Tiga Saksi Hadiri Sidang Kasus Bom Kuningan

Jakarta, 17/2 (ANTARA)-Tiga saksi kasus pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Charlton, Kuningan dihadirkan dalam sidang saksi perdana dengan terdakwa Amir Abdillah di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu. Ketiga saksi yang memberikan kesaksiannya adalah pegawai Hotel JW Marriott, yakni penjaga restoran Dadang Hidayat, juru masak restoran Deni Purwanto, dan resepsionis Silvana.

Dalam kesaksiannya, Dadang Hidayat mengaku melihat seorang lelaki yang memakai topi dan membawa ransel beberapa saat sebelum bom meledak. Dadang mengemukakan, ciri-ciri orang yang disinyalir menaruh bom di dalam restoran Hotel JW Marriott. “Laki-laki itu memakai topi, dan menggendong ransel. Dia mengatakan, ingin bertemu dengan atasannya dan menyerahkan ransel tersebut,” katanya.

Dadang Hidayat yang bekerja sebagai penjaga restoran di Hotel JW Marriott sempat mengamati gerak-gerik lelaki asing tersebut, yang pada saat itu berada dalam jarak 5 meter darinya. “Dia jalan ke arah tengah ruangan, sempat menurunkan ransel, dan terlihat mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Setelah itu, saya melihat lampu berkedap-kedip dari ransel tersebut. Kemudian selama sepersekian detik terjadilah ledakan tersebut,” lanjut Dadang.

Sedangkan Deni Purwanto, yang bekerja sebagai juru masak di restoran tersebut mengaku tidak melihat orang datang dengan membawa ransel. Namun, ia menyadari setiap detil yang terjadi saat bom meledak. “Dari tempat saya kerja, biasanya saya bisa lihat orang masuk. Tapi pada waktu itu saya sedang sibuk di dapur,” tutur Deni Purwanto.

Deni Purwanto mengaku tahu persis di mana bom meledak, yakni di dekat piano. Menurut pengamatan Deni, terdapat 19 orang yang berada di dalam ruangan tempat meledaknya bom tersebut. Setelah bom meledak, keadaan menjadi panas dan gelap. Ada bagian bangunan yang roboh. Deni yang tidak pingsan, langsung mencari tempat terang. Ia juga melihat sejumlah korban yang meninggal dalam kejadian tersebut. “Saya mendapatkan luka dalam di lengan kiri, dan lengan kanan saya,” imbuh Deni Purwanto.

Sementara itu, Silvana menambahkan keterangan lain atas peristiwa lain yang terjadi sebelum peristiwa pengeboman terjadi pada 17 Juli 2009. Silvana menjawab pertanyaan Hakim Ida Bagus Dwiyantara, tentang kedatangan pria bernama Nur Hasdi yang menginap di hotel tersebut sejak dua hari sebelum pengeboman terjadi.

Menurut Silvana, ia sedang bertugas menjadi resepsionis ketika pria bernama Nur Hasdi “check in” di Hotel JW Marriott. Sebelumnya, Silavana pula yang menerima reservasi Nur Hasdi. Ia sempat meneliti KTP Nuri Hasdi mendapati bahwa foto yang terpampang di KTP cocok dengan wajah pemiliknya.

Nur Hasdi, dalam pengamatan Silvana, berpenampilan polos dan biasa saja, memakai topi, masih muda, membawa satu kopor, memiliki wajah Indonesia, dan memiliki tinggi badan sekitar 170 cm. “Tanggal 15 Juli itu saya kerja sampai jam 12 malam. Dan selama itu pula dia tidak pernah terlihat meninggalkan kamarnya,” ungkap Silvana.

Diketahui kemudian Nur Hasdi alias Nur Sahid alias Nur Hasbi terbunuh dalam aksi bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz Charlton. Sedangkan terdakwa Amir Abdillah adalah orang yang disebut-sebut sebagai sopir gembong teroris yang sudah tewas, Noordin M Top. Amir diduga terlibat dalam peristiwa pemboman di dua hotel di kawasan Mega Kuningan itu.

M-PPS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s