Akademisi: Indonesia Belum Miliki Budaya Berwirausaha

Jakarta, 19/2 (ANTARA)-Guru Besar Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta Prof Benedicta Riyanti mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia belum memiliki budaya untuk membangun kewirausahaan, padahal hal tersebut bisa meningkatkan taraf hidup bangsa.

Ada tiga alasan yang mengindikasikan bahwa kewirausahaan di Indonesia belum berkembang, kata Benedicta Riyanti, di Jakarta, Jumat.

Pertama, sedikit sekali orang Indonesia yang berminat untuk berwirausaha. Kedua, manusia Indonesia masih cenderung mencari pekerjaan berdasarkan rasa aman. Ketiga, dimensi-dimensi budaya Indonesia menghambat perilaku berwirausaha.

“Masih ada anggapan bahwa berwirausaha itu tidak berprospek cerah. Itu terbukti dari pertanyaan-pertanyaan umum,” katanya.

Ia memberi contoh pertanyaan umum itu seperti “Kamu kerja di mana sekarang setelah selesai kuliah”. “Jadi, yang ditanyakan bukan, `Kamu kerja apa setelah selesai kuliah?” kata Benedicta Riyanti yang baru saja dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya.

Bangsa Indonesia, kata dia, perlu mencontoh usaha dari warga keturunan Tionghoa yang terkenal sukses dalam mengembangkan kewirausahaan.

Meski demikian, katanya, warga keturunan Tionghoa tidak memamerkan keberhasilan mereka.

“Siapa yang mengira di balik toko kelontong warga keturunan Tionghoa ternyata terdapat istana? Karena keberhasilan seperti itu tidak terekspos, maka bangsa kita menjadi tidak menyadari hal itu. Sebenarnya usaha warga keturunan Tionghoa ini bisa dijadikan motivasi,” katanya.

Menurut dia, kecenderungan untuk bekerja sebagai pekerja kantor berhubungan dengan nilai-nilai yang sudah tertanam di masyarakat. Para orang tua seringkali menekan anaknya untuk mencari kerja, bukan untuk membuka peluang usaha.

Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa pada tahun 2007 jumlah wirausahawan di Indonesia hanya 400,000 orang atau hanya lebih kurang 0,18 persen dari jumlah warga Indonesia.

Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008 menunjukkan ada 9,39 juta penduduk Indonesia yang masih menganggur dari 102,55 juta angkatan kerja. Sedangkan 37 juta penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Sementara itu, data yang diperlihatkan Departemen Koperasi dan UKM terdapat 49,84 juta pengusaha bisnis, termasuk usaha kecil dan menengah, yang memperkerjakan sekitar 71,35 juta orang.

Industri kecil dan rumah tangga hanya berperan 10 persen dari total perputaran uang, namun menyumbang 54-57 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan 15 persen terhadap total ekspor nonmigas.

“Dari data-data tersebut, terlihat bahwa wirausaha pada sektor ekonomi kecil dan menengah dapat diandalkan sebagai motor penggerak perekonomian,” demikian Benedicta Riyanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s