Sempu, Found A Heaven-Like Place After Walked in The Hell Way

Pernah mendengar tentang Segara Anakan atau Laguna Anakan? Itu semacam danau yang dikelilingi bukit-bukit—yang airnya berasal dari laut. Segara Anakan ini berada di tengah-tengah Pulau Sempu, yang pulaunya sendiri juga diapit lautan dan di sebelah selatan pulau itu terhampar Samudera Indonesia.

Berani bertaruh, Segara Anakan tuh keren  banget dan nggak akan nyesel pergi ke sana. Gimana caranya mencapai segara itu? Pertama-tama kita harus menuju kota Malang dulu. Gue ke Malang untuk pertama kalinya kira-kira tanggal 20-23 Mei 2009 lalu bersama 21 Jurnal-Jurnil’06. Nggak tahu pada kesambet setan apa, tahu-tahu ada rencana pergi ke Malang. Well, gue sih diiming-imingi bakal nemuin pantai seperti yang ada di film The Beach. Jadilah gue ikut berangkat. Gue berangkat dari stasiun Rancaekek, Bandung, naik kereta ekonomi Kahuripan. Kami turun di Kertosono, trus nyambung lagi naik kereta ke Stasiun Kota Baru Malang. Perjalanannya cukup melelahkan, 23 jam terkungkung dalam besi berjalan itu. Bau badan kami jadi nggak karuan.

Di Terminal Arjosari, Malang
Di Terminal Arjosari, Malang

Oke, kita lanjutin. Ternyata tidak ada angkutan umum untuk menuju Segara Anakan. Dari terminal Arjosari, kami pun men-carter dua angkot untuk kami ber-21. Setiap kepala harus mengeluarkan uang Rp. 35.000,00 untuk pulang-pergi. Perjalanan dari Arjosari ke Sindang Biru memakan waktu 3 jam. Sesampai di Pantai Sindang Biru (yang asli, man, birunya bagus banget!), Pulau Sempu terlihat di depan mata, menunggu untuk dijajaki. Kami menyewa 2 perahu untuk mengantar kami menuju Pulau Sempu. Sekarang, tiap kepala harus mengeluarkan uang Rp. 20.000,00.

Duduk-Duduk di Tepi Pantai Sindang Biru
Duduk-Duduk di Tepi Pantai Sindang Biru

Dari dua rombongan perahu, hanya perahu gue yang berhasil sampai di Pulau Sempu. Alasannya kenapa? Pada waktu itu, udah pukul 13.30 dan ternyata orang yang mau menuju Segara Anakan selepas jam 12.00,harus lapor terlebih dahulu. Satu perahu tidak berani mengantarkan, sedangkan perahu gue mau mengantarkan.

Di Perahu Menuju Sempu
Di Perahu Menuju Sempu

Gue baru tahu kenapa orang harus lapor dulu selepas jam 12.00. Itu disebabkan waktu yang ditempuh untuk menjajaki Sempu dan menemukan Segara Anakan adalah 2,5 jam dengan berjalan kaki. Jadi, kalau dari Sindang Biru sudah terlalu siang, lebih baik sekalian camping di sana. Kalau nggak camping, silakan merasakan berjalan menyusuri Sempu untuk kembali ke Sindang Biru dalam kegelapan total.

Itulah yang gue rasain. Gue nggak berekspektasi bahwa perjalan menuju Segara Anakan sangat membutuhkan kerja keras. Jalan setapak yang ada di Pulau Sempu bahkan dipenuhi lumpur yang membuat kita kesusahan berjalan. Bayangkan, dalam sekali memijak tanah, kaki kita akan terbenam hingga ke mata kaki di dalam lumpur. Sandal atau sepatu pun tiada berguna digunakan, hanya membuat terpeleset saja. Dalam perjalanan ke Segara Anakan saja, gue kelepeset 5 kali lebih. Ada satu kali gue terpeleset sampai bisa split (padahal kalau disengaja, nggak akan bisa). Tongkat kayu akan sangat berguna dalam membantu berjalan.

Jalan Berlumpur yang Harus Dilewati di Sempu
Jalan Berlumpur yang Harus Dilewati di Sempu
Tertawa meski harus terpeleset berkali-kali
Tertawa meski harus terpeleset berkali-kali

Kami bersepuluh sampai di Segara Anakan dalam waktu yang berbeda-beda, tergantung pada kekuatan fisik dan kecepatan berjalan. Gue dan 4 orang teman gue, nyampe ke Segara Anakan pukul 16.30, padahal kami mulai jalan pukul 14.00.

Meski peluh keluar dengan deras, keringat menetes dari rambut, baju menempel di kulit, badan dan baju kotor terkena lumpur, dan kaki menderita sobek-sobek, semua terbayar ketika melihat Segara Anakan. Gue puasin-puasin memandang air laut Samudra Indonesia yang menerobos lubang karang. Itulah yang menciptakan segara ini. Sesekali main juga di segaranya. Di kejauhan Samudera Hindia terlihat dua batu besar berdiri di tengah samudera, seperti pintu gerbang menuju laut lepas. I Found A Heaven-Like Place After Walked in The Hell Way.

Indahnya Segara Anakan
Indahnya Segara Anakan

Jika kita memanjat sedikit di karang, kita akan langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia yang ombaknya sangat ganas. Di bawah karang terjal itu, langsung terhampar laut lepas. Ombaknya bisa mencapai 6 meter. Tuhan sungguh Maha Kuasa!

Setelah puas bermain dan merenung di sana, kami pun memutuskan pulang pada pukul 17.30. Kali ini kami yang terdiri 4 perempuan, 6 laki-laki, dan 2 supir angkot kami berjalan beriringan, tidak ada yang berjalan mendahului. Kami berusaha ber-positive thinking bahwa kami akan sampai juga di tepi Sempu dan dijemput perahu menuju Sindang Biru.

Dalam keadaan gelap gulita seperti itu, yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dalam hati dan saling member semangat pada kawan. Sumpah, di sini gue baru merasakan kesetiakawanan yang nyata banget. Satu pesan, jangan berkata-kata sompral di pulau ini, karena ada cerita di mana orang bisa berjam-jam tidak menemukan jalan keluar dari Sempu. Gue juga bersyukur nggak terjadi apa-apa terhadap kami, padahal Sempu terkenal sebagai sarangnya ular berbisa dan beracun. Kecuali kaki sobek, kami aman-aman saja.

Tiga jam kami tempuh untuk sampai di tepi Sempu yang menghadap Sindang Biru. Beruntung si tukang perahu masih mau menjemput kami. Padahal, perahu dilarang berlayar selepas matahari terbenam. Pukul 20.30 kami baru sampai di Sindang Biru dan langsung menuju ke Malang. Teman-teman kami yang tak ikut ke Sempu bisa menarik nafas lega karena kami baik-baik saja. Jangan harap ada sinyal provider manapun, jadinya kami tak bisa menghubungi teman-teman kami.

Gue salut ma 9 temen gue ini. Terutama banget gue berterima kasih sama Alfred yang meski baru kenal, justru dia yang ngebantu dan ngegandeng gue selama perjalanan pulang. Joni, yang berjalan di belakang gue dan selalu memberi semangat. Satu kalimat yang membuat gue kaget, “Tenang Yas, selambat-lambatnya elo jalan, masih ad ague di belakang yang jagain elo.” Juga ada Agun yang membangkitkan semangat lewat “didikan” kerasnya bahwa kami nggak boleh cengeng. Bayu, dia our leader, berteriak-teriak memberi semangat orang-orang yang berada di paling belakang. Tendi, Yanti, Ardy, Eby, dan Lia, pengalaman ini nggak akan pernah gue lupain. The best Saturday night ever that I’ve ever felt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s