TNC PUJI UPAYA PEMERINTAH LAKUKAN KONSERVASI

Jakarta, 3/2 (ANTARA) -The Nature Conservancy (TNC) mengapresiasi usaha pemerintah dalam menargetkan pencapaian 10 juta hektar kawasan konservasi pada tahun 2010, yang kini sudah mencapai 13,5 juta hektar kawasan konvervasi di Indonesia.

Menurut Media Relations & Information Manager TNC Elis Nurhayati, selama ini perhatian pemerintah terhadap masalah lingkungan sudah cukup baik, terlepas dari masalah-masalah di bidang lain, di Kantor TNC, Jalan Iskandarsyah Raya, Jakarta, Rabu.

“Masalah konservasi lingkungan selama ini kurang diperhatikan. Selalu yang menjadi perhatian utama pemerintah adalah masalah pembangunan. Namun, bukan berarti pemerintah tanpa usaha, ya. Ini (pencapaian 13,5 juta hektar, red) merupakan hasil bagus yang dicapai pemerintah,” kata Elis Nurhayati.

Secara terpisah, Direktur Konservasi Taman Nasional Laut, Agus Dermawan mengungkapkan, pencapaian 13,5 juta hektar kawasan konvervasi ttersebut termasuk pencapaian inisiasi antara Departemen Kehutanan yang berhasil mencapai 5,4 juta hektar dan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang berhasil mencapai 8,5 juta hektar, di Jakarta, Rabu.

“Sebenarnya, pencapaian luas 13,5 juta hektar kawasan konservasi itu bukanlah hasil kahirnya. Justru masih ada tantangan, yaitu berupa pengelolaannya secara efektif,” kata Agus Dermawan.

Menurut Agus Dermawan, ada beberapa parameter yang bisa mengukur efektivitas pengelolaan kawasan konservasi. Parameter tersebut di antaranya adalah mempersiapkan pembentukan kelembagaan, pelatihan untuk SDM, menyusun zona-zona, dan melakukan mekanisme pendanaan yang berkesinambungan.

Dala lain hal, Elis Nurhayati juga mengapresiasi usaha lain pemerintah untuk melestarikan lingkungan. Indonesia dinilainya cukup memimpin dalam Climate Change Conference di Bali akhir 2007.

Selain itu, Elis mengapresiasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena menjadi pelopor dalam pembentukan Coral Triangle Initiative (CTI) yang beranggotakan Indonesia, Filipina, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini, dan Pulau Solomon.

Rencana nyata yang dilakukan CTI adalah melindungi terumbu karang (coral reefs), perikanan (fisheries), dan keamanan bahan pangan dari laut (food security). CTI merupakan inisiatif pertama lintas-negara di dunia untuk melindungi keanekaragaman hayati laut.

“Bicara tentang menjaga terumbu karang, kita (Indonesia, red) tidak bisa bekerja sebdiri. Kita juga butuh bantuan internasional,” papar Elis.

Menurut Agus Dermawan, aspek konservasi yang dilakukan pemerintah bukan hanya demi kepentingan pelestarian lingkungan semata. Jika konservasi berhasil dilakukan dengan baik, maka akan berimplikasi baik juga pada perekonomian penduduk pesisir, bidang perikanan, dan bidang pariwisata.

Tindak lanjut dari CTI ini adalah membangun sekretariat yang hingga kini belum ditentukan tempatnya. Selian itu, CTI akan melakukan penindakan terhadap illegal fisher. Pencarian dana bagi organisasi ini pun segera dilakukan.

Elis juga mengapresiasi Presiden SBY pada saat United Nations (UN) Climate Change Summit di Kopenhagen yang berinisiatif membuat draft Copenhagen Accord. Konferensi tingkat tinggi tentang perubahan iklim selalu diikuti semua negara di dunia, tanpa terkecuali.

Bantuan NGO dalam Bidang Kelautan

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut yang jumlahnya terbanyak di dunia. Dengan fakta tersebut, maka Indonesia pun disebut sebagai “Amazon of The Seas” karena Amazon merupakan hutan yang memiliki jumlah keanekaragaman hayati darat yang tertinggi di dunia.

Elis Nurhayati menambahkan, sejauh ini TNC dan pemerintah telah melakukan mitigasi dan adpatasi terhadap terjadinya perubahan iklim yang berdampak pada laut ataupun sebaliknya.. Mitigasi adalah upaya mencegah atau mengurangi dampak dari perubahan iklim. Sedangkan adaptasi adalah penyesuaian diri dengan kondisi yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Dalam perwujudan mitigasi dan adaptasi, TNC membantu pemerintah dalam menetapkan dan menjaga Marine Protective Area (MPA) atau Kawasan Perlindungan Laut (KPL).

“Selama ini masyarakat menganggap bahwa mereka dilarang mengakses daerah KPL begitu saja. Padahal, protected zone diperlukan untuk mencegah kerusakan di laut, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja,” tutur Elis Nurhayati.

KPL merupakan pembagian zona di laut yang meliputi wilayah binaan rumput laut, daerah tangkapan ikan, daerah terumbu karang, dan area rekreasi. Saat ini TNC telah membuat jaringan untuk area KPL.

Menurut Elis, terumbu karang harus dijaga karena merupakan makhluk hidup yang membantu keseimbangan ekosistem di laut. Sebenarnya terumbu karang yang rusak akibat pengapuran, memiliki kemampuan untuk healing itself, apalagi Indonesia memiliki perairan yang cenderung dingin. Namun, karena keserakahan manusia dalam mengeksplorasi laut, maka terumbu karang kehilangan kemampuan menyembuhkan dirinya sendiri.

Agus Dermawan menyebutkan, sebanyak 6-7 persen terumbu karang di Indonesia berada dalam kondisi sangat banyak dan sebanyak 30 persen berada dalam kondisi baik. Sisanya terumbu karang di Indonesia berada pada kondisi buruk.

“Saat ini pemerintah telah melakukan program rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang,” kata Agus Dermawan.

Elis menambahkan, ada sekitar 120 juta penduduk di dunia yang kehidupannya tergantung langsung dengan laut. Maka, sudah menjadi kewajiban pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kondisi laut. Dahulu orang-orang masih menggunakan pancing untuk mendapatkan uang. Namun, lama-kelamaan orang menggunakan bom dan jaring pukat harimau yang sekat antar jalanya kecil.

“Kalau pakai pukat harimau kan bukan hanya ikan-ikan besar yang tertangkap, ikan-ikan kecil pun tertangkap. Pada akhirnya, ikan-ikan kecil ini akan dibuang karena tidak layak jual. Itu kan menyia-nyiakan kehidupan laut,” kata Elis Nurhayati.

Adanya terumbu karang di laut menjadi penting karena menjadi tempat bagi ikan-ikan kecil untuk “bermain” ketika mereka menetas. Sebelum ikan-ikan tersebut menjadi ikan yang besar, mereka hidup di sekitar terumbu karang.

“Tugas konservasi ini sebenarnya, kan, tugas penerintah. NGO seperti kami hanya membantu pemerintah dari belakang. Masyarakat pun harus lebih peka untuk menjaga lingkungan. Media massa pun diharap tidak menutup mata tentang perubahan iklim,” papar Elis.

One Comment Add yours

  1. anonymous says:

    Hebat, eui, Bu Manager. Gak nyangka, sekarang jadi “green activist”. (Lay your hand on mine)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s