Mencicipi Uniknya Kehidupan”Kuli Tinta”

Thanks God, You gave me precious moments in life when I worked as a reporter…

“Kuli Tinta”… Apapun kata orang mengenainya, bagi gue, profesi itu adalah profesi yang benar-benar humanis dan dinamis. Gue menikmati pekerjaan gue ini. Gue senang kalau bisa menulis berita.🙂

Hari ini tepat sebulan gue kerja di ANTARA. Dan sebulan ini terlalui tanpa terasa, benar-benar tak terasa, hingga rasanya terkejut sendiri saat melihat tanggal. Mungkin selalu ada kejutan baru setiap harinya, maka hari-hari itu pun makin tak terasa.

Jujur… Setiap pagi sebelum berangkat kerja, gue selalu bersemangat, menanti liputan apa yang akan diberikan oleh redaktur. Menyenangkan rasanya mengetahui hal-hal baru setiap harinya dan bertemu orang-orang yang berbeda. Terkadang pernah juga merasa bad mood kalau lagi nggak menguasai suatu persoalan. Tapi sejauh ini semua baik-baik saja.

Hal yang paling menyenangkan adalah ketika bertemu banyak wartawan dalam sebuah diskusi atau forum yang waktu penyelenggaraannya lumayan lama. Contohnya kalau lagi meliput rapa kerja atau rapat dengar pendapat di DPR, pasti memakan waktu lama.

Kalau sudah seperti itu, biasanya wartawan-wartawan sudah lelah untuk mencoba berkonsentrasi. Akhirnya, tanpa saling kenal, kami pun mengeluarkan celetukan-celetukan nyeleneh saat anggota Dewan melontarkan pendapat. Dalam rapat yang biasanya kami duduk di lantai itulah, tanpa kenal, kami saling bercanda. Hal itu sebenarnya biasa aja, tapi nggak tahu kenapa, itu berkesan banget buat gue.

Wartawan-wartawan itu suka banget ngelakuin wawancara door stop saat acara utama selesai. Biasanya sih ada pertanyaan pesanan dari kantor untuk ditanyakan, yang nggak ada hubungannya sama acara yang kami hadiri. Gue udah mulai terbiasa dengan “budaya” door stop itu.

Awalnya sih gue gengsi banget buat ngelakuin wawancara door stop, tapi lama-kelamaan gue ikutan juga. Justru jadi aneh kalau gue nggak ikutan. “Wartawan apaan tuh?”, paling nggak gitulah komentar wartawan lain dalam hati. Dulu sih gue sukanya nungguin wartawan lain selesai nanya, baru gue nanya. Sekarang, ya sudahlah, ikut saja “budaya” itu.

Wartawan, temen gue dari okezone.com yang menyadarkan gue bahwa tak perlu gengsi untuk melakukan wawancara door stop karena di situlah terlihat sisi struggle seorang wartawan. Setelah gue pikir, benar juga. Dan gue mulai nyaman hidup di lingkungan wartawan.

Gue semakin paham, meski media massa saling berkompetisi, fakta di lapangan tak berbicara demikian. Para wartawan lintas-media justru saling melengkapi data. Terkadang jika narasumber yang menarik ada lebih dari satu, maka para wartawan suka membagi tugas untuk mewawancarai narasumber yang berbeda, dengan menitipkan pertanyaannya.

Setelah acara dan door stop selesai, ritual wartawan selanjutnya adalah berkumpul untuk mendiskusikan topik dan berbagi rekaman narasumber. Lucu banget deh. Gue pernah sekali ketemu wartawan Rakyat Merdeka, namanya Dony. Dia baik banget. Tahu gue anak magang-yang waktu itu nggak punya recorder dan kehabisan baterai hp sehingga nggak bisa ngerekam-menawarkan untuk membagi rekaman miliknya.

Gue yang udah didesak-desak wartawan saat mau wawancara Bambang Danuri Hendarso, akhirnya menyerah di barisan paling belakang saja karena memang tak punya recorder. Sementara Dony terus berjuang sampai akhirnya recordernya bisa nyampe di depan mulut Kapolri itu.

Wow! Baik sekali dia, rela tinggal lebih lama di DPR untuk mengecek suara rekamannya dan membaginya ke gue-belum lagi harus cari laptop untuk transfer-padahal deadline dia tinggal 1 jam lagi. Sementara dia harus balik ke kantor untuk diskusi dulu dengan redakturnya sebelum menulis.

Dari situ gue belajar kalau wartawan itu harus saling berbagi, nggak boleh pelit. Toh dari satu rekaman, bisa memunculkan berita yang berbeda-beda kok. Semua tergantung persepsi si wartawan memaknai nilai-nilai berita. Hal itu beda banget sama yang gue pelajari di kampus. Rasa saling berbagi belum muncul. Yang penting, sebisa mungkin gue dapet eksklusif (mungkin karena pengaruh dosen kita juga yang terlalu perfeksionis).

Semua yang dipelajari di bangku kuliah nggak melulu bisa diaplikasikan, terutama tentang hubungan pertemanan dengan wartawan. Kalau udah bisa kenal banyak wartawan, rasanya menyenangkan.

Dan tahukah kalian hal yang terunik yang dimiliki wartawan? Adalah mudahnya cara mereka menjalin pertemanan karena cara berkomunikasi mereka yang luwes. Gue sangat belajar banyak hal dari pola para wartawan berinteraksi satu sama lain.

Gue seneng kalo gue ngeliput di bidang politik atau hukum karena udah mulai hafal wajah dan nama. Cuma sayangnya, gue masih di-rolling, belum bisa stay di satu desk.

I love my job as a reporter now… I love to see how people interact with others… I love to meet new people and new case… I love to write news…

One Comment Add yours

  1. cantikamalam says:

    ayo jayakan hidup reporter indonesia..berikan wacana yang terbaik untuk negeri kita..
    salam kenal yah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s