You’re Forgiven but Not Forgotten

Adam terlihat gusar di bawah tatapan Eva. Pengakuan akan sebuah kesalahan memang hal yang sulit dilakukan. Kesalahan Adam tidak pernah terpikir oleh Eva akan dilakukan Adam sebelumnya—tidak dengan hati Adam yang setulus itu. Eva menghargai kejujuran Adam, namun jika disuruh untuk melupakan kesalahan Adam, Eva belum sanggup. Anak dari kesalahan Adam itu disebut “perselingkuhan”. Tak tahu apakah nama itu tepat atau tidak, yang jelas keduanya sepakat bahwa kesalahan itu bernama perselingkuhan.

“Sudah tiga bulan berselang, kamu masih mempersoalkan. Apa yang aku harus lakukan?” tanya Adam sembari menatap Eva dalam-dalam.

Eva menatap danau yang terhampar di depannya. ”Mempersoalkan karena tidak ada penyelesaian di masa lalu. Kamu memaksa aku untuk melupakan begitu saja, tidak bisa. Kamu tak mengizinkanku berinteraksi dengannya sejak dulu? Melindunginya, eh?”

“Tidak melindungi, hanya untuk apa dilakukan? Aku yang salah.”

“Aku tahu kamu salah, tapi dia juga salah. Aku hanya ingin dia mengakuinya.” Eva mengalihkan tatapannya dari danau dan ganti menatap Adam. “Kamu tahu, dia mengirim email padaku. Sudah baca? Aku kirim itu ke email-mu. Wew, selalu ada kejutan baru, ya?”

“Sudah baca. Kejutan yang mana lagi? Sudahlah tak perlu didengarkan apa yang diocehkannya lewat email itu.”

“Kejutan bahwa kamu sudah tiga kali berpaling ke dia. Itu berarti selama kita tiga kali break, kamu bersandar padanya, eh?” kata Eva sambil menyalakan sebatang rokok.

Adam ikut mengambil sebatang rokok dan menyalakannya juga. “Itu kan perspektif dia saja. Aku tak bermaksud demikian. Bersandar? Tidak. Aku hanya bercerita tentang kamu yang seolah tidak mempedulikanku.”

“Bohong. Dia bilang pada saat break kita yang terakhir kali itu, kamu ingin memikirkan kelanjutan hubungan kalian.” kata Eva sambil mengisap rokok dalam-dalam.

Adam menggeleng santai. “Tidak. Aku tidak pernah ingin benar-benar pisah darimu. Aku hanya mengatakan aku masih sayang kamu. Aku tidak pernah menyinggung apakah akan serius dengannya atau tidak.” Adam menghembuskan asap rokok. “Tapi menyukainya juga pada akhirnya.”

“Lalu megapa dia begitu yakin akan hal itu dan sampai menuliskannya dalam blog seolah hatinya benar-benar sakit?”

“Sekali lagi, aku hanya menduga dia memaknai perkataanku terlalu dalam.”

“Apa dia melebihiku dari segi physical appearance?”

“Tidak, sama sekali tidak. Kamu lebih dalam hal itu. Aku sadar betul kamu melebihinya.”

“Lalu, apakah dia memiliki pribadi yang sangat menarik? Mungkin dia sangat penyabar seperti Bunda Teressa, hingga kamu terpikat? Aku sadar aku memang memiliki sedikit sekali sifat keibuan,” tanya Eva, masih dalam nada datar.

“Ah, tidak juga. Dia sama saja seperti perempuan kebanyakan, seperti kamu kalau marah.”

Eva mendengus. “Berarti dia punya segudang prestasi yang bisa membuat kamu kagum? Menyaingimu dalam berprestasi?”

Adam tertawa. “Sejauh aku mengetahui, tidak seperti itu.”

“Lalu apa? Buat aku mengerti.” Eva menghembuskan asap rokok ke wajah Adam.

She’s nothing compared to you, really. I just don’t know. Mungkin selama kita menjalin hubungan jarak jauh ini, dia yang ada buat aku. Dia memberi aku perhatian,” kata Adam sambil tertawa.

Eva ikut tertawa sinis. “Perhatian macam apa? Ucapan selamat malam, semoga mimpi indah, petanyaan sedang apa, pemberian semangat dalam menjalani harimu? Bukankah aku juga memberikan hal itu. Kalau aku lupa dalam suatu waktu tidak mengucapkan itu, dia yang menggantikan ucapan-ucapan itu? Dan kamu memilih untuk menyukainya hanya karena itu? Pembantu juga bisa menggantikanku, bukan? Lantas apa kamu langsung menyukai pembantu itu? Tahu tidak, kamu pria paling gampangan yang pernah aku kenal. Sayangnya, kamu justru kekasihku.
Adam tertawa mendengar ucapan itu. “Aku hanya… khilaf, Sayang. Kedekatanlah yang membuatku jadi seperti itu.

“Sudah pernah aku peringatkan, kan, tentang watakmu yang satu itu? Ingat?”

“Tentu. Sangat ingat.”

Eva mematikan rokoknya di dalam asbak. “Dia mengatakan aku perempuan yang elok namun berhati busuk. Aku mengakuinya. Kebusukanku ini hanya muncul untuknya. Aku katakan,setiap orang akan menjadi jahat jika hatinya terlukai. Maka, dia pun tak ubahnya aku.  Kamu masih mau dengan perempuan berhati busuk seperti aku? Tak ingin besama perempuan berhati selembut peri yang bernama Betsyeba itu?”

Adam sekali lagi tertawa. “Tidak, kamu tidak jahat. Kamu memang bisa melakukan apa saja jika hatimu sakit. Dan, tolong jangan mengatakan bahwa dia memiliki hati selembut peri.”

“Peri binal,” ujar Eva ikut tertawa. “Dan dia sepertinya sangat percaya diri bahwa kamu benar-benar menginginkannya. Aku disuruhnya introspeksi diri, mengapa bisa lelaki-ku lari ke pelukannya. Tak malu dia mengatakan itu. Dia tak mengakui bahwa dia menginginkanmu, menyukaimu tapi mau jadi tempat dijadikan sandaran alias pelampiasan. Apa itu namanya? Kalau dia bukan peri binal seperti kataku tadi, dia tidak akan peduli padamu. Hal yang terjadi adalah dia menikmati rangsangan-mu, Sayang. Itu tandanya dia salah juga, bukan hanya kamu.”

“Aku tidak tahu mengapa Betsyeba tidak mengakui bahwa dia juga suka …”

Eva menyambar, “Malah menyalahkanku. Dia menghinaku begitu rupa. Sakit hatinya juga rupanya? Aku tertawa, tak kupungkiri tudingannya atasku, aku cukup fair. Tapi dia? Aku kasihan, dia bahkan tak mampu mengakui apa yang dia rasakan dan apa kesalahannya.”

“Tapi kamu memang cuek beberapa bulan lalu.”

“Iya. Toh kamu juga cuek. Apa masalahnya sekarang? Kupikir kita memang tipe pekerja, tidak suka diganggu jika bekerja. Aku pikir hal itu baik-baik saja, tapi tak kusangka begitu jadinya.”

“Aku hanya… khilaf.” Raut wajah Adam memancarkan permohonan maaf.

“Oke, bisa dimengerti, hanya khilaf… Lalu, kamu terima aku dihinanya begitu?”

“Tidak. Tentu tidak. Tidak ada simpulannya yang benar mengenaimu kecuali yang tadi kita bahas.”

Eva menggenggam  tangan Adam. “Kamu tidak ingin membelaku?”

“Bagaimana caranya? Aku juga dalam posisi salah. Justru aku yang harus dibela.”

“Aku membelamu, tentu, pada awalnya. Aku ingin dia mengakui dia juga menyukaimu. Tidak meletakkan semua kesalahan padamu. Apa susahnya itu? Tapi terakhir aku mengatakan, bahwa aku tak perlu takut kehilangan kamu lagi. Toh, kamu akan ngemis padaku.”

Adam mendengus sambil tersenyum. “Sudahlah, berdamailah dengan dirimu. Kamu hanya mengatakan akan mencoba memaafkanku, tapi kenyataannya tak bisa.”

“Kali ini aku benar-benar akan mencoba. Logikaku memang sudah akan memaafkanmu, tapi perasaanku sulit sekali diajak berkompromi.” Eva melepaskan genggaman tangannya. “Dia marah saat kukatakan ‘you’re just nothing compared to  me’. Katanya, dia tertawa membaca itu, tapi cukup membuat egonya bergolak juga. Padahal ide itu datangnya dari kamu.”

“Iya, kan aku sudah bilang dari dulu, kamu tidak sebanding dengannya.” Adam menarik tangan Eva ke dalam genggamannya. “Satu hal dia benar, jika kamu sudah merasa lebih darinya, lalu mengapa mesti risau?”

“Itu bukan risau, Sayang. Itu ungkapan kemarahan hati sejak tiga bulan lalu. Tidak adil hanya marah padamu saja karena yang melakukan salah kalian berdua.” Eva menolah usapan tangan Adam pada pipinya.

“Kalau kamu baca email-nya dengan baik, kamu akan bisa menyimpulkan bahwa dia sudah menyerah dengan mengatakan toh kamu juga sudah mendapatkannya kembali, buat apa cari aku lagi. Artinya, kamu sudah mendapatkan lelaki yang dia sangat inginkan,” kata Adam sambil masih berusaha memegang pipi Eva.

Eva tertawa. “Kamu terlalu percaya diri. Tidak semudah itu. Dia juga harus merasakan seperti apa yang aku rasakan. Terlebih lagi, aku tak mau ide bahwa kamu-sangat-senang-bersandar-padanya-dan-selalu-mencarinya-setiap-break-denganku, mengitari kepalanya, membuatnya sok cantik dan merasa menjadi perempuan hebat.”

“Biarkan dia berpikir sesukanya. Tak perlu kita bahas lagi mengenainya jika kamu memang ingin belajar memaafkanku,” kata Adam sambil mengecup tangan Eva.

Tiba-tiba Eva terkikik geli. “Kamu bercerita, bukankah sebelum denganmu dia memiliki pengalaman yang hampir sama, berpisah dengan orang yang disukainya? Aku ungkit itu dalam email balasan. Sebagai penutup, kukatakan semoga dia mendapatkan seseorang yang pas untuknya dan benar-benar masih single.”

Adam tertawa tanpa menanggapi Eva.

“Dan aku tahu membenci orang itu tidak boleh dilakukan. Aku memohon maaf pada Tuhan atas hal ini, membenci makhluk ciptaan-Nya juga, namun untuk saat ini aku belum bisa memaafkannya begitu saja. Aku tahu dia pun pasti berdoa juga, mengadu tentang ketidakadilan itu. Apakah Tuhan akan membela satu dari antara kita, toh kita tetap sama-sama mengadu pada Tuhan. Memikirkan itu, aku jadi malu telah melibatkan Tuhan karena kejahatan yang sudah kita lakukan tak perlu meminta pembenaran pada Tuhan, apalagi jika tidak disadari. Aku tak melakukan itu karena aku tahu aku salah. Suatu saat aku akan melewati ini semua. Legowo, itu yang aku belum punya.”

“Pikiranmu terlalu melantur. Yang penting kamu sudah memaafkan aku, kan? Jangan ungkit masalah ini lagi. Belajarlah sepertiku yang bisa memaafkan kesalahanmu,” kata Adam.

Eva menaikkan alisnya. “Betulkah?”

“Sayang, kurang bagaimana aku ini? Aku sudah mengakui sedalam-dalamnya kesalahanku. Kamu sudah hukum aku dua bulan ini. Kamu hilang dan aku tetap mengharapkanmu. Hatiku selalu mencari kamu pada akhirnya. Kamulah yang aku mau, bukan dia, bukan pula orang lain.”

“Tidak perlu berkata-kata manis. Kalau sekarang kamu mau mengenal dia lebih jauh, silakan, daripada kamu masih penasaran. Sekalian menguji teoriku tentang dia yang pasti mau menjadi tempat bersandarmu lagi,” kata Eva.

Adam menggeleng cepat. “Aku tidak peduli padanya, sama sekali sudah tidak peduli.”

“Aku tidak lagi melarangmu berinteraksi dengannya lagi sekarang. Tak perlulah kalian saling berdiam dan canggung satu sama lain. Kamu tidak sedih jika dia membencimu?” kata Eva.

“Bukan karena kamu suruh, aku sendiri pun sudah malas berususan dengannya. Kalau kubilang tak mau, ya, aku tidak mau. Mau dia melakukan apapun, aku tak peduli. Tak peduli juga jika dia membenciku. Sayang, apa kamu kurang menghukum aku?”

“Aku tidak menghukum kamu, sungguh.”

“Dua bulan ini kamu tidak mempedulikanku, aku hampir gila karena hal itu. Please. Semua orang menyalahkanku akan hal ini. Aku sadar saat ibuku berkata bahwa aku sudah memegang burung dara yang indah, malah ingin melepaskannya dan mencari burung lain yang belum tentu lebih bagus dari burung dara itu.”

Nada suara Eva berubah melembut. “Kamu beritahu ibumu akan masalah kita?”

“Iya. Aku hanya mau mengakui kesalahanku padanya. Ibuku mengatakan jika aku benar-benar melepasmu dan memilih dia, itu akan membuatnya pingsan.”

Eva tertawa mendengar hal itu. “Ibumu berlebihan. Aku malah tidak menceritakan masalah ini pada Papa, terakhir aku cerita juga pada Mama karena dia terus mendesakku.”

“Jangan sampai Papa tahu, bisa mati aku nanti,” gurau Adam.

“Tidaklah. Aku tidak mau kamu dimusuhi Papaku, apalagi kamu sudah diultimatum oleh Papaku untuk tidak menyakiti hatiku.”

“Hahaha. Ya, aku janji aku tak akan melakukan hal itu lagi. Aku menyesal dan sudah merasakan sendiri dampaknya. Ternyata aku tidak bisa jauh dari kamu.”

“Teruslah menggombal. Jangan-jangan Betsyeba kaugombali juga? Oh iya, dia juga mengatakan tidak menjamin bahwa hubungan kita yang sudah lama ini akan berakhir di pernikahan.”

“Kita coba saja. Aku sangat yakin akan hal itu, hanya memang aku pernah melakukan kesalahan.”

Eva terkikik geli lagi. “Lantas aku berpikir, apakah dari ungkapannya itu dia ingin mengatakan bahwa sangat mungkin kamu akan menikahinya, yang bahkan belum dipacari. Jika hal itu benar-benar terjadi, aku akan sangat tertawa memandang kalian di pelaminan.”

“Kenapa?” tanya Adam sambil tertawa.

“Sangat tidak cocok. Saat kamu akan merangkulnya, mungkin kamu hanya akan meraih kepalanya dan dia hanya akan mencium bau ketiakmu.”

Adam tertawa keras mendengar Eva berkata-kata demikian. “Maafkan aku, ya, Sayang? Jangan diungkit lagi, aku sudah cukup malu. Yang jelas aku tidak bisa tidak terikat denganmu.”

Eva menggangguk, memilih untuk mempercayai Adam. “Aku percaya kamu bahwa kamu tidak akan melakukannya lagi. Tapi jika lain kali ingin selingkuh, pilihlah perempuan yang melebihi aku agar jangan aku memperolokmu dan membuatku tak habis berpikir karenanya.

“Tidak akan ada kali kedua aku menyakitimu,” kata Adam mantap. “Mau,kan, memaafkanku?”

Eva mengangguk. “For this time, you’re forgiven but not forgotten. Aku mau belajar untuk berdamai dengan diriku. Aku tak akan membahasnya lagi di hadapanmu.”

Dan mereka pun berjalan bergandengan menyongsong matahari senja yang menyorot seperti senter. Berharap semua sakit hati akan menghilang seperti matahari yang tertelan bumi di kala senja itu…

3 Comments Add yours

  1. agustiyanti says:

    Aqu buka juga blog kamu akhirnya…
    Sepertinya berdamai dengan diri adala cara terbaik untuk tidak menjadi antagonis.. hehehe
    sekarang kalo naruh cerpen di blog aja y mba?

  2. elisabetyas says:

    Hahahaha… Yanti, kamu memang sahabat yg pandai berposisi. Meski saya antagonis dalam banyak hal, sedikit yg mengetahui isi hati saya. Naruh di blog biar ga rame di fb aja… Mana blog kau???

  3. agustiyanti says:

    jiah.. kau klik saja nama aku.. nanti kelur blog aku.. tapi baru diisi tugas.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s