INDUSTRI TEKSTIL BELUM TERSENTUH DAMPAK BURUK CAFTA

Pemberlakuan China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA) sejak 1 Januari 2010 menuai protes dari berbagai pengusaha lokal, terutama sektor Usaha Kecil Menengah (UKM). Kesepakatan CAFTA membuat dihapuskannya tarif bea masuk menjadi 0%. Hal itulah yang membuat dugaan bahwa produk-produk dari China dan ASEAN akan dijual dengan harga lebih murah sehingga produk lokal akan tergeser. Implikasi kompleksnya adalah CAFTA akan berdampak buruk terhadap terjadinya PHK besar-besaran.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Internasional Serikat Pekerja Nasional (SPN), Indrayana saat ditemui pada demonstrasi di depan Gedung DPR/ MPR/ DPD, Kamis (28/1), sektor-sektor industri nasional akan terkena imbas buruk akibat pemberlakuan CAFTA. Sektor-sektor tersebut melingkupi usaha padat karya, seperti tekstil, alas kaki, elektronik, kimia, baja, dan mainan anak-anak.

“Yang kena imbas langsung, ya, kita para buruh. Pasti akan ada PHK besar-besaran akibat matinya industri kecil nasional,” kata Indrayana.

Indryana mengungkapkan, tidak ada negara yang akan tahan berhadapan dengan China dalam hal perdagangan bebas. Indonesia pun diramalkan tidak akan bisa menghadapi pasar bebas China.

Namun, sebulan setelah CAFTA diberlakukan, beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta belum menunjukkan adanya penurunan harga barang impor. Ketakutan akan tergesernya produk lokal pun belum terbukti. Produk-produk dari China, Thailand, dan Korea memiliki segmentasinya sendiri.

ITC Mangga Dua

Produk Korea dan Thailand Mendominasi Pusat Perbelanjaan

Produk pakaian dari China belum membanjiri pertokoan di ITC Mangga Dua, meski CAFTA telah diberlakukan di Indonesia, para pedagang justru lebih menyukai produk Korea dan Thailand daripada produk China.

Meski tarif bea masuk sebesar 0% telah diberlakukan sejak 1 Januari 2010, hal itu tak membuat produk pakaian dari China mudah menembus pasar Indonesia pada bulan kedua tahun ini. Produk pakaian dari China tidak sebanyak produk pakaian dari Thailand dan Korea.

“Bebas pajak untuk barang China itu nggak ngaruh ya, nggak bikin harga barang jadi lebih murah juga. Kalau kualitas barang dari China bagus, harganya juga mahal,” kata Pemilik Eleven Collection Natalia, di Jakarta, Jumat.

Menurut Natalia, banyaknya produk Korea dan Thailand yang saat ini membanjiri pertokoan ITC Mangga 2 merupakan permintaan pasar. Orang sudah bisa menilai perbedaan produk China dengan produk Thailand dan Korea yang dinilai lebih bagus modelnya.

“Mau ada bebas pajak atau nggak, ya, tetap kualitas yang dilihat. Dan tergantung permintaan pelanggan,” lanjut Natalia.

Sama halnya yang terjadi di ITC Cempaka Mas, Pusat Grosir Terbesar di Asia Tenggara, produk Korea membanjiri pusat perbelanjaan tersebut. Produk pakaian Korea dinilai memiliki kualitas dan model yang bagus.

“Kalau baju dari Korea itu modelnya bagus-bagus, kalau lokal biasa aja, bahannya juga nggak adem,” jelas penjaga toko Lavender, di lantai 2 ITC Cempaka Mas.

Produk China yang ada di toko-toko ITC Mangga Dua saat ini merupakan stok lama. Toko Import di lantai 3, toko Jet Shop dan toko Sentral Butik yang terletak di lantai 2 blok A hanya memajang sekitar 10 persen pakaian dari China di dalam toko mereka.

Hal yang sama terjadi di Pasar Regional Tanah Abang. Sebagian besar pakaian yang dijual di sana untuk konsumen laki-laki berasal dari Hong Kong dan Thailand. Hal itu disebabkan karena kualitasnya bagus dan harganya bersaing.

Toko khusus pakaian bermotif tentara, Diego Collection, yang berlokasi pada lantai Semi Lower Ground, mayoritas menjual jaket dan celana buatan China dan Hong Kong. Namun, penjaga toko menyatakan bahwa produk buatan Hong Kong memiliki kualitas lebih baik dari pada buatan China. Hal ini juga berpengaruh dari harga produk tersebut

Dalam pengamatan ANTARA, pada toko Laki-Laki, kaus Thailand terlihat lebih berkualitas denga bahan katun yang baik. Produk tersebut berbeda jauh dengan kaus buatan lokal yang terlihat tersablon seadanya dengan gambar-gambar karakter dari komik Jepang.

Harga Pakaian Makin Mahal

Pakaian asal China dilabeli harga Rp35,000-Rp65,000. Sedangkan pakaian dari Korea dan Thailand berada pada kisaran harga Rp75,000-Rp300,000.

Toko Agashi dan toko Platinum ITC Mangga Dua justru sama sekali tidak menjual produk China. Sudah beberapa bulan ini kedua toko tersebut tidak mengambil barang dari China.

“Bos saya nggak suka produk China, lebih suka barang dari Bangkok,” kata penjaga toko Platinum.

ITC Cempaka Mas

Sementara itu, toko Lavender di ITC Cempaka Mas menjual produk Korea dan produk lokal. Empat potong akaian lokal dijual dengan harga Rp 100.000. Sedangkan pakaian dari Korea satu potongnya dihargai Rp.40.000-60.000 dengan model yang tidak jauh berbeda.

Tak jauh pula kondisi yang terjadi di toko Avalu Fashion yang terletak di ITC Cempaka Mas. Barang yang mereka jual adalah produk Korea dan produk lokal. Pakaian dengan model yang hampir sama, dijual dengan kisaran harga yang berbeda.

Rata-rata pakaian lokal di toko ini dilabeli harga Rp 35.000, sedangkan pakaian korea harganya bervariasi, mulai dari Rp 150.000-Rp 300.000. Alasannya pun tidak jauh berbeda, produk korea dinilai penjual memiliki kualitas yang lebih baik.

Di Pasar Region Tanah Abang, toko Gaoel Boutique yang terletak pada lantai 6, menjual celana berbahan denim Levi’s imitasi asal Hong Kong seharga Rp 180.000 dan kaus dengan harga Rp 50.000. Toko ini tidak menjual produk lokal.

Untuk celana pendek buatan Hong Kong dibanderol Rp 235.000, dan celana pendek buatan China dilabeli harga Rp150.000. Sedangkan jaket buatan Hong Kong diberi harga Rp 300.000, dan jaket buatan China dibanderol Rp250.000. Untuk kaus buatan Hong Kong dilabeli harga Rp 180.000, tetapi kaus buatan China dihargai Rp100.000. Perbedaan harga tersebut sangat terlihat dari kompleksnya desain produk dan kualitas bahan garmen yang digunakan.

Produk Lokal Kalah Bersaing

Produk-produk pakaian buatan dalam negeri tidak banyak dipasarkan di ITC Mangga Dua. Adapun produk-produk lokal tersebut berupa kaus yang diberi harga Rp.25,000-Rp35,000. Produk-produk buatan dalam negeri tersebut juga kurang diminati pelanggan.

Begitu pula yang terjadi di ITC Cempaka Mas. Kebanyakan toko yang terletak di bagian butik eksklusif berisi pakaian impor, seperti toko Female, Ladies, La Moda, dan beberapa toko lainnya. Tidak menjual produk lokal. Diakui penjual, pakaian mereka kebanyakan berasal dari Korea, Hongkong, dan Thailand.

Lain halnya yang terjadi di Pasar Regional Tanah Abang, produk pakaian lokal masih bisa bertahan di tengah kepungan produk asing di negeri sendiri. Bahkan ada yang merancang dan memproduksi sendiri pakaian yang dijualnya.

Salah satunya adalah toko WBON yang menjual pakaian untuk anak. Toko ini menjual kaus dengan kualitas yang bagus seharga Rp16.000-Rp17.000. Penjaga toko mengakui, banyak orang yang mengira produk tersebut berasal dari luar negeri karena kualitas kain dan sablon yang baik.

Tak jauh dari WBON, toko Gegegi Kid’s, juga penjual pakaian anak, mengaku menjual pakaian hasil desainnya sendiri, walau dengan harga yang lebih mahal, Rp20.000-Rp30.000. Di toko Repoint, semua kaus adalah hasil desain dan produksi sendiri, kata penjaga toko.

Solusi Hadapi CAFTA

Masuknya produk impor ke Indonesia telah dirasakan para pengusaha tekstil sejak tahun 2006. Produk impor telah membanjiri dan memberikan dampak yang cukup berarti, baik bagi pengusaha tekstil maupun konsumen. Produk-produk tersebut laku di pasar domestik karena faktor konsumsi masyarakat Indonesia yang tinggi terhadap tekstil dan dipengaruhi gaya hidup masyarakat.

Tingginya kebutuhan akan tekstil dapat dilihat dari data konsumsi produk tekstil pada rumah tangga di seluruh Indonesia, yakni pada tahun 2006 sebanyak Rp64 Triliun, tahun 2007 sebanyak Rp58 triliun, tahun 2008 sebanyak Rp70 triliun, tahun 2009 sebanyak Rp77 triliun, dan diperkirakan akan terus meningkat.

Sebelum CAFTA diberlakukan, Indonesia telah melakukan perjanjian bilateral atau multilateral dengan negara lain. Dari perjanjian tersebut, produk-produk luar negeri pun masuk dan bersaing dengan produk lokal.

Pengusaha tekstil lokal sebenarnya sudah memiliki dua cara dalam menghadapi terpaan ini. Pertama, pengusaha tekstil harus mengetahui seberapa besar akses pasar domestik di pasar negara yang melakukan perjanjian. Kedua, pengusaha tekstil juga perlu mengantisipasi produk yang masuk dari negara yang melakukan perjanjian.

“Kedua hal itu perlu diperhatikan pengusaha tekstil, terlebih lagi sekarang, saat diberlakukannya CAFTA,” jelas Direktur Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian.

Hal tersebut perlu diperhatikan karena kekuatan produk lokal di pasar domestik hanya 50 persen, dan diperkirakan pada tahun 2014 menurun menjadi 30 persen. Sebelum CAFTA diberlakukan, harga jual produk domestik pada tahun 2006 sebesar Rp31 triliun, tahun 2007 sebesar Rp35 triliun, tahun 2008 sebesar Rp46 triliun, tahun 2009 sebesar Rp52 triliun, pada tahun dan 2010 diperkirakan turun menjadi Rp47 triliun.

“Saat penjualan tekstil dan produk tekstil menurun, pastinya akan memengaruhi permintaan bahan baku pada industri besar, kemudian akan berdampak pada hal-hal yang menyangkut produksi, bisa juga ancaman PHK bagi pekerja tekstil karena berkurangnya permintaan barang,” jelas Ernovian.

Daya saing adalah kunci utama untuk melawan masuknya produk asing di Indonesia. Daya saing tidak hanya dimiliki pengusaha tekstil saja, tetapi pemerintah juga perlu bersaing karena produksi dipengaruhi oleh cost produksi yang meliputi berbagai aspek, antara lain bahan baku, energi, tenaga kerja, dan bunga bank.

“Pemerintah harus turut bersaing dalam memantau pengadaan bahan baku di negara lain, pengadaan energi di negara lain, kualitas tenaga kerja di negara lain, dan tingkat suku bunga bank, sehingga pengusaha tekstil dapat mengetahuinya dan bersaing dalam mewujudkan kualitas produk yang baik,” imbuhnya.

(M.PPS/ M. FAI/ M.IFB)

One Comment Add yours

  1. Agustian says:

    mohon informasi distributor baju anak branded di jakarta

    trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s