PERANAN GOENAWAN MOHAMAD DALAM PERJALANAN MAJALAH BERITA MINGGUAN TEMPO

Oleh: Purwaningtyas Permata Sari

untuk Mata Kuliah MPK II

Seperti sudah diketahui banyak orang, majalah Tempo adalah salah satu majalah paling berpengaruh di Indonesia. Salah satu alasannya adalah karena tuanya umur majalah ini. Dalam perkembangannya, majalah yang dinaungi oleh PT Tempo Inti Media, Tbk atau Tempo Group ini telah melebarkan sayap bisnisnya hingga memunculkan beberapa produk lainnya, yakni Tempo Edisi bahasa Inggris, Tempo Interaktif, Koran Tempo, dan majalah U-Magz.

Tempo dikenal sebagai majalah hebat dan disegani di dunia pers. Siapa sangka di balik nama raksasanya, Tempo menapaki jalan berliku dan menyimpan konflik yang siap meledak kapan saja. Goenawan Mohamad (GM) yang dikenal sebagai dedengkot Tempo pernah bekerja dan ikut mendirikan majalah Ekspres pada tahun 1969 yang didanai B.M Diah. Di sana pula ia bekerja bersama Lukman Setiawan dan Fikri Jufri.

Umur Ekspres tak lama. B.M Diah kala itu ditawari jabatan untuk menjadi ketua PWI yang fungsinya tak lain tak bukan, merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah dalam upayanya untuk mencampuri pers. Padahal Rosihan Anwar saat itu sudah terpilih sebagai ketua PWI namun batal karena pemerintah telah menunjuk B.M Diah. Hengkang dari Ekspres tak berarti kematian.

Dalam keadaan menganggur, tradisi kumpul kembali mereka lakoni. Tempatnya di Balai Budaya, gedung yang sering dijadikan tempat pameran lukisan, di dekat sebuah gereja di daerah Menteng, Jakarta. Berasaskan idealisme, GM beserta rekan-rekannya tidak ingin melanjutkan Ekspres. Ciputra dari Yayasan Jaya Baya menawarkan GM untuk membuat majalah baru yang hampir serupa Ekspres. Maka terbentuklah Tempo pada tahun 1971 yang isinya adalah gabungan orang-orang mantan Ekspres dan orang-orang mantan Djaja—salah satunya Harjoko Trisnadi.

Pembentukan Tempo pasca-matinya Ekspres tidak mudah. Beberapa orang dari kelompok yang berbeda mencoba menelurkan izin agar majalah berita itu kelak bisa muncul. Izin terbit itu sendiri cukup sulit didapatkan ketika pihak Departemen Penerangan mengetahui salah satu penggasnya adalah Goenawan Mohamad. Namun berkat menggunakan koneksi Bur Rasuanto—yang ikut mendirikan Tempo—maka, izin terbit pun didapatkan.

Ada empat alasan atas pemberian nama “Tempo”. Pertama, singkat dan bersahaja, enak diucapkan oleh lidah Indonesia dari segala jurusan. Kedua, terdengar netral, tidak mengejutkan, dan tidak merangsang. Ketiga, bukan symbol suatu golongan. Dan akhirnya arti tempo sederhana saja: waktu—sebuah pengertian yang dengan segala variasinya lazim digunakan banyak penerbitan di seluruh Indonesia. Dan Goenawan Mohamad-lah yang memikirkan perihal ini. Awal mendirikan Tempo, Goenawan Mohamad dan kawan-kawan yakin majalah ini akan dibaca orang.

Pada awal terbitnya memang Tempo disambut baik olek khalayak ramai. Namun, tak jarang tudingan miring pun ditujukan pada Tempo sebagai plagian majalah Time dari Amerika, baik segi konsep maupun desain sampul. Hal itu sempat membuat Oei Tat Hway, perwakilan Time di Indonesia menggugat. Tak lama gugatan itu dicabut karena pihak Time pusat tidak mempermasalahkan hal itu.

Masalah demi masalah menimpa Tempo, baik masalah internal maupun masalah eksternal. Konflik-konflik pertama muncul justru karena persoalan saham. Konflik bermula dari keengganan para direksi Tempo untuk berbagi saham. Sikap mereka ditentang oleh mayoritas karyawan. Rapat-rapat pun digelar untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.

Goenawan Mohamad menyatakan ketidakbenaran kabar tersebut dengan berkata, “Justru sejak semula, cita-cita para pendiri Tempo adalah memunyai saham (posisi politis) dalam pengambilan keputusan.” Pada tahun 1982, Surat Izin Terbit (SIT) Tempo dibekukan. Pada tanggal 13 Juli 1987 terjadi eksodus dengan pengunduran diri 31 wartawan Tempo. Alasannya adalah manajemen Tempo yang dikelola secara tidak benar. Pada tahun 1990 Tempo kembali diserang eksodus kedua. Kali ini alasannya adalah adanya usaha kristenisasi dan adanya tawaran di majalah lain. Pada tahun 1986, kekuasaan Orde Baru makin berjaya. Konsolidasi kekuasaan yang otoriter itu makin tak terlawankan. Yang menurutinya makin berjaya. Namun pihak yang menentangnya akan dilumpuhkan. Oportunisme dan pragmatisme menjadi cara baru untuk meraih prestise. Kejujuran berdekatan dengan kebodohan, dan kepintaran berdekatan dengan kelicikan.

Untuk lepas dari pelumpuhan tersebut, para pemimpin Tempo tidak tinggal diam. Pertama, seluruh fakta dan informasi yang diperoleh Tempo dibungkus rapi dengan kalimat indah dan penuh kesantunan, tapi ada hidden message di dalamnya. Kedua, melakukan lobi tingkat tinggi dengan para petinggi negara yang berpengaruh pada saat itu. Namun, usaha itu tidak membuahkan hasil, tetap saja Tempo dibredel. Bukan hanya masalah eksternal yang dihadapi Tempo, masalah internal pun ibaratnya seperti bisul yang siap meletus sewaktu-waktu. Kekompakan Goenawan sebagai pimred dan Bur Rasuanto sebagai wapimred pun menjadi korban masalah internal.

Siapa sangka dualisme pemimpin itu akhirnya berpisah. Bur mengaku tak suka etos kerja kebanyakan wartawan Tempo yang berasal dari kalangan seniman. Mereka terlalu santai, sedangkan Bur suka bekerja cepat. Goenawan pun berkarakter beda dengan Bur, Goenawan adalah seorang konseptor yang pekerjaannya seolah tak terbatas waktu. Kekesalan Bur itu berujung pada pelemparan gelas kopi. GM tak menerima perbuatan itu dan memberi pilihan dirinya atau Bur yang akan tetap di Tempo. Akhirnya Bur yang mengundurkan diri dan ia pun membentuk majalah Obor.Pertikaian itu pun sungguh mengejutkan semua orang yang bekerja di Tempo. Kedua orang itu pada mulanya saling mengagumi satu sama lain. Goenawan kagum terhadap sosok Bur karena ia sangat menguasai literatur. Begitu pun Bur terhadap Goenawan yang dianggapnya adalah seniman dalam hal jurnalisme.

Tempo berduka ketika pada tahun 1994 majalah tersebut dibredel. Pembredelan itu terjadi setelah Tempo menerbitkan majalahnya yang judul utamanya “Habibie dan Kapal Itu…” Selama empat tahun Tempo mati suri. Wartawan-wartawan senior dulu yang bekerja untuk Tempo tidak tahan akan keadaan seperti itu. Tidak semua orang setia seperti Goenawan dalam menjaga idealismenya dalam Tempo. Nama-nama seperti Lukman Setiawan, Harjoko Trisnadi, Mahtoem Mastoem, Herry Komar, Amran Nasution, dan Agus Basri pun bergabung dalam Gatra, majalah yang dimiliki Bob Hasan. Namun, Tempo tak tinggal diam. Tempo Interaktif pun dibentuk sebagai bentuk pemberontakan pada tahun 1996. Misi Tempo yang menomorsatukan kebenaran membuat majalah ini seakan tak bisa mati.

Ketika pada tahun 1998, pasca-lengsernya Soeharto, Tempo mengendus peluang untuk bisa bangkit lagi. Maka diadakanlah pertemuan di Utan Kayu untuk membahas rencana terbitnya Tempo kembali. Goenawan tetap setia pada Tempo. Sebagai pemimpin redaksi dalam bangkitnya Tempo itu, ia mendorong redaksi untuk bergerak mengumpulkan bahan penulisan nomor perdana. Goenawan bekerja tanpa lelah dan tanpa pamrih atas dasar kecintaannya pada Tempo.

Cover Paling Kontroversial

Edisi perdana Tempo pada masa setelah “tidur panjang” dikeluarkan pada 6 Oktober 1988 dan berjudul “Pemerkosaan, Cerita dan Fakta”. Goenawan tak pernah pesimis. Ia mengatakan bahwa masyarakat ingin tahu apa kata Tempo. Meski sebenarnya enggan, Goenawan ditempatkan kembali menjadi pemimpin redaksi. Ia bersedia melakukannya dengan janji hanya memimpin selama satu tahun. Surat izin dengan segera diurus. Serentetan rapat digelar. Direksi merumuskan strategi bisnis dan pembiayaan. Mereka ingin memiliki daya gebrak ketika muncul kembali. Salah satunya dengan gambar sampul yang simbolis dan kuat pada edisi perdana, yaitu mata yang penuh misteri, kesedihan, dan protes. Dalam masa awal yang sulit itu, Goenawan bersedia muncul kembali untuk memimpin Tempo dan menurunkan nilai-nilai yang dianutnya pada para wartawan baru. Malam-mala deadline pada Oktober 1998 hampir selalu berada di kantornya. Terkadang ia tertidur di kursi di ruang desain untuk menunggu tulisan selesai dibuat. Setelah itu pada lewat tengah malam ia baru mulai mengedit tulisan para wartawan itu dibantu dengan redaktur lainnya. Saat itu Goenawan merasa gundah sebab tulisan para wartawan baru itu tidak begitu apik. Pengorbanan Goenawan saat itu sama besarnya dengan pada awal 1971 Tempo hadir.

Dari semua petinggi Tempo dahulu, hanya segelintir orang saja yang masih setia. Salah satunya adalah Goenawan Mohamad. Ia pula yang beride untuk memberi judul edisi pertama “Pemerkosaan, Cerita dan Fakta”. Didikan Goenawan terhadap para wartawan Tempo merasuki hati mereka. Sejak awal Goenawan menegaskan bahwa Tempo mengharamkan amplop. Hal itu dilontarkan Goenawan dengan sindiran, “Jika ingin kaya raya, apalagi mendadak, jangan menjadi wartawan.” Goenawan Mohamad menjadi pemimpin redaksi sejak majalah Tempo pertama kali terbit pada 1971. Ketika itu ia berusia 27 tahun .

Di kalangan jagad pers pada umumnya, Tempo seperti identik dengan Goenawan Mohamad. Penyait ini bersama rekan-rekannya sesame sastrawan mengembangkan gaya pemberitaan yang berbentuk feature news (berita khas). Seandainya Tempo tidak mengalami pembredelan, dan juga andaikata pergantia kepemimpinan tidak direcoki orang luar, estafet kepemimpinan bukan dari Goenawan ke Bambang Harymurti, melainkan dari Goenawan ke Fikri Jufri. Fikri sudah lama menjadi wakil pemimpin redaksi hingga masa pemberdelan. Namun, ketika Tempo ingin terbit lagi, pemimpin redaksinya harus disetujui oleh menteri penerangan saat itu. Meski nama Fikri tak pernah muncul secara resmi sebagai pemimpin redaksi, secara de facto dialah yang menjalankan fungsi pemimpin redaksi.

Ketika Tempo terbit kembali pada 1998, sebenarnya Goenawan sudah menyatakan lelah. Akan tetapi, jika ia tidak mau, maka Tempo tidak akan bisa terbit lagi. Lalu ada semacam perjanjian dengan Menteri Penerangan Yunus Yosfiah (ketika itu), Goenawan boleh menjadi pemimpin redaksi beberapa bulan saja, mengantar kelahiran Tempo. Tempo pun berganti pemimpin redaksi menjadi Bambang Harymurti. Pada zaman ini, permasalahan yang terjadi pun berbeda. Tempo dinilai mengalami penurunan kualitas dibandingkan tahun-tahun terdahulu. Akan tetapi, kualitas Tempo tetap di atas rata-rata majalah sejenisnya.

Dengan membawa nama besar Tempo, Koran Tempo diterbitkan pada tahun 2001. Munculnya Koran Tempo pun cukup membuat ketar-ketir suratkabar yang sudah lebih dulu eksis. Beberapa aksi boikot pun pernah tercipta agar Koran Tempo tak laris di pasaran. Namun, usaha itu tak pernah berhasil, Koran Tempo juga berhasil menjadi salah satu suratkabar yang paling dicari. Munculnya Koran Tempo juga membentuk masalah baru di redaksi Tempo yang juga membentuk Tempo News Room (TNR). Segala berita ditampung di TNR dan terjadi pertukaran informasi berita dari ketiga media Tempo Group. Hal itu ditengarai memunculkan perbedaan pendapatan antara wartawan majalah dan wartawan koran. Pergolakan demi pergolakan yang terjadi di Tempo justru membuat majalah ini tumbuh kokoh. Meski, Tempo bertubi dilanda masalah, majalah tersebut masih tetap berdiri kokoh dan menyebarkan idealismenya dalam menegakkan kebenaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s