Kota Tua dalam Bingkai Pengojek Sepeda Ontel

Jajaran Sepeda Ontel

“Mbak, sewa sepedanya. Cuma 30 ribu, bisa keliling Kota Tua.” Begitulah seruan seorang penyedia penyewaan sepeda ontel di depan pelataran Museum Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (22/2). Daryono, begitu orang biasanya menyapanya. Keriput di beberapa tempat pada wajahnya terlihat jelas, menghiasi kulit hitam legamnya yang setiap hari tersengat sinar matahari. Gigi depannya tak lagi utuh saat ia tersenyum. Jalannya tak lagi tegap.

Dari gambaran tersebut, terbayang bahwa Daryono tidaklah muda lagi. Umurnya memasuki 50 tahun. Meski umurnya semakin menua, semangat Daryono tak pernah surut untuk mencari nafkah dengan menyediakan jasa penyewaan sepeda ontel.

Pria asal Pemalang tersebut bersepeda di sekitar alun-alun Kota Tua untuk menawari para pengunjung menyewa sepeda miliknya. Dari 35 orang penyedia penyewaan sepeda ontel, hanya Daryono-lah yang terlihat gencar menyapa pengunjung.

“Pengunjung kalau ndak ditawari, kapan kita dapat rezekinya?” kata Daryono yang mulai lelah berteriak-teriak.

Dengan berbekal tiga sepeda ontel yang dimilikinya, Daryono mencari nafkah di Kota Tua setiap harinya. Ia sangat membanggakan sepeda keluaran zaman Belanda pada tahun 1930-an. Banyak orang yang hendak membeli sepeda-sepeda miliknya dengan harga Rp3 jutaan, namun Daryono tak rela melepaskan sepeda-sepedanya itu.

Bapak empat anak itu mengakui bahwa dirinya dalam sehari rata-rata mendapatkan Rp30.000 dari hasil menyewakan sepeda ontel yang telah dimilikinya selama puluhan tahun. Pekerjaan seperti ini telah dilakukannya kurang lebih selama 30 puluh tahun, namun ia tak juga bosan.

“Dulu saya pindah-pindah. Saya baru tiga tahun kerja di kota tua,” lanjut Daryono.

Jika keadaan sedang ramai, dalam sehari ia bisa mendapatkan Rp100.000. Akan tetapi jika Kota Tua sepi pengunjung, terkadang Daryono hanya mengantongi Rp10.000 saja. Total penghasilannya selama seminggu rata-rata mencapai Rp210.000. Sebagian besar uang tersebut dikirimkannya pada keluarga di Pemalang yang terdiri dari satu istri dan 4 anak.

Sementara itu, Daryono tidak memiliki tempat tinggal tetap di Jakarta. Sejak 20 tahun yang lalu ia mencoba peruntungannya di Jakarta, Daryono tinggal di masjid terletak di Jl. Kopi. Daryono yang selalu mensyukuri hidup apa adanya itu tidak semata-mata hanya numpang tinggal di masjid itu, tetapi ia juga mengajari anak-anak yang tinggal di sekitar Jl. Kopi untuk mengaji setiap malam.

“Kebetulan saja saya bisa mengaji, jadi saya ajari mereka, daripada anak-anak itu ndak ada kerjaan,” kata Daryono.

Daryono menjadi guru ngaji secara cuma-cuma. Ia tak berniat diberi bayaran karena semua ia lakukan dengan ikhlas. Menurutnya, kehidupan seorang manusia haruslah seimbang. Ketika pagi sudah puas mencari rezeki, pada malam hari hendaknya melakukan sesuatu untuk Allah.

Namun, sekarang Daryono tak lagi mengajar ngaji karena sudah ada guru ngaji bayaran di daerah tersebut. Maka, keberadaannya pun tergeser. Meski demikian, ia tetap rajin membersihkan masjid, yang telah menjadi tempat tinggalnya tersebut.

Berperan sebagai Tour Guide

Sebagai seorang penyedia jasa penyewaan sepeda ontel, Daryono yang juga Wakil Ketua Paguyuban Wisata Onthel Kota Tua itu bisa memosisikan dirinya sebagai seorang tour guide bagi pengunjung. Pengetahuan mengenai tempat-tempat di Kota Tua beserta sejarahnya, Daryono hafal betul, tak kalah dari tour guide resmi di situ.

Untuk memikat calon penyewa sepedanya, Daryono tak jarang menghampiri para pengunjung dan menceritakan beberapa sejarah di tempat itu. Setelah itu, biasanya ia akan menawari pengunjung untuk berjalan-jalan memutari Kota Tua, ditemani dirinya.

“Biasanya saya temani penyewa. Kami naik sepeda beriringan, sambil saya cerita,” tuturnya.

Menurutnya, sudah menjadi kewajiban bagi penduduk Jakarta untuk mengetahui sejarah kota Jakarta. Daryono yang telah menjadi bagian kota ini, merasa perlu untuk melestarikan kebudayaan tempo dulu, meski dengan cara mengetahui sejarahnya saja.

Harga yang dipatoknya adalah Rp10.000 untuk sekedar berkeliling di alun-alun Kota Tua selama satu jam. Ia memasang harga Rp30.000 untuk pesiar ke lima tempat yang letaknya di luar kompleks alun-alun Kota Tua. Lima tempat itu di antaranya Museum Fatahillah, Toko Merah, Jembatan Intan, Pelabuhan, Menara Iskandar, dan Museum Bahari.

Jembatan Intan
Museum Bahari

Banyak kenangan manis tertambat di pikirannya selama Daryono menjalani profesinya ini. Selama beberapa tahun belakangan ini, reputasi Kota Tua sedang mencuat hingga namanya pun makin terkenal. Tak jarang stasiun televisi menyiarkan serba-serbi keunikan tempat ini. Daryono pun “terseret” untuk menjadi bintang tamu, narasumber, atau sekedar figuran pada beberapa acara televisi.

“Saya pernah mboncengi Mbak Luna Maya di studio. Pernah juga syuting sama Joshua di film sambil naik sepeda ini,” kenang Daryono sambil tertawa.

Meningkatnya pengunjung Kota Tua dari tahun ke tahun turut pula melambungkan harapan Daryono agar nantinya pendapatannya semakin bertambah. Bukan hanya itu, ia berharap agar pemeliharaan Kota Tua dapat ditingkatkan juga.

“Sebulan ke depan sepertinya pengunjung di Kota Tua akan semakin meningkat, soalnya akan dibuka wisata malam Kota Tua,” katanya.

Hal itu akan segera direalisasikan oleh pihak Walikota. Saat ini, di jalan masuk menuju Kota Tua dari arah Stasiun Kota telah diletakkan “batu pertama”, cikal bakal gerbang Kota Tua nantinya.

Sementara itu, Aisha, seorang pengunjung yang masih berkuliah, akhirnya menyewa sepeda milik Daryono, setelah “terpesona” dengan cara Daryono bercerita tentang sejarah di beberapa tempat. Muka Daryono pun tampak lebih sumringah ketika akhirnya ada juga yang ingin menyewa sepedanya.

“Kayaknya menyenangkan  deh bisa bersepeda ke lima tempat yang disebutkan tadi. Lebih menyenangkan kalau jalan-jalan sambil ada yang ngejelasin tentang tempat-tempat di sini,” tutur Aisha.

Dengan senyum yang masih tersungging di wajahnya, Daryono lekas-lekas mengambil sepedanya. Ia pun bergegas menemani gadis berkerudung itu untuk menjelajahi klasiknya Kota Tua.

4 Comments Add yours

  1. Muslimah Joemarv says:

    hai…slm kenal… sy mau tanya… kalau mau sewa guide sprti pak daryono bisa mnghubungi syp yh?? trmkasih

    1. elisabetyas says:

      Halo Joemary. Saya nggak tau bisa menghubungi siapa. Datang saja ke Kota Tua, di situ akan banyak guide menawarkan jasanya.

  2. Jefferly says:

    wahhh pekerjaan yang sangat mulia dan Bapak itu sangat bersahaja..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s