Studi Kasus tentang Pers Amerika Serikat

1. Bahkan Sebuah “Gelas” pun Tak Selalu Transparan

Hayden Christensen as Stephen Glass

Judul tersebut diberikan oleh penulis bukan sembarangan. Itu mengacu pada kisah jurnalis penulis cerita fiktif, yakni Stephen Glass. Pada awalnya Glass dikenal sebagai orang yang pintar dan bertalenta dalam jurnalisme. Dia pun menulis di berbagai majalah—Rolling Stones, George, Harper’s, dan The New York Times Magazines— sebelum ia bergabung di New Republic. Ia sangat piawai menuliskan berita yang didasari imajinasinya semata. Untuk hal itu pun ia tak kehilangan akal untuk membuat website-website palsu guna mendukung ceritanya. Pada akhirnya kebusukan Glass pun tercium oleh editornya. Selama karirnya di dunia jurnalistik, ternyata ia telah membuat 41 berita fiktif.

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini adalah betapa teledornya editor-editornya selama jangka waktu Glass bekerja. Seringkali editor atau pemimpin redaksi menaruh kepercayaan tinggi pada jurnalis yang dianggap kredibel dan berkualitas berdasarkan penilaian kebanyakan orang. Hal itulah yang membuat para editor terlena sehingga tidak melakukan verifikasi secara benar. Mereka percaya akan fakta-fakta yang disodorkan di bawah hidung mereka oleh wartawan favorit mereka sendiri. Mereka merasa tidak perlu untuk check and recheck faktualitas pada sumber berita dan narasumber. Sudah cukuplah bagi mereka melihat data yang diberikan si wartawan atau menghubungi nomor yang dirujuk si wartawan tersebut. Padahal orang yang ditelepon tersebut bisa jadi hanyalah orang suruhan si wartawan.

Menganakemaskan salah satu jurnalis bukanlah hal dianjurkan untuk dilakukan oleh pemimpin redaksi dan editor. Semua wartawan hendaknya diperlakukan. Perbedaan perlakuan akan membuat wartawan yangs sering dipuji berada di atas angin dan lama-kelamaan muncul pula keberanian untuk membuat berita palsu karena toh editor pasti percaya padanya.

Sejak dini wartawan-wartawan yang masih baru harus dididik untuk mengagungkan fakta. Tak ada gunanya nama melambung karena bagusnya tulisan, namun ternyata hanyalah karangan belaka. Editor harus menanamkan hal tersebut pada setiap wartawan, tak peduli wartawan lama atau baru. Terkadang tekanan bagi wartawan untuk memburu berita-berita bagus nan eksklusif bisa membuat wartawan melakukan segala cara.

Dalam Sembilan Elemen Jurnalisme Bill Kovach menuliskan, “Setiap wartawan seringkali bekerja dengan mengandalkan metode pengujian dan penyediaan informasi yang sangat pribadi, yaitu verifikasinya sendiri. Intisari jurnalisme adalah sebuah disiplin verifikasi yang merupakan ihwal yang memisahkan jurnalisme dari hiburan, propaganda, fiksi atau seni. Verifikasi menjadi fungsi pokok dalam jurnalisme.

Seperangkat konsep inti yang membentuk disiplin verifikasi terlihat dari lima hal yang merupakan prinsip intelektual sebuah laporan ilmiah: 1) Jangan pernah menambahi sesuatu yang tidak ada; 2) Jangan pernah menipu audiens; 3) Berlakulah setransparan mungkin tentang metode dan motivasi; 4) Andalkan reportase sendiri; 5) Bersikap rendah hati.

2. DiCaprio Menuju Washington

Aktor terkenal Leonardo DiCaprio memiliki perhatian khusus pada isu-isu lingkungan dan pada saat itu ia menjabat sebagai chairmanship of Earth Day. Secara tidak sengaja, ABC News ternyata juga merencanakan untuk membuat tayangan ekslusif tentang Earth Day. ABC News pun merekrut DiCaprio untuk menjadi pewawancara dalam acara berita khusus, di mana DiCaprio dijadwalkan akan mewawancarai presiden. Tentu hal tersebut untuk meningkatkan rating TV tersebut pada saat prime-time. Terdapat dua versi mengenai hal itu. Pertama, pihak Gedung Putih mengatakan bahwa ABC News-lah yang mengatur hal itu dan meminta presiden bersedia diwawancara. Namun, pihak ABC News mengatakan bahwa mereka melakukan siaran itu atas permintaan Gedung Putih.

Berdasarkan diskusi kami, muncullah pertanyaan, apakah dengan adanya penilaian sebuah acara berdasarkan rating, lantas membuat stasiun TV rela melakukan apa saja meski harus menyiarkan acara yang berisi konspirasi dan akal-akalan semata, serta tidak berkualitas? Adanya penilaian berdasarkan rating malah membuat stasiun TV mengesampingkan fungsi media massa yang sebenarnya dan tidak memedulikan kualitas. Hal itu adalah salah satu bentuk usaha pembodohan bagi masyarakat.

Di sini terlihat jelas bahwa stasiun TV berlomba menarik perhatian khalayak ramai meski dengan acara-acara “sampah” dan mengada-ada. Stasiun TV menjadi takluk pada keinginan khalayak ramai dalam menyiarkan acara. Mereka pun mulai me-mix and match antara informasi dan hiburan. Padahal belum tentu apa yang diminta masyarakat baik untuk masyarakat itu sendiri. Sebagian masyarakat mungkin tak mengerti akan kebutuhan pada pendidikan. Maka dari itu, media massalah yang seharusnya menyediakan hal itu.

3. Feeding Frenzy

Sebuah bom meledak di akhir Juli 1996 di Atlanta’s Centennial Olympic Park. Seorang satpam bernama Richard Jewell menemukan ransel berisi bom tersebut. Ia pun berusaha memperingatkan orang-orang untuk lari dan ia segera melaporkan kejadian itu pada polisi. Hal yang justru terjadi adalah muncul headline di Atlanta Journal Constitution yanga berbunyi “FBI Suspects Hero Guard Have Planted Bomb”. Semua media massa mengacu pada pemberitaan itu dan melakukan update pada setiap berita sehari-harinya. Artikel demi artikel disiarkan, bahkan pemberitaan tentang jatuh bangunnya Jewell dalam profesi penegakan hukum. Kejanggalan pun melayang ke permukaan karena ternyata FBI tak pernah menangkap dan menjerat Jewell atas tindakan kriminal.

Kasus lain lagi, adalah hilangnya Chandra Levy, seorang intern, dari apartementnya dan tak pernah muncul di kantornya. Tak ada tanda-tanda ia diculik paksa dari apartemennya. Investigasi atas kasus itu pun tak mengalami kemajuan sehingga berita yang disiarkan hanyalah itu-itu saja. Maka pers pun mulai menuding hilangnya Levy erat kaitnnya dengan Rep. Gary A. Condit, atasan Levy karena adanya hubungan romantisme di antara mereka. Akhirnya Levy ditemukan telah tak bernyawa. Dan sama seperti kasus sebelumnya, tak ada satu pun orang yang ditahan atas tindak kriminal tersebut.

Kedua kasus ini disebut feeding frenzy—yang merupakan nama software permainan di komputer—mungkin karena pers dianggap memakan umpan yang diberikan para penegak hukum. Mungkin juga karena justru pers-lah yang memberi umpan pada khalayak ramai untuk merekonstruksi kasus tersebut sesuai dengan persepsi media massa ketika versi para penegak hukum tidak jelas.

Sebenarnya media massa dan insan pers tidak boleh memberikan judgment atau penilaian terhadap masalah tertentu. Jika media massa sudah berani mengeluarkan penilaian dan tuduhan tertentu, berarti mereka sudah berani ambil risiko. Artinya, jika suatu saat orang mempertanyakan masalah tersebut, media massa memiliki fakta-fakta kuat dan berasal dari keterangan berbagai sumber, bukti, dan data-data yang terkorelasi. Tuduhan tak boleh berdasarkan opini semata—baik opini orang lain atau opini media massa tersebut. Yang terjadi pada kedua kasus tersebut adalah interpretasi yang tidak didasarkan fakta, jatuhnya malah seperti infotainment.

Dari kedua kasus itu juga bisa diambil pelajaran bagaiman media massa bisa sangat tendensius dalam melakukan pemberitaan—perihal A diberitakan B, B diberitakan A. Mereka hanya memunculkan dugaan yang seolah-olah fakta. Mungkin saking tak ada berita lain yang menarik perhatian masyarakat atau hanya latah pemberitaaan yang itu-itu saja karena media massa lain menyiarkan juga, maka media massa ini harus pula menyiarkan.

Dalam kasus-kasus di mana dalam tindak kriminal itu tidak ditemukanbiang keroknya, pers seharusnya menjadi lebih tajam dalam  mengendus kejanggalan.  Pers ditutut untuk memainkan peranannya sebagai public watch dog karena siapa tahu telah terjadi konspirasi para penegak hukum dengan berbagai pihak.

Bill Kovach dalam Sembilan Elemen Jurnalisme menuliskan, “Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur diri sendiri. Media berita bertindak selaku anjing penjaga, membuat orang-orang lebih dari sekadar terpuaskan, dan menawarkan suara bagi yang terlupakan. Jurnalisme mencerminkan sebuah pemahaman halus tentang bagaimana warga berperilaku, yang disebut Teori Keterkaitan Publik. Ada pula yang mengatakan tujuan utama jurnalisme adalah menyampaikan kebenaran sehingga orang-orang akan memunyai informasi yang mereka butuhkan untuk berdaulat.”

4. Melaporkan tentang Terorisme

9/11 Tragedy

Pada saat terjadi peristiwa 9/11 di mana dua pesawat menabrak WTC, insan pers menjadi orang-orang yang dipuja berbagai pihak. Banyak orang merasa haus informasi akan tindak terorisme tersebut dan pers menyediakan informasi dengan sebaik-baiknya. Namun, siapa sangka sebulan setelah masa kejayaan insan pers itu, pers justru dikritik sebagai penyebar terorisme?

Ada masa ketika beberapa politisi dan presenter berita menerima surat yang sudah terkontaminasi virus anthrax. Orang-orang yang bersentuhan dengan surat itu menjadi sakit. Pemberitaan pun heboh di mana-mana. Ketika seorang meninggal akibat terkontaminasi virus tersebut, media massa pun memberitakan dengan heboh sehingga masyarakat menjadi paranoid. Masyarakat awam menelepon para penegak hukum ketika melihat amplop yang disinyalir terkontaminasi virus anthrax. Dokter dan tenaga medis pun menjadi orang yang paling dicari saat itu untuk memastikan adanya virus anthrax atau tidak di tempat-tempat tertentu.

Beberapa pihak seperti para ilmuwan mengatakan ini adalah terorisme yang dilakukan oleh pers karena pers bertindak overreaksi terhadap virus ini. Padahal, kemungkinan orang meninggal akibat virus ini adalah 1 : 70 juta, jauh lebih kecil dibandingkan perbandingan orang yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.

Dalam kasus tersebut terlihat bagaimana pers memegang peranan penting dalam mengandalikan situasi masyarakat. Bisa jadi pers menjadi terlalu berlebihan dalam menyerukan peringatan akan bahaya tertentu. Itu bisa menyebabkan teror dalam masyakarat tatkala pers hanya menyiarkan bahaya-bahaya yang mungkin muncul, dan tidak menawarkan solusi. Padahal pers seharusnya menyebarkan rasa aman pada masyarakat, bukan malah meresahkan. Mungkin itu merupakan satu upaya agar berita mereka terus diikuti penonton. Kemungkinan juga hal itu dimaksudkan agar banyak iklan mengalir ke media massa tersebut.

5. Jiwa Patriotik Pembaca Berita

Ketika terjadi peristiwa 11 September 2001, banyak orang mendadak bersikap patriot. Di mana-mana digembar-gemborkan patriotisme guna mengutuk peristiwa naas tersebut. Di seluruh negeri Amerika Serikat dihiasi bendera berwarna merah, putih, dan biru. Di mana-mana terdengar lagu kebangsaan AS didengungkan. Para pembaca berita di TV pun tak mau kalah dalam menunjukkan jiwa patriotik mereka dengan menggunakan pita merah-putih-biru di baju mereka.

Yang menjadi pertanyaan adalah etiskah seorang pembaca berita menggunakan atribut-atribut seperti itu. Bukankah insan pers dituntut untuk memberitakan sesuatu secara objektif, tanpa mendukung salah satu pihak.

Menurut kelompok kami, isu mengenai kebangsaan, patriotisme, dan nasionalisme adalah isu-isu yang patut diperdebatkan. Bisakah pers di suatu negara tertentu tidak membela kepentingan negaranya? Kami rasa tak mungkin. Sebobrok apapun suatu negara, pers pasti akan berusaha memperlihatkan kebaikan negara tersebut, kecuali negara itu hidup dalam kekuasaan tirani yang kejam dan perlu untuk membebaskan diri dari kekuasaan itu.

Adalah sebuah dilema yang muncul ketika pers terus merongrong negerinya sendiri—namun, sepertinya hal itu tak dirasakan pers Indonesia. Hal yang menjadi pertanyaan kami adalah perlukah menyembunyikan aib bangsa sendiri dari mata luar negeri dengan tidak memberitakannya secara terus-menerus dan terlalu gamblang. Di negara maju seperti di Amerika, mungkin media massa mereka berani menekan pemerintah karena “usikan” pers tersebut tidak terlalu berdampak pada jalannya pemerintahan.  Namun, di Indonesia kekacaubalauanlah yang terjadi ketika pers tidak memiliki kontrol atas pemberitaan yang menyangkut keberlangsungan negara ini.

Menurut kami, pers Indonesia perlu juga membangkitkan jiwa patriotisme dan nasionalisme bangsa ini. Semakin lama kecintaan masyarakat akan bangsa dan negerinya semakin merosot. Pers gemar menunjukkan kebobrokan secara berlarut-larut, namun perihal kebaikan negara kita sendiri, hanya diberitakan sekali-dua kali. Benarkah pers tak boleh berpihak pada bangsanya sendiri? Bukankah sejak zaman penjajahan, keberpihakan seperti itu sudah kerap dilakukan? Bukankah pers juga berfungsi untuk membentuk opini publik ke arah pembangunan? Bagaimana pers diharapkan berperan dalam kemajuan suatu bangsa jika rasa nasionalisme dianggap sebagai sikap yang tidak objektif?

“Objektivitas meminta wartawan mengembangkan sebuah metode untuk secara konsisten menguji informasi (pendekatan transparan menuju bukti-bukti) dengan tepat sehingga bias personal dan bias budaya tidak melemahkan akurasi kerja mereka. Sedangkan realisme adalah pemikiran bahwa bila seorang reporter menggali fakta dan meruntutkannya secara kronologis, kebenaran akan dengan sendirinya terungkap.

Kebenaran adalah fenomena yang rumit  dan terkadang kontradiktif. Beberapa wartawan menyarankan pengganti bagi kebenaran. Maka muncullah istilah fairness (sikap tidak berat sebelah) dan balance (keseimbangan). Namun, fairness tidak bisa diuji dan balance dinilai masih terlalu subjektif. “(Sembilan Elemen Jurnalisme, Bill Kovach)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s