Jazz Journalism, Era Kemunculan Berita Sensational dan Interpretatif

Jazz Journalism, The Birth of Sensational and Interpretative News

Purwaningtyas Permata Sari

Tugas Mata Kuliah Jurnalisme Kontemporer


There was a period after World War I, which journalism offered its new variation. Postwar citizen felt so much traumatic and got depressed through World War I. Mass media on World War I added citizen’s depression into their report and fulfill the news with propaganda and did spread the prejudice everywhere.

Awareness of mass media’s necessary which would change citizen’s mood rise. Jazz journalism appeared during 1919 until 1925 and provided postwar citizen’s wants. This period was marked with the birth of tabloid which had half-sized newspaper. Tabloid liked to use big font alphabet and unlimited pictures.

In propose to bring “big story” in front of public, tabloid was published with various issues which was covered by sensationalism. Every tabloid brought different theme from each other; criminal, sex, celebrity, affair, scandal, and violence.

An interpretative ideology also appeared on that period to against the sensationalism. It was magazine which brought that ideology. They wanted to get image as a genius mass media and to bring education for public. This appearance of the new ideology couldn’t make sensationalism trend disappeared.

Jazz journalism was a period which brought the birth of world class mass media. The mass media from that period were well-known all over the word until now. They could survive to face the competition. They are Reader’s Digest, The New Yorker, The New Republic, and Time.

Setelah era yellow journalism, muncullah jazz journalism (1919-1925). Pulitzer dan Hearst mengubah yellow journalism ke bentuk tabloid dengan penekanan pemberitaan terhadap seks, kekerasan, dan perselingkuhan selebritas. Tabloid muncul dengan ukuran setengah dari suratkabar dan menggunakan banyak foto. Era ini muncul setelah berakhirnya Perang Dunia I.

Daily Graphic

Format tabloid diterima dengan sukses di New York setelah tahun 1919, dan hal itu bukanlah hal asing bagi jurnalisme. Daily Graphic yang muncul pada tahun 1873 hingga 1889 (milik Stephen Horgan) telah memiliki format tabloid. Banyak ilustrasi diberikan dalam berita-berita yang dimuat di Daily Graphic, hanya saja pada saat itu tidak ada hal sensasional dalam media massa cetak yang muncul dengan format tabloid pada saat itu.

Pada awal-awal periode tersebut sensasionalisme telah memperlihatkan efeknya pada kehidupan pers. Banyak media massa Amerika pada akhirnya mengikuti era sensasionalisme. Tahun 1920 diketahui sebagai dekade kemunculan jazz Journalism. Kemunculan jazz journalism ditandai dengan cepatnya pertumbuhan pers yang menekankan pada teknik pelaporan interpretatif, tidak hanya pada ranah suratkabar, tetapi juga pada radio siaran dan majalah.

Masih dalam masa jazz journalism, interpretasi tumbuh berdampingan dengan sensasionalisme. Praktik tersebut dijalankan oleh majalah yang menaruh protes pada pemberitaan tabloid yang sensasional. Kedua media massa ini menuai keberhasilan dan kegagalan. Yang satu tetap hidup sementara yang lain bertahan.

Merunut pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, sensasional berarti menggemparkan, luar biasa, dan merangsang emosi. Sedangkan interpretatif berarti mengandung tafsiran.

Sejarah Jazz Journalism

Sebuah perputaran sensasionalisme di jurnalisme dimulai setelah berakhirnya erang Dunia I. Bermula pada tahun 1833. Tahun tersebut dirasa sebagai tahun yang pas untuk memperkenalkan jurnalisme baru, di mana kemunculan sensasionalisme telah ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

Dalam kurun waktu tujuh tahun antara 1919 hingga 1926, di Amerika Serikat tercatat bahwa lebih dari 1,5 juta pembaca mengganggu keseimbangan sirkulasi media yang telah ada karena menuntut kemunculan media massa jenis baru. Kemunculan sensasionalisme dalam jurnalisme ditandai pula dengan kemunculan dua teknik yang menandai hal tersebut, yakni format tabloid dan peberian foto yang berlebihan.  Maka disebutlah periode ini sebagai periode jazz journalism.

Sebelum kemunculan sensasionalisme di Amerika, sebenarnya hal itu telah lebih dulu hadir di Britania Raya atau Inggris. Pers di Inggris pada tahun 1833 telah “bermain” pada ranah kriminalitas dan cerita-cerita di lapangan. Daily Telegraph muncul di Inggris namun hanya menyentuh pembaca kelas menengah. Pada tahun 1870 kemudian ditemukan bahwa telah ditemukan pasar yang tepat untuk memopulerkan sensasionalisme.

Adalah Alfred C. Harmsworth, seorang tokoh pers Inggris, meluncurkan majalah berbasis human interest yang

Alfred C. Harmsworth

bernama Answer. Majalah itu memiliki segmentasi untuk eksekutif dan para pekerja. Dengan majalah itu pula, dalam sepuluh tahun Harmsworth meraih oplah 250.000 eksemplar. Harmsworth mulai berpikir agar di Amerika harus dipublikasikan jenis baru bermuatan sensasionalisme dan berformat tabloid.

Keberhasilan Harmsworth dalam memperkenalkan jenis baru tersebut mulai dilirik oleh Joseph Pulitzer. Ia mencetak New York World yang meniru teknik London Evening News dan Daily Mail pada tahun 1901. Pulitzer belajar banyak tentang munculnya sensasionalisme pada Harmsworth. Akan tetapi rupanya publik Amerika tidak begitu terkesan dengan munculnya jenis media massa cetak baru ini.

Harmsworth berpendapat bahwa masyarakat Amerika harus benar-benar mengenal tablid dengan sifat sensasionalismenya yang cukup banyak mendatangkan keuntungan pada penerbit, contohnya Daily Graphic dan Daily Sketch. Ia merasa seseorang harus mempublikasikan ini dengan benar di Amerika. Harmsworth kemudian bertemu dengan seorang tentara Amerika yang kebetulan sedang berada di Inggris, Kapten Joseph Medill Patterson.

Diketahui kemudian Kapten Patterson bermitra dengan Kolonel Robert R. McCormick dalam mempublikasikan Chicago Tribune pada tahun 1914. Kedua orang ini kemudian memfokuskan untuk mengembangkan jenis baru ini di kota yang berbeda. Kapten Patterson memulai tabloid di New York, sedangkan Kolonel McCormick tetap melakukan pengarahan di Chicago.

Daily News pun muncul di New York pada 1919 dengan gambar Pengeran Wales, Raja Edward VIII yang memakan tempat setengah halaman sampul depan. Tabloid ini mampu meraih perhatian dari para perempuan. Namun juga membuat New York Times pada suatu hari terbit dengan salah satu halamannya bertuliskan: “SEE NEW YORK’S MOST BEAUTIFUL GIRLS EVERY MORNING IN THE ILLUSTRATED DAILY NEWS.” Setelah itu, semakin banyak tabloid bermunculan di Amerika.

Perjalanan Jazz Journalism di Amerika Serikat

Illustrated Daily Newa

Efek sensasionalisme mulai dirasakan, yakni penekanan terhadap hiburan dan porsi besar untuk foto dalam sebuah tabloid. Efek tersebut diarasakan oleh penerbit dan pembuat tabloid-tabloid tersebut, yaitu keuntungan besar-besaran. Contohnya Daily News, yang digawangi masih oleh Kapten Patterson,menyadari bahwa tabloid tersebut akan membawa kepuasan pada pembaca yang notabene adalah postwar public, yang merindukan jenis pemberitaan segar dan menghibur. Oplah Daily News menjadi 750.000 eksemplar—dan itu yang terbesar hingga tahun itu.

Tahun 1920 merupakan tahun di mana penyebaran sensasionalisme yang ekstrim begitu cepat. Penyebaran itu disertai dengan menurunnya penulisan feature news di dalam media massa. Hal itu bisa dipahami karena media mainstream pada saat itu terfokuskan dengan berita seputar pemerintahan yang menata kehidupan politik mereka pasca-perang. Namun, masyarakat rupanya sudah cukup depresi selama PD I dan menginginkan suatu penambahan jenis baru bacaan bagi mereka.

Jazz journalism diaplikasikan di Amerika pada dekade tersebut dengan penekanan terhadap berita seputar seks, kriminalitas, dan hiburan. Atmosfer pemberitaan dalam jazz journalism yang berdasarkan pemberitaan skandal diminati oleh khalayak ramai. Tabloid segera saja memuat caerita tentang kehidupan mafia seperti Al Capone, Dutch Schultz, Waxey Gordon, dan Legs Diamond. Bukan hanya itu, para editor pun mulai menjajaki kehidupan glamor para selebritas Hollywood, seperti Rudolph Valentino, Fatty Arbuckle, dan Clara Bow. Kejayaan dan skandal perselingkuhan para selebritas menjadi diminati oleh pers. Kartun dan karikatur pun bermunculan dengan kata-kata yang tidak berpendidikan. Misalkan kartun dengan tulisan, “Yes, We Have No Bananas.”

Masa-masa jazz journalism yang diaplikasikan dalam bentuk tabloid direfleksikan dengan pencampuran berita tentang seks, kriminalitas, dan konflik, yang dibalut dengan sensasionalisme. Headlines dengan huruf besar dan ukuran foto tidak dibatasi dalam era ini. Namun, yang perlu disadari juga, kehadiran media massa tabloid ini tidak begitu disukai oleh media massa mainstream. Tabloid dengan sensasionalisme yang berlebihan tidak mendapatkan legitimasi dari wartawan media mainstream.

Daily News yang pertama kali merasakan dampak tersebut. Hal itu diidentifikasi dengan penurunan oplah dari 200.000 eksemplar menjadi 26.000 saja hanya dalam dua bulan. Kapten Patterson berdalih bahwa penurunan oplah itu berdasarkan beralihnya pembacanya pada majalah Times. Ia menemukan bahwa ada suratkabar bernama Evening Journal yang diterbitkan oleh Hearst. Daily News pun melakukan tranformasi menjadi tabloid yang diperuntukkan bagi semua jenis pembaca, jadi semua tema dimunculkan dalam berita khas.

Kompetitor Daily News tersebut yang muncul pada tahun 1924 itu berhasil menjadi koran dengan jumlah sirkulasi terbesar. Setelah keberhasilan Evening Journal, Hearst memulai penerbitan tabloid pertamanya, yakni Daily Mirror, yang tak lama kemudian menyusul keberhasilan News.

Daily Mirror

Perang antar-tabloid terus berlangsung dan mencapai puncaknya pada 1926. Tak suka atas keberhasilan Daily Mirror,maka Gauvreau memunculkan Graphic. Semakin lama, tabloid menyajikan judul-judul yang tak pantas untuk dikonsumsi publik. Contohnya, seperti yang terdapat dalam Graphic, “For 36 Hours I Lived Another Woman’s Love Life” atau “He Beat Me—I Love Him”. Persoalan cinta selalu menjadi headline yang bagus dan itu direpresentasikan ke dalam berbagai cerita, entah keindahan cinta maupun perselingkuhan yang dibalut seks. Sensasionalisme juga meng-handle berita kriminal yang dipublikasikan secara tidak bertanggung jawab kepada pembaca. Contoh judul berita kriminal yang sensational, “Boys Foil Death Chair. Mothers Weep as Governor Halts Execution. Would Have Kicked Off With Grin.” Judul sepanjang itu dijadikan headline.

Pada tahun 1929 terjadi pengangguran besar-besaran di Amerika. Banyak orang merasa depresi akibat tidak memiliki pernghasilan. Kapten Patterson segera menemukan bahwa depresi yang membayangi kehidupan warga Amerika akan menjadi berita besar selanjutnya dan Daily News harus mengangkat persoalan tersebut. Bukan hanya Daily News, semua tabloid akhirnya berhenti memberitakan tentang seks dan kriminal. Akan tetapi, mereka memberi ruang pada berita-berita serius tentang orang-orang yang berada di dalam masalah atau kasus besar. Orang-orang Gedung Putih-lah yang kemudian menjadi sasaran.

Daily News terus berjaya hingga tahun 1939. Setelah kematian Kapten Patterson, Kolonel McCormick mengambil alih managerisasi Daily News. Daily Mirror dan Graphic tak pernah sesukses Daily News. Daily Mirror dijual Hearst pada tahun 1928 dan Graphic yang tidak mendapatkan pengiklan pun bangkrut pada tahun 1932.

Kematian tabloid-tabloid serupa tidak turut serta membawa kematian sensasionalisme. Meski suratkabar pada tahun 1930’an telah beralih memberitakan seputar politik dan ekonomi, mereka tak pernah kehilangan ciri “big storywith sensationalism yang dikenal sebagai ciri khas jurnalisme pasca-perang.

Dari Jazz Journalims Menuju Laporan Interpretatif

Kemunculan interpretative reporting (laporan interpretatif) adalah perkembangan terpenting pada periode 1930-1940. Berita-berita yang disajikan pada saat itu masih menganut sensasionalisme dan sesuatu yang tidak kritis. Akan tetapi pengaruh dari revolusi poilitk-sosial-ekonomi dan kemunculan teknologi modern, telah mengantarkan pers pada pendekatan baru dalam jurnalisme. Unsur “mengapa” menjadi sangat penting dibandingkan dengan unsur tradisional “siapa melakukan apa” karena pembaca ingin tahu lebih jauh tentang makna sebuah pemberitaan.

Pada akhirnya berita tentang politik, ekonomi, sosial, bisnis, ilmu, dan lain-lain diimprovisasi oleh wartawan. Halaman tajuk rencana pun menjadi sarat dengan interpretasi. Beberapa harian besar mengembangkan halaman editorial dengan tren interpretasi. Eksplanasi interpretatif semakin dikembangkan oleh para penulis editorial. Namun, hal wartawan dan reporter ternyata juga melakukan interpretasi dengan menggunakan perspektif  dan opini-opini mereka.

Suratkabar menjadi semakin interpretatif, baik dalam gaya penulisan maupun isi berita, pada tahun 1930. Suratkabar juga membuat rubrik sesuai dengan kemampuan wartawan dari berbagai sisi. Mereka memasukkan interpretasi ke dalam pemberitaan.

Interpretasi yang ekstrim dilakukan oleh tabloid di New York bernama PM, yang didirikan tahun 1940. Ralph Ingersoll menjadi editornya kala itu. Ia mengeluarkan kebijakan agar para wartawan bisa mengekspresikan kebebasan mereka untuk mengeluarkan pandangan mereka dalam menulis kolom. Maka, PM pun menjadi harian yang penuh berisi dengan opini.

Kemudian Christian Science Monitor dan Wall Street Journal menjadi suratkabar yang terspesialisasikan kepada interpretasi. Christian Science Monitor dibentuk sebagai salah satu anggota Church of Christ sebagai bentuk protes melawan sensasionalisme yang terdapat pada media massa cetak kala itu. Meski sarat dengan nama Kristen, suratkabar ini bukan penyebar propaganda Kristen, justru menjadi harian sore yang kritis. Mereka meminimalisasi pemberitaan seputar bencana dan kriminal.

Christian Science Monitor (Nowadays)
Wall Street Journal

Beberapa majalah di Amerika itu menjadi faktor penting dalam mengembangkan tren interpretasi dan spesialisasi berita. Ada elemen baru yang masuk dalam dunia majalah. Berita yang dimuat di majalah dikenal sarat opini. Dan majalah-majalah umum menjadi penting berkontribusi dalam dunia jurnalisme.Dalam perjuangan majalah menghadirkan sisi-sisi hiburan, ada pula majalah yang menampilkan kebebasan kiri, yaitu Nation dan New Republic. Reader’s Digest muncul pada tahun 1922 dengan menuai sukses yang spektakuler. Lalu hadir pula The New Yorker pada tahun 1925. Dan yang paling spektakuler dari itu semua adalah munculnya Time sebagai majalah mingguan.

Reader's Digest
Time
The New York Times

Sumber:

Tunstall, Jeremy. 1977. The Media Are American, Anglo American Media in the World. Columbia: Columbia University Press

Emery, Edwin. 1962. The Press and America, an Interpretative History of Journalism (Second Edition). Minnesota: Prentice Hall, Inc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s