MUHAMMADIYAH KELUARKAN FATWA HARAM MEROKOK

 

Stop Smoking

Jakarta, 9/3 (ANTARA)-Majelis Tarjih dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di Jakarta, Selasa, mengeluarkan fatwa haram merokok karena Muhammadiyah merasakan berbagai dampak negatif rokok dalam bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi.

“Dengan dikeluarkannya fatwa haram merokok ini, berarti fatwa tahun 2005 telah berakhir,” kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yunahar Ilyas yang membidangi Tarjih.

Pada tahun 2005 Majelis Tarjih terlebih dahulu mengeluarkan fatwa yang berbunyi, merokok hukumnya mubah, yang berarti boleh dikerjakan, tapi kalau ditinggalkan lebih baik. Namun, fatwa itu kemudian direvisi karena dampak negatif merokok mulai dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, tidak hanya oleh perokok.

“Muhammadiyah merasa perlu mengingatkan kepada masyarakat akan bahaya tersebut,” tutur Yunahar Ilyas.

Mengenai perihal dampak negatif yang akan dirasakan para buruh tembakau, Yunahar berpendapat bahwa hal itu bisa diatasi. Pengeluaran fatwa haram merokok tidak serta merta membuat buruh tembakau kehilangan mata pencaharian mereka.

“Para buruh tembakau bisa diajarkan untuk beralih menanam tanaman lain yang lebih bermanfaat,” lanjut Yunahar.

Menurutnya, dengan adanya industri rokok yang besar-besaran, petani tembakau bukanlah pihak yang diuntungkan. Harga jual tembakau di level petani tembakau tidaklah tinggi. Pihak yang mendapatkan keuntungan besar adalah para tengkulak. “Petani tembakau tetap miskin,” ujarnya.

Yunahar menambahkan, pihak Muhammadiyah akan menindaklanjuti fatwa ini dengan memulai dari dalam diri organisasi dulu, baru kemudian mengajak pihak luar untuk merasakan dampak buruk merokok.

“Mengenai persoalan buruh industri rokok yang mungkin terkena imbas karena pengurangan produksi rokok, saya rasa itu adalah tanggung jawab pemerintah untuk memikirkan masalah tenaga kerja,” kata Yunahar.

Melengkapi keterangan Yunahar, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Kesehatan Sudibyo Markus mengatakan, selanjutnya fatwa ini akan dibawa ke dalam sidang pleno pimpinan pusat Muhammadiyah dan akan disebarkan ke seluruh lembaga Muhammadiyah, termasuk rumah sakit dan sekolah.

“Kami akan menetapkan larangan merokok di rumah sakit dan sekolah. Namun, untuk di perguruan tinggi belum ditetapkan,” kata Sudibyo Markus.

Selain menetapkan larangan merokok, lanjut Sudibyo, Muhammadiyah juga berencana membangun klinik-klinik untuk membantu orang-orang yang ingin berhenti merokok.

Menyelamatkan Generasi Muda

Sementara itu, Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi memberikan apresiasi besar pada pencetusan fatwa haram merokok ini. Menurutnya, pemberlakuan fatwa haram ini akan menjadi tinta emas dalam sejarah.

“Berjuta-juta anak di Indonesia akan berterima kasih akan adanya fatwa ini karena menyelamatkan mereka sebagai generasi muda,” kata Seto Mulyadi.

Menurut Seto Mulyadi, adanya iklan-iklan rokok di televisi, media cetak, dan di billboard akan merangsang anak-anak untuk mencoba rokok, kemudian akan memunculkan ketergantungan.

Maka, lanjutnya, orang tua berperan untuk memberikan contoh yang baik pada anak-anak mereka dengan tidak merokok di hadapan anak-anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s