Pemaknaan Kasih yang Tulus dalam Perayaan Valentine

Siapa, sih yang nggak tahu kalau tanggal 14 Februari adalah perayaan Valentine? Nggak usah orang Katolik juga tahu kalau hari itu adalah simbol pencurahan kasih sayang. Namun, sedikit yang tahu tentang makna hari itu.  Menurut cerita, sih, Valentine dirayakan untuk mengenang Santo Valentinus yang menjadi martir.

St. Sirilus dan Metodius

Di dalam Gereja Katolik saat ini, 14 Februari adalah hari Peringatan Wajib (Memoria Obligatoria) untuk Santo Metodius dan Santo Sirilus. Sedangkan hari Santo Valentinus tidak lagi dimasukkan dalam  Calendarium Sanctorale (Kalender Liturgi). Sejak pembaharuan liturgi tahun 1969, St. Valentinus tidak lagi dimasukkan namanya ke dalam Kalender Liturgi Gereja Universal. Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI)  juga tidak memasukkan nama Santo Valentinus ke dalam Kalender Liturgi yang berlaku lokal di Indonesia.

Seorang Katolik hendaknya mengembangkan devosi selaras dengan Liturgi Gereja dan mengedepankan peringatan St. Metodius dan Sirilius. Sama sekali tidak salah untuk mempersembahkan tanggal 14 Februari dalam devosi khusus kepada Santo Valentinus namun sejalan dengan liturgi hendaknya tidak mengabaikan begitu saja Santo Sirilius dan Santo Metodius yang namanya dicantumkan dalam Kalender Liturgi.

Saat ini kebanyakan orang-orang yang merayakan Valentine—biasanya kaum muda-mudi— bersifat sekuler. Kita seringkali lupa makna yang seharusnya kita usung dalam perayaan Valentine. Valentine akhirnya hanya dikaitkan dengan kegiatan simbolis, seperti memberi bunga, cokelat, kencan, dan sebagainya. Akan tetapi lupa pada makna religius yang seharusnya dapat kita rasakan.

Tidak ada yang melarang setiap orang untuk mencurahkan kasih sayang pada hari khusus seperti Valentine. Malah, sebagian besar muda-mudi Katolik turut merayakan hari itu dengan ujud misa atau ibadat. Itulah hal yang benar, kita tetap menghormati hari Santo Valentinus dengan mencurahkan kasih sayang tetapi juga melakukannya dengan gaya Katolik. Ingat, kasih sayang bukan hanya kita curahkan kepada pasangan kita, melainkan juga untuk keluarga dan teman-teman. Alangkah lebih baik jika momen Valentine dijadikan ajang untuk berbagi kasih dengan orang-orang yang membutuhkan, orang menderita, dan orang miskin. Jika begitu, makna Valentine menjadi lebih dalam. Yang terpenting kita membawakan semangat fraternite atau semangat kasih. Orang-orang Katolik dan Kristen, kan, identik dengan pembawa kasih di antara sesama manusia. Kisah Santo Valentine menjadi salah satu panutan bagi kita orang Katolik.

Mungkin teman-teman sudah pernah mendengar pendapat jelek mengenai perayaan Valentine. Beberapa pihak mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud paganisme atau penyembahan berhala. Mungkin paham itu lahir karena ada legenda masa Roma Kuno yang menghormati tanggal 15 Februari sebagai hari raya Lupercalia, dewa kesuburan. Akhirnya para pastor memutuskan untuk mengakhiri budaya pagan itu dan memilih kemartiran Santo Valentinus untuk menggantikan Lupercus.

Ada kesimpangsiuran paham dalam hal ini. Para petinggi Gereja Katolik memang sering—secara sengaja maupun tidak—mengganti hari-hari raya penyembahan berhala dengan hari liturgi. Sebenarnya salahkah itu? Menurut saya, hal itu sah-sah saja. Apalah arti tanggal dan asal mula suatu hal? Seperti hari Natal yang sebenarnya kita juga tidak yakin jatuh pada tanggal 25 Desember, apakah hal itu mengganggu kita dalam beribadah kepada Allah?

Orang Katolik dikenal menerapkan ajaran Allah dengan tindakan langsung, bukan berdasarkan simbol. Yang terpenting bagi kita sekarang adalah pemaknaan akan perayaan itu, tidak peduli pada tanggal-tanggal itu dulunya dipakai untuk penyembahan berhala. Kita merayakan Valentine bukan berarti kita menghormati Lupercus, karena yang kita kenal adalah Valentinus, hamba Allah. Buat apa kita memusingkan asal muasal suatu hari tetapi kita tidak memiliki hati yang bersih untuk merayakan hari itu secara religius?

Tuhan Yang Maha Esa akan bangga pada siapa saja yang mampu membangkitkan semangat kasih di antara sesama. Tuhan pun menciptakan dunia tanpa menciptakan tanggal. Tak ada yang tahu, kan, tanggal berapa dunia lahir? Berarti tanggal tak ada artinya, kan, di hadapan Tuhan? Tanggal, kan, yang membuat manusia juga.

Merayakan hari-hari liturgi atau Natal atau Paskah atau Valentine memang seyogianya dilakukan pada tanggal-tanggal yang telah ditentukan. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan dirayakan pada hari-hari lain yang masih berdekatan. Apakah kesakralannya menjadi berkurang? Itu tergantung persepsi dari masing-masing pribadi, apakah semangat-semangat tersebut masih ada atau tidak. Tuhan senantiasa menerima devosi kita kapan pun, di mana pun, asalkan kita tulus dan pasrah, itu saja.

Untuk semua yang merayakan Valentine, selamat merayakan Valentine, ya. Maknai Hari Valentine dengan kasih yang tulus. Tetap menjaga semangat pelayanan, pengorbanan, dan penyebaran kasih! Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s