PENGUSAHA BISNIS PERNIKAHAN SIAP HADAPI PASAR BEBAS*

Jakarta, 29/1 (ANTARA)-Perancang busana tradisional kini meramaikan Grand Wedding Expo Ke-13 yang diselenggarakan di Jakarta Convension Center, Jumat, sebagai wujud persiapan bisnis di bidang pernikahan menantang perdagangan bebas.

Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI), Soelasmi Soepardan mengatakan, perusahaan yang bergerak di bisnis pernikahan harus mampu bersaing secara internasional.

“Jangan takut dengan adanya pasar bebas ini. Kita harus mampu bersaing. Negara kita harus dibanjiri dengan produk-produk buatan dalam negeri, bukan produk dari luar negeri, termasuk bisnis di bidang wedding (pernikahan, red),” kata Soelasmi Soepardan dalam pidatonya.

Menurut Ketua Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia-Melati, Endang Sugiarto, vendor pernikahan terutama tata rias dan busana harus tetap menjunjung tinggi adat Indonesia.

“Untuk penyelenggaraan pernikahan sebaiknya kita tetap berpegang pada adat. Terutama tata rias yang meliputi kosmetik, perhiasan, busana, dan upacara adat, harus tetap memakai tata-cara adat. Resepsilah yang bisa dimodifikasi,” kata Endang Sugiarto saat upacara pembukaan Grand Wedding Expo selesai digelar.

Bisnis di bidang pernikahan semakin berkembang di Indonesia yang meliputi vendor pakaian pengantin, jasa fotografi pengantin, catering, tata rias, dan dekorasi resepsi pernikahan. Selama ini, Grand Expo selalu dibanjiri dengan stand-stand vendor pakaian model. Vendor pakaian tradisional hanya ada tiga di Grand Wedding Expo Ke-13 ini.

Pemilik Nai Fashion Designer, Nai Tobing mengakui bahwa baru kali ini ia ikut serta memeriahkan stand di Grand Wedding Expo. Ia tak merasa takut bersaing dengan vendor-vendor pakaian ala Barat.

“Saya membuka usaha pakaian tradisional sebagai wujud kecintaan saya pada adat Indonesia yang tetap harus dilestarikan,” kata Nai Tobing.

Senada dengan Nai Tobing, pemilik LORD’ess, Bharka Davko lebih memilih merancang pakaian tradisional Indonesia daripada pakaian ala Barat. Menurutnya, pasar masih membutuhkan vendor pakaian pernikahan tradisional.

“Supaya kita tidak kalah bersaing dengan vendor pakaian Barat, kita bisa memodifikasi kebaya supaya terlihat modern. Dasarnya tetap saja brokat, namun ditambahkan payet-payet dan dengan potongan yang bervariasi,” kata Bharka Davko.

*) Dipublikasikan LKBN Antara pada pukul 19.44.52

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s