MIRANDA GOELTOM PUNYA MIMPI WUJUDKAN “BAZAAR ART FAIR”

 Jakarta, 3/3 (ANTARA)-Ketua Umum Yayasan Seri Rupa Indonesia (YSRI)

Miranda Goeltom

Miranda Goeltom memiliki mimpi besar untuk membuat “bazaar art fair”, dalam rangka mempromosikan hasil karya para seniman Indonesia.

“Saya iri terhadap Singapura yang pada Januari 2011 akan melaksanakan “Bazaar Art Fair”. Saya harap selepas 2012 Indonesia bisa melaksanakan event serupa. Kita harus membuat dogma yang positif, agar para seniman terus maju,” kata Miranda dalam Diskusi “Mengkaji Tanda-Tanda Seni Rupa Kontemporer” di Galeri Nasional, Jakarta, Rabu.

Sejauh ini, kata Miranda, hal yang bisa dilakukan YSRI adalah membuat sebuah kompetisi untuk mencari bibit-bibit baru seniman Indonesia yang akan diwujudkan melalui Indonesia Art Award (IAA) 2010, sebelum menuju “bazaar art fair” tersebut.

Menurut Miranda, YSRI merupakan perpanjangan tangan untuk seni. Tahun ini tema yang diambil adalah “contemporaneity” yang mengedepankan seni rupa kontemporer dalam bentuk lukisan, patung, atau aksi teatrikal.

Hal baru yang ada dalam IAA 2010 adalah adanya penyelenggaraan pameran nantinya. Sekitar 100-160 hasil karya seni para seniman yang menjadi nominator akan dipamerkan di pameran IAA.

 Seni Rupa Kontemporer

Menambahkan keterangan Miranda, salah satu juri IAA Jim Supangkat mengatakan, IAA yang diselenggarakan kali kedua ini mencoba untuk masuki khasanah Indonesiana. Tema “contemporaneity” diambil karena seni rupa kontemporer telah ada selama 4 dekade, namun belum ada definisi yang pasti mengenainya.

“Seni rupa kontemporer menarik karena yang dicari bukan semata-mata bentuk karyanya, melainkan juga “statement” para seniman tentang apa sisi kontemporer dalam karyanya, karena selain mengirimkan foto karya, seniman juga membuat tulisan mengenai karya itu,” jelas Jim Supangkat.

Menurut Jim Supangkat, seni rupa kontemporer tidak memiliki paradigma layaknya ilmu lain. Pada umumnya sebuah ilmu muncul setelah adanya paradigma yang kemudia memunculkan “platform”, namun seni rupa kontemporer tidak memiliki hal tersebut.

Jika berbicara seni rupa kontemporer, jelas Jim, maka yang difokuskan adalah perkembangannya di Eropa dan Amerika Serikat. Di luar kedua negara itu, perkembangan seni rupa kontemporer kurang mendapat perhatian.

“Seni rupa kontemporer itu berusaha keluar dari paradigma yang berdasarkan modernisme dan postmodernisme,” tutur Jim.

Beberapa tahun lalu, sebelum IAA diselenggarakan, ajang ini bernama Phillip Moris Indonesian Art Award (PMIAA). Namun, pada saat itu hanya karya lukis yang dikompetisikan. Sejak 2008, PMIAA berubah menjadi IAA yang diselenggarakan dua tahun sekali.

“Perubahan itu karena kami ingin memberikan kesempatan untuk seniman selain pelukis untuk bisa turut serta dalam kompetisi. Karya seni tiga dimensi perlu juga dihargai,” kata Jim.

(m.pps)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s