SEKITAR 2.000 UMAT TRIDHARMA AKAN PADATI PETAK SEMBILAN

Jakarta, 2/2 (ANTARA)-Sekitar dua ribu umat Buddha, Konghucu, dan Tao akan mengunjungi tiga vihara yang berada di Jalan Petak 9 dan Jalan Kemenangan, yaitu Dharma Jaya, Dharma Bakti, dan Dharma Sakti, pada hari raya Tahun Baru Imlek 2561.

“Puncak datangnya pengunjung kira-kira pada pergantian tanggal 13 Februari dan 14 Februari. Kira-kira 2.000 orang bisa memenuhi Jalan Petak 9, sampai untuk lalu lintas orang berjalan saja penuh sesak,” kata Pengurus Vihara Dharma Bakti Herman, di Jakarta, Selasa.

Untuk menyambut perayaan Tahun Baru Imlek, ketiga vihara tersebut melakukan pembersihan dan pengecatan.

“Kami juga mengecat Arca Buddha Ru Pang dan Arca Dewa Ru Pang,” lanjut Herman.

Kegiatan yang dilakukan umat dari aliran Tridharma tersebut antara lain adalah mengucapkan ujud syukur atas tahun yang sudah lewat dan melakukan sembahyang. Tak lupa mereka membawa buah, kue, dan kertas sebagai persembahan.

Banyaknya umat yang akan datang pada Tahun Baru Imlek 2561 disebabkan ketiga vihara tersebut bebas dikunjungi oleh tiga aliran Tridharma. Vihara Dharma Jaya, misalkan, menyediakan pula Patung Sidharta Gautama yang telah menjadi Buddha, untuk media berdoa bagi orang Budha.

Dewa “Tuan Rumah” Vihara

Meski menjadi tempat beribadah umat Buddha, Konghucu, dan Tao, ketiga vihara tersebut memiliki “Tuan Rumah” masing-masing yang menjadi simbol Dewa Penjaga vihara mereka.

“Vihara Dharma Jaya ini, Tuan Rumahnya Dewa Cheng Goan Cheng Kun. Jadi, (Dewa, red) dipercaya bisa memulihkan orang yang kena guna-guna atau santet,” kata Pengurus Vihara Dharma Jaya Andi Sentosa.

Ketiga vihara tersebut tidak akan menyelenggarakan perayaan Tahun Baru Imlek, kecuali bersembahyang. Vihara Dharma Bakti tidak melakukan perayaan seperti perarakan barongsai dan liong karena Dewi Kwan Im sebagai Tuan Rumahnya merupakan simbol dari belas kasih, dan menjauhi hingar-bingar.

Sedangkan Vihara Dharma Sakti dilindungi oleh Dewa Neraka. Hal itu berarti vihara tersebut ramai dikunjungi untuk mendoakan arwah-arwah leluhur yang telah berpulang ke alam baka.

Vihara Dharma Jaya akan melakukan perayaan justru pada saat Cap Go Meh, hari kelima belas dan hari terakhir perayaan Tahun Baru Imlek. Perayaan akan dilakukan dengan perarakan ondel-ondel, tanjidor, barongsai, dan liong dari Jalan Fatahilah ke Olimo, kemudian kembali ke Petak Sembilan.

“Kebetulan dulu vihara ini jadi yang pertama kali merayakan Tahun Baru Imlek dengan perarakan ke luar vihara setelah Gus Dur memperbolehkan rakyat keturunan Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek,” lanjut Andi Sentosa.

Sementara itu, menurut Andi Sentosa, penyebutan “vihara” sebagai tempat ibadah bagi agama Tridharma bukanlah hal yang tepat. Alasannya, vihara merujuk pada tempat beribadah umat Buddha. Namun, karena ketiga tempat ibadah ini juga dipakai untuk beribadah umat Buddha, maka penyebutan tersebut tak lagi menjadi masalah.

“Waktu zaman Rezim Soeharto, kan, istilah kelenteng tidak diperbolehkan. Semuanya harus memakai nama vihara,” kata Andi Sentosa.

Vihara Dharma Bakti dan Vihara Dharma Jaya didirikan pada tahun yang berdekatan, sekitar tahun 1600-an. Kedua vihara ini sempat dibakar oleh Belanda pada tahun 1740, namun berhasil dibangun kembali pada tahun 1750.

(M-PPS)

One Comment Add yours

  1. Joewarso says:

    salam sejahtera selalu,…
    kami selaku pengurus yayasan Karya Putra Indonesia Mandiri, bermaksud ingin mengirim proposal via e-mail namun selalu reject, mohon petunjuknya..
    terimakasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s