Tak terkatakan

Itu hanyalah hamparan pasir putih yang terlihat keemasan di sore hari. Itu hanya terlihat seperti gambar mati, di mana laut tenang menghampar, matahari seakan dimakan lautan, dan tidak ada tanda-tanda makhluk hidup di sekitar tempat yang bagus jika dibingkai sebagai potret itu. Jika kita menatap nanar pada matahari senja itu, sosok yang berada antara kita dan matahari hanya terlihat sebagai siluet hitam. Siluet itu yang menjadi penanda bahwa potret itu bukan saja berisi gambar mati.

Aku di sana memegang kameraku, di belakang siluet itu yang kini rambut panjangnya berkibar-kibar. Dia, gadisku duduk di pasir keemasan itu, masih terpesona dengan matahari. Aku pun sama terpesonanya dengan matahari itu, hanya berdiri dari jarak setengah meter dari tempat gadisku duduk. Aku siap mengabadikan gambar hidup itu, ketika kepalanya menoleh padaku.

Gadisku memberi senyuman manisnya, lalu menoleh lagi menatap matahari. Aku tak bisa berpura-pura bahwa aku tak lagi bisa mendekatinya. Aku duduk di samping kanannya, tidak terlalu dekat, bisa memberinya ruang gerak cukup besar. Aku tahu kini kami terlihat seperti siluet bagi orang lain yang melihat kami dari belakang. Kami terdiam selama beberapa saat.

Lady’s first,” ujarku. Aku tahu dia akan mengutarakan atau membicarakan sesuatu.

Dia menghembuskan nafas panjang. “Aku masih sahabatmu?”

“Masih, sahabatku…” Dan kekasihku, tentu, namun kamu tak perlu tahu.

Dia mengambil ranting kecil, menggambar tanda “hati” di pasir itu. “Kamu senang berteman denganku?” Dia tidak menoleh ketika menanyakan hal itu.

“Tak diragukan lagi, sangat senang. Mengapa menanyakan hal itu, Sahabatku?”

Dia tersenyum padaku mengulurkan tangan kanannya dan aku menyambut tangan itu. Sekarang kami bergandengan dalam jarak seperempat meter. “Adakah persahabatan seindah ini?”

“Ada. Buktinya adalah persahabatan kita.” Kami saling bertatapan sekarang.

Tatapannya kali ini sangat dalam menembus mataku. “Aku punya pernyataan dan pertanyaan untukmu.”

“Silakan katakan, aku mendengarkan. Bukankah sejak tadi kamu hanya bertanya?” Aku berusaha sabar, merasa tahu apa yang akan dikatakannya.

Dia menumpukan kepalanya pada lututnya, sedangkan tangan kanannya masih menggenggam jemariku. “Ada sesuatu yang aneh terjadi pada kita.”

Aku diam saja, memilih tidak menjawab. Laut lepas itu lebih menarik perhatianku.

“Apa yang kamu lakukan semalam, kamu sadari atau tidak? Kamu sengaja atau tidak?”

Benar… Ternyata hal itulah yang mengganggu pikirannya. Aku tak pernah menyangka hal itu akan begitu mengusik baginya, bukan hanya bagiku. Satu ciuman pada bibirnya yang kuberikan ternyata bermakna lebih untuknya. “Tentu, disengaja dan disadari.”

“Bolehkah itu dilakukan, Sahabatku?” tuntutnya.

“Aku tak tahu apa yang boleh atau tak boleh kulakukan.” Aku masih ingat betul semalam tangannya dingin ketika kugenggam, sebelum akhirnya kukecup bibirnya yang bergetar.

Dia mendesah. “Seharusnya tak begitu, kita bersahabat, bukan? Apa yang ada dalam perspektifmu?”

Aku diam saja memandang laut lepas. Kutahu gadisku sedang memandang wajahku, berusaha mencari jawaban. Kecupan itu bukan kali pertama kulakukan dan sebelumnya dia tak pernah mempertanyakan. Cukup dengan tidak adanya kata terucap dan kami bisa berpura-pura bahwa kami murni bersahabat. Saat ini dia menyerangku, membuatku bingung harus berkata apa. Haruskah dia mempertanyakan, tak bisakah hanya diam? Jujur… kutahu pasti perasaan dalam hatinya pun berkecamuk, seperti magma yang ingin cepat-cepat keluar dari perut bumi.

“Aku tak tahu.” Sebetulnya aku hanya ingin berkata how did I fall in love with you? Tapi kata-kata itu tak mungkin keluar.

You won’t say a word, will you?” Cengkeraman tangannya bertambah kuat.

“Tidak. Apa teorimu?” tanyaku padanya, masih tidak menatap matanya.

Dia melepaskan genggaman tangan kami. “We have to kill these feelings, both you and me. Urusanku nanti apakah hal itu akan mudah atau tidak untuk dilakukan. Dan tentu kamu urus perasaanmu sendiri.”

Aku tidak berekspresi, hanya menganggukkan kepala yang bertanda “iya”.  Aku tidak akan mengatakan apakah itu cinta atau bukan. Hal yang kurasakan adalah “rasa” itu sendiri. It will never be the same again between me and her. Dan aku pun tahu dari mulutku atau mulutnya tak akan pernah terucap tentang “rasa” itu. “Rasa” itu harus mati dan tak boleh dibiarkan tetap hidup.

Seseorang berteriak dari kejauhan di belakang kami. Suara pria itu memanggil nama gadisku.  Semakin lama semakin terdengar jelas. Gadisku menjawab, “Iya, aku di sini. Sebentar lagi aku ke sana.” Kutahu, suara itu milik pria yang bersamanya telah mengucapkan janji setia untuk sehidup semati. Aku sendiri di sana mengabadikan momen itu sehari lalu, berdiri juga sebagai pendamping pengantin perempuan, yakni sahabatku, gadisku, kekasihku…

Dia berdiri. Aku mendongak untuk menatapnya dan ternyata dia pun masih menatapku. “I didn’t expect before that denying our feelings is very hard thing to do.”

Aku melihatnya berlalu dari hadapanku, berlari menuju suara itu. Tanyakan satu pertanyaan dasar, mengapa kami tidak pernah mengutarakan “rasa” itu sedari dulu? Perbedaan itu terlalu mendasar, seperti ada tembok tinggi mencapai ujung langit menghalangi kami, baik aku maupun dia tak bisa melewatinya. Anehnya, Tuhan hanya satu tapi manusia masih memperseterukan perbedaan itu lewat kepercayaan dan agama. Bukankah manusia diciptakan seturut Citra-Nya, Dia juga yang menciptakan cinta?

Pertanyaan itu pun tak mampu kujawab sendiri. Jadi, di sinilah aku sendiri, seperti siluet di senja hari sunyi… Dan cukuplah ini sekarang. Enough, enough now.

6 Juli 2009 (11 p.m)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s