INDONESIA JADI TUAN RUMAH HLS ENVIROMENTALLY SUSTAINABLE CITIES

 Jakarta, 2/3 (ANTARA)-Indonesia melalui Kementrian Lingkungan Hidup menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan High Level Seminar on Environmentally Sustainable Cities (HLS ESC), yang dihadiri 16 negara di kawasan Asia Pasifik yang berkomitmen mewujudkan green city.

Apa yang dihasilkan dalam HLS ESC ini nantinya akan dijadikan rekomendasi untuk East Asia Summit Environment Ministers Meeting di Brunei Darussalam tahun ini,” kata Mentri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, di Jakarta, Selasa.

Gusti Muhammad Hatta mengharapkan pertemuan ini bisa menjadi jalan untuk menyelesaikan masalah-masalah lingkungan. Selain itu, hasil dari pertemuan ini akan berkontribusi untuk pembentukan rencana tata letak kota, pemerintahan yang baik, dan kebijakan yang cocok dalam keuangan.

Senada dengan Gusti Muhammad Hatta, Asisten Menteri Lingkungan Hidup untuk Lingkungan dan Kerjasama Internasional Liana Bratasida mengatakan, pertemuan ini bertujuan juga untuk mendukung pembuatan kebijakan berskala nasional bagi negara peserta seminar, untuk menyukseskan ESC atau pembangunan kota yang selaras dengan aspek-aspek lingkungan hidup.

HLS ini bertujuan untuk ajang bertukar pikiran dan informasi akan aktivitas yang berkaitan dengan keberlanjutan pembangunan kota yang selaras dengan aspek-aspek lingkungan hidup, baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan,” kata Asisten Menteri Lingkungan Hidup untuk Lingkungan dan Kerjasama Internasional Liana Bratasida.

Dalam pertemuan ini, kata Liana Bratasida, akan menghasilkan roadmap untuk negara-negara yang menerapkan ESC. Selain itu, pertemuan ini diharapkan untuk menghasilkan framework untuk menerapkan green economy, yaitu pengurangan emisi karbon dalam bidang industri. Hal itu didukung dengan adanya kebijakan yang sesuai, kebutuhan secara teknis, dan instrumen yang harus dipenuhi.

Aksi nyata harus dilakukan dan framework harus ditentukan dalam meeting,” kata Liana Bratasida.

Menurut Liana Bratasida, ada tiga indikator yang menunjukkan sebuah kota telah sesuai dengan program ESC, yaitu clean air, clean water, dan clean land. Setiap negara berhak untuk memilih kota mana yang akan dijadikan green city.

 “Mungkin akan ada penambahan indikator nantinya, yaitu biodeversity atau keanekaragaman hayati,” tutur Liana.

 Di Indonesia sendiri telah dipersiapkan 7 kota yang bisa masuk dalam kategori ESC, yaitu Jakarta Pusat, Palembang, Pekanbaru, Padang, Surabaya, Balikpapan, dan Makassar.

 Sementara itu, Akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Emil Salim mengatakan, HSL ESC ini dimaksudkan pula untuk membicarakan pembangunan kota yang berdasarkan perubahan iklim, kenanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, dan pengurangan emisi karbon di udara.

 “Di Indonesia, kita punya Surabaya yang bagus dalam pengelolaan sampahnya,” kata Emil Salim.

Pada tahun 2003, 10 negara anggota ASEAN mendirikan ASEAN Working Group on Environmentally Sustainable Cities (AWGESC). Kelompok kerja tersebut telah bekerja sama dalam membuat program untuk ESC Award dengan tiga kriteria, clean air, clean water, dan clear land. Ketiga kriteria tersebut diimplementasikan di seluruh negara ASEAN. Kemudian pada tahun 2008 AWGESC menyelenggarakan ESC Award yang pertama.

(m.pps)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s