The Nice Coincidence

Abigail menghela nafas penuh kagum memandang langit-langit St. Paul’s Cathedral. Ketika masuk ke pelataran katedral, Abigail merasa berada pada zaman Romawi. Bagian depan bangunan itu disangga dengan banyak pilar raksasa, mengingatkannya pada model bangunan model Reinassance. Mozaik-mozaik di atap-atap gereja megah itu bercorak sangat indah.

Misa sudah selesai sekitar sepuluh menit lalu namun ia belum berminat meniggalkan tempat itu. Ia mengikuti perayaan ekaristi pada pukul 11.30 di hari Minggu kelabu ini, hanya untuk menikmati keindahan tempat yang berusia 300 tahun itu. Abigail bukan penganut katolik anglikan.

Ia mengenakan kembali mantel merah marun musim dinginnya. Segera ia beranjak menyusul para jemaat atau para pengunjung ke Galeri St. Paul. Galeri tersebut berada di ketinggian sekitar 53 meter dan untuk berada di puncak, Abigail harus melewati tangga berputar yang curam dan sempit.

Abigail memanjat sambil memegangi sisi perutnya yang kini mulai sakit. Akhirnya ia berada di ruang bundar besar yang berbentuk seperti kubah, namun sebenarnya itu hanyalah balkon. Ia bisa melihat tempat di mana ia berada di bawah sana tadi. Dindingnya tinggi dan dihiasi dengan patung-patung setinggi manusia di dekat kubahnya. Di sepanjang dinding disediakan kursi-kursi panjang yang memungkinkan siapa saja untuk duduk dan beristirahat.

Gadis bermbut bergelombang itu tersenyum melihat banyak cinta kasih pada wajah orang-orang yang dipandanginya. Lelaki dan perempuan. Suami dan istri. Nenek dan cucu. Ayah dan anak laki-laki. Ibu dan anak perempuannya. Sepasang kekasih. Perempuan dengan sahabatnya. Lelaki dengan sepupunya. Namun, nyaris tak ada yang sendirian saja seperti dirinya.

This place is called Whispering Gallery, Madame,” seseorang menyapanya dari belakang sehingga membuatnya terkejut.

Thank you for the information, Sir. Why is it called Whis…” Kalimat Abigail terhenti sesaat setelah ia berputar dan menghadapi orang yang bicara padanya tadi.

Lelaki berpostur tinggi-besar berdiri di hadapannya. Meski guratan pada wajahnya menandakan ia bukan orang Inggris, namun dengan tinggi seperti itu ia bisa mengelabui siapa saja yang belum mengamati wajahnya. Cambang tipis menghiasi wajahnya. Hidung mancungnya yang tidak biasa pada kebanyakan wajah Asia membuat wajahnya terlihat unik. Kulitnya sewarna kulit Abigail, kuning langsat, bahkan mungkin lebih pucat milik lelaki tersebut.

How are you, Aby? Almost two years I didn’t see you,” sapa lelaki yang memakai mantel beludru hitam sepanjang lutut.

Sesaat Abigail tak mampu bicara, hanya komat-kamit kecil yang muncul dari bibirnya. Senyum itu masih memukaunya meski dua tahun telah berlalu.

“Baik sekali, nggak bercacat sedikit pun as you see me now, Farhan.” Abigail mencoba tersenyum apa adanya seolah pertemuan ini tak berdampak apa pun padanya, walau tak bisa dipungkiri, dingin menjalari jari-jarinya.

“Sendirian?” tanya Farhan sambil menjulurkan tangan kanannya, hendak menjabat tangan Abigail.

Abigail ragu sejenak sebelum menyambut jabatan tangan itu. Ia mengutuk suhu tangannya yang tidak kooperatif itu. Tangan yang disentuhnya itu tak berbeda dengan yang pernah diingatnya, tetap memancarkan kehangatan.

Kamu tahu kenapa tempat ini dinamakan Whispering Gallery?” tanyanya lagi ketika Abigail tak menjawab pertanyaannya.

Nggak. Apa sejarahnya sampai disebut ‘Galeri Berbisik’?

Farhan menarik Abigail menuju tembok di belakang mereka. “Kamu diam di sini, tempelkan telinga kamu di tembok. Aku akan berada di sana sebentar lagi.” Farhan menunjuk arah dua belas dari tempat mereka berdiri, tepat di hadapan mereka di seberang balkon. “Kamu akan mendengar apa yang aku bisikkan dari tembok di seberang sana.”

You lie!” kata Abigail terkejut oleh fakta  aneh itu.

I’ll prove it to you. Stay here,” kata Farhan sambil berlari menjauh.

Abigail memandang caranya berlari, masih tetap Farhan yang dulu, yang selalu bersemangat menunjukkan hal-hal baru yang tidak diketahui Abigail. Hanya dalam waktu setengah menit saja Farhan sudah berada di ujung ruangan bundar yang berdiameter kira-kira 18 meter itu.

Tawa pertama Abigail keluar juga melihat tingkah Farhan yang kocak di sana ketika Farhan memeragakannya untuk menempelkan telinganya di tembok. Ia menuruti kemauan Farhan sambil menunggu apa yang akan didengarnya atau bahkan ia tak akan mendengar apa pun.

Entah kali ke berapa ia terkejut dalam hari itu. Suara Farhan di sana merambati dinding padat yang lebih panjang dari diameternya. Dan suara itu berbisik, “How nice coincidence to see you here, Abigail Chrisma Witono You’re still like the way I remember you last two years.

Abigail hanya tersenyum sambil memandang Farhan di ujung sana, yang bahkan tidak tahu dirinya tersenyum. Farhan berlari-lari kecill menghampirinya lagi. Ia mengacakkan pinggang ketika tiba di hadapan Abigail.

Impressed?” tanyanya.

Abigail menaikkan kedua alisnya. “Really impressed me.”

What did make you impressed, the wall or the message?” kata Farhan sambil menyeringai jahil.

The wall!” seru Abigail sambil melotot, lalu berjalan mengelilingi ruangan bundar itu.

Farhan mengikutinya. “Maaf Aby, bukan maksud apa-apa. Aku cuma bercanda kok.” Abigail diam saja sambil terus berjalan. “Do you want to go up stair to The Stone Gallery?”

“Boleh. Sayang udah bayar 10 euro tapi nggak dimaksimalkan kunjunganku di sini,” kata Abigail yang memutuskan untuk bersikap biasa lagi terhadap Farhan.

Farhan memimpin Abigail menaiki tangga yang akan mengantar mereka 20 meter lebih tinggi dari Whispering Gallery tadi. Sesekali Farhan menoleh ke belakang untuk melihat apakah Abigail baik-baik saja. Ternyata gadis itu tidak mengeluh sedikit pun, menampakkan wajah lelah pun tidak. Farhan tersenyum kecil. Tepat itulah yang membuatnya dulu terkagum-kagum pada sosok itu. Abigail adalah sosok perempuan yang mandiri dan bukan tipe pengeluh.

Mereka sampai di area terbuka yang membuat Abigail sesaat tak bisa bernafas dan menggumamkan, “Wow!”

“Kamu tahu nggak, untuk mencapai ke sini, kita tadi udah lewatin 376 langkah. Tapi pemandangan yang kita dapat di sini fantastik banget, kan?” Farhan menarik tangan Abigail lagi menuju spot yang disukainya. “You can photos from here. Do you bring camera?

Of course,” kata Abigail sambil mengeluarkan kamera dari tas besarnya.

“Kamu bisa lihat West End Clock Tower dari sini,” kata Farhan sambil menunjuk menara tinggi yang di atasnya bertengger jam berwarna emas besar.

Abigail menoleh dan memandang heran pada Farhan. “Aku jadi mikir, kamu nggak cocok menyandang lulusan Faculty of Economic dari Cambridge University. Lebih cocok jadi tour guide.

Farhan tertawa renyah. “Bukan berarti aku nggak tahu seluk beluk London dong? Lima tahun di Inggris, nggak aneh aku tahu banyak hal di sini, kan?”

Lima tahun lalu berangkat ke Inggris, kemudian tiga tahun kemudian memutuskan hubungan denganku, pikir Abigail. Sesaat terpikir olehnya kenangan masa lalu, namun cepat-cepat dibuangnya pikiran itu. Bagaimana pun, hubungan mereka berakhir atas kesepakatan bersama, karena terpaksa, bukan atas kemauan mereka yang sesungguhnya.

“Oh iya, aku belum tanya, kenapa bisa ada di sini?” tanya Farhan.

London Fashion Week will start tomorrow, winter collection,” kata Abigail.

Farhan berdecak kagum. “Wow. Ternyata benar kabar yang aku dengar dari teman-teman di Indonesia. Fashion news editor, eh?”

Abigail mengangguk sekali. “Kamu sendiri jadi jurnalis, kan? BBC, right? Kok bisa?”

Concern di finance news. Jadi masih nyambung ama background pendidikanku.”

“Kamu sendiri ngapain di sini, Han? Katedral bukan tempat yang lazim dikunjungi Farhan Wirahadi,” tanya Abigail heran.

Lagi-lagi Farhan tertawa. “Not because I’m a muslim, then I’m prohibited to visit this place. Tempat ini bagus. Aku sering naik ke Stone Gallery hanya untuk merenung. Emang kamu aja yang boleh ke sini?” Farhan seperti hendak melakukan gerakan menyibakkan rambut Abigail, namun diurungkannya niat itu. “Tadi kamu bilang, kamu bayar 10 euro buat masuk sini? Biasanya jemaat yang mau beribadah nggak dipungut biaya, lho.

“Aku salah. Tadi bilangnya aku turis.”

“Oh, begitu. Aku gratis masuk ke sini.”

Abigail mengerutkan kening. “Kok bisa?”

“Lewat ruang bawah tanah. Ada jalan ke sana. Aku udah CS-an sama penjaganya.” Abigail memberengut. “Omong-omong, sampai kapan kamu di sini?”

“Ya, selama seminggu ini.”

Farhan terlihat seperti memikirkan sesuatu. “Tanggal 15 mau aku ajak ke Cambridge buat dinner?”

“Kenapa harus jauh-jauh ke Cambridge?”

“Karena Corpus Corti College bikin jamuan makan malam. Aku kan lulusan sana, jadi gampang pesan tempatnya. Acaranya mulai jam 18.30.”

Abigail mengambil agendanya dan mencocokkan jadwalnya.  Sebenarnya ada acara malam itu, namun tak terlalu penting. Ia bisa menyuruh asistennya untuk menhadirinya alih-alih dirinya.

Nggak tahu, ya. Aku kabarin aja nanti.”

“Ini kartu namaku.” Farhan menyodorkan selembar kartu nama Abigail.

Thanks.”

“Lho, kamu nggak kasih kartu nama buat aku? Gimana aku hubungi kamu?” protes Farhan.

Abigail menggeleng. “You don’t have to call me. Perhaps I’ll call you,” kata Abigail sambil berlalu meninggalkan Farhan.

Seraya berjalan menuju tangga, Abigail tersenyum kecil. Terkadang perempuan memang harus memasang gengsi tinggi meski hati berkata sebaliknya. Sebenarnya ia tadi hendak mengiyakan, namun mengingat alasan mereka putus, Abigail tak mau lagi mencoba untuk dekat dengan Farhan. Ia tak lagi mau memulai segala yang telah berakhir…

2 Comments Add yours

  1. Om Ipit says:

    Saya suka dengan tulisan Anda mbak.🙂

  2. elisabetyas says:

    Makasih ya Om Ipit… Hehehehe, hobi sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s