Jazz Etnik, Anggun nan Membius

ditulis oleh:

Justito Adiprasetio*

Harmonisasi jazz dan unsur tradisional yang diramu Tohpati Ethnomission terasa sangat menghentak sekaligus menghanyutkan, rumit tapi membius. Tak seorang pun dari ratusan penonton yang memadati ruangan Teater Salihara yang beranjak dari tempat duduknya. Aransemen ke delapan lagu yang dibawakan oleh mereka membius penonton sepanjang penampilannya .

Grup yang digawangi Tohpati Ario Hutomo (gitar) bersama Indro Hardjodikoro (bas), Demas Narawangsa (drums), Endang Ramdhan (kendang), dan Diki Suwarjiki (suling) membawakan 8 lagu j anyar mereka. Ke delapan lagu tersebut membawa unsur etnik dengan karakter masing-masing termasuk di dalamnya lagu andalam mereka “Gegunungan”, “Etno Funk”, “Rain Forest”, “Bedhaya Ketawang”, dan “Perang Tanding.”

Tohpati dan keempat rekannya dengan balutan pakaian putih dan unsur batik mengolah ramuan jazz yang jarang didengar di tempat lain. Ramuan jazz etnik yang dikemas secara atraktif seperti alkohol yang memabukkan dan memuaskan dahaga para penikmat jazz berkualitas.

Pekikan suara gitar solo yang lembut tapi sangat enerjik dari Tohpati menjadi tanda pembuka event jazz bulanan yang akan rutin diadakan Salihara mulai Februari ini. Melodi gitar yang disebut Tohpati dengan melodi ngasal itu kemudian menjadi pengiring keempat rekannya ke pentas.

Tohpati bersama empat rekannya pertama kali membawakan lagu berjudul Etno Funk. Lagu yang dibawakan Tohpati Ethnomission ini merepresentasikan jazz etnik kontemporer nan unik, dibalut dengan irama funk enerjik yang khas. Bercirikan ritme yang yang tajam ditambah tabuhan perkusi berupa harmonisasi drum dan gamelan yang dominan. Irama penuh sinkronisasi nan rumit tapi tetap membius seolah menyihir penonton di depannya.

Irama cabikan gitar Tohpati dengan gitar Fender Stratocaster-nya seolah meluluh lantahkan hati para penikmat jazz yang menyaksikan dirinya. Memasuki lagu kedua “Rain Forest”, Tohpati memetik gitar dengan melodi dengan tempo lambat tetapi berangsur-angsur memanas pada bagian tengah dan akhir. Wajah kalem Tohpati menyembunyikan unsur kegilaan akan jazz yang ia miliki saat dirinya membawakan ke delapan lagu tersebut. Instrumentalia dari awal hingga ujung lagu tersebut seolah menyayat telinga para penikmatnya.

Tohpati memulai karirnya sebagai gitaris pada usia 14 tahun, saat itu ia menggondol predikat gitaris terbaik pada festival band se-Jakarta.“Tohpati Ethnomission” ini disebutnya sebagai project untuk menyatukan unsur jazz modern dengan tradisional.

“Tidak banyak musisi tradisional mau main musik modern seperti ini”, pungkas Tohpati, di tengah-tengah acara.

Selain Tohpati Penampilan Demas Narawangsa pada Drum dari awal, dengan lagu pembuka ”Ethno Funk” disusul dengan “Rain Forest”, membuat penonton terpesona. Hampir . Drummer yang belum genap berusia 17 tahun ini adalah drummer tetap grup Band Kul-Kul, band yang juga bernafaskan jazz etnik ini menawarkan unsur musik tradisional Bali dicampur dengan Jazz kontemporer.

Harmonisasi antara suara drum Demas dan pukulan kendang Endang Ramdhan di tengah-tengah session membuat penonton terperanga dan secara aktraktif penonton memberikan tepuk tangan tanda takjub. Suatu hasil kolaborasi dua alat musik modern dan tradisional yang dikemas apik pada satu irama jazz nan kental.

Berbeda lagi dengan Indro, ia seolah menikmati dunia musiknya sendiri saat membetot bass 6 senar yang menjadi senjata pamungkasnya. Kolaborasi antara Tohpati dan Indro memang sudah tidak asing lagi bagi para penikmat jazz. Tohpati dan Indro pada tahun 1993 bersama Riza Arshad dan Arie Ayunir pernah membentuk grup jazz Simak Dialog. Grup ini sekaligus sebagai penanda awal dari karir professional Tohpati dalam dunia jazz.

Tohpati Ethnomission seolah membungkam pandangan masyarakat terhadap jazz yang kerap dianggap membosankan. Seperti halnya genre musik klasik, sebagian orang memang cenderung menganggap jenis musik ini terlalu abstrak dan berisi harmonisasi nada yang sulit dicerna telinga awam. Jazz kerap distereotipkan sebagai musik kaum elite dan tidak merakyat, dan memiliki penikmatnya sendiri.

Tohpati juga menyebutkan bahwa alunan jazz yang mereka bawakan berbeda dengan jazz yang saat ini sedang menjadi trend. Bahkan ia menyebut jazz yang menjadi trend di dunia anak muda tersebut sebagai jazz hura-hura. Menurutnya jazz yang sebenarnya adalah jazz yang harus dinikmati secara serius dan diperhatikan tiap harmonisasi nadanya, sehingga tidak terdengar murahan.

Tohpati mengungkapkan, “Jazz yang kami bawakan beda dengan jazz hura-hura, yang penontonnya kalau lagi ngedengerin bisa ketawa-ketawa sambil tengak-tengok cewek.

Jazz yang dibawakan oleh Tohpati Ethnomission seolah menunjukkan identitas kultural yang dimiliki oleh bangsa Ini. Tanpa mengesampingkan kreativitas dari sintesa musik mereka, jazz yang mereka mainkan memiliki kualitas di atas trend jazz yang banyak digandrungi anak muda saat ini. Komposisi jazz etnik yang terdapat pada setiap lagu yang dibawakan oleh 5 musisi handal ini memainkan semangat kontemplasi dari musik itu sendiri. Hasil dari sinkronisasi partitur yang harmonis dan bukan reproduksi dari trend-trend sesaat.

Dewa Budjana, musisi yang pernah bekerja sama dengan Tohpati dalam Threesome menuturkan, “Acara seperti ini asyik, jarang ada pertunjukan jazz berkualitas seperti ini. Saya akan nyusul untuk tampil di sini, bulan April nanti”

*Mahasiswa tingkat 4 Jurnalistik Fikom Unpad. Tulisan teman dekat saya ini bagus namun tak diberi kesempatan naik cetak karena terkalahkan iklan… Saya suka membaca tulisan ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s