There’s Only One Regret

Sepasang kekasih itu duduk berhadapan. Gadis bernama  Gan Kian Ling memandangi kekasihnya dengan penuh sayang . Perjaka bernama Damar Adityo memuji kecantikan paras daranya seraya menggenggam tangannya. Tidak ada kata terucap, hanya kehangatan yang muncul dari tatapan mata sepasang muda-mudi itu.

“Aling, masa kamu tidak menyuguhi Mas Damar minuman dan makanan? Masa harus mama atau Koh Asiang yang bikinin minuman? Mama harus memasak dan Koh Asiang sedang pergi mengantar pesanan beras. Tidak sopan kamu.” Genggaman tangan sepasang kekasih itu terlepas ketika mendengar suara Nyonya Eng Lan, ibunda Gan Kian Ling.

“Ah, Mama ini, kan sekali-kali tak apa jika Mama atau Koh Asiang yang membuatkan minuman,” kata Gan Kian Ling manja.

Gan Kian Ling baru saja hendak menuju dapur, namun Damar mencegahnya.

“Aling, kamu jangan pergi. Aku belum puas memandangi kamu.” Damar tiba-tiba memeluknya dari belakang seraya berbisik, “Aku sangat cinta kamu, Aling, dan aku nggak akan pernah meninggalkan kamu selamanya. Aku janji.”

Gan Kian Ling tinggal di sebuah ruko di Jakarta dan hidup di tengah keluarganya yang harmonis. Gan Kian Liong, seorang ayah yang sangat keras kepala namun bertanggung jawab.  Orang sekitar dan pelanggan toko sembakonya biasa memanggilnya Babah Liong. Sedangkan ibunya, Ong Eng Yang, seorang ibu yang sangat penyabar dan penyayang. Sepasang suami istri itu beruntung karena memiliki anak-anak penurut seperti Gan Kian Siang dan Gan Kian Ling. Kedua kakak-beradik itu diberi nama panggilan Asiang dan Aling.

Aling dan Damar baru saja hendak membantu Babah Liong berdagang ketika Asiang tiba-tiba berlari memasuki toko dengan wajah panik.

“Papa! Mama! Aling! Cepat keluar dari toko! Kita pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini sekarang juga! Jangan lewat jalan utama, kita lewat jalan kampung saja!’ Asiang berteriak seperti kesetanan dan bertingkah layaknya ornag gila sehingga pembuat semua pelanggan keluar dari toko.

Nyonya Eng Yang yang saat itu berada di lantai dua segera menghampiri Asiang dan menenangkannya. Babah Liong hanya terdiam. Aling dan Damar hanya bertukar pandang penuh keheranan.

“Ada apa, Asiang? Tengangkan dulu dirimu, baru kamu ceritakan apa yang sebenarnya menimpamu di jalan tadi?” kata Nyonya Eng Yan sabar.

Nggak ada waktu, Ma. Massa sudah mengepung daerah kita dan sebentar lagi pasti toko kita dijarahnya. Dan kita pasti dibunuh, Ma, kita bakal mati seperti keluarga Koh Awah!” Asiang menjelaskan seperti orang hilang akal.

“Asiang, jangan melebih-lebihkan! Itu masalah Koh Awah dengan pekerjanya, tidak ada hubungannya dengan kita! Buat apa mereka menyerang kita yang tidak berbuat salah? Kita tidak akan meninggalkan toko!” kata Babah Liong.

Kebingungan Asiang berubah menjadi amarah ketika mendengar ketidakpercayaan ayahnya. Asiang semakin hilang akal dan baru saja hendak melayangkan tinjunya ke wajah ayahnya ketika Damar menghalau tinju itu.

“Berani kamu, Asiang, kepada papamu?” Babah Liong pun menjadi marah.

“Dengar, Papa. Aku nggak main-main. Mereka hendak membakar kita hidup-hidup. Tolong percaya padaku, kita tinggalkan toko ini sekarang.” Asiang menangis dan memelas.

“Om, Tante, sebaiknya kita pergi sekarang. Kita sebaiknya percaya kepada Asiang. Kondisi saat ini tidak bisa menjamin keamanan,” kata Damar menengahi.

“Tapi kita tidak salah” Babah Liong masih saja mempertahankan pendapatnya.

“Salah atau tidak pun, sepertinya tidak banyak bedanya sekarang ini. Kita harus…”

Belum sempat Damar menyelesaikan kalimatnya, massa sudah sampai di ujung gang. Mereka tidak akan sempat melarikan diri tanpa terlihat. Jalan satu-satunya hanya bersembunyi di dalam ruko dan berharap mereka tidak ketahuan. Damar menarik Aling dan Nyonya Eng Yan ke lantai dua dan menyuruh mereka bersembunyi di gudang.

“Aku akan aman, Ling, aku pribumi. Sedangkan kamu keturunan Tiong Hoa. Mereka akan senang menemukanmu dan akan menganiaya kamu. Maka sembunyilah! Aku akan ke bawah menolong Babah dan Asiang.” Damar mengecup dahi Aling dan bergegas menuruni tangga.

Massa yang terlihat beringas menjarahi barang-barang di toko sekitar gang itu. Kaum Tiong Hoa dianiaya, beberapa yang mencoba melawan terbunuh seketika. Ketika Damar menuruni tangga, ia melihat Asiang berusaha menghadang mereka agar tidak masuh ke ruko. Tak lama berselang, Damar melihat golok menembus badan Asiang. Asiang memuncratkan darah dari mulutnya lalu terjatuh tak berdaya. Babah Liong yang saat itu sedang mengamankan uangnya terbelalak melihat kengerian yang baru saja menimpa anaknya. Beberapa orang merampas uang dari tangan Babah Liong dan memukulinya.

Sekarang orang-orang yang berperikemanusiaan itu mulai naik ke lantai dua. Beberapa hanya mengerling saat melihat Damar. Dan Damar pun tidak menghalangi mereka naik.

“Hei, kamu pribumi atau China? Apa yang kamu lakukan di sini?” Seorang pria dari kelompok penjarah menanyai Damar sambil memegang kerah bajunya.

“Saya pribumi. Sa…sa…saya hanya sedang berbelanja di toko ini,” kata Damar. Ia tak mampu melindungi Aling dan membiarkan orang-orang itu menemukan kekasihnya.

Dua orang bertampang sangat jahat memegangi kedua tangan  Aling pada kedua sisinya dengan kasar. Mereka membawa Aling menuruni tangga, lalu mendorong Aling sehingga ia jatuh ke ujung tangga. Damar sekali lagi terpaku, tak mampu melakukan suatu apapun untuk menyelamatkan kekasihnya. Sementara itu, tersengar teriakan menakutkan yang keluar dari mulut Nyonya Eng Yan. Damar tahu, kengerian kedua telah terjadi.

Orang-orang bengis itu mendorong Aling ke arah Babah Liong. Aling menangis tersedu. Babah Liong sibuk menyembah-nyembah kepada mereka agar jangan anak bungsunya dibunuh pula.

“Jika kamu tidak ingin kami membunuh anak perempuanmu di depan matamu, maka turuti apa yang kami ingini. Beri kami tontotan seru, setubuhi anakmu di hadapan kami!” Seorang pria yang sepertinya pemimpin kelompok sinting itu memberi instruksi bengis dengan tertawa.

Aling memandang Damar, memohon pertolongan, berharap bahwa Damar akan menariknya pergi dari situasi menjijikkan itu. Namun Damar telah kalah oleh ketakutannya terhadap kelompok itu dan memilih berdiam diri meski hati tercabik. Damar terpaksa harus menonton hal yang tidak manusiawi yang sedang terjadi di depan matanya. Ia tak sanggup menatap mata Aling yang dibanjiri air mata dan tak berdaya. Baru setengah jam yang lalu ia berjanji tidak akan meninggalkan Aling. Dan kini Damar berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Aling merasakan penderitaan. Penyesalan Damar tak akan pernah pulih. Dalam hati, Aling mengutuk Damar yang tidak mau berkorban untuknya…(20 Mei 2006, 10.00 pm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s