Hiroshima, Karya Jurnalistik Bebentuk Sastra

Judul             : Hiroshima, Ketika Bom Dijatuhkan

Penulis           : John Hersey

Penerbit        : Komunitas Bambu, 2008

13799Buku ini bukanlah karangan fiksi, melainkan sebuah karya jurnalistik John Hersey ketika membongkar realitas ketika bom dijatuhkan di Hiroshima pada tahun 1945. Dengan bergaya penulisan sastra, kita bisa menikmati bacaan ini. Terdapat enam tokoh utama yang merupakan korban selamat dari bom itu. Dalam tulisan yang dibukukan ini diceritakan kronologis sebelum dan sesudah bom dijatuhkan dari sudut pandang para korban. Selain itu, terdapat juga pendapat para pakar mengenai radiasi yang mungkin disebabkan oleh bom atom tersesbut. Hersey akan membawa kita menyelami setiap detik yang terjadi di Hiroshima.

Kesan pertama saat membaca beberapa halam dalam buku ini adalah saya sebagai pembaca menikmati bacaan ini. Saya seakan-akan tak mau melepaskan buku ini dan terlarut dalam membacanya sehingga membuat saya selalu penasaran dengan akhir laporan yang dituliskan seperti sebuah narasi ini.

John Hersey memakai keenam pemeran ini bukan tanpa sebab. Keenam tokoh ini memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain. Hersey sepertinya suka pada tokoh-tokoh yang memiliki sifat heroik dan memilih beberapa tokoh sebagai pemeran utama. Mereka adalah Pendeta Kiyoshi Tanimoto, Wilhelm Kleinsorge, dan Dokter Terufumi Sasaki. Dua tokoh yang dirundung penderitaan dan sulit bangkit dari penderitaan itu adalah Nona Toshiko Sasaki dan Nyonya Hatsuyo Nakamura. Sedangkan Dokter Masazaku Fujii melengkapi cerita ini sebagai tokoh yang legowo, menerima keadaan apa adanya dan bisa bangkit dari keterpurukan tanpa mengeluh.

Buka tanpa sebab dan bukan secara acak keenam tokoh itu dipilih. Mungkin Hersey ingin menemukan kaitan-kaitan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Dan saya mengira Pastur Kleinsorge adalah tokoh kunci penceritaan Hersey. Saya berasumsi demikian karena tokoh-tokoh lainnya berhubungan dengan Pastur Kleinsorge. Nyonya Nakamura adalah salah seorang jemaat sang pastur. Tanimoko yang seorang pendeta Kristen tentu mengenal pemimpin dari Gereja Katolik, yakni Pastur Kleinsorge. Dokter Fujii adalah juga relasi Pastur Kleinsorge yang senang memberinya obat-obatan. Ketika Nona Sasaki berada dalam masa depresi, Pastur Kleinsorge pula yang memberi dukungan mental. Pada saat mengunjungi Nona Sasaki itulah, ia bertemu dengan Dokter Sasaki. Semuanya saling terangkai lewat Pastur Kleinsorge.

Penulis berusaha untuk menampilkan ceritanya sedetil mungkin dengan menggunakan deskripsi yang total. Ia menggambarkan setiap kejadian dengan detil. Namun demikian—entah penerjemah atau penulis yang menyusun kata—tulisan ini, menurut saya, berusaha menjauhkan pembaca dari rasa miris yang berlebihan. Penulis (atau penerjemah) bersikap seolah-olah “dingin”. Semua realitas dituliskan berdasarkan sudut pandang para tokoh. Meski ditulis dala bentuk narasi dan menyerupai novel, Hersey tidak menuliskan dengan menggunakan perasaannya sendiri, melainkan fakta. Hal itulah yang menjadi pembeda antara novel dan karya literary journalism.

Hal lain yang menjadi pembeda adalah terdapat cover both side dari tulisan ini. Jika penulis novel biasa (bisa juga dengan menggunaka riset) mungkin hanya akan menyentuh aspek melodramatis, wartawan akan juga memikirkan kausalitas dari setiap kejadian. Ia menyebutkan hasil para peneliti dan penyebab dari penyakit misterius yang menyerang orang-orang yang masih hidup.

Tulisan ini juga memenuhi kriteria-kriteria tulisan berjenis sastra. Tulisan ini memiliki tokoh-tokoh dan semua sifat mereka dijabarkan oleh Hersey. Latar waktu dan tempat juga dijelaskan secara detil. Alur yang digunakan oleh penulis berupa alur maju, yakni beberapa jam sebelum bom dijatuhkan dan pasca-pengeboman. Namun sayang, penceritaan alur yang lambat di awal menjadi cepat pada ujungnya. Penulis menggunakan sudut pandang penulis serba tahu. Ia tidak hanya menggambarkan apa yang diketahui para tokoh, melainkan hal-hal yang juga tidak diketahui para tokoh. Pemilihan kata atau diksi juga sudah baik (meski yang melakukan tentu penerjemah).

Satu goal yang menurut saya tercapai dari tulisan ini. Tulisan ini bukan untuk menyebarkan kisah sedih dan sengsara warga Jepang pasca-pengeboman, melainkan untuk menunjukkan kebesaran hati warga Jepang. Mereka tidak mengeluh akan penderitaan, justru memperlihatkan ketegaran luara biasa. Sebenarnya orang-orang berhasil hidup merasa malu karena tidak bisa mati bersama 100.000 korban untuk membela negara dan Kaisar Tenno. Mungkin pada masanya, tulisan ini juga mennyadarkan warga dunia tentang banyaknya kerugian yang muncul dalam masa perang.

Saya menemukan beberapa kesalahan dan ketidakkonsistenan penerjemah dan itu membuat naskah ini menjadi tidak sempurna. Pada halaman kedua, saya menemukan tulisan “Pastur Kleinsorge, seorang pendeta Jerman dari Society of Jesus…” Terdapat kesalahan dalam tulisan itu, pastur dan pendeta menempati arti yang sama. Padahal kedua kata itu berbeda dan merujuk pada profesi yang berbeda. Pastur adalah pemimpin umat Katolik, sedangkan pendeta adalah pemimpin umat Kristen Protestan.

Kesalahan lain terdapat pada halaman 20. Di situ dituliskan “… setengah jam kemudian ia sudah membaca Misa di kapel kompleks misionari…” Ada mispersepsi dalam diri penerjemah. “Misa” bukanlah sebuah bahan bacaan, melainkan sebuah kegiatan ibadah orang Katolik. Misa menjadi objek ketika dikatakan “Umat mengkuti Misa” atau “Pastur memimpin Misa selama dua jam”.

Pada halaman 44, kita akan menjumpai kalimat “Dari 1.780 orang perawat, 1.654 orang tewas atau terluka parah untuk bekerja”. Penggunaan kata sambung “atau” tidak relevan. “Terluka parah” dan “Tewas” berada dalam kategori yang berbeda untuk sebuah pengukuran. Kita tidak bisa membedakan jumlah antara suster yang tewas dan yang terluka parah. Akan lebih rasional bila disebutkan jumlah pastinya atau menggunakan komparasi yang pas, seperti terluka parah dan terluka ringan.

Terdapat beberapa kata yang sudah ada dalam bahasa Indonesia namun tetap menggunakan bahasa Inggris secara konsisten di dalam tulisan. Salah satunya adalah kata “noviciatte” yang sudah ada terjemahannya, yakni “novisiat”. Novisiat merujuk pada tempat tinggal para biarawan—khususnya bruder— untuk berdoa dan belajar, mungkin semacam asrama atau biara. Kata “diosence” juga sudah diartikan menjadi “diosesan”. Society of Jesus merupakan ordo yang sudah ada di Indonesia, namanya menjadi Syarikat Jesuit. Maka, itu menjadi penanda seorang pastur menganut ordo mana. Hal itu terlihat dalam penulisannya di belakang nama, Pastur Wilhelm Kleinsorge, SJ, misalnya.

4 Comments Add yours

  1. wage says:

    Wah bagus resensinya mbak Tyas, jadi tertarik baca bukunya.

    Salam

  2. wagenugraha says:

    wah resensinya OK mbak Tyas ^_^, jadi tertarik untuk membaca

    Salam

  3. elisabetyas says:

    Iya, hehehe…. Baca aja, Mas. Itu sebenarnya laporan jurnalistik tahun 1946. Tapi bacanya udah kayak novel… Hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s