Cahaya di Bethlehem Van Java

Gunung Merapi baru saja meletus dua hari lalu. Abunya bertebaran di jalanan kota kecil Muntilan, kota penghubung Magelang dan Yogyakarta. Tanaman-tanaman yang semula hijau kini diselimuti abu tebal berwarna putih pucat. Trotoar pun terasa licin untuk dilewati.

Aku turun dari bis dari arah Semarang. Kota ini belum berubah dan tetap mengundang kerinduan. Kesederhanaannya tidak bisa dikalahkan oleh kota mana pun. Di kota ini pulalah sejarah Katolik di tanah Jawa terukir. Itu sebabnya kota ini disebut Bethlehem van Java. Gunung Merapi dan Gunung Merbabu mengintai  dari Timur. Di sebelah selatan berdiri kokoh Gunung Sumbing.

Beberapa kusir delman menawariku untuk menaiki delman mereka. Aku memang rindu naik delman, tapi kuputuskan untuk berjalan kaki walau jalan cukup menanjak. Tempat yang kutuju hanya berjarak sekitar lima ratus meter saja. Kita bisa tersenyum pada siapa saja di sini. Keramahan kota ini membuat kita merasa diperhatikan.

Kunikmati berjalan kaki sendirian. Aku menolak siapa pun yang ingin menemaniku, termasuk Adit, pacarku. Aku ingin menyendiri, merenungkan hidup sebentar saja di tempat ini. Rasanya bisa lari dari hiruk pikuk Jakarta membuatku merasa terbebas dari segala beban. Aku berlibur mengunjungi tempat-tempat favoritku di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Ada tujuan aneh yang membawaku mengunjungi Muntilan.

Lima belas menit lama aku berjalan kaki ke Desa Pepe setelah melewati kantor pos, Rumah Sakit Umum Muntilan, dan Gereja Santo Antonius. Aku berhenti menatap gerbang berukir tulisan “Memento Mori”. Itu adalah gerbang makam para pastur dan biarawati, tempat tujuanku. Namanya kerkhoff. Di dalam area makam sepi, hanya ada si penjaga makam. Kalau hari libur, makam ini cukup ramai dikunjungi para peziarah yang ingin memanjatkan doa. Pastur-pastur mulai dari tahun 1800-an hingga 1990-an dimakamkan di sini. Makam ini sama sekali tidak menyeramkan, malah terkesan damai.

Pandanganku beralih pada bangunan di seberang makam. Sebuah sekolah berasrama berdiri angkuh. Tembok-temboknya tinggi, tak memungkinkan orang melongok ke dalamnya, kecuali melewati gerbangnya. Di bagian depan sekolah itu terukir namanya “SMA Pangudi Luhur Van Lith”. Ya, itu sekolahku dulu.

Ada setitik haru menyusup di hatiku. Betapa kepribadianku banyak berubah selama hidup di asrama itu. Entah kapan aku bisa menemukan tempat di mana rasa kekeluargaannya seerat di tempat ini. Sayang, karena hari libur, sekolah itu sangat sepi, tidak ada para murid yang lalu lalang.

“Mbak Diyan, tha? Haduh, suwe ora tau nilik’I Muntilan.Wis dadi mahasiswa, saiki ning kutha. Ana apa, kok, ning Muntilan?” (Mbak Diyan, kan? Aduh, lama nggak ke Muntilan. Sudah jadi mahasiswa, sekarang hidup di kota. Ada apa, kok ke Muntilan?) Aku sangat kenal suara itu. Dia pria setengah baya penjaga sekolah itu. Dialah yang dulu sering mendengarkan keluh kesahku.

Nggih, Pak Ahmad. Dalem saking Semarang, badhe dumugi Jogja, mampir rumiyin,” jawabku. (Iya, Pak Ahmad. Saya dari Semarang, mau ke Jojga, mampir dulu).

Pak Ahmad kentara sekali senang bertemu denganku karena sudah tiga tahun lalu aku meninggalkan sekolah ini dan belum pernah berkunjung. Dia bercerita bagaimana sekolah itu berubah menjadi tidak seserhana dulu sejak angkatanku meninggalkan sekolah. Katanya, tidak ada angkatan yang seramah dan sekompak angkatanku. Dia berpesan agar aku bisa jadi orang sukses nantinya. Lalu, dia pun kembali memasuki sekolah.

Kumasuki gerbang kerkhoff dan berhenti di depan salib besar setinggi tiga meter. Kubuat tanda salib, lalu kuteruskan melangkah ke dalam kerkhoff. Ada jalan kecil ber-paving block di belakang salib, di kanan-kirinya tersebar makam-makam dinaungi pohon-pohon rindang. Di ujung jalan itu ada semacam kapel.  Kulirik kursi taman di depan kapel. Di situlah doaku terkabul empat tahun lalu, doa untuk bertemu dan berbincang dengan cinta pertamaku, Heru.

Untuk itulah aku mengunjungi kerkhoff. Kenanganku akan Heru demikian kuat beberapa hari terakhir. Dalam mimpi dia datang dan berkata ingin bertemu denganku. Sejak empat tahun lalu aku tak pernah lagi bertemu. Tak pernah pula aku tahu nomor teleponnya dan di mana dia tinggal di Yogyakarta.

Waktu seakan berputar kembali ke masa empat tahun lalu. Di kursi taman itu, tanggal 17 Agustus 2004, Heru mengatakan bahwa dia sudah menyukaiku sejak dua tahun sebelumnya, waktu kami masih sama-sama di Jakarta. Kala itu aku masih anak SMP dan dia sudah duduk di bangku SMA. Heru urung mendekatiku dua tahun sebelumnya karena aku masih terlalu muda.  Maka  saat itulah waktu yang tepat baginya.

Rasanya ada air mata yang hampir menetes saat dia ungkapkan perasaannya. Doaku agar bisa bertemu dengannya tak pernah putus sejak aku SMA.  Aku tahu dia berkuliah di Yogyakarta, sangat dekat dengan Muntilan. Heru pernah berjanji akan mengunjungiku, tapi setelah setengah tahun aku di Muntilan dia tak pernah muncul.

Kemunculannya sungguh tak terduga. Aku sudah hampir melupakannya tetapi dia tiba-tiba saja datang dan merusak ketenanganku. Aku bersyukur karena doaku terkabul dan aku akhirnya mengetahui perasaannya padaku. Aku berterus terang akan semua khayalanku tentangnya. Senyumnya tersungging tetapi justru aku menangis tersedu. Andai dia datang setengah tahun lebih awal, pasti hari itu menjadi hari mulainya kisah cinta murni yang telah lama terpendam.

Nyatanya tidak bisa seperti itu. Saat itu aku sudah berkomitmen pacaran dengan Adit dan aku tak mungkin meninggalkan Adit. Senyum Heru memudar dengan cepat, berganti menjadi wajah penuh kekecewaan. Kami terdiam cukup lama merasakan pahitnya kisah kami.

Heru menepuk punggungku seraya berkata bahwa dia terlalu menunda momen seperti itu denganku dan akhirnya kalah. Dia meminta maaf karena sudah mengganggu ketenanganku. Dia juga memintaku untuk menganggap perbincangan kami tidak pernah ada. Setelah berkata demikian, dia bangkit meninggalkanku yang masih menangis di kursi.

Kupandangi punggungnya, berharap dia menoleh dan memberikan senyumnya padaku. Tetapi dia melangkah dengan pasti seakan kejadian itu tidak berdampak padanya. Aku ingin mengejarnya tapi aku tak bisa. Aku telah memilih untuk bersama Adit, maka aku harus merelakan kepergian Heru. Jika sebuah pilihan sudah kuputuskan, maka pilihan yang lain harus musnah. Kedua pilihan itu tidak bisa terus ada…

Beberapa bulan berlalu setelahnya. Dampak pertemuan kami terasa makin hebat atasku. Aku bahkan tidak bisa melupakannya. Aku tidak banyak bicara seperti sebelumnya dan sering menyendiri di asrama. Kubuka-buka buku harianku masa SMP, tak ada selembar pun yang tak  menceritakan tentangnya. Kucoba menghubungi ponselnya, tapi nomornya sudah tidak aktif sejak tanggal 17 Agustus 2004. Aku kehilangan jejaknya…

Secara rutin aku mengunjungi kapel kerkhoff untuk berdoa, sekadar mengadu akan perasaanku.  Aku berdoa lagi agar aku dipertemukan dengannya. Tampaknya aku menyesal kala itu tidak mengejarnya saat dia meninggalkanku. Doa terasa lemah. Jauh di dalam lubuk hatiku aku membuat suatu taruhan dengan Tuhan, jika aku bertemu lagi dengannya maka kami memang berjodoh. Biarkan semua berjalan sesuai kehendak Tuhan. Aku hanya bisa mengikuti alur-Nya.

Biarlah kenangan itu tetap menjadi kenangan. Tak perlulah lagi menoleh ke masa lalu. Apa guna hidup jika terus terpaku pada penyesalan masa lalu. Yang utama dalam hidup adalah bagaimana kita menjalani hari dengan baik dan merancang masa depan kita.

Kupejamkan mataku saat duduk di karpet kapel. Kubiarkan pikiranku menyelami anugrah-anugrah yang telah diberikan-Nya padaku sepanjang hidup. Kulambungkan puji syukur pada Sang Pencipta atas karunia hidup yang indah ini. Kupanjatkan harapan agar dalam waktu-waktu seterusnya biarlah rencanaku direstui-Nya, namun aku tetap mengikuti skenario yang akan Tuhan perbuat atas hidupku.

Dalam keadaanku menyatu dengan Tuhan dalam doa, sebuah bunyi merdu menyelinap masuk ke pikiranku. Suara petikan gitar itu mengganggu konsentrasiku. Aku undur diri dari hadapan Tuhan sejenak dengan tanda salib di dahiku. Namun aku tetap belum berdiri. Aku tetap mendengarkan petikan gitar itu. Perlahan suara manusia kaum Adam menyertai petikan gitar itu…

Di bayang wajahmu, kutemukan kasih dan hidup

Yang lama lelah aku cari di masa lalu…

Kaudatang padaku, kautawarkan hati nan lugu

Selalu mencoba mengerti hasrat dalam diri…

Seketika aku tersentak. Syair lagu milik Katon Bagaskara itu sungguh sangat kuhafal karena seseorang pernah menyanyikannya untukku. Sedetik kemudian mataku sudah mulai berkaca-kaca. Suara itu sangat tak asing kudengar di masa lampau. Secepat itukah partikel otak mampu membuat imajinasi menjadi nyata?

Kutahan agar air mataku tak perlu meleleh. Kuberanikan diri berdiri dan keluar dari kapel. Sepasang mata menatapku dengan tajam. Kubalas tatapan itu selama beberapa detik. Akulah yang pertama menyunggingkan senyum padanya. Dia pun membalas. Kuhampiri si pemilik suara merdu itu.

“Mas Heru, apa kabar? Kebetulan, ya, ketemu di sini?” sapaku.

Heru menghentikan permainan gitarnya. Lama dia tidak menjawabku, namun hanya menatapku yang kini duduk di sebelahnya.

“Ini baru kali kedua saya ke kerkhoff. Dan saya selalu merencanakan kunjungan ke tempat ini, bukan tanpa alasan,” ujarnya seraya tersenyum. Caranya menjawab pertanyaan masih seperti dulu, memiliki makna tersirat, tidak langsung menjawab pertanyaan. Kesopanannya tidak hilang sejak dulu, tetap menggunakan kata “saya”.

“Kunjungan hari ini juga direncanakan? Untuk apa?” selidikku.

“Saya hanya mengikuti kata hati bahwa tempat ini menjanjikan cahaya. Kamu sendiri kenapa ada di sini, Diyan?”

“Hanya mengikuti kata hati bahwa tempat ini akan menjawab pertanyaan yang belum sempat terjawab di masa lalu.” Aku mengikutinya dengan mencoba menjawab dengan kata-kata berfilosofi, maklum mahasiswa filsafat.

Dia tertawa mendengar aku mengikuti gaya bicaranya.

“Oh, ya? Kebetulan yang luar biasa saya bertemu kamu lagi di sini. Dengar-dengar kamu kuliah di Jakarta, ya?”

“Iya, dari mana Mas Heru tahu saya kuliah di sana? Kuliah Mas Heru gimana?”

“Dari temanmu yang sefakultas dengan saya. Saya sudah diwisuda tahun lalu. Setahun ini saya hanya mengisi waktu dengan menjadi asisten dosen. Ngomong-ngomong jawabanmu tadi absrak. Apa yang kamu maksudkan tempat ini akan menjawab pertanyaan yang belum sempat terjawab di masa lalu?” tanyanya.

Kali ini aku tidak bertele-tele dengan menjawab, “Aku mimpi beberapa hari lalu bahwa Mas Heru ingin bertemu aku. Mimpi rasanya sangat nyata. Tapi aku ‘kan nggak tahu bagaimana mengontak Mas Heru. Aku udah kehilanan jejak Mas Heru sejak saat itu.”

Kutekankan kata “itu” dan tampaknya dia mengerti. Selama sekitar dua menit kami terdiam. Dia memetik-metik gitarnya lagi dan menatap kosong pada gitarnya.

“Beberapa hari lalu kamu memang terlintas di pikiran saya. Saya nggak pernah bisa melupakan kamu sebenarnya. Beberapa bulan belakangan ini saya sangat ingin ketemu kamu untuk sekedar memantapkan tujuan saya. Nggak adil rasanya nggak mengabari kamu sama sekali bahwa saya akan pergi,” jelasnya.

“Mau pergi ke mana, Mas?”

“Saya dapat beasiswa untuk belajar Teologi di Italia. Setelah selesai saya akan melanjutkan studi ke seminari untuk menjadi pastur. Rasanya masih ada beban dalam diri saya kalau nggak memberi tahu kamu, beban pada diri saya dan mungkin pada kamu.”

Aku tertunduk mendengar penjelasannya. “Aku selalu tahu Mas Heru pasti selalu punya tujuan mulia. Aku tersanjung akan perasaan kepada saya yang begitu Mas Heru pelihara bertahun-tahun. Dan sebenarnya Mas Heru belum pernah hilang dari benak saya. Tapi sekarang aku bilang aku bangga Mas Heru memilih jalan itu. Akan selalu aku doakan,” jawabku sambil menepuk punggungnya.

“Lega rasanya dengar hal itu dari kamu. Saya berangkat ke sana minggu depan.”

Kulihat jam tanganku. Satu jam lagi aku harus bertemu Adit di Yogyakarta. Kalau tak mau telat, aku harus berangkat sekarang. Berat rasanya meninggalkan Heru.

“Semoga sukses, Mas. Jadi Alter Kristus yang membanggakan, ya! Oh ya, aku harus cepat-cepat pergi. Senang bisa bertemu dengan Mas Heru di sini. Goodbye,” ujarku.

Kata perpisahan memang kata yang berat diucapkan. Kami bersama bangkit berdiri. Dia menggenggam tanganku cukup lama. Tanpa berkata kami berbalik ke arah yang berlawanan. Heru memasuki kapel dan aku menuju gerbang kerkhoff.

“Diyan!” Belum lima langkah aku berjalan, dia memanggil namaku. Aku pun berbalik.

“Tempat ini memenuhi janjinya memberikan cahaya sesuai dengan namanya,” katanya.

Aku berjalan kembali ke arahnya. Kukeluarkan barang kesayanganku dari tas. “Aku ingin kamu memiliki Rosario ini, Mas. Pakailah untuk berdoa melalui perantara Bunda Maria.”

Aku berbalik. Kali ini dia tidak memanggilku lagi. Aku berjalan mantap tanpa menoleh, seperti yang dilakukannya empat tahun lalu. Bedanya, aku tidak berlinangan air mata, justru aku tersenyum senang karena pertanyaanku sudah terjawab. Sungguh bodoh aku berani bertaruh dengan Tuhan bahwa pertemuan kembali dengannya menandakan kami berjodoh. Tuhan tidak bisa ditantang. Maafkan aku, Tuhan.

Sebuah delman lewat di depan kerkhoff. Tanpa ragu aku menghentikannya. Kuminta kusir mengantarku ke terminal. Selama di delman aku terus tersenyum. Kalimat terakhirnya masih melekat di telingaku. Tempat ini memenuhi janjinya memberikan cahaya sesuai dengan namanya. Aku baru sadar yang dimaksud cahaya adalah diriku karena namaku, Diyan, berarti cahaya.

Tuesday, April 15th, 2008

08.40 pm

4 Comments Add yours

  1. Sash says:

    Seorang sahabat mengirimi saya link ini, dan saya tau itu semua bukan kebetulan. Selesai baca ini saya cuma diam & tanpa terasa pelupuk mata saya basah. Ah…
    Terimakasih untuk kisahnya. Salam kenal, mbak🙂

  2. elisabetyas says:

    Hello Sash, hampir satu tahun lalu dan saya baru sempat baca komen ini. Terima kasih sudah membaca… Memang bukan kebetulan, separuhnya realitas, sisanya modifikasi.

  3. apapun yang ditulis dikisahkan dan dimaksudkan aku punya rasa kagum terhadap alumnus sma van lith.kadang kalau ketemu salah satu alumni aku senang bisa saling tanya saling cerita apa saja kebanyakan menyenangkan termasuk elisabeth

  4. sakarias says:

    kisah yang aku sangat terharu dan bangga akan jiwa besar yang mbak tampilkan.dengan jiwa besar menerima keputusanTuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s