikiranmu sungguh sempit, Bhara… Aku tak menjadikan tolak ukur pernah atau tidak pernah melakukan hubungan seks sebagai pertanda aku harus menikah dengan orang itu. Orang-orang di negaramu sungguh mudah memutuskan pernikahan hanya agar tidak dianggap melakukan perzinahan. Setelahnya, perceraian menyusul dengan cepat. Apa itu tidak lebih berdosa? Mengata-ngatai orang sebagai orang yang menyesatkan, apa tidak lebih berdosa? Aku menganggap pernikahan sangat sakral, tidak terceraikan. Untuk memutuskan adanya pernikahan harus melalui perenungan, bukan berasal dari perasaan bersalah!”

Sophie mulai menyempet ke permasalahan agama dan budaya. Hal yang selama ini tidak pernah kami bahas. Kami selalu bisa menerima perbedaan di antara kami. Saat ini hatiku terluka mendengar hinaan Sophie.

“Cara pikirmu dan keluargamu aneh. Apa mungkin kita bisa bertahan sampai ke jenjang pernikahan, Bhara? Aku pun yakin kamu sebenarnya tidak akan pernah bisa merdeka untuk memutuskan suatu hal tanpa restu orang tua. Khas bangsamu, menuruti keinginan orang tua walau sangat konyol hanya karena takut dianggap tidak berbakti”.

“Cukup, Sophie. Jangan hina bangsaku terus-menerus…”

“Aku tidak menghina, hanya ingin memberikan pandangan baru untukmu agar kamu mampu berpikir… Bhara, aku tidak bisa menjalani hubungan ini karena perbedaan kita begitu mendasar. Aku tidak ingin melakukan hal yang sia-sia…”

“Baiklah…” jawabku akhirnya.

Sophie bernjak dari tempat duduknya, mengecup pipiku sebagai tanda perpisahan. Aku hanya bisa menyaksikan senorita-ku pergi dengan pasti meninggalkanku, bahkan dia tak menoleh padaku. Mungkin perkataannya ada benarnya. Mungkin juga perkataan ibuku sangat sakti sehingga aku tak mampu menyangkalnya. Aku sudah tidak memilih Sophie meski hal itu sangat menyakitkan. Aku tetap Bhara yang akan selalu seperti dahulu; anak yang taat pada ajaran agama, patuh pada orang tuaku, dan mencintai bangsaku. Di satu titik ketika kita harus memilih satu hal, kita tak bisa mempertahankan pilihan lainnya yang hilang. Maka aku pun melangkah gontai, pulang ke rumah untuk membawa kabar bahagia pada ibuku.

Sunday, 3rd on February 2008

11.00 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s